RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
48


__ADS_3

. "Kau pikir Alvi akan mengizinkannya? Jangan bodoh Bagas. Aku susah payah meminta izin pada suamiku, dan sekarang kau mau membuatku tidak di izinkan bekerja." Ucap Avril dengan setengah berteriak.


"Tapi hanya kau yang bisa mendampingi Aldi Vil. Jika kau jadi sekertaris Aldi, akan lebih mudah menemukan titik masalahnya. Karena kita berempat bekerja sama di tempat yang berdekatan. Sekaligus, kita bisa mengawasimu." Bujuk Bagas dengan memohon agar Avril mau menjadi sekertaris Aldi kembali.


"Walaupun aku bersedia, tapi Alvi tak akan mengizinkanku. Yang ada dia akan melarangku dan membuatku tidak bekerja sama sekali."


"Aku yang akan bicara pada suamimu!" Ujar Bagas terdengar begitu serius. Mendengarnya, Avril terdiam sesaat sembari menebak kemungkinan yang terjadi jika Bagas bicara pada Aldi.


"Emmm sebaiknya jangan Gas. Aku tak mau kehilangan kesempatan ini."


"Jika Alvi mengerti masalahnya, dia pasti akan memberimu izin." Namun, Avril hanya menghela nafas berat dengan mendadak gelisah. Ia tak bisa membayangkan kemarahan Alvi nantinya. Mungkin jika sebagian orang, menjadi sekertaris presdir itu hal yang istimewa. Selain gajinya yang terhitung besar, kesempatan dekat dengan Aldi pun hanya berjarak beberapa jauh saja.


"Apa sekertaris Reno tidak tahu apa-apa? Atau hanya mengelak?" Tanya Avril setelah hening beberapa saat. Ia pun jadi ikut memikirkan hal yang terasa tak masuk akal.


"Dia bilang, dia hanya membawa berkas yang sudah berada di mejanya setelah jam masuk tiba. Dan memang yang selalu menyimpan berkas seperti itu hanya Reno saja."


"Mengapa dia menyimpulkan itu dari Reno. Bukankah banyak yang memberikan berkas dari divisi lain?"


"Sekertaris Reno selalu membatasi waktu mereka saat memberikan berkas dari divisi-divisi lain. Dan jika ada map berbeda, maka itu hanya Reno yang menyimpan. Seakan sudah jadi kebiasaan, Reno selalu menyimpan beberapa berkas yang ia periksa dan belum sempat di tandatangani oleh Aldi. Jadi sekertarisnya berpikir itu adalah ulah Reno."


"Bukankah Reno menyuruh sekertarisnya untuk membuat berkas? Dan Reno tak harus membuat sendiri. Sebenarnya direktur itu seperti presdir kan? Dia hanya memastikan perusahaannya stabil dan tidak terlalu banyak bekerja. Apa lagi sekarang, perusahaan Aldi sudah meningkat pesat sejak 2 tahun yang lalu kan?"


"Itulah masalahnya Vil. Di kamera CCTV kita tak mendapatkan bukti apa-apa."


"Lalu? Kau pikir ini ulah hantu? Berkasnya tiba-tiba ada di meja sekertaris, tanpa ada yang menyimpan? Dan isi suratnya pemindahan saham atas nama Aulian? Rekan yang baru beberapa hari menjadi partner bisnis Aldi."


"Aku curiga ada pihak Aulian yang menjadi pegawai Aldi."


"Maksudmu mata-mata atau penyusup begitu? Haha Bagas.... ini bukan sinetron..." Avril tertawa lepas namun dengan pikiran yang berkecamuk. Ia seakan di hadapkan sebuah fuzzle yang harus di susun rapi. Jika saja Alvi memberinya izin, ia mungkin akan mudah untuk membantu Aldi.


"Ini bukan lelucon Avil." Berbeda dari biasanya, kini Bagas menegur dengan wajah yang serius dan berhasil membuat Avril terdiam.


"Sebentar lagi Alvi pulang." Ucap Avril tak kalah serius.


. "Rapi sekali pekerjaanmu Lani." Ucap Aulian tersenyum puas.


"Bagaimanapun, Aldi tidak secerdik Alvian. Buktinya dia dengan mudah menandatangani surat yang hanya iseng di buat. Tapi bisa menjatuhkannya seketika." Ucapnya lagi dengan tertawa semakin puas.


"Tak peduli pada Emilio, setelah membuat Hadi putus kerja sama dengan Aldian, aku akan melamar Dinda pada Hadi." Batinnya memberi kode agar gadis didepannya segera pergi.


. Menjelang malam, Bagas menyipit ketika melihat Alvi datang dan di sambut hangat oleh istrinya. Avril begitu manja karena mungkin ia sudah di izinkan untuk bekerja.

__ADS_1


"Kau tampak senang?" Sindir Alvi dengan memasang wajah heran.


"Hehe" balasnya begitu saja. Ia tahu, setelah Bagas bicara rasa senangnya akan pudar seketika.


"Aih. Ada tamu? Sudah lama?" Alvi beralih menatap Bagas yang terlihat kesal karena menunggu.


"Lumayan. Apa kabar tuan Alvian Revano?" Alvi menyernyit seraya membalas uluran tangan Bagas yang mengajaknya bersalaman.


"Baik." Jawabnya jelas terlihat raut wajah yang terheran.


"Apa maumu?" Kini Bagas menjadi terbelalak mendengar pertanyaan Alvi yang memang benar adanya. Ia sedang ada keinginan sampai bersikap demikian pada Alvi.


"Jangan memasang wajah begitu. Aku sudah tahu, jika sikapmu begini, kemungkinan kau sedang menginginkan sesuatu dariku." Sontak Bagas langsung memasang kembali wajah seriusnya. Tak biasanya, kini Alvi merasa ada yang berbeda pada Bagas.


"Apa ada masalah?" Tanya Alvi kemudian.


"Ah. Iya. Sangat besar."


"Tentang?"


"Kecerobohan Aldi."


"Maksudmu?"


"Oh... itu wajar Gas. Aku juga selalu memberikan saham pada rekan bisnisku. Memang begitu cara agar kerjasama terjalin dan saling mempercayai."


"Apa menurutmu wajar jika 50%?"


"Apa?" Pekik Alvi yang semula santai kini begitu terkejut.


"Dia tidak membacanya dan main tanda tangan saja." Decih Bagas yang sudah begitu kesal pada teman kecilnya.


"Kapan surat itu akan di ambil pemiliknya?"


"Tidak ada yang tahu Al. Surat itu tiba-tiba ada di meja sekertaris Reno."


"Sudah cek CCTV?"


"Sudah Al. Dan tak ada yang mencurigakan."


"Begitu ya? Baiklah aku mengerti. Aku akan mengirim Ray untuk menyelidiki masalahnya dimana."

__ADS_1


"Ti-tidak Al. Jangan Ray. Kau sangat membutuhkannya kan? Peran Ray sangat penting bagimu." Sejenak Alvi menyernyit, lalu ia menoleh pada istrinya yang berada di sampingnya.


"Kapan kau mulai bekerja?" Tanya Alvi pada sang istri.


"Senin." Jawabnya singkat.


"Baiklah. Bagaimana jika kita barter. Ray ke perusahaan P, dan Avril berkerja denganku." Tutur Alvi dengan senyum yang mengembang.


"Ta-tapi..."


"Ray lebih mengerti dari pada Avril!" Tegas Alvi dengan aura suram membuat Bagas menciut seketika.


"Jika Avril denganmu, nantinya kalian bukan untuk bekerja. Tapi malah--"


"Malah apa hah? Avril itu istriku."


"Avril juga temanku."


"Hanya teman kan?"


"I-iya... tapi.... ishhh Alvi... begini. Jika Ray ada di perusahaan P, kita akan sulit menemukan musuh karena mereka dengan mudah tahu siapa partner yang mendukung Aldi selain perusahaan A."


"Memang semua orang sudah tahu kan kalau aku berpihak pada Aldi?"


"Iya aku tahu, tapi..."


"Masih ada tapi?"


"Maksudku begini Al. Jika Avril yang menjadi sekertaris Aldi, dia akan memanipulasi menjadi karyawan biasa. Jika kau takut ada yang menggodanya atau apapun, suruh saja istrimu ini berpenampilan biasa saja."


"Hahaha Bagas.... apa kau tak pernah menyadari, sesederhana apapun penampilan istriku, bahkan saat wajahnya tak beraturan pun, istriku tetap cantik. Jadi, jangan harap aku akan mengizinkannya berada di dekat Aldi." Alvi beralih menjadi tegas.


"Al... plisssss... hanya sampai masalahnya selesai."


"Tidak Bagas. Bukan karena Aldi dan Avril pernah pacaran, tapi aku tahu jadi sekertaris presdir itu bagaimana. Dan juga, kondisi Avril sedang...." Tutur Alvi menoleh kembali pada Avril yang menunduk. "Aku tak mau dia kelelahan. Aku mengizinkannya bekerja hanya untuk menyenangkan hatinya saja. Jika kau meminta lebih, maaf sebaiknya Avril jangan bekerja." Sontak Avril menoleh kasar pada Alvi setelah mendengar lanjutan ungkapan suaminya.


"Kau di bagian apa?" Tanya Alvi dengan mengelus kepala Avril penuh rasa kasih.


"Pemasaran." Jawabnya lirih.


"Kau tahu Bagas? Bagaimana kecemasan suami mendengar istrinya mau bekerja setelah mendapat berita dia keguguran?" Bagas hanya terdiam, jelas ia bisa merasakan kecemasan Alvi sekarang.

__ADS_1


-bersambung.


__ADS_2