RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
129


__ADS_3

Di tengah candaan mereka, telepon di meja Hadi berbunyi sehingga Dinda beranjak dan menjawab panggilan tersebut. Terlihat Dinda mengangguk lalu melirik pada Aldi dengan sinis. Dan setelahnya, telepon terputus, dan Dinda kembali menghampiri suaminya.


"Apa tadi kau bertemu Shana?" Tanya Dinda menginterogasi.


"Emmm sempat. Memangnya kenapa?" Tanya Aldi dengan wajah yang datar dan tak menunjukkan ekspresi apapun.


"Pantas saja kau merasa senang. Ternyata bertemu dengan--"


"Apa lagi? Kau mau mengatakan bahwa aku menyukai Shana? Sudahlah! Kenapa kau selalu mencari-cari masalah? Ingat ya! Aku ini tipe orang yang cukup dengan satu orang. Kalaupun aku berniat berpaling, itu akan aku lakukan setelah aku kehilanganmu. Dan, aku tak ingin itu terjadi. Sekarang, kau hanya satu-satunya. Tak ada yang lain." Tegas Aldi menyela kalimat Dinda. Terlihat kini Dinda menunduk dan memalingkan pandangannya ke arah lain karena terlalu cemburu pada Shana.


"Kau ada rapat dengan Shana?" Tanya Aldi kemudian, lalu di tanggapi anggukan oleh Dinda. "Ya sudah. Aku ikut." Lanjut Aldi membuat Dinda mengernyitkan alisnya. Ia kembali merasa cemburu dengan Aldi yang akan ikut ke ruang rapat setelah mereka membahas Shana.


"Jangan menatapku begitu! Aku tak akan meliriknya sedikitpun." Ucap Aldi meyakinkan Dinda seraya mengusap wajah Dinda yang sudah ketus.


Keduanya bergegas menuju ruang rapat, dan sebelum benar-benar memasuki ruangan, salah seorang pimpinan menghampiri mereka.


"Nona Dinda. Maaf jika saya tidak sopan. Tapi apakah anda bisa memberi izin pada Tuan Aldian untuk membantu kami?" Ucapnya dengan penuh kesopanan dan hati-hati.


"Maksudnya?" Tanya Aldi dengan sedikit keheranan.


"Tuan Hadi bilang, tuan Aldian sedang luang, dan kami butuh anda untuk menjadi pimpinan di rapat kami. Hanya sekedar dokumentasi saja pada klien." jelasnya menjawab apa yang mungkin Aldi pertanyakan di benaknya. Mendengar hal itu, Aldi menoleh pada Dinda untuk meminta pendapat. Dan jelas saja Dinda mengangguk dengan girang karena Aldi tak jadi bertemu dengan Shana.

__ADS_1


Kemudian, Aldi mengikuti orang yang diketahui sebagai manager di salah satu departemen. Sementara itu, Dinda memasuki ruangan dengan wajah yang berseri dan menyapa Shana dengan ramah. Dalam hatinya terus merasa bahagia karena Shana tidak bisa bertemu dengan Aldi. Shana pun tak kalah ramah membalas sapaan Dinda. Sebab dalam hatinya juga, ia merasa bahagia karena akan menang menyaingi Dinda baik dalam hal karir, atau mendapatkan Aldi. Karena setahunya, Dinda dan Aldi sudah benar-benar membatalkan pernikahan mereka dan mungkin hanya menjadi rekan bisnis saja.


Singkatnya, saat rapat berlangsung, Dinda yang membahas tentang kerja sama antar perusahaan, tiba-tiba Shana menyela dengan sopan.


"Apakah Presdir Aldian juga akan di ikut sertakan dalam proyek ini? Anda sendiri tahu kalau Aldian lebih paham tentang proyek yang akan kita buat sekarang." Jelas Shana membuat Dinda mengernyitkan dahinya. Lantas ia melemparkan tatapan penuh arti pada Shana karena sudah membawa nama Aldian dalam rapatnya.


"Kenapa kau menyinggung sua-- emm maksudnya Aldian?" Tanya Dinda mencoba memancing Shana agar ia tahu apakah Shana hanya beralasan saja untuk lebih dekat dengan Aldian atau tidak.


"Kebetulan perusahaan keluargaku sudah bekerja sama dengannya, dan perusahaan anda pun begitu. Jadi, apa tidak sebaiknya kita bergabung bersama-sama agar proyek ini sukses besar?"


"Tidak. Aldian sedang banyak pekerjaan. Setelah dari sini, dia harus menjalani perjalanan bisnis ke luar kota. Aku rasa, Aldian tak akan setuju." Balas Dinda begitu hafal jadwal dan kesibukan Aldian.


"Kalau begitu, biar saya yang bicara. Siapa tahu--"


Setelah rapat selesai, Shana mengejar Dinda yang lebih dulu keluar dari ruangan. Ia menarik tangan Dinda dengan pelan sehingga Dinda menoleh padanya.


"Din... bisa kita bicara?" Tanya Shana dengan tatapan harap.


"Bukankah pembicaraan sudah selesai di ruang meeting?" Dinda balik bertanya menepis firasatnya yang mendadak tak tenang.


"Bukan tentang pekerjaan. Tapi...."

__ADS_1


"Maaf Shana. Hari ini aku harus pulang cepat. Pekerjaanku sudah selesai. Dan ibuku sudah menunggu di rumah." Secepatnya Dinda menyela agar Shana tak meneruskan ucapannya. Dan ketika ia hendak berlalu, Shana kembali menahan langkahnya.


"Nanti malam, kita dinner. Dengan kakakku. Tentang pekerjaan. Dan, Aldian juga." Mendengar ungkapan Shana yang terbata itu, Dinda mendadak heran mengapa Aldi ikut?


"Aldi?" Tanya Dinda tak bisa menyembunyikan wajah penasarannya.


"Iya Aldi. Tak apa kan? Tapi kalau kau tak nyaman pun, kita bertiga saja." Ucapnya lagi. Dinda semakin heran dengan maksud 'tak nyaman' yang di lontarkan Shana. Jelas ia akan merasa tak nyaman jika nantinya Shana dekat-dekat dengan Aldi.


"Baiklah. Nanti aku bicara pada Aldi. Beritahu saja tempatnya." Ucap Dinda kemudian berjalan angkuh meninggalkan Shana yang masih terdiam. Meski tak berekspresi, namun Shana menyimpan rasa bahagia karena selangkah lagi ia akan mendapatkan Aldi. Rencana dari dinner malam ini, tak lain hanya untuk mendekatkan Sean dengan Dinda, agar Shana bisa bersama dengan Aldi. Yang tak pernah ia tahu kenyataannya, Dinda adalah istri sah dari Aldian.


Singkat cerita, malam tiba, dan Aldi begitu santai melihat Dinda yang sudah bersiap. Ia merasa malas jika harus bertemu dengan Sean. Tapi, hal itu juga akan menjadi jalannya untuk memberitahu Sean siapa dirinya. Aldi menyunggingkan senyum membayangkan wajah kecewa Sean saat tahu Dinda sudah menjadi miliknya.


"Al... kenapa belum ganti baju?" Tanya Dinda dari meja rias.


"Semangat sekali. Mau bertemu Sean ya?" Dan saat itu, Dinda mendelik malas. Ia tak ingin bertengkar dengan Aldi hanya karena hal sepele.


"Al... Shana bilang ingin membahas pekerjaan. Kalau memang tak ada yang penting, kita langsung pulang saja."


"Heummm oke oke." Hanya begitu tanggapan Aldi mendengar celotehan Dinda.


Singkatnya, Aldi dan Dinda bergegas menuju restoran yang di pilih Shana sebagai tempat pertemuan mereka. Dan saat memasuki area parkir, Dinda buru-buru keluar dari mobil dan ingin ke toilet. Aldi yang melihatnya pun hanya menggeleng pelan seraya melangkah ke arah pintu. Aldi masuk lebih dulu atas permintaan Dinda sebelum ia pergi, dan menunggunya di dalam. Dan, Aldi pun menghampiri Shana yang sudah berada di mejanya. Aldi terheran mengapa tak ada Sean di sana. Dan ternyata, Shana memisahkan meja pertemuan mereka sehingga Aldi dengannya, dan Dinda dengan kakaknya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2