RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
73


__ADS_3

. Setelah dari cafe, Dinda memutuskan untuk pergi ke kantor. Seperti biasanya, Dinda selalu di sambut dengan hangat oleh karyawan-karyawannya. Ketika ia memasuki ruangannya, terlihat ada Hadi yang tengah duduk di kursinya dengan seseorang di kursi depan. Dinda meletakkan tas di sofa lalu beralih ke belakang Hadi dan menatap angkuh pada tamu yang membalas tatapannya.


"Mau apa kau?" Tanya Dinda dengan menantang.


"Dinda.. jangan begitu. Dia kesini untuk meminta maaf padamu." Tegur Hadi namun tak merubah raut wajah angkuh putrinya.


"Aku sedang sibuk ayah. Jadi, aku tak punya waktu meladeni orang ini." Tutur Dinda kemudian kembali berlalu dengan menutup pintu sedikit keras.


"Maaf ya Lio. Kau lihat sendiri bagaimana tanggapan Dinda." Ucap Hadi beralih menatap pada Emilio yang masih menatap ke arah pintu. Perlahan ia memutar tubuhnya dan menatap Hadi dengan tersenyum tipis.


"Tak apa om. Saya mengerti. Kalau begitu, saya permisi om." Emilio beranjak dengan tangan yang mengepal namun ia sembunyikan dari Hadi. Hadi hanya bisa mengangguk lalu membiarkan Emilio pergi dari hadapannya. Mau di apakan juga, ia tak bisa memaksa Dinda untuk menerima atau menolak seseorang yang akan menjadi suaminya. Dengan Aldi pun, awalnya ia hanya ingin memperkenalkan saja, selebihnya biarkan mereka yang memutuskan. Dalam hatinya, ada keraguan saat ia hendak mengenalkan Aldi pada putrinya karena status Aldi yang bukan lagi pria lajang. Tapi siapa sangka, Aldi dan putrinya ternyata sudah saling mengenal, bahkan lebih jauh dari yang ia kira. Sejenak ia teringat saat penyelidikan yang di lakukan anak buahnya, Andra. Andra sempat melapor bahwa Dinda tengah dekat dengan seorang pria, dan itu adalah Aldi.


"Ah ternyata benar. Kenapa aku melupakan hal itu? Padahal aku sendiri mendengar laporan dari Andra. Apa memang ini sudah jalannya?" Ucap Hadi bergumam sendiri.


. Di sisi lain, Dinda berdiam diri di ruangan ayahnya, ia tak henti menggerutu karena kesal pada Emilio yang tiba-tiba berada di perusahaannya. Kemudian, ia menghubungi Aldi untuk sekedar melampiaskan kekesalannya.


"Ada apa? Kau rindu padaku?" Tanya Aldi setelah telepon tersambung.


"Ishh tidak." Jawab Dinda dengan ketus.


"Kenapa lagi? Kau marah pada siapa? Padaku? Kan besok aku ke rumahmu." Ucap Aldi mencoba menenangkan dengan menebak bahwa Dinda memang marah karena ingin cepat-cepat bertemu dengannya.


"Bukan itu."


"Terus apa?"


"Lio datang ke sini tadi."


"Terus?"


"Ih aku kesal Al."


"Kenapa harus kesal?"

__ADS_1


"Kau tak cemburu?" Mendengar pertanyaan Dinda ini, Aldi malah tertawa.


"Kenapa tertawa Al. Kalau kau tak cemburu, berarti kau--"


"Apa cemburu menjadi tolak ukur seseorang untuk disebut mencintai? Dengar! Untuk apa aku cemburu sedangkan kau sendiri yang menghindarinya. Aku percaya padamu Dinda. Meski aku tak menunjukkan perasaanku, tapi kau sendiri yang mengerti dan menghindari hal yang mungkin akan membuat kita berpisah." Tutur Aldi membuat Dinda terdiam. Entah kenapa ia merasa lega meski Aldi hanya berkata demikian.


"jadi, akan besok saja? Tidak sekarang?" Tanya Dinda dengan lirih. Namun di seberang, terdengar Aldi terkekeh menanggapi pertanyaan Dinda.


"Kenapa? Kau tak sabar ingin bertemu denganku sayang? Sabarlah sebentar. Aku masih ada pekerjaan sedikit lagi. Kalau sempat, nanti malam aku akan berangkat." Meski tersipu malu, Dinda mencoba mengatur nafasnya dan ia mencoba mengatur detak jantungnya yang mulai kehilangan kendali.


"Emmm kapanpun, tolong hati-hati. Beritahu aku jika kau sudah berangkat dari rumah."


"Iya sayang." Mendengar panggilan manis itu, Dinda malah merasa geli karena status Aldi yang sudah bukan lajang. Rasanya seperti sedang berpacaran dengan om-om yang sudah berumur tua.


"Sudah tua. Jangan mengatakan hal yang menggelikan begitu." Tegur Dinda dengan suara yang masih lirih.


"Hahaha kenapa? Malu? Aku masih 25 tahun Dinda... belum tua. Kita itu seumuran. Bedanya aku sudah punya anak, dan kau belum." Dinda semakin di buat malu oleh celotehan Aldi yang jelas mengejeknya.


"Al... janji ya. Jangan berpikir yang tidak-tidak pada Lio."


"Tapi Lio itu berbeda Al. Dia itu.... aku juga tak tahu apa yang dia pikirkan sekarang. Aku takut jika dia--"


"Dinda. Dengarkan aku! Tenanglah. Ada aku. Lio tak akan macam-macam selama kau bersamaku." Meski masih terdengar panik, namun Aldi bisa menebak bahwa Dinda sedikit mulai tenang.


. Menjelang sore, Dinda yang masih betah di ruangan ayahnya pun mengajak sang ayah untuk pulang. Tapi, terlihat Hadi masih ada agenda di jam ini.


"Kau pulang saja duluan. Bantu mama masak!"


"Iya ayahh..." Dinda berjalan dengan malas menjauh dari meja ayahnya.


"Eh Din... boleh ayah meminta tolong?"


"Minta tolong apa?"

__ADS_1


"Tolong temui Andra di resto hotel A.P. katanya ada yang ingin dia bicarakan denganmu."


"Bukannya itu hotel Aulian?" Tanya Dinda dengan sedikit protes.


"Sekarang bukan lagi kan? Susah di ambil alih oleh Galih Permana. Kau tenang saja. Tak akan ada Emilio."


"Serius? Kalau sampai aku bertemu dengannya, aku akan menghukum ayah."


"Iya iya. Sudah sana. Nanti terlalu sore, dan ibumu pasti sendirian. Yasmin sedang ada tugas kelompok di rumah temannya, jadi dia menginap."


"Enak sekali jadi anak itu. Mainnn terus..."


"Eh... kau juga main jauh Dinda. Sampai dapat duda satu anak." Sontak Dinda yang sudah berbalik pun kini menghadap pada Hadi kembali. Matanya membulat dengan memasang wajah kesal sehingga Hadi terkekeh dibuatnya.


"Sudah sana pergi."


"Haihhh aku di usir?" Meski mengeluh demikian, Dinda terus melangkah dan keluar dari ruangan ayahnya. Ia segera bergegas menuju hotel A. P.


Setelah ia sampai, Dinda menghela nafas dalam sesaat lalu menghembuskannya dengan malas.


"Si Andra ini sedang apa di hotel? Padahal dia itu jomblo." Cetus Dinda yang mulai melangkah memasuki area hotel. Ia di arahkan ke sebuah ruang tunggu oleh seorang pelayan. Sudah hampir 1 jam, namun Andra tak kunjung datang. Dan saat ia hendak menelepon ayahnya, kebetulan nomor Hadi itu memanggil Dinda.


"Hallo Ay--"


"Dinda cepat keluar dari hotel. Andra tidak di sana. Sekarang ayah dan Andra menyusul kamu." Dinda masih terdiam, ia tak mengerti maksud Hadi yang menyuruhnya pergi.


"Ayah ini bagaima--mmmmmmm" 'tuttt tuuttt' suara panggilan terputus.


"Din... Dinda... Andra! Lebih cepat."


"Ba-baik tuan."


"Dinda... semoga kau baik-baik saja. Jika saja aku tahu itu jebakan, aku tak akan menyuruh Dinda yang menemuimu Andra."

__ADS_1


"Maafkan atas keteledoran saya tuan." Sesal Andra.


-bersambung


__ADS_2