
. Avril membawa tas kerja milik suaminya dan mengantarkan sampai depan rumah.
"Jangan kemana-mana dulu. Istirahat saja. Dan jika bisa jangan dulu bertemu Rei. Nanti Rei akan ikut sakit." Ujar Alvi menasehati. Kecemasannya begitu terlihat karena khawatir demam Avril yang serius. Sangat jelas dari wajahnya yang begitu pucat dan sorot matanya yang sayu.
"Tak apa Al. Aku baik-baik saja. Sebentar lagi juga baikan."
"Avril. Sayang. Jangan egois. Wajahmu sangat pucat."
"Tapi aku tidak pusing Al. Hanya mual saja karena asam lambungku yang naik."
"Tapi sebaiknya panggil Noah. Jangan menebak-nebak. Aku takut terjadi apa-apa padamu." Avril mengangguk menanggapi nasihat Alvi. Ia melempar senyum manisnya agar Alvi merasa sedikit lebih tenang.
"Baiklah aku berangkat ya." Ujar Alvi sembari mengusap kepala Avril sebelum ia memasuki mobil.
. "Kau serius? Bukankah Avril itu? Ah aku kira yang menikah itu kau dan Avril. Ternyata Alvi. Lalu bagaimana dengan Amel? Bukankah dia cinta mati pada Alvi, dan Alvi juga tahu?" Ungkap Emira dengan antusias.
"Ya mungkin mereka tidak berjodoh. Jadi, aku dan kakakku bisa apa?" Balas Aldi menghela nafas pasrah. "Walaupun Alvi dan kak Amel nyaris bersama, namun takdir tidak berpihak pada mereka." Lanjut Aldi ditanggapi anggukan pelan oleh Emira.
"Jika aku menemui Alvi ke kantornya, apa Avril akan marah?" Tanya Emira dengan wajah polos.
"Jika dia tahu kau temannya, aku rasa tidak akan." Jawab Aldi pun dengan santai.
"Baiklah. Aku pergi dulu. Setidaknya memberitahu Alvi aku ada disini. Dan aku ingin bertanya sesuatu padanya."
"Oke.. jangan membuat masalah ya! Aku dengar Avil sedang sakit. Jadi jangan membuat rumor yang tidak baik."
"Kau pikir aku wanita apa hah?"
"Hehe tidak kak tidak."
Emira bergegas berlalu menuju kantor perusahaan D. Aldi menarik senyumnya dan wajahnya kembali dingin. Ia mengingat Dinda yang mungkin salah faham pada Emira.
"Ah sial. Kenapa dia pergi." Aldi menghempaskan tangannya kesal dan langsung meringis saat tangannya yang patah kembali terkilir.
. Dinda yang melamun di meja pribadinya, secara diam-diam di perhatikan oleh Nisa. Karena sejak Dinda kembali entah dari mana, Dinda langsung terdiam seakan seperti raga tak bernyawa. Namun terlihat pula ia seperti tersadar dan langsung meraih ponselnya.
"Hallo... Dinda... kamu kemana saja?" Tanya Avril dari seberang tanpa sapaan terlebih dahulu.
"Maaf. Aku ada urusan kemarin dan baru kembali."
__ADS_1
"Apa tokomu buka? Asisten suamiku bilang kemarin tokomu tutup."
"Ah... iya. Ada kesalahfahaman kemarin dengan seseorang. Tapi sekarang kembali dibuka. Aku merindukanmu Avril."
"Aku juga. Tapi sepertinya sekarang aku tak bisa kemana-mana."
"Memangnya kenapa?"
"Aku sedang tidak enak badan. Dan suamiku tidak mengizinkanku pergi kemanapun."
"Aih Avril.... semoga lekas sembuh."
"Iya terima kasih. Syukurlah kau baik-baik saja Dinda..." entah kenapa, Dinda langsung terdiam mendengar kalimat itu. Rasanya mengapa bisa kebetulan Aldi dan Avril berkata demikian.
"Emm... Avril.. aku ingin bertanya sesuatu."
"Ya... bertanya apa?"
[Apa baik-baik saja jika aku menanyakan tentang suaminya siapa?] Batin Dinda masih ragu untuk berucap. Hingga ia kembali tersadar oleh panggilan Avril yang terdengar berulang-ulang.
"Apa aku boleh tahu siapa suamimu? Maaf hanya ingin tahu saja."
"Oh... tak apa Dinda. Aku mengerti. Suamiku itu salah satu pimpinan perusahaan di kota ini. Dia juga sering muncul di TV. Nanti aku kenalkan padamu ya."
"Ahahah... kau ini bicara apa? Suamiku itu sangat dingin pada perempuan lain. Dan aku percaya dia tak akan berpaling dariku."
"Ehehe iya maaf." Dinda tersenyum kikuk mendapati jawaban dari Avril. Matanya menyipit setelah ia mendengar samar-samar suara yang memanggil Avril dan disahuti pelan oleh pemilik nama.
"Din... sudah dulu ya. Jika luang nanti aku ke tokomu."
"Baiklah..." dan setelah itu, panggilan terputus.
"Ishhh aku lupa menanyakan tentang itu. Padahal itu yang lebih penting sekarang. Dan saat di rumah sakit pun, kenapa aku tidak langsung bertanya pada Aldi. Ah bodoh." Gerutu Dinda bergumam pelan sendiri.
"Sejak dia pergi, sikapnya jadi begini? Aku harap kakakku ini tidak apa-apa." Batin Nisa mulai khawatir dengan perangai Dinda.
. Avril menatap map yang tersimpan di meja kerja Alvi. Ia melihat sekilas judul yang tertera jelas di sampul map.
"Ya ampun. Kenapa Alvi bisa seceroboh ini." Ucap Avril mulai panik dan ia langsung bergegas mencari baju ganti.
__ADS_1
Setelah lama bersiap, ia segera meraih map itu dan ia terhenti seketika. Kepalanya mendadak berputar membuatnya hampir kehilangan keseimbangan. Dan terasa mual membuat Avril terduduk di sofa menenangkan asam lambungnya yang naik. Namun semakin lama, mualnya semakin menjadi. Avril berlari ke kamar mandi dan berharap bisa mengeluarkan apa yang menjadi penyebab perutnya tidak nyaman.
"Ayolah.... aku buru-buru." Batin Avril yang mulai lemas. Sejenak ia mengingat tanggal berapa hari ini. Dan sudah hampir 2 minggu ia terlambat datang bulan.
"Apa mungkin? Secepat itu?" Gumam Avril penuh tanda tanya. Namun ia bergegas segera menuju tempat Dinda. Dan sebelum sampai di toko Dinda, Avril berhenti untuk ke apotik terlebih dahulu. Ia ingin membuktikan tebakannya benar atau tidak.
Tak perlu waktu lama, Avril sampai di toko Dinda dan segera turun kemudian langsung masuk ke dalam toko.
"Dinda." Panggil Avril dengan terburu-buru.
"Avril? Kenapa kau disini? Katanya kau sakit?" Tanya Dinda yang terheran akan kedatangan Avril yang tiba-tiba.
"Aku boleh menggunakan toiletmu?" Tanya Avril tanpa menjawab pertanyaan Dinda.
"Tentu saja. Yang di atas. Itu toilet pribadiku." Jawab Dinda masih merasa penasaran.
"Oke terimakasih." Dan segera Avril berlalu menuju toilet pribadi Dinda.
Setelah sekitar 5 menit Avril keluar dan wajahnya menjadi berbinar. Dinda menyernyit mengapa Avril sebahagia itu. Segera Avril memeluk Dinda dan Dinda pun membalas pelukan Avril meskipun terheran.
"Aku hamil." Ucap Avril setelah melepaskan pelukannya.
"Serius?" Tanya Dinda ikut merasa senang. Lalu Avril menunjukkan hasil test kehamilan yang ia beli sebelum kemari.
"Syukurlah Avril... kau akan jadi ibu." Avril mengangguk antusias dan langsung kembali menatap test pack di tangannya.
"Aku tak sabar ingin melihat wajahnya saat aku memberikan ini." Ucap Avril yang melompat ringan karena kegirangan. Akhirnya ia bisa mewujudkan keinginan Alvi.
"Ehh... jangan lompat-lompat." Tegur Dinda mendadak khawatir.
"Kalau begitu aku pamit dulu ya. Aku mau ke rumah sakit." 'Deg' mendadak hati Dinda terasa perih saat mendengar rumah sakit.
"Kenapa rumah sakit?" Tanya Dinda terdengar konyol.
"Ya untuk diperiksa. Dan hasilnya aku ingin berikan pada suamiku." Jawab Avril yang langsung bergegas berlalu dari toko Dinda.
Dari rumah sakit, ia langsung bergegas ke perusahaan D. Dengan wajah berbinar, ia membalas sapaan setiap karyawan yang menyapanya. Hingga ia sampai di depan meja Ray, ia menyapa sebentar dan langsung membuka pintu meskipun Ray seakan menahannya untuk tidak masuk.
"Dan kau ingat. Saat di London, malam itu di hotel kau menghampiriku. Dan aku merasa bersalah pada Amel karena kejadian itu. Aku harap Amel bisa memaafkan kehilafanku." Ujar Emira menunduk bersandar di bahu Alvi.
__ADS_1
"Itu sudah berlalu." Alvi mengelus kepala Emira dengan lembut.
-bersambung.