
. Hari berganti hari, Alvi lebih sering menemui Avril setelah tahu kebenarannya. Meski begitu, sikap Avril masih tak berubah, ia masih acuh pada Alvi karena rasa kecewanya.
"Kau ingin sesuatu?" Tanya Alvi sembari mengelus rambut Avril yang bersandar di tempat tidur. Ia hanya menggeleng menanggapi seakan tak ingin terlibat percakapan lebih lama dengan suaminya. Ia terus fokus pada buku novel kesukaannya.
"Sayang... mau sampai kapan? Harus bagaimana lagi aku membuktikannya?" Namun, Avril masih terus diam. Bahkan melirik pun ia enggan.
"Avril. Apa aku harus mati dulu agar kau percaya?" Tanya Alvi kemudian mencengkram bahu Avril sehingga Avril sendiri menghentikan aktivitas membacanya dan beralih menatapnya.
"Lalu, apa yang kalian lakukan di hotel saat di London? Khilaf apa yang menjadikannya takut jika kak Amel tahu? Bukankah kak Amel sangat mencintaimu? Dan jika bukan kalian melakukan hal yang menjijikan, lalu apa?"
"Kau mendengar itu? Lalu apa lagi yang kau dengar?"
"Kenapa terkejut? Apa aku benar? Kau tak bisa mengelak."
"Tidak Avril kau salah faham."
"Salah faham apa lagi?" Kali ini Avril menepis tangan Alvi dan sedikit menggeser menghindari kontak fisik dengan Alvi.
"Avril. Emira sudah menikah. Dan saat itu dia mabuk dan tidur dengan pacarnya."
"Dan kau pacarnya itu kan?"
"Avril! Dengarkan aku dulu. Jangan menyela."
"Apa lagi? Aku harus mendengarkan alasan dan kebohongan apa lagi?"
"Kubilang diam. Dan dengarkan!" Tegas Alvi membungkam Avril hingga terdiam seketika.
"Aku tak berpacaran dengan siapapun. Bukankah kau juga bilang jika salah maka dengarkan, jangan begini! Kau memang tidak pergi, tapi pikiran emosimu yang selalu membuatku merasa kau semakin jauh." Alvi termangu melihat Avril yang menurut dan diam tak mengelak apa yang di ucapkan Alvi.
"Beritahu aku caranya agar kau bisa memaafkanku." Ucap Alvi kemudian.
__ADS_1
"Harusnya tanpa aku bicara pun kau sudah tahu apa yang harus kau lakukan agar aku bisa percaya."
"Baiklah. Setelah pulang dari kantor, aku pastikan bukti pernikahan Emira dan bukti selama aku di London, aku tak melakukan apapun. Dan satu hal. Jika kau mengira titik masalahnya saat aku di hotel, saat itu aku tidak melakukan hal apapun, aku hanya membantu Emira yang terjebak karena dia mabuk. Dan dia ketakutan jika sampai Amel tahu dia sudah tidur dengan laki-laki, Amel akan kecewa. Karena Emira yang sudah tahu penyakit Amel, khawatir jika Amel semakin down. Itulah kenapa, dia selalu meminta perlindungan padaku."
"Kau tidak berbohong kan?"
"Avril... untuk apa aku berbohong? Setelah aku bertemu denganmu, jangankan berbohong. Rasanya untuk sekedar menyembunyikan satu katapun aku tak bisa. Kau sendiri tahu, kau lebih berarti dari apapun. Aku menyayangimu, dan juga dia." Terlihat Avri terhenyak mendengar kalimat terakhir Alvi. Berani sekali Alvi kembali membuatnya cemburu setelah belum sampai satu menit Alvi meyakinkan Avril.
"Kau sendiri yang mengakui." Ucap Avril tersenyum miris. "Sebaiknya, sekarang kau pilih saja. Aku atau dia yang kau sayang." Lanjutnya kembali memasang wajah kecewa. Namun, Alvi hanya terkekeh mendengar kekesalan Avril.
"Aku tak bisa sayang. Kalian sangat berharga." Namun, kalimat itu malah membuat Avril semakin suram. Terlihat air matanya menggenang jelas tengah menahan diri untuk tidak menangis di depan Alvi. Istri mana yang kuat jika mendengar suaminya sendiri mengatakan sayang kepada dua orang selain dirinya.
"Kenapa kau menangis?" Tanya Alvi mendadak khawatir lalu menyeka air mata yang terjatuh dan mulai mengalir di pipi sang istri.
"Pergilah Al. Jika kau mencintainya, pergilah. Aku paling tak suka jika yang aku punya terbagi dengan orang lain."
"Kau ini bicara apa? Kau satu-satunya sayang." Alvi terkekeh, namun 'plak' dengan keras Avril menampar Alvi sampai wajahnya berpaling.
"Kau sangat berisik sayang. Telingaku panas dari tadi kau terus menuduhku selingkuh. Kau tidak bertanya dia itu siapa kan? Kenapa kau terus menebak-nebak. Dan kenapa kau tak memberitahuku bahwa aku akan menjadi ayah? Atau, anak itu bukan anakku?" Lagi, Avril menampar wajah Alvi dengan lebih keras.
"Kau pikir aku wanita gila? Meskipun kau bajingan, aku tak pernah sedikitpun berniat selingkuh. Tidak seperti kau."
"Avril... sudah aku jelaskan yang sebenarnya. Tapi kau masih...... Apa kau mau menyaksikanku jatuh dari atap gedung agar kau percaya?"
"Silahkan lakukan saja. Karena memang kau yang selingkuh." Tak disangka, Alvi mendapatkan jawaban yang jelas diluar dugaan.
"Baiklah. Aku pergi sekarang, dan kau stay didepan Tv untuk memastikan kematianku." Ucap Alvi terdengar sangat serius. Bahkan wajahnya tak seperti saat biasa Alvi menatapnya. Kini, terlihat dingin dan datar tak berekspresi. Melihat Avril yang tak bereaksi, Alvi tersenyum miris dan langsung berbalik meninggalkan kamar Avril.
"Al..." panggil Avril namun tak dapat menghentikan langkah Alvi. Ia berniat menyusul Alvi, namun pakaiannya tak pantas jika harus keluar rumah.
Dengan tergesa, Avril bersiap mengganti pakaian dan segera menyusul Alvi yang jelas sudah berlalu dari rumahnya.
__ADS_1
Avril melajukan mobil secepat yang ia mampu, dan ia mulai kesal karena tak bisa mengejar mobil Alvi.
Sampai di parkiran, Avril bergegas memasuki lift yang ada di dalam parkiran untuk menuju lantai ruangan Alvi. Dan ketika ia sampai di meja Ray, Ray kebingungan karena Alvi tak ada ke kantor hari ini.
"Ray... ikut aku." Ucap Avril dengan panik.
"Nona mau kemana?" Tanya Ray yang ikut terbawa panik.
"Ke atap Ray. Alvi pasti ke atap." Jawab Avril sembari memasuki lift. Karena tak mungkin jika ia menaiki tangga darurat di kondisinya yang sekarang. Benar saja, Alvi tengah berdiri di tepi atap menatap hamparan kota di siang hari.
"Al... jangan Al. Aku percaya. Aku sudah memaafkanmu. Jadi, kumohon jangan bodoh. Plisss... aku tak siap jika anakmu lahir tanpa ayah. Aku juga membutuhkanmu untuk merawatnya bersama-sama. Bukankah kau sangat menginginkan kehadirannya? Sekarang, apa kau akan tega meninggalkanku dan anak ini?" Pecah tangis Avril lalu ambruk terduduk karena lututnya terasa lemas dan perutnya terasa nyeri. Ray segera meraih Avril yang terus memegangi perut bawahnya.
"Sakit Ray." Lirih Avril mencengkram jas Ray di sampingnya.
"Avril...." pekik Alvi yang langsung meraih Avril dan segera membawanya menuju rumah sakit.
. Bagas yang tengah mendesign ulang laporan Reno, merasa ada yang berdiri di depan mejanya. Dan benar saja. Ia terkejut melihat Dinda dengan anggun membawa makan siang untuk Aldi.
"Di-Dinda." Ucapnya terbata.
"Apa Aldi masih meeting?" Tanya Dinda dengan ragu.
"Sudah kembali. Silahkan masuk saja." Dinda tersenyum begitu ramah lalu dengan perlahan ia membuka pintu ruangan Aldi. Menyadari ada yang masuk, sontak Aldi menoleh dan tersenyum ketika melihat Dinda menghampirinya.
"Kau sedang sibuk tuan?"
"Yaa begitulah. Pekerjaanku lebih banyak dari yang ku kira."
"Semangat tuan. Aku membawakanmu makan siang."
"Wah... sudah berani mengirim makan siang. Jadi, sudah siap juga menjadi nyonya Aldian Mahendra?" Ejek Aldi membuat wajah Dinda menjadi tersipu.
__ADS_1
-bersambung