
. "Ray... tolong cari tahu siapa adik Aulian dan siapa yang pernah menjadi pacar adiknya itu. Dan wanita itu yang dekat dengan Aldi sekarang. Aku ingin tahu secepatnya." Ujar Avril ditanggapi anggukan oleh Ray yang sigap beranjak dari tempatnya.
"Kau pakai ruang kerjaku saja Ray." Ucap Alvi.
"Baik tuan. Terima kasih." Ray bergegas memasuki ruang kerja Alvi lalu segera mencari apa yang Avril inginkan.
"Bagas. Aku ingin kau lihat ini. Saat Alvi dan Reno bertengkar, kau tak memeriksa rekaman CCTV yang ada di atas meja sekertaris kan?" Bagas sejenak terdiam mengingat beberapa waktu yang lalu, kemudian ia menggeleng dengan terkejut.
"Iya Vil. Aku tidak memeriksanya. Kau menemukan sesuatu?"
"Iya Gas. Sekarang aku tunjukkan buktinya. Dan aku harap, besok kau jelaskan pada Aldi tentang Lani. Dan siapa dia sebenarnya." Avril segera menunjukkan rekaman CCTV dan ia malah terkejut sendiri.
"Kenapa? Gas... ini tidak sama dengan yang aku lihat dengan Reno. Disini, di menit ini, Lani menukar berkasnya Gas. Tapi... kenapa disini Lani tidak menukarnya. Gas... aku melihatnya. Tapi...".
"Avil... kau yakin?"
"Gas... aku tak mungkin keliru. Aku melihatnya. Kalau kau tak percaya, tanya Reno. Aku menunjukkan keganjilannya pada Reno."
"Sayang. Jangan panik." Alvi mencoba menenangkan Avril yang begitu panik memikirkan kemana hilangnya adegan pertukaran berkas yang di lakukan Lani.
"Jadi, kita harus menyelidiki lebih lama lagi ya?" Tutur Bagas membuat Avril sedikit lebih tenang.
"Kau percaya padaku Gas?"
"Kau gadis jujur. Sudah lebih dari 20 tahun kita berteman. Aku tak mungkin tak percaya padamu Vil. Dan, penyelidikan Ray tidak pernah gagal bukan? Aku hanya ingin tahu motif sebenarnya dari Aulian."
"Oke... besok aku akan cek kembali di ruangan CCTV." Ucap Avril mencoba menenangkan dirinya yang benar-benar tak percaya dengan yang ia lihat.
Di ruangan kerja Alvi, Ray menyernyit saat tahu siapa yang saat ini tengah dekat dengan Aldi.
"Ini kan teman nona? Dia pemilik toko bunga itu." Gumam Ray dengan suara pelan. Kemudian ia beranjak lalu menghampiri Avril yang masih berbincang dengan Bagas.
"Nona maaf. Gadis--"
"Nanti saja Ray. Sekarang lebih fokus ke penyelidikan rekaman CCTV untuk membongkar kasus yang di buat Lani dan bosnya. Aku tak tahu siapa Aulian. Tapi rasanya aku ingin menyeretnya ke penjara." Geram Avril kesal sendiri.
__ADS_1
"Kalau begitu. Aku pulang Vil. Kita akan selidiki bersama besok." Ucap Bagas langsung bergegas pulang.
. "Maaf tuan. Saya ceroboh." Ucap Lani yang menunduk di hadapan Aulian.
"Iya. Kau memang ceroboh Lani. Bagaimana jika ada yang menyadari tindakanmu?"
"Tapi, terima kasih sudah membantu saya tuan."
"Terima kasihnya pada Ken. Dia yang merekayasa rekamannya. Jaga-jaga jika ada orang yang melihat tindakanmu."
"Baik tuan."
"Sekarang, bersikap biasa saja, jangan lagi membuat curiga orang-orang di perusahaan Aldi."
"Baik tuan. Tapi... apa saya boleh melapor?"
"Apa?"
"Bagaimana dengan gadis bernama Vania yang menggantikan saya menjadi sekertaris direktur. Sepertinya dia sudah kenal dengan pak Reno. Dan besar kemungkinan, dia juga yang lebih mewaspadai saya."
"Melihat wajahmu, aku sudah mendapatkan jawabannya. Kau jangan khawatir, jika itu mengancam misimu, maka dia mengancamku juga."
"Iya tuan." Jawab Lani kemudian berlalu dari hadapan Aulian.
"Ahhhh aku harap perusahaanku tidak bermasalah saat aku tinggalkan beberapa pekan. Hanya saja aku sudah risih karena ayah menghubungiku terus." Aulian bergumam sendiri seraya menyandarkan tubuhnya.
Di tengah lamunannya, pintu terbuka dengan lebar membuat Aulian melirik ke arah wanita yang kini menghampirinya dengan cepat.
"Lian. Kita tak bisa bercerai." Ucap Emira melempar akta cerai yang sudah di tandatangani oleh Aulian.
"Kenapa? Apa uangnya kurang?" Emira semakin geram saat Aulian sudah membicarakan tentang uang.
"Ini bukan masalah uang Lian."
"Lalu apa?"
__ADS_1
"Aku hamil." Namun, ekspresi Aulian sangat disayangkan, ia terlihat begitu santai dan seakan tak peduli.
"Memangnya kenapa kalau kau hamil? Kau bisa menggugurkannya kalau kau tak mau melahirkannya kan?"
"Bajingan."
"Jika bajingan di pertemukan dengan wanita yang sudah kehilangan kehormatannya itu cukup adil bukan? Sudahlah Liana. Pernikahan kita sudah berakhir. Kau juga sudah sepakat. Jadi jangan cari alasan agar kau tidak jadi bercerai denganku. Lagi pula, aku sudah menemukan penggantimu." Emira mematung di tempatnya, ia benar-benar membeku. Bisa-bisanya Aulian berkata demikian.
"Kau benar-benar bajingan. Brengsek." Emira terus memaki Aulian dan mencoba menyerang, namun Aulian yang kekuatannya jelas lebih mendominasi, dengan mudah menepis dan membuat Emira tak bisa berkutik.
"Kenapa marah sayang? Kau membenciku kan? Atau... kau sudah mencintaiku karena anak ini?" Aulian mencengkram dagu Emira dan tangan yang satunya meraih perut Emira. Tangis Emira semakin pecah saat rasa linu menjalar di seluruh bagian perutnya.
"Emira. Sejak awal pernikahan kita hanyalah sandiwara. Dan kita berhubungan pun bukan karena aku mencintaimu dan kau mencintaiku. Jadi kehadiran anak ini tak akan membuatku mengurungkan niat untuk bercerai denganmu." Ucap Aulian menghempaskan Emira hingga tergeletak. Namun, Emira tak bergerak, matanya semakin sayu dan perlahan tertutup.
"Apa rasa sakit ini termasuk hukuman untukku?" Batin Emira kemudian terlelap dan tak bisa merasakan apapun lagi.
. Ketika terbangun, rasa linunya masih terasa, Emira melirik ke arah pria yang kini terduduk di samping ranjang dengan menyilangkan kakinya dan menatap kearahnya.
"Sudah aku transfer ke rekeningmu, jika kurang, katakan saja padaku. Rumah dan seisinya beserta mobil yang kau mau sudah aku siapkan di kota ini. Gunakan untuk hidup selama kau belum mendapatkan lelaki yang lebih baik dari pada aku." Ucap Aulian beranjak meninggalkan Emira yang terbaring lemah di atas tempat tidur dan kembali menangis dengan keras.
. Beberapa hari kemudian, Avril tengah menunggu Ray di depan toko kue. Namun, ia terkejut saat ada sebuah mobil yang bukan milik Alvi berhenti tepat dihadapannya.
"Avril... kau mau kemana?" Tanya Aulian menyapa sembari menurunkan kaca mobil.
"Mau pulang." Jawab Avril tersenyum acuh. Lagi-lagi Lian. Begitu pikir Avril. Namun hal itu justru membuat Aulian semakin tertantang untuk mendapatkan Avril.
"Aku antarkan."
"Tidak terima kasih. Sebentar lagi supirku sampai." Ucap Avril semakin merasa risih. Akibat cincin pernikahannya tak ia pakai di jemari, jadinya banyak pria asing yang menggodanya.
Terdengar suara mobil yang sangat Avril kenali terhenti tepat di belakang mobil Aulian.
"Dia Aulian kan nona?" Tanya Ray mengejutkan Avril seketika.
"Dia Lian Ray." Pekik Avril tak mempercayai apa yang di katakan Ray.
__ADS_1
-bersambung