
. "Ray? Sedang apa kau disini?" Tanya Noah yang terheran melihat Ray mengendap seperti sedang mengikuti seseorang.
"Aku sedang mengawasi nona Avril." Jawab Ray yang tak memalingkan pandangannya dan terus mengikuti langkah Avril.
"Apa Alvi terlalu sibuk?"
"Begitulah."
"Ohhh...." Noah tersenyum tipis melihat keseriusan Ray.
"Hei Avril." Panggil Noah membuat Ray panik dan segera bersembunyi. Sontak Avril menoleh dan tersenyum tipis menanggapi. Segera Noah menyusul Avril yang terdiam seakan sudah tahu bahwa Noah akan menghampirinya.
"Kau hanya sendiri? Mau menjenguk Aldi? Dimana Alvi?" Bukannya menjawab, Avril malah memalingkan wajahnya dan melanjutkan langkahnya.
"Hei... ada masalah?" Dan Avril masih enggan menjawab.
"Noah... apa kau kenal pada Emira?" Noah menyernyit mendapati pertanyaan Avril.
"Sepertinya aku pernah dengar. Kalau tidak salah, wanita yang bernama Emira itu kerabatnya Aldi. Dia sering mengunjungi Aldi. Bahkan seminggu ini dia selalu menjenguk Aldi. Memangnya kenapa?"
"Dia selingkuhan Alvi." Jawab Avril tanpa basa-basi. Ray menepuk dahinya mendengar percakapan Avril dan Noah. Ia merasa bimbang. Haruskah ia ikut dalam obrolan mereka dan menjelaskan bahwa Avril hanya salah faham.
"Apa? Tidak mungkin Avril. Mustahil Alvi selingkuh." Bantah Noah yang terhenti dari langkahnya.
"Seminggu yang lalu, aku mendengar sendiri percakapan mereka tentang kejadian di London, di hotel." Jawab Avril dengan suara pelan.
"Avril... meskipun dia bajingan, tapi aku tahu bagaimana dia mencintaimu."
"Lalu? Aku harus percaya setelah mendengar ucapan mereka, dan sekarang Alvi tak ada menemuiku. Aku dan Alvi tidak serumah. Aku di rumah ayah, dan dia tidak menemuiku sama sekali." Jelas Avril membuat Noah diam. Ia benar-benar tak percaya jika benar Alvi main api di belakang Avril.
"Asal nona tahu, tuan Alvi selalu pulang ke rumah nona saat malam." Batin Ray menatap nanar punggung Avril. Seketika Avril menoleh dan tak mendapati siapapun yang mencurigakan karena Ray segera menyembunyikan diri agar tak ketahuan.
"Sekarang kau mau kemana?" Tanya Noah kembali melangkah beriringan dengan Avril.
"Poli kandungan." Jawab Avril singkat. Noah tercengang dan menatap Avril tak percaya.
"Kau?" Avril mengangguk dan langsung memberi kode agar Noah diam.
"Jangan biarkan orang lain tahu. Apa lagi Alvi."
"Emm... sebaiknya kita bicara di ruanganku saja." Ucap Noah ketika mengingat keberadaan Ray di sana.
. "Besok kau pulang?" Tanya Dinda dengan terkejut dan berbinar mendengar berita dari Aldi.
__ADS_1
"Aku sudah berapa lama disini? Sudah sesak. Pekerjaanku sudah menumpuk."
"Jika memang sudah pulih, tak apa kau kembali bekerja. Tapi jika masih sakit, usahakan untuk istirahat dulu. Karena lukamu tidak ringan." Ujar Dinda menasehati. Aldi hanya tersenyum tipis menanggapi.
"Terima kasih." Ungkapnya pelan namun masih terdengar jelas oleh Dinda.
"Hem? Untuk apa?" Imbuh Dinda terheran.
"Untuk waktumu. Dan, apa aku boleh bertanya?" Dengan ragu, Dinda tersenyum tipis sembari mengangguk mengiyakan.
"Kenapa kau peduli padaku? Dan bukankah kau punya pacar?" Tanya Aldi dengan menyernyit dan mencoba memastikan bahwa laporan Bagas itu benar adanya.
"Sudah putus." Jawab Dinda mendadak sendu.
"Putus?" Aldi terlihat terkejut. Padahal hatinya merasa lega. Karena jika ia benar-benar berniat menjadikan Dinda sebagai istrinya, sudah tak ada lagi yang perlu di khawatirkan. Ibunya sudah merestui, dan Hadi pun jelas pasti merestui. Karena Hadi sendiri yang memintanya untuk di jodohkan dengan Dinda putrinya.
"Iya. Sudahlah aku sedang tak ingin membahasnya." Ucap Dinda sembari memalingkan wajahnya. Terlihat jelas ada kekesalan di wajah Dinda.
"Baiklah. Maaf. Aku tidak bermaksud." Dinda kembali menoleh dan melempar senyum tipis namun terlihat terpaksa.
"Sekarang, pikirkan saja kesehatanmu."
"Tapi kau belum menjawab pertanyaanku."
"Kenapa kau peduli padaku?"
"Apa harus aku jawab?"
"Hemmmm... tak di jawab pun tak apa. Aku hanya ingin tahu saja. Agar aku tidak salah sangka."
"Salah sangka?" Kali ini Dinda menatap lekat wajah Aldi dengan mata yang menyipit.
"Iya. Bagaimana jika aku berpikir kau menyukaiku, lalu aku pun menyukaimu? Padahal itu hanya dugaanku saja. Sakit pasti." Ungkap Aldi dengan menyandarkan punggung dan kepalanya lalu memejamkan matanya satu untuk memastikan respon Dinda bagaimana. Benar saja. Terlihat Dinda salah tingkah setelah mendengar ungkapan Aldi yang bahkan Aldi pun hanya iseng saja. Meskipun ada kejujuran di kalimat itu.
"A-aku...." lirih Dinda yang seperti sulit mengutarakan apa yang ada di benaknya.
"Mengapa sulit sekali. Hanya tinggal memberitahunya saja karena aku yang bertanggung jawab kecelakaan yang menimpanya. Selain karena menyukainya." Batin Dinda dengan gelisah dan enggan melihat pada Aldi.
"Kenapa?" Tanya Aldi mengejutkan Dinda seketika.
"Kau melamun?" Goda Aldi dengan mendekatkan wajahnya pada Dinda.
"Tidak... aku hanya merasa bersalah saja. Apa karena saat aku meninggalkanmu di taman itu, kau mengalami kecelakaan? Apa hatimu sesakit itu?" Lirih Dinda.
__ADS_1
"Kenapa kau merasa bersalah. Wajar saja jika kau menolakku. Jelas aku bukan tipe lelaki yang kau inginkan. Aku saja yang lancang. Berani-beraninya aku yang seorang duda menyukai wanita sepertimu." Aldi terkekeh dan merasa dirinya manusia paling bodoh.
"Tidak Al. Bukan begitu. Kau pria yang baik, dan kau berstatus duda pun karena kehilangan, bukan karena masalah perceraian. Lagi pula aku ada Lio saat itu. Tak mungkin aku mengikat dua lelaki dalam satu waktu." Setelah melontarkan hal itu, Dinda terbelalak sendiri lalu menutup mulutnya.
"Lu-lupakan. Ja-jangan di dengar. Anggap saja aku tak mengatakannya." Ucap Dinda semakin gugup dan menutupi wajahnya yang memerah.
"Bagaimana aku bisa melupakannya? Sedangkan kau bicara saja belum sampai satu menit." Goda Aldi meraih kedua tangan Dinda yang masih menutupi wajahnya.
"Jadi, apa maksudnya?" Bisik Aldi ditelinga Dinda.
"Jangan menggodaku Al. Aku malu." Mendengar rengekan Dinda, Aldi kemudian terkekeh dan mengacak rambut Dinda gemas.
"Hei... lihat aku dulu. Aku ingin bertanya." Titah Aldi mencoba membuka tangan Dinda.
"Tidak. Aku tidak mau."
"Kalau resmi jadi bunda Rei, mau tidak?" Namun Dinda hanya terdiam, deru nafasnya dan detak jantungnya saja yang terdengar.
"Jantungmu berdetak." Ejek Aldi membuat Dinda membuka tangan dan memperlihatkan wajahnya yang tersipu. Lalu Dinda memukul Aldi dengan keras.
"Aku masih hidup Al." Geram Dinda karena kesal.
"Aduduh.... sakit bunda..." lagi, Aldi terus mengejek Dinda yang semakin salah tingkah.
"Al... hentikan."
"Aku serius bun... kalau kau bersedia, setelah aku pulang dari sini, aku akan ke rumah orang tuamu." Ujar Aldi mendadak serius. Dinda menatap lekat wajah Aldi, lalu ia tertawa terbahak-bahak.
"Bercandamu lucu sekali Al." Ucap Dinda masih tertawa.
"Aku serius. Apa keseriusanku kau anggap bercanda?" Seketika Dinda terdiam mendengar penuturan Aldi. Pandangannya menunduk dan ia mulai memikirkan keseriusan Aldi.
"Oke. Aku tunggu. Karena jika kau tak serius dengan ucapanmu, aku akan menerima perjodohan dengan orang lain."
"Kau mau di jodohkan?"
"Iya. Ayahku sudah punya calon untukku. Dan ayahku memberi kesempatan untukku menolak jika aku punya calon sendiri."
"Baiklah... beritahu ayahmu secepatnya aku akan ke rumah untuk melamarmu."
"Apa Aldi benar-benar serius? Atau hanya kata-kata saja? Seperti yang di katakan Lio padaku. Tapi semoga Aldi tidak begitu. Agar aku tidak menikah dengan orang yang tidak aku cintai." Batin Dinda membayangkan sosok pria yang arogan dan tak punya hati.
-bersambung.
__ADS_1