RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
109


__ADS_3

Setelah menunggu sedikit lama, akhirnya Noah datang dan memeriksa keadaan Maira. Ia melirik satu persatu wajah-wajah orang yang ada di sana, termasuk Avril yang begitu dingin memangku Reifan di kursi lain.


"Awas jangan sering digendong Mommy. Nanti adik bayinya terhimpit." Tegur Noah mengacak rambut Reifan dengan gemas. Selanjutnya Noah beralih fokus pada Maira di samping Dinda.


"Din.. apa kabar Aldi? Apa dia masih suka ke luar kota dan jarang pulang?" Tanya Noah dengan masih fokus pada Maira.


"Periksa saja pasienmu, dokter! Jangan banyak bertanya." Dengan suara menekan, Avril menegur Noah agar tetap fokus menangani pasiennya. Sean yang merasa tak menyukai sikap Avril tersebut, lantas bertanya-tanya siapa dia.


"Rasanya aku tak suka dengan sikapnya." Batin Sean mendelik lalu beralih menatap Dinda yang tengah menatap Maira di depannya. "Bagaimana aku mengatakannya ya? Apa dia mau kalau aku lamar dalam waktu dekat? Apa dia akan menerima aku yang sudah punya anak satu? Tapi jika Aldian pun dia terima, maka tak mungkin aku akan ditolak. Saat di hotel, Dinda hanya bersama teman wanitanya ini, dia tidak bersama Aldian seperti yang dikatakan Shana. Aku yakin hubungan Dinda dan Aldian sudah berakhir. Ya Tuhan. Bukan aku ingin bersyukur atas apa yang menimpa Dinda, dia amnesia seperti ini membuatku merasa diberikan kesempatan. Sebab, setelah kepergian Ivana, aku belum bisa membuka hati lagi. Tapi sekarang, entah kenapa, aku bisa percaya jika Dinda akan menjadi ibu yang baik untuk putriku." Lagi-lagi Sean membatin dengan tanpa sadar ia dipanggil oleh Dinda dari tadi.


"Kenapa melamun? Anda baik-baik saja kan? Maira tak apa-apa. Jangan terlalu dipikirkan." Ucap Dinda dengan mencoba menenangkan pikiran Sean yang ia kira tengah memikirkan Maira yang diduga ditabrak oleh Sean.


"Dinda. Jangan menyalahkannya ya! Dia tidak salah. Aku yang salah karena tidak memperhatikan sekitar. Aku yang terlalu fokus bermain dengan Rei. Sampai tiba-tiba aku terkejut dan langkahku tidak beraturan, jadinya aku terkilir sampai terjatuh."


"Tetap saja, yang punya mobil juga harus hati-hati kan?" Avril kembali menimpali dengan suara yang terdengar menyindir. Meski Maira, Noah dan Dinda sudah faham dengan gaya bicara Avril yang dingin, namun bagi Sean ucapan Avril ini terdengar sangat menyebalkan. Ia sangat ingin tahu siapa Avril, dan mengapa sikapnya sangat dingin begini.


"Aku benar-benar penasaran dan ingin tahu siapa keluarganya, aku rasa di bukan orang sembarangan." Batin Sean mengepalkan tangannya kuat-kuat.


"Ayah...." teriak Reifan saat melihat Alvi turun dari mobil dan berjalan menuju toko. Saat Alvi sudah berada di pintu utama, Reifan segera berlari dan memeluk Alvi dengan erat. Alvi pun tak kalah antusias membalas pelukan Reifan, bahkan ia membawa Reifan dalam pangkuannya menghampiri Avril yang enggan beranjak dari duduknya.

__ADS_1


"Sedang apa kau di sini dokter?" Tanya Alvi menatap tajam pada Noah yang meliriknya dengan sinis.


"Aku menemui pasienku tuan Alvian Revano!" Jawabnya dengan ketus.


"Alvian Revano? Bukankah nama itu adalah nama Presdir perusahaan D yang tengah berada di atas kejayaannya sekarang? Presdir yang menempati tingkat kedua setelah Galih Permana sebagai Presdir berbakat. Sebelumnya aku hanya tahu namanya saja dan rumor tentangnya, tapi sekarang aku bisa melihatnya langsung." Sean membatin kembali mendengar nama yang tak asing baginya.


"Mau pulang sekarang?" Tanya Alvi beralih bertanya pada Reifan dan Avril.


"Sekarang saja. Rei. Kamu mau ikut Mommy atau Bunda?" Avril beranjak dan bertanya pada Reifan yang tersenyum mendengar pertanyaan darinya.


"Eifan ikut Mommy. Eifan mau main sama adik bayi." Jawabnya antusias menunjuk perut Avril. Dengan berat hati, Dinda harus merelakan Reifan ikut dengan Avril siang ini. Meski ia sangat menginginkan Reifan bersamanya, namun ia juga tak mungkin memaksa Reifan agar ikut dengannya. Setelah mendapat izin dari Dinda, Alvi dan Avril segera berlalu membawa Reifan pulang ke rumah mereka.


Sean masih memantau Alvi dari tempatnya dan menatap Avril semakin lekat. Ia merubah tatapan itu menjadi tatapan yang menyembunyikan rasa kesalnya.


Terlihat Noah pun berlalu setelah ia rasa tugasnya selesai. Karena sudah kenal dengan Dinda, Noah tak segan untuk berpamitan dengan nada bicara yang sudah akrab. Setelah kepergian tamu-tamu Dinda, Sean memberanikan diri untuk memulai topik pembicaraannya.


"Dinda.. apa kau ada waktu luang?" Tanyanya dengan ragu.


"Mau pesan bunga apa? Mawar putih?" Dinda balik bertanya dengan tanpa mencurigai maksud Sean datang kepadanya.

__ADS_1


"Tidak Dinda. Bukan. Aku tidak akan membeli bunga."


"Lalu, apa yang membuat anda kemari jika bukan untuk membeli bunga?" Tanya Dinda dengan terheran dan penasaran akan kedatangan Sean yang tak sesuai dengan dugaannya.


"Aku hanya ingin mengobrol serius denganmu. Maaf jika nada bicaraku seperti orang yang sudah akrab denganmu, tapi aku merasa nyaman berbicara seperti ini."


"Tak apa, bicara senyamannya saja."


Melihat keseriusan wajah Sean, Maira tak ingin menjadi pengganggu, ia memutuskan untuk pergi dan meninggalkan Dinda dengan Sean saja. Setelah Maira berlalu ke ruangan pribadi Dinda, Sean mencoba mengatur nafasnya yang sudah tak beraturan karena gugup dan merasa canggung.


"Begini. Aku sudah dengar tentang rumor kau dan Aldian." Sontak Dinda terbelalak mendengar ucapan Sean yang ia pikir sudah tahu tentang pernikahannya dengan Aldi.


"Ka-kau sudah tahu? Dari mana? Dan siapa saja yang tahu? Aku belum mengumumkannya. Dan juga ini masih rahasia." Dinda dengan panik mengelak karena topik pembicaraan mereka tidak sesuai.


"Aku juga belum yakin karena tidak mendengarnya darimu secara langsung. Tapi melihat reaksimu dan ucapanmu demikian, aku sudah yakin bahwa kau dan Aldian sudah putus."


"Eh?" Dinda yang semula panik, kini berubah heran dengan apa yang di pikirkan oleh Sean tentangnya.


"Karena kau dan Aldian sudah tidak ada hubungan apa-apa, aku berniat untuk melamarmu sebagai istriku, dan sebagai ibu untuk Xaviera. Maaf jika ini terlalu cepat dari pertemuan kita tempo hari. Tapi entah kenapa, aku merasa yakin kau adalah orang yang tepat sebagai pengganti Ivana di hidup kami." Dinda semaki heran, ia mulai tak tahu harus berkata apa. Dan tiba-tiba Sean meraih kedua tangannya untuk mendengar jawaban dari Dinda. Perlahan Dinda menarik tangannya dari Sean, ia tersenyum kaku seraya menyusun kata-kata di otaknya.

__ADS_1


"Maaf. Tapi sebaiknya cari wanita lain saja." Jawab Dinda hanya demikian.


Bersambung


__ADS_2