
Emira segera berlari mengejar Damian yang tak sedikitpun mempedulikannya. Bahkan tatapan yang semula hangat, Damian mendadak berubah drastis menjadi sangat dingin. Terlihat jelas jika Damian tidak menyukai kehadiran Emira di sana. Hal itu membuat Avril merasa terheran sekaligus penasaran mengapa Damian bersikap demikian.
Setelah berusaha keras mengejar, akhirnya Emira berhasil menggapai tangan Damian meski Damian langsung menepis tangan Emira.
"Damian.. Tunggu!" pinta Emira dengan tatapan memelas.
"Apa lagi yang harus aku tunggu?" 'deg' pertanyaan Damian ini membuat Emira membisu. Ia ingin berbicara, namun ia sendiri tahu jika ucapannya tak akan membuat Damian mengerti.
"Aku minta maaf." ucap Emira selanjutnya. Dan terlihat Damian hanya tertawa ketus menanggapi ucapan maaf Emira.
"Maaf? Tahu kata maaf ternyata. Oh tapi kau tidak salah Emira. Wanita sepertimu selalu benar."
"Damian, dengarkan penjelasanku."
"Penjelasan? Tentang apa?"
"Tentang aku yang menikah dengan Aulian."
"Lalu?"
"Kenapa kau tak mengerti?" terdengar suara Emira kini mulai putus asa.
"Kau menikah dengan siapapun, itu urusanmu. Tak ada hubungannya denganku." tutur Damian terdengar begitu tegas.
"Tapi kau salah paham."
"Apa? Salah paham? Di bagian mananya? Kau menikah dengannya kan? Dan itu fakta! Salah paham nya dimana? Coba katakan padaku." lagi, suara Damian terdengar begitu menekan.
"Aku memang menikah dengan Aulian. Tapi bukan karena aku mau. Ayah memintaku untuk menikah dengannya."
"Lantas? Kalau memang kau tak mau, kenapa kau menikah?"
__ADS_1
"Karena Ayah."
"Apa Ayahmu bahagia?" pertanyaan Damian kali ini tak bisa Emira jawab. Emira terdiam membisu tak tahu harus berkata apa, karena semenjak pernikahannya dengan Aulian, Ayahnya menjadi acuh tak acuh padanya."
"Aku juga sempat di jodohkan, dan kau tahu itu. Tapi aku menolak karena aku sudah menjadi milikmu. Tapi, kau mengkhianatiku, Emira. Kau tidur dengan laki-laki lain, dan saat itu masih aku maafkan karena kau bilang kau mabuk dan tak ingat apa yang terjadi. Dan akhirnya kau tiba-tiba menikah dengan Aulian. Berapa kali kau mematahkan hati dan harapanku, hah!" tanpa Damian sadari, ia berteriak cukup keras sehingga membuat Zeeya terbangun dan menangis karena terkejut. Sesegera mungkin Alvi dan Galih menghampiri Damian, sedangkan Nadia menemani Avril ke kamar untuk menenangkan Zeeya.
"Alvi. Maafkan aku sudah membuat anakmu menangis." sesal Damian ketika ia menyadari kekacauan di rumah sepupunya. Dan terlihat juga Reifan bersembunyi di belakang Ravendra karena takut.
"kakak... Om Dami kenapa?" tanya Reifan menoleh sesaat pada Ravendra yang sigap melindungi Reifan di belakangnya.
"Mungkin Om sedang marah. Ayo kita ke bunda." Ravendra segera menarik Reifan berlari menyusul Nadia dan Avril ke lantai atas.
"Dami--"
"Diam Emira.... Aku sudah tak mau mendengar suaramu lagi." ucap Damian dengan suara lembut menyela sebelum Emira benar-benar mengucapkan namanya.
"Aku minta maaf Damian." lirih Emira lagi berusaha agar Damian mengerti.
"Maafkan aku sudah melukai hatimu Damian."
"Dan maafkan aku juga Emira." tutur Damian berhasil membuat Emira mendongak dan berangan-angan bahwa Damian memaafkannya.
"Maafkan aku juga karena aku sudah tak percaya padamu lagi. Sekarang, kau pergi dari hadapanku, atau aku yang pergi dari hadapanmu dan kau jangan pernah menemuiku."
"Tapi aku ingin bersamamu, Damian." pecah sudah tangis Emira yang semula hanya deraian air mata tanpa suara, kini ia menangis dengan terisak keras, bahkan samar terdengar suaranya yang tersenggal.
"cih... Kau pikir aku laki-laki bodoh yang mau pada istri orang?"
"Aku sudah bercerai."
"Lantas? Apa aku harus merentangkan tangan lalu memelukmu? Atau berkata bahwa aku bersedia menerimamu kembali?" Damian menghela nafas sesaat sebelum ia melanjutkan ungkapannya.
__ADS_1
"Tidak Emira. Aku tidak sebodoh itu. Cukup aku kecewa kemarin saja karena aku terlalu bodoh mencintai wanita yang ternyata memilih untuk menikah dengan laki-laki lain. Aku mungkin bisa menerima masa lalumu, tapi aku tak yakin akan bisa menerima kenyataan bahwa kau pernah dengan yang lain." tutur Damian yang tak bisa di tanggapi oleh Emira lagi. Emira benar-benar sudah membisu dengan penuturan telak dari Damian. Begitupun dengan Alvi dan Galih yang sama-sama diam tak ingin ikut campur urusan mereka.
"Galih, maaf malam ini aku tak bisa ikut bergabung. Aku akan kembali ke London setelah aku menemui Demira dan Noah." ucap Damian selanjutnya. Dan Emira menjadi sangat terpukul. Ia benar-benar menyesal sudah meninggalkan lelaki baik seperti Damian. Dimana hanya Damian yang menerima kekurangannya dan siap berjalan beriringan dengannya. Namun karena keputusan yang tak di pikir ulang, Emira kehilangan Damian sepenuhnya.
"Oh iya Alvi. Bulan depan, Ayah memintamu datang di hari pertunanganku. Aku akan bertunangan dengan wanita pilihan Ayah." Ucap Damian sebelum ia benar-benar pergi dari hadapan sepupunya. Jelas saja Alvi terkejut, pasalnya Damian bukan yipe irang yang mau di jodohkan dengan orang yang tidak ia kenali. Dan sudah jelas pula, Emisa semakin kacau mendengar berita buruk yang membuatnya tersiksa.
"Kau..." belum sempat Galih melanjutkan ucapannya, Damian tersenyum getir lalu bergegas pergi meninggalkan kediaman Alvi. Dan di sana, selepas kepergian Damian, Emira ambruk tak bisa menahan dirinya untuk tetap sadar.
. Di kediaman Hadi, Dinda sudah terlihat membaik, bahkan hari ini ia kedatangan tamu yang sangat ia kenal. Di ruang tamu, Dinda duduk di samping Aldi dengan berpegangan tangan dan memperlihatkan cincin yang menjadi sebuah tanda bahwa mereka sudah sah menjadi suami istri di depan Sean dan Shana.
"Jika aku yang bersalah, aku minta maaf, Aldian. Aku tak tahu tentang hubunganmu dan Dinda yang ternyata sudah menikah." ucap Sean memulai perbincangan mereka. Shana memilih untuk diam memalingkan pandangannya dari Aldi karena ia sudah terlanjur malu mengutarakan isi hatinya pada Aldi.
"Tak apa Sean. Justru aku sempat ragu untuk mengumumkan hubunganku dengan Dinda. Mungkin saat ini aku akan memberitahumu kenapa aku dan Dinda tidak menikah dengan adanya resepsi atau pesta. Aku merasa khawatir jika Aulian masih menyimpan rencana untuk mencelakai Dinda. Setelah kejadian itu, aku menyembunyikan kabar Dinda dari media serapat mungkin. Dan hanya dengan begini, maka informasi mengenai Dinda bisa di sembunyikan." jelas Aldi berharap Sean akan mengerti.
"Lalu kenapa kau tak mengatakan itu sebelumnya? Setidaknya pada aku dan kakakku." protes Shana yang terlihat jelas tak menerima kenyataannya.
"Maaf Shana. Tapi memang aku masih ragu. Aku berpikir jika urusanku dengan Aulian sudah selesai, saat itu juga aku akan mengumumkan pernikahanku dengan Dinda." balas Aldi kembali menjelaskan.
"Apa istrimu baik-baik saja Al? Aku masih merasa bersalah karena sudah membuatnya begini." ucap Sean seakan mengabaikan kekesalan adiknya.
"Sudah membaik. Dan sekarang, hanya tinggal memulihkan keadaannya saja." Aldi beralih menjawab seraya menoleh pada Dinda dan tangannya semakin erat menggenggam tangan istrinya. Terlihat senyuman mengembang di wajah Dinda membuat Shana semakin merasa sesak.
"Apa kau menyukai suamiku?" tanya Dinda tiba-tiba pada Shana yang terkejut mendengarnya.
"A--Aku... Aku tidak.... Maksudku Aku..."
"Sudah ku duga kau menyukainya." ucap Dinda menyela sebelum Shana menjawab pertanyaannya.
"Bukan begitu. Awalnya aku kira kalian tidak menikah." pekik Shana tanpa sadar.
Bersambung
__ADS_1