RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
50


__ADS_3

. "Dinda tunggu!" Teriak Emilio saat Dinda bergegas menjauhnya yang menyusul keluar. Dinda sudah tak mempedulikan panggilan Emilio, ia segera memberhentikan taksi dan segera berlalu meninggalkan Emilio. Dinda masih tak percaya, mengapa Emilio sampai membuat Aldi kecelakaan. Namun, hati Dinda masih ragu jika Emilio pelakunya.


Sampai di tokonya, Dinda langsung menuju ruangan atas yang menjadi ruang pribadinya. Nisa yang hendak memberitahukan bahwa ada Aldi mencari Dinda pun mengurungkan niatnya melihat Dinda yang seperti sedang marah. Dinda meraih ponselnya, ia terkejut mendapati 2 panggilan tak terjawab dari Aldi. Mungkin karena ponselnya ia atur dalam mode diam, jadi ia tak mendengar ada panggilan dan pesan masuk. Dinda segera menghubungi Aldi dan berharap Aldi tak marah.


"Hallo." Sapa Aldi dari seberang.


"Hallo Al... maaf tadi tidak terdengar. Ponselku sepertinya berada di mode diam."


"Iya tak apa. Apa urusannya sudah selesai?"


"Urusan?" Dinda menyernyit tak mengerti dengan yang di tanyakan Aldi.


"Iya urusan. Tadi aku ke tokomu, dan Nisa bilang kau sedang ada urusan." Dinda tersadar dan mulai mengerti pada topik pembicaraannya.


"Ohh... i-iya. Sudah." Jawabnya terbata.


"Bagaimana kabarmu? Sudah beberapa hari kau tak ada kabar."


"Em... aku sibuk Al. Kemarin-kemarin padat pembeli, jadi tak sempat mengabarimu. Dan maaf karena tak membuatkanmu makan siang lagi."


"Iya tak apa. Kau baik-baik saja, sudah membuatku lega." Dinda mulai merasa bersalah jika mendengar Aldi mengkhawatirkannya.


"Al... ada yang ingin aku bicarakan." Kali ini, giliran Aldi yang menyernyit, Aldi penasaran hal apa yang ingin di bicarakan oleh Dinda.


"Baiklah. Kau yang tentukan."


"Memang kau tak sibuk?"


"Sepertinya tidak." Jawaban Aldi terdengar tak yakin. Karena yang di rasakan Aldi, jika menyangkut Dinda, maka dunianya tak lagi menjadi prioritas.


"Kalau begitu, nanti sore apa bisa?"


"Baiklah. Kita bertemu dimana?"


"Cafe B." Nafas Aldi mendadak melambat, cafe B itu tempatnya pacaran dengan Avril dan Syifa dulu.


"Al...." panggil Dinda membuyarkan lamunan Aldi.


"I-iya bun... kenapa?"


"Aku tutup ya. Sepertinya kau sedang sibuk." Benar, Aldi memang bekerja, namun saat mendengar suara Dinda rasanya menenangkan. Aldi terbelalak dan mendadak gugup saat seseorang memasuki ruangannya.

__ADS_1


"I-iya.. a-aku sedang sibuk. Ini juga datang lagi pekerjaan." Ucap Aldi memutar kursinya dan enggan untuk berbalik.


"Ya sudah. Lanjutkan saja."


"Iya bun.." terdengar Dinda memutus panggilan setelah Aldi mengucapkan jawaban itu. Aldi membalikkan lagi tubuhnya dan ia tertawa kikuk pada Avril yang memangku tangan dan memasang tatapan sinis.


"Pacaran teruuussss." Sinisnya membuat Aldi jadi salah tingkah.


"Hehehe maaf. Tapi kenapa kau kemari tanpa membawa berkas?" Aldi masih gugup dan ia terus menerus mengusap pundaknya tanpa alasan.


"Aku hanya melaksanakan tugasku saja. Kata Reno dia ingin minta maaf, tapi tidak tahu harus mulai dari mana." Seketika, kegugupan Aldi menghilang.


"Bagaimana kalau kita makan-makan sore ini." Lanjut Avril begitu antusias, namun Aldi sebaliknya. Ia terlihat murung dan tersenyum penuh arti pada Avril.


"Tapi sore ini aku ada urusan Vil."


"Hemm dengan pacarmu ya?" Tanya Avril dengan nada suara dan wajah yang menyesal.


"Maaf ya... lain kali saja." Kini giliran Avril yang tersenyum menutupi kekecewaannya.


"Ya sudah. Aku kembali." Aldi terdiam melihat Avril yang berlalu tanpa menoleh lagi padanya.


Avril yang melewati Lani hanya melirik sesaat dan membalas senyuman Lani dengan senyum tipis.


"Meresahkan." Cetus Avril sembari berlalu dan dengan santai menyindir Lani yang tak mengerti akan ungkapan Avril.


. Ketika jam pulang tiba, Reno menawarkan Avril untuk pulang bersamanya. Namun, Avril hanya menolak, Ray sudah menjemputnya di luar. Reno yang merasa khawatir pada Avril memutuskan untuk mengantarnya sampai mobil Ray berada.


"Terima kasih Ren."


"Sampaikan salamku pada Alvi." Avril hanya mengangguk menanggapi Reno dan ia bergegas ingin segera bertemu suaminya.


"Alvi pulang terlambat ya?" Tanya Avril yang duduk di samping Ray.


"Iya nona. Ada pertemuan mendadak dengan investor dari Belanda."


"Waw.... Pertemuannya diluar kantor?"


"Iya nona. Kita akan kesana sekarang."


"Apa aku akan mengganggu?"

__ADS_1


"Tentu saja tidak nona. Justru tuan akan sangat senang jika nona menyusul tuan."


"Ray... apa kau sudah menyelidiki siapa Lani?"


"Kebetulan setelah nona mengirimkan file tentangnya, saya tahu siapa dia." Sontak Avril menoleh dan penasaran pada apa yang akan di jelaskan Ray.


"Lani adalah asisten Aulian Prayoga. Dan sampai sekarang, Lani masih bekerja dengan Aulian."


"Aulian itu siapa Ray?"


"Presdir dari perusahaan yang ada di kota S. Saat dia mengajukan kerja sama, perusahaannya belum seberkembang sekarang." Jelas Ray lagi. Avril mulai mencerna semua jawaban Ray yang menurutnya terasa ganjil.


"Lalu, masalah si Aulian ini pada Aldi apa? Tak mungkin kan dia berencana membuat Aldi bangkrut tanpa ada alasan?"


"Hal itu masih saya selidiki nona."


. Sampai di cafe, Avril yang memilih untuk berbeda kursi dengan Alvi yang tengah berbincang dengan kliennya, karena ia takut jika mengganggu mereka. Saat Ray hendak menyusul Alvi, Avril menahannya dan menyuruh Ray untuk menunggunya disana sekalian menjagakan tas dan ponselnya.


"Nona mau kemana?" Tanya Ray yang merasa penasaran dan sedikit curiga.


"Ke toilet Ray. Sudah ya.. kau tunggu di sini." Jawab Avril segera berlalu dengan terburu-buru. Ray hanya menghela nafas pelan sembari menatap kepergian Avril. Tak mungkin jika ia mengikutinya sampai toilet untuk memastikan Avril tak macam-macam.


Setelah selesai, Avril bercermin terlebih dahulu dan memastikan riasannya masih aman. Ketika keluar, saat di lorong ia tak sengaja menabrak seseorang hingga ponselnya terjatuh.


"Ya ampun. Tuan. Maafkan saya." Ucap Avril dengan panik dan langsung mengambil ponsel milik orang tersebut. Avril melihat jelas wajah kesalnya yang mendelik malas lalu mengambil dengan terpaksa.


"Apa nona tahu harga ponsel in--" seketika ucapannya terhenti dan wajahnya memerah melihat kecantikan Avril. "Mak-maksud saya... apa nona baik-baik saja?" Avril menyernyit mendapati perubahan sikap pria di depannya ini.


"Jelas-jelas tadi dia marah." Batin Avril tersenyum penuh arti.


"Apa ada kerusakan pada ponsel anda? Berapa biaya yang harus saya ganti?" Tanya Avril selanjutnya, namun pria tersebut hanya tersenyum dan menggeleng pelan menanggapinya.


"Tak apa nona. Ponsel saya tidak rusak. Hanya lecet sedikit."


"Tapi saya serius tuan. Jika ada kerusakan, saya akan ganti rugi."


"Saya juga serius nona. Tak apa." Avril mengangguk, dan hendak pergi namun langkahnya kembali terhenti karena uluran tangan pria didepannya.


"Saya Lian."


-bersambung.

__ADS_1


__ADS_2