
. Sepanjang jalan, Avril berpikir keras mengapa ia tak menyadari nama Aulian dan Lian yang ternyata adalah orang yang sama. Hingga Avril sampai di rumah ayahnya pun, ia masih melamun karena kebodohannya.
"Andai saja aku tahu sejak awal." Ucap Avril bergumam pelan sembari terus melangkah menuju kamar Andre. Perlahan Avril membuka pintu dan melempar senyum ketika ayahnya menoleh ke arahnya.
"Sudah baikan?" Tanya Avril seraya meletakkan kue yang baru saja ia beli.
"Sudah... tadi kakakmu membelikan obat." Jawab Andre pun melempar senyum meyakinkan agar Avril tak terlalu khawatir.
"Terus? Kak Galihnya kemana?" Tanya Avril kemudian.
"Sudah kembali ke kantor. Dan kakak iparmu sedang ada pekerjaan, jadi tak bisa kesini." Mendengar hal tersebut, Avril mendadak sendu menatap sang ayah.
"Kenapa tatapanmu begitu nak?"
"Aku khawatir pada ayah. Kalau ayah mau menikah lagi, aku tak akan melarang. Asal dia bisa menemani ayah di saat-saat seperti ini."
"Tidak nak. Ayah sudah tua. Ayah ingin menghabiskan sisa umur ayah dengan anak cucu ayah saja. Dan lagi pula, bagaimana jika ibumu marah?"
"Ih ayah. Jangan bercanda. Bagaimana jika ibu ada disini?"
"Kau yang bercanda Avril." Keduanya sama-sama tertawa melepas kerinduan mereka. Karena sejak Avril bekerja, Avril sangat sibuk dan tak pernah lagi menemui Andre di rumah.
"Apa kau ada masalah?" Sontak Avril yang tengah melamun pun, tersadar dan kembali tersenyum pada ayahnya.
"Tak apa ayah... hanya saja, aku masih heran kenapa janinku bisa hilang dan sampai sekarang aku belum datang bulan. Terus, Reno pun pernah bilang kalau aku sedikit berbeda. Aku ingin memastikan, tapi aku takut kecewa ayah." Jelasnya yang tak bisa membohongi insting seorang ayah.
"Kenapa tak periksa saja? Kecewa atau tidaknya jangan kau jadikan alasan nak. Setiap yang hilang pasti ada pengganti. Tak ada salahnya memastikan jika kau sudah berusaha. Iya kan?" Avril mengangguk pelan menanggapi nasehat sang ayah.
"Ada lagi?" Pertanyaan Andre selanjutnya ini berhasil membuat Avril gugup.
__ADS_1
"Bicaralah. Ayah tahu, bukan hanya itu saja kan?" Lanjut Andre mencoba menggali permasalahan yang menimpa putri bungsunya.
"Tidak ayah. Nanti saja. Ayah sedang sakit. Lagi pula, kami bisa menyelesaikannya sendiri. Ayah jangan khawatir."
"Kami? Maksudmu masalah dengan Alvi? Kenapa lagi dia? Dia menyakitimu?"
"Ehh tidak ayah tidak. Bukan Alvi. Tapi teman-temanku. Pokoknya nanti saja kalau ayah sudah sembuh dan kita tak mendapati titik terang, aku akan bicara pada ayah"
"Baiklah. Asal jangan terlalu keras dipikirkan. Nanti kau sakit."
"Iya ayah..." Avril kembali tersenyum meskipun hatinya begitu tak tenang. Rasanya ia ingin ke kantor Aldi sekarang. Tapi ada apa?
"Ayah... aku harus cepat-cepat ke kantor Aldi. Perasaanku tidak tenang. Maaf. Nanti malam aku menginap disini dengan Alvi ya.." ucap Avril beranjak dengan wajah sesal karena meninggalkan ayahnya yang sedang sakit.
. "Ren... kau temanku dari lama kan?" Tanya Aldi setelah memukul Reno beberapa kali.
"Ren... bukti semua sudah jelas. Aku memang memberimu pekerjaan ekstra saat aku sakit, tapi kau juga menerima gaji yang setimpal bukan?"
"Al... serius. Aku tidak pernah menggelapkan uang perusahaan."
"Lalu? Apa semua bukti tidak berarti di hadapanmu?"
"Sungguh Al. Aku tak pernah main-main denganmu. Bagas. Kenapa kau diam saja. Bukankah kau juga tahu siapa yang bersalah disini?" Sontak Bagas yang semula terdiam kini terbelalak terkejut karena Reno yang membawa namanya.
"Bagas. Kau akan percaya yang mana? Alasan atau bukti?" Bagas masih diam, ia tak menjawab satupun dari pertanyaan teman-temannya. Jika membela Aldi, ia pun tahu dalang masalah perusahaannya ada pada Lani. Jika pada Reno, Aldi akan menuduhnya juga. Ia harus mencari siasat untuk membongkar tindakan Lani. Bagas memilih untuk keluar dari ruangan dan menyuruh Lani untuk menyingkir dari mejanya. Bagas membuka seluruh dokumen di komputer meskipun Lani mencoba untuk protes tindakan Bagas.
"Pak Bagas... saya tidak tahu apa-apa." Ucap Lani yang terdengar dari saluran telepon.
"Diam kau. Aku tahu kau asisten Aulian kan? Dan yang merekayasa surat pemindahan saham itu juga karenamu. Mau kau merekayasa rekaman CCTV pun, Vania sudah melihat semuanya sebelum rekaman itu di ubah." Jelas Bagas membulatkan mata Aulian yang mendengar perdebatan antara Bagas dan asistennya.
__ADS_1
"Vania... orang itu yang menghancurkan semua siasatku." Geram Aulian kemudian bergegas menuju villa miliknya.
. Di waktu yang sama, Avril sampai di perusahaan P, namun ia terkejut karena mendapati Andara selaku komandan kepolisian meringkus anaknya sendiri.
"Om... Reno kenapa om?" Teriak Avril mencoba menerobos kerumunan yang menyoraki Reno. Dengan penuh keberanian, Avril menghadang Andara dan memohon agar melepaskan Reno.
"Om.. Reno itu anak om sendiri. Dan dia tidak bersalah." Bujuk Avril terus memohon.
"Avril.. menepi nak. Aldi sendiri yang memintaku untuk menangkap Reno."
"Om... Avril sangat tahu Reno. Dan Avril bekerja dengan Reno. Jadi Reno tak mungkin membuat kesalahan--" ucapannya terhenti saat Andara memberikan berkas berisikan bukti penggelapan dana perusahaan yang masuk ke rekening Reno.
"5 M? Ren?"
"Apa kau akan percaya pada itu juga?" Reno bertanya dengan lesu dan sudah terlihat pasrah.
"Kau tenang saja Ren. Aku akan segera membongkar pelaku sebenarnya." Reno tersenyum lega mendengar ucapan Avril, dan ia sekarang lebih leluasa melangkah di iringi tangis ayahnya yang tak bersuara. Reno sendiri tahu jika ayahnya tidak semudah itu percaya. Namun nominal uang dan namanya begitu terpampang jelas di dalam berkas tersebut. Ia hanya bisa pasrah dan mulai menitikkan air mata ketika mengingat Dea dan anaknya yang masih bayi.
. Avril berjalan cepat menuju ruangan Aldi yang kini begitu berantakan. Ia tahu, Aldi sendiri begitu terpukul dan masih tak mempercayai teman yang selama ini ia percaya, kini malah menghancurkan kepercayaannya. Terlihat Bagas sudah babak belur bersandar di sudut ruangan.
"Al... jika kau tak percaya pada Baren, apa kau akan percaya padaku?"
"Apa lagi Vil? Kau akan mengatakan bahwa Lani dalangnya? Lani tak tahu apa-apa Vil. Jangan menyalahkan orang."
"Al... Ray pernah bertemu dengan Lani di pertemuan mereka saat pengajuan kontrak dengan suamiku. Dan Lani memang mendampingi Aulian saat itu. Dan sampai saat ini, Lani masih berstatus asisten Aulian." Jelas Avril berharap Aldi bisa mempercayainya. Avril memilih pergi dan membiarkan Aldi tenang sendiri.
Ketika di luar gedung, sebuah mobil terhenti di depannya dan beberapa orang meringkus dan memasukkannya ke dalam mobil.
-bersambung.
__ADS_1