
. Setelah memastikan Avril aman di kantor Alvi, Aldi meninggalkan Reifan disana dan segera menyusul Dinda yang mungkin kembali ke tokonya. Namun, Nisa mengatakan Dinda tak kembali ke toko setelah Dinda pergi tadi. Kemudian Aldi bergegas ke rumah Dinda, dan di sana pun Aldi tak menemukan Dinda. Rumahnya terlihat kosong tak berpenghuni. Aldi mencoba mencari orang yang mungkin bisa ia tanya dan berharap ada yang tahu kemana Dinda. Sampai ada seorang wanita paruh baya menghampirinya karena mencurigai gelagat Aldi.
"Nak Dinda tadi pergi. Bawa koper besar. Katanya mau pulang ke rumah orang tuanya dan dia mau menjual rumah ini. Barang kali ada teman kamu yang mau membelinya!" Tutur ibu tersebut dnegan ramah. Namun hal itu membuat Aldi sedikit kesal. Dinda benar-benar salah faham padanya, mengira ia dan Avril adalah suami istri.
"Baik bu. Terima kasih informasinya." Ucap Aldi bergegas menuju bandara. Ia melajukan mobil seperti sedang kerasukan setan, kecepatannya diluar nalar. Ia tak lagi memikirkan keselamatannya sendiri. Yang ia pikirkan sekarang hanyalah Dinda, Dinda, Dinda.
Sampai di bandara, Aldi segera mencari keberadaan Dinda yang mungkin belum berangkat. Ia melihat jadwal, dan tepat waktu. Jam ini, menit ini, dan detik ini, Dinda memasuki pesawat. Aldi melihat jelas Dinda sudah berlalu ke dalam pesawat yang tak bisa ia hampiri. Ia tak punya tiket, dan juga tak membawa apapun hingga petugas menyuruhnya kembali.
"Aldi beralih ke tempat lain untuk menyaksikan pesawat yang di tumpangi Dinda terbang menembus udara hingga ke atas awan. Air matanya berderai menatap kepergian Dinda yang terasa kembali menoreh luka yang sudah sembuh.
"Dinda... sebenarnya apa yang membuatmu pergi? Aku dan Avril hanya masa lalu. Mengapa kau berpikir kami suami istri." Ucap Aldi meraih dadanya yang mulai sesak. Sudah lama ia tak merasakan sesak seperti sekarang ini. Terakhir adalah kepergian Syifa.
"Kembalikan dia Tuhan! Kembalikan dia. Kali ini aku ingin egois. Kau memisahkanku dengan Avril. Lalu kau mengambil Syifa. Aku ingin Dinda kembali Tuhan!! Dindaaaa!" Teriak Aldi yang tak bisa menahan dirinya. Ia tersedu-sedu menangis di balik pagar pembatas antara jalan dan area bandara.
. Seusai Aldi kembali ke rumah, Dewi menyambutnya dengan hangat. Namun senyum Dewi pudar saat melihat anaknya datang dengan wajah berantakan. Mata sembab, air mata masih berderai, dan tatapan yang sayu.
"Kau kenapa Aldi?" Tanya Dewi langsung merangkul sang anak dengan erat.
"Dinda ma... Dinda juga meninggalkanku." Jawabnya terdengar dingin, namun suaranya terdengar lemas.
"Meninggalkan bagaimana?" Dewi terdengar terkejut, ia pikir Dinda sama dengan Syifa.
"Dinda mengira aku dan Avril suami istri. Jadi dia meninggalkanku dan kembali ke kotanya." Jelasnya membuat Dewi ikut lemas.
"Kau tidak mencegahnya pergi?"
"Sudah terlambat. Saat aku menyusulnya ke bandara, dia sudah pergi."
"Kita bicarakan nanti. Sekarang temui orang tua Syifa dulu." Sontak Aldi langsung menghentikan kesedihannya dan menatap lekat wajah sang ibu dengan penuh tanya.
__ADS_1
"Mereka disini. Kebetulan ada urusan." Ucap Dewi seakan menjawab pertanyaan dari sorot mata Aldi. Aldi segera menuju ruang keluarga setelah ia membenahkan penampilannya.
"Aldi... apa kabarmu nak?" Tanya Hasan pada pria yang sempat menjadi menantunya ini. Dan kali ini, ia menganggap Aldi sebagai anaknya pengganti Syifa. Bahkan perusahaannya ia putuskan untuk di gabungkan dengan perusahaan P.
"Ayah dan ibu kapan sampai?" Aldi balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Hasan.
"Baru saja." Jawab Linda ikut masuk ke dalam obrolan.
"Dimana Reifan?" Tanya Hasan kemudian.
"Oh. Tadi sedang bersama Avil. Aldi menitipkannya karena ada urusan." Jawab Aldi
"Dan mengapa kau menangis?"
"Tidak ayah. Hanya teringat mereka saja." Kini Aldi menjawab dengan melempar senyuman paksa.
"Sudah. Sudah 3 tahun, kau belum menemukan penggantinya?" Kali ini, Aldi memilih untuk diam. Rasanya menjawab pun malah membuat dadanya semakin sesak.
"Iya ayah." Hanya begitu tanggapan Aldi yang sebenarnya tengah patah hati. Dewi ikut termenung melihat Aldi yang berusaha kuat padahal ia begitu rapuh hari ini.
. Setelah melewati beberapa jam perjalanan, akhirnya Dinda sampai dan mengejutkan seluruh keluarganya. Karena setibanya di rumah, Dinda langsung memasuki kamar dan menguncinya rapat-rapat.
"Dinda... kau kenapa? Pulang-pulang langsung menangis dan mengurung diri." Salma mengetuk pintu terus menerus berharap Dinda akan membukanya. Namun sampai malam, Dinda tak kunjung keluar kamar. Bahkan Dinda belum makan. Sampai Hadi menyuruh Andra dan CS nya untuk mendobrak pintu kamar Dinda. Alangkah terkejutnya mereka saat mendapati Dinda yang tergeletak di lantai dengan wajah yang sudah pucat.
"Dinda ya ampun nak. Bangunlah. Kau kenapa? Dinda? Kau dengan ibu tidak? Mas... bagaimana ini?" Dengan panik Salma terus menangis memeluk kepala Dinda.
"Sebaiknya kita bawa ke rumah sakit. Ayo cepat." Setelah Hadi berkata demikian, mereka segera membawa Dinda ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan.
. "Putri anda kekurangan cairan dan trombositnya turun. Nona akan di rawat beberapa hari untuk menambah cairan dan menaikkan trombosit agar kondisi tubuhnya kembali stabil." Jelas dokter setelah memeriksa kondisi Dinda.
__ADS_1
"Baiklah dok. Tolong!" Balas Hadi dengan nada memohon.
Setelah dokter mengizinkan keluarga untuk masuk dan melihat Dinda, Hadi segera menemui putri sulungnya itu dan memeluknya penuh kerinduan.
"Dinda... kau kenapa nak? Mengapa kau tidak memberitahu ayah kau akan pulang." Mendengar suara sang ayah, Dinda malah kembali menangis terisak membalas pelukan Hadi.
"Ayah... aku kalah." Ucapnya dengan lirih.
"Apanya yang kalah nak?" Tanya Hadi yang tak mengerti maksud Dinda.
"Sekarang, aku akan menerima saja di jodohkan dengan pilihan ayah." Tuturnya langsung membuat Hadi terdiam.
"Ayah tak akan memaksa nak. Jika kau ingin hidup dengan pilihanmu, maka hiduplah dengan bahagia."
"Tapi nyatanya pilihanku semua membuatku sakit hati saja ayah."
"Lalu, apa kau sudah yakin akan menerima pilihan ayah?"
"Yakin tak yakin, aku akan menerimanya."
"Kalau begitu, sembuhlah dulu. Nanti kita bicarakan lagi." Hadi melepaskan pelukannya dan meraih wajah Dinda.
"Ayah merindukanmu nak." Ucap Hadi lagi kali ini tak bisa menahan tangis haru yang sedari tadi sudah memaksa keluar dari kelopak matanya.
. Beberapa hari kemudian, Hadi mengadakan acara penobatan Dinda sebagai pewaris bisnisnya dan dengan resmi menyatakan bahwa Dinda menjadi presdir menggantikan dirinya. Berita itu sudah tersebar kemana-mana, bahkan sampai ke telinga Aldi, dan Avril.
"Jadi, Dinda adalah pewaris utama perusahaan terbesar di kota S?"
"Iya benar nona." Jawab Ray yang berdiri di belakang Avril.
__ADS_1
-bersambung