
Setelah mereka selesai makan, Dinda melirik Aldi dengan memberikan kode agar mereka meninggalkan Bagas dan Maira di sana.
"Hmm... Gas. Aku dan Dinda ada urusan. Kau bisa mengantarkan Maira ke hotel kan?" Sudah bisa ditebak, Bagas terkejut dan mendadak panik mendengar permintaan sahabatnya. Ia bersikap seolah menolak permintaan Aldi tersebut.
"Bagaimana ya? Aku dan Dinda tidak ke jalur hotel."
"Memangnya kau mau kemana sih?" geram Bagas dengan sedikit berbisik pada Aldi.
"Sejak kapan kau tidak bertanggung jawab pada wanita?"
"Tapi nggak begini Al. Lagipula kapan aku menghamilinya?"
"Sudahlah jangan banyak alasan. Sekarang sebaiknya kau antarkan Maira ke hotel, dan besok kau boleh cuti." Mendengar penuturan Aldi demikian, Bagas terdiam sejenak. Ia melirik Aldi dengan serius, mempertimbangkan ucapan Aldi itu dengan hati-hati. Mendengar kata 'cuti' dari mulut Aldi rasanya seperti mendengar kabar gembira yang tak ternilai.
"Cuti tiga hari." ucap Bagas dan disanggupi langsung oleh Aldi. Bagas yang tak percaya pun mendadak heran akan sikap tak biasa dari Aldi.
"Kau serius Al?" Aldi mengangguk seraya tersenyum menanggapi pertanyaan Bagas tersebut. Bagas yang terlanjur girang pun tanpa sadar beranjak lalu menarik tangan Maira, meninggalkan Dinda dan Aldi.
"Apa kau gila Bagas? Aku sedang minum tadi." protes Maira yang masih ditarik paksa oleh Bagas keluar dari restoran.
"Nanti beli lagi." balas Bagas yang tidak memedulikan Maira di belakangnya. Dinda dan Aldi yang menyusul dari jauh, seketika saling pandang saat melihat Bagas memaksa Maira untuk masuk ke dalam mobil.
"Seperti aksi penculikan ya?" Dinda bergumam, tetapi masih terdengar oleh Aldi.
"Apa kau puas, Nona Dinda?"
"Hehe... sangat puas."
__ADS_1
"Apa kau tidak berniat memberiku hadiah?" Mendengar pertanyaan Aldi tersebut, Dinda mendadak menyipitkan matanya dan berpikir hadiah apa yang harus ia berikan pada suaminya. Padahal ini hanyalah sebuah candaan untuk menyatukan Bagas dan Maira, bukan hal yang istimewa bagi mereka.
"Malam ini kita ke hotel ya!"
"Eh? Tapi Rei?"
"Rei dengan Avil saja. Dia pasti tak keberatan, asal kita memberitahu Avil."
"Lalu Mama bagaimana Al?"
"Mama pasti akan mengizinkan."
"Tapi kasihan di rumah sendirian."
"Siapa bilang sendiri? Kan banyak orang."
"Bedanya apa?"
"Yaa... maksudku kan..." Dinda tidak meneruskan kalimatnya, ia tidak tahu harus berkata apa melihat Aldi yang menatapnya dengan sedikit menggoda.
"Hemmmm? Mau beralasan apa sayang?" Dinda benar-benar membisu, ia mendelik dan hanya bisa mengikuti keinginan Aldi untuk membawanya ke hotel. Ia merasa tengah bersama seorang lelaki yang ingin menculiknya untuk dijadikan budak nafsunya.
Keduanya berlalu mengikuti Bagas dari belakang, dan bisa ditebak bahwa Bagas tidak menyadari Aldi berada di belakangnya. Sampai di hotel, Bagas memasuki parkiran tamu, dan Aldi memasuki area VIP. Sebagai pemilik, ia sudah disambut oleh beberapa petugas yang sudah siaga di pintu depan. Beberapa tamu memusatkan perhatian mereka pada sosok Aldian Mahendra yang datang dengan seorang gadis di sampingnya. Hal itu juga menarik perhatian Shana yang kebetulan baru keluar dari lift. Ia berniat untuk membeli beberapa makanan untuk keponakannya, namun justru ia mendapati pemandangan yang menurutnya diluar dugaan.
"Jadi benar, Aldi dan Dinda masih bersama. Tapi, apa yang mereka lakukan di sini?" batin Shana mendadak penasaran akan tujuan Aldi dan Dinda berada di hotel itu. Tiba-tiba matanya membulat saat pikirannya menyimpulkan bahwa Aldi dan Dinda akan sama-sama menginap di sana. Shana, yang semula berniat untuk keluar, pun berubah pikiran dan memilih untuk kembali ke kamarnya. Ia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk memberitahu kakaknya bahwa Dinda masih bersama Aldian.
"Kakak..." pekiknya saat ia tiba di dalam kamar. Sean menoleh dan ia memelototi Shana karena dianggap mengganggu tidur putrinya.
__ADS_1
"Maaf aku tidak tahu. Tapi ada hal penting yang ingin aku katakan pada kakak." ucapnya menjelaskan dengan terengah. Melihat adiknya yang bersikap aneh, Sean menyipitkan matanya mencoba menebak apa yang terjadi pada Shana.
"Aku melihat Dinda dan Aldian bersama di hotel ini kak. Mereka belum menikah kan?"
"Shana tenang dulu! Pelan-pelan!" mendengar arahan Sean, Shana mencoba untuk menenangkan dirinya dengan menghela nafas dalam sesaat.
"Dinda dan Aldian ke hotel ini berdua kak." ucapnya lagi mencoba menjelaskan.
"Ya jelaslah. Aldian kan pemilik hotel ini. Mungkin Aldian ingin memberi kamar VIP pada Dinda."
"Aih.. kau selalu saja berpikir positif. Bagaimana kalau mereka tidur bersama?" Shana terdengar kesal, dan ia menjatuhkan tubuhnya di sofa seraya melirik tajam pada Sean.
"Aku melihat ekspresi Aldian sangat berbeda. Di layar kaca, aku melihatnya begitu dingin, dan saat aku bertamu ke kantornya, dia menggantikan tugasnya pada asistennya. Tapi kali ini, aku melihat Aldian begitu berbeda. Dia tersenyum dengan terus menatap Dinda." Ucap Shana selanjutnya dengan suara yang lirih. Ia terkejut saat tiba-tiba Sean meraih kepalanya dan mengusapnya dengan tersenyum.
"Kau cemburu? Kau menyukai Aldian kan? Selama mereka belum menikah, aku yakin Aldian tak akan menyentuh Dinda. Dan aku juga yakin, Dinda pun tak akan segampang itu memberikan kehormatannya pada lelaki yang bukan suaminya. Percaya pada kakak!" Shana menunduk seraya mengangguk pelan.
Di sisi lain, Aldi meminta petugasnya untuk tidak berjaga di depan kamarnya. Ia tidak ingin ada yang mengganggunya saat sedang menghabiskan waktu dengan istri kesayangannya. Meski ragu, petugas yang biasanya bertugas di depan kamar pribadi Aldi pun memilih untuk pamit dari hadapan Aldi dan meninggalkan majikannya di sana. Wajahnya memperlihatkan rasa penasaran pada apa yang akan Aldi lakukan bersama gadis yang sempat menjadi calon nyonya Mahendra, dan bisa dikatakan sebagai nyonya hotel ini. Seingatnya, Aldi belum menikah dengan wanita tersebut dan ia berpikir bahwa majikannya itu bersikap tidak pantas pada seorang wanita. Namun, ia mencoba untuk menutupi rahasia ini dengan rapat agar tidak diketahui dunia luar.
Di waktu yang sama, Bagas kembali ke hotel setelah membeli makanan dan minuman di sebuah supermarket untuk Maira. Maira membuka pintu saat ada seseorang mengetuknya dari luar. Ia terkejut saat menemukan Bagas yang berdiri di hadapannya saat ini.
"Kenapa? Ada apa?" tanya Maira yang tiba-tiba penasaran dengan kedatangan Bagas. Bagas menyodorkan tas belanjaannya dengan memalingkan wajahnya.
"Aku ingin memberikan ini. Ya... untuk menemanimu menonton TV, atau untuk--" kalimatnya terputus saat Maira tiba-tiba memeluknya dan membenamkan wajahnya pada Bagas.
"Terima kasih, Bagas." Lirih Maira namun tak ditanggapi apapun oleh Bagas sendiri. Bagas memilih diam dan membiarkan gadis didepannya untuk memeluknya.
Bersambung.
__ADS_1