RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
123


__ADS_3

Semenjak hari itu, Avril dan Alvi tak lagi menghubungi keluarga Aldi, siapapun itu. Agar Avril tak terus-menerus merasa tertekan, Alvi memutuskan untuk membawa Avril ke kantor beserta Zeeya sekalian menemaninya bekerja. Benar saja, dengan bertemu beberapa orang, Avril bisa mengesampingkan kegundahan hatinya yang di sebabkan panggilan Reifan kepadanya. Tak bisa dipungkiri, banyak karyawan yang ingin melihat jelas wajah dari anak pimpinan mereka. Namun, Ray sudah sigap di samping Avril agar tak ada yang mendekatinya. Kendati demikian, tak ada yang berani mendekati Avril tanpa ada Ray sekalipun.


"Aku ada jadwal sebentar ke departemen pemasaran. Kau tunggu di ruanganku saja." Ucap Alvi saat mereka sudah memasuki lift dengan tujuan lantai yang berbeda. Avril hanya mengangguk saja menanggapi ucapan Alvi. Ray pun hanya berdiam diri ketika Alvi keluar dari lift dan meninggalkan mereka berdua.


"Kau tak mengikuti Alvi?"


"Bukan tugas saya, Nona."


"Kau asistennya kan?"


"Untuk hari ini saya asisten Nona."


"Kenapa begitu?"


"Tuan Alvi ada Pak Yusuf yang menemani, sedangkan Nona tak akan merasa nyaman jika di kawal oleh orang lain, bukan?" Mendengar hal ini, Avril terdiam tak menjawab sepatah katapun seakan mengiyakan maksud Ray.


Sampai di ruangan Alvi, Ray masih mengikuti Avril ke dalam ruangan, berjaga-jaga jika ada sesuatu yang di perlukan oleh Avril.


"Apa ada teh?" Tanya Avril setelah ia menidurkan Zeeya di kamar ruangan itu.


"Ada, Nona. Sebentar saya ambilkan." Jawab Ray dengan cepat melangkah keluar dan segera membawakan apa yang di inginkan Nona mudanya.


Setelahnya, Ray kembali dan meletakkan teh tersebut di meja Alvi karena ia tak mendapati Avril di ruangan utama.


"Apa Nona di dalam?" Tanya Ray yang masih berdiri di depan meja Alvi.


"Iya Ray. Zeeya terbangun. Simpan saja teh nya di sana."


"Baik, Nona."


Setelah selesai dengan urusannya, Alvi bergegas ke ruangannya untuk menemui Avril. Di sana ia mendapati Ray sudah kembali ke mejanya dan di dalam Istrinya itu tengah menimang Zeeya di dekat jendela seraya menyanyikan sebuah lantunan lagu pengantar tidur.


"Apa dia tidur?" Tanya Alvi saat ia berada di belakang Avril. Sontak Avril langsung berbalik mendengar suara suaminya yang ia rasa datang secara tiba-tiba.


"Sejak kapan kau di sana?" Tanya Avril yang tak menjawab pertanyaan Alvi.


"Kau tak menyadari kedatanganku?"


"Hehe maaf. Aku sedang menyanyi, jadi tak mendengar suara langkah kakimu."

__ADS_1


"Hemmm alasan saja."


Di tengah candaan mereka, tiba-tiba Zeeya merengek lalu menangis seakan ia tak nyaman dengan dirinya. Avril yang menyadari ketidak nyamanan Zeeya, sesegera mungkin meletakkannya di tempat yang nyaman. Benar saja, Zeeya menangis karena ia buang air, dan itu berhasil membuat Alvi tertawa.


"Kenapa kau tak bilang kalau kau mau buang air?" Candanya sehingga Avril memukul lengannya dengan keras.


"Mana ada bayi bicara. Kau ini ada-ada saja."


"Bayi kita kan ajaib."


"Ya tidak begitu konsepnya."


"Terus bagaimana?"


"Maunya bagaimana?"


"Ih kau ya! Selalu saja membuatku gemas. Sini! Biar aku saja yang gantikan." Ucap Alvi beralih tempat setelah ia mencubit pelan pipi Istrinya.


"Kau belum pengalaman ya?" Sindir Avril membuat Alvi mendongak dan melemparkan senyum ganjilnya.


"Iya Bunda. Ayah belum pengalaman mengganti popok bayi. Ayah pengalamannya buat bayi."


"Hus. Apa sih. Hei candaannya jauh ih."


"Iya tapi kenapa pembahasannya jadi ke sana."


"40 hari terlalu lama sayang." Ucapan Alvi berubah sendu, dan nada bicaranya menjadi pelan.


"Maaf. Ini juga ulahmu. Kau yang mau kan?"


"Apanya?"


"Punya Zeeya. Kau yang mau."


"Memangnya kau tidak?"


"Ya.... mau tidak mau."


"Tapi sekarang sudah lahir. Bagaimana? Mau di masukkan lagi?"

__ADS_1


"Ehhh tidak ya. Aku mengeluarkannya pakai nyawa."


"Kalau aku mau lagi yang laki-laki, bagaimana?"


"Aahh jangan dulu Al.... belum sembuh." Rengek Avril berubah manja dan memohon sampai Alvi yang tengah fokus pada Zeeya pun tertawa dengan puas.


Setelah selesai, Alvi dengan penuh kebanggaan membawa Zeeya ke depan jendela. Ia seakan memperlihatkan dunia pada Zeeya yang menggeliat saat Alvi mengangkatnya lebih tinggi.


"Kelak, kau yang akan berada di sini menggantikan Ayah." Ucapnya kemudian mencium kening Zeeya.


Menjelang siang, Alvi dan Avril memutuskan untuk pulang. Di perjalanan, Avril meminta Alvi untuk berhenti di sebuah toko kue langganannya. Avril yang menitipkan Zeeya pada Alvi pun segera memasuki toko dan bergegas karena takut Zeeya akan rewel.


Saat di depan etalase, ia kembali menahan diri untuk tidak menangis sebab di sana ada Dinda dan Reifan tengah membeli kue. Avril bersikap seolah ia tak mengenali mereka dan tak sedikitpun melirik ke arah Dinda.


"Aunty..." sapa Reifan kembali membuat Avril merasa tertusuk duri di ulu hatinya.


"Avril. Kau sendiri?" Tanya Dinda saat Avril masih melihat-lihat kue di dalam etalase.


"Mbak. Ini yang cappucino nya masih ada?" Avril memilih bertanya pada pelayan tanpa membalas sapaan Dinda.


"Kebetulan hanya tinggal ini saja Nona." Jawab pelayan dengan sopan.


"Tinggal coklat ya? Emmmm ya sudah! Ini saja satu."


"Baik, Nona." Setelah pelayan berlalu, Avril masih bersikap acuh. Ia bahkan menjauh dari Dinda dan Reifan dengan terus memainkan ponselnya. Dinda pikir, tadi Avril tak sempat membalas sapaannya karena fokus pada kue. Namun, jika melihat sikapnya sekarang, sudah jelas bahwa Avril sedang marah padanya. Dinda mencoba untuk memastikan kembali dugaannya, ia perlahan menghampiri Avril setelah ia menunjuk kue yang akan di beli. Saat Dinda hendak berucap, Avril beranjak dari tempatnya seakan sudah menyadari pesanannya siap.


"Silahkan, Nona!"


"Baik. Terima kasih." Setelah melakukan pembayaran, Avril buru-buru keluar dari toko dan memasuki mobil karena air matanya sudah tak bisa terbendung. Avril menangis sesenggukan di dalam mobil sehingga Alvi merasa terheran.


"Avril. Hei kau kenapa sayang? Ada apa?" Tanya Alvi yang mulai panik melihat Istrinya tiba-tiba menangis sampai seperti ini.


"Kita pulang sekarang Al. Jangan lama-lama di sini." Meski tak tahu apa yang terjadi, namun Alvi segera menuruti apa yang dikatakan Avril. Alvi segera melajukan mobilnya meninggalkan area toko kue tersebut dengan kecepatan sedang.


"Sebenarnya ada apa?" Tanya Alvi lagi, ia begitu penasaran dengan yang terjadi pada Istrinya.


"Ada Rei dan Dinda." Jawab Avril memaksa dirinya untuk berhenti menangis.


"Terus kenapa kau menangis?"

__ADS_1


"Rei memanggilku Aunty lagi Al. Bagaimana aku tak menangis?" Benar, Alvi sendiri tak bisa membantah alasan Avril menangis. Hatinya pasti terasa hancur sekarang, ia hanya bisa diam dan membiarkan Avril tenang dengan sendirinya.


Bersambung


__ADS_2