
. Beberapa hari setelahnya, Aldi merasa heran mengapa Avril tak kunjung menemuinya. Padahal ia sangat ingin bercerita tentang Dinda saat ini. Jika Avril mendukungnya, maka ia akan memperjuangkan Dinda, dan jika sebaliknya, Aldi sudah bertekad untuk membujuk Avril agar mendukungnya.
"Ren... apa kau tahu kemana Avil?" Tanya Aldi ketika Reno tengah membereskan beberapa berkas yang harus di tandatangani Aldi darurat.
"Sejak kau disini, aku sibuk di kantor Al. Aku tak tahu kabar Avil ataupun yang lain. Bahkan bertemu istriku saja, aku sangat kesulitan. Aku jarang pulang, dan Bagas pun entah kemana dari 2 hari yang lalu. Dia baru pulang tanpa memberitahu ku kemana dia pergi. Sialan. Jika kau tak sakit, sudah aku hajar. Untuk meminta tanda tangan saja, aku harus kesini. Belum meeting, belum hari ini ada om Andre, belum lagi Alvi melemparkan proyeknya pada perusahaanmu. Argghhhhhh aku pusing. Bisa-bisa aku gila. Harusnya kau naikan gajiku sialan." Geram Reno menjawab panjang lebar sambil meremas tangannya sendiri didepan wajah Aldi dengan ekspresi yang menahan amarah.
"Oke aku naikkan" dengan santainya Aldi menanggapi Reno.
"50% dari gaji pokok."
"Kau mau merampokku?"
"Ya sudah jika tidak mau, aku korupsi saja dana perusahaan."
"Silahkan, aku tak keberatan, toh nanti kau akan tinggal di penjara jika kau lakukan."
"Sialan kau Aldi." Reno menghela nafas berat sambil menundukkan kepalanya lesu.
"Cari tahu kabar Avil, aku ingin laporannya sebelum jam 11. Akan aku gaji kau sesuai yang kau mau bulan ini."
"3 bulan. Deal." Secepat kilat Reno mendongak dan mengulurkan tangannya dengan antusias.
"Kau memang mau merampokku sialan?" Aldi menepis kasar tangan Reno lalu meringis karena tangannya sedikit terkilir.
"Makan tuh." Ejek Reno segera beranjak dengan wajah ketus sambil membawa kembali berkasnya.
"Gila kau. Aku laporkan kau ke polisi."
"Silahkan saja. Ayahku bijak, dia tahu siapa yang bersalah atau tidak."
"Oke... kau lihat nanti."
"Oke bye." 'Bam' Reno membanting pintu dengan keras dan suasana dalam kamar kembali menjadi hening.
"Kenapa kau tak menemuiku?." Lirih Aldi merubah raut wajahnya menjadi sendu.
"Apa ada yang salah dari perkataan ku tempo hari? Tapi apa? Semakin lama, Avil semakin sulit dimengerti."
. "Kau yakin akan kembali kesana?" Tanya Hadi menatap putri sulungnya dan sebuah koper kecil secara bergantian. Hatinya benar-benar tak rela jika harus melepas Dinda, meskipun ia percaya di luar kota sana keselamatan putrinya terjamin aman di bawah lindungan Aldi.
"Ayah... aku punya tanggung jawab. Meskipun hanya sebuah usaha kecil, dan jauh berbeda dengan bisnis ayah. Tapi....." Dinda terhenti dan menghela nafas sejenak sebelum ia melanjutkan kalimatnya. Hal itu membuat Hadi penasaran. "Yaaa disana aku punya banyak teman, dan seperti keluarga. Sekalian aku ingin mencari pengalaman sebelum aku benar-benar siap menerima tanggung jawab yang besar dari ayah." Lanjutnya tersenyum tipis.
__ADS_1
"Baiklah ayah mengerti. Tapi harus--"
"Tanpa pengawalan!" Tegas Dinda menyela nasihat Hadi.
"Dinda... jangan menyela jika ayah sedang bicara." Tegur sang ibu tak kalah tegas.
"Tapi aku tak mau di kawal bu... aku mau mandiri dengan aku yang menjadi Dinda. Bukan putri sulung ayah yang punya perusahaan besar." Jawab Dinda dengan memelas kesal.
"Iya ibu mengerti, tapi...."
"Bu... sudah. Tak apa." Kini giliran Hadi yang menyela kalimat istrinya.
"Tentang perjodohan yang sempat ayah bicarakan, ayah hanya ingin memberitahumu siapa. Dan ayah harap kamu--"
"Jika ayah membicarakannya lagi, aku pastikan, tak akan pernah ada hari kepulanganku ke rumah ini lagi. Ayah. Dinda sudah dewasa. Dinda tahu mana yang baik dan yang tidak. Untuk semua urusan pendidikan dan karir Dinda, Dinda memang menyerahkan semuanya pada ayah. Tapi jika untuk pendamping, Dinda mau ayah memberi kesempatan untuk Dinda memilih sendiri."
"Apa kau sudah punya kekasih? Emilio? Tapi dia--"
"Bukan. Aku sudah putus dengan Lio. Apa ayah puas?"
"Nak.... ayah tidak.... sudahlah. Kau tak akan mengerti."
"Aku? Kenapa aku yang tak mengerti ayah? Bukankah ayah yang tak mau mengerti perasaanku?"
"Tak perlu diucapkan juga, sudah jelas ayah tak pernah mengerti perasaanku."
"Dinda... maafkan ayah. Ayah hanya berharap yang terbaik untukmu."
"Tapi aku juga punya pilihan sendiri ayah...."
"Katakan siapa dia? Bagaimana orangnya? Dan apa pekerjaannya?"
"Dia..... aku belum siap memberitahu ayah. Tapi jika nantinya aku tak berjodoh dengannya, aku akan menerima siapa saja yang akan ayah jodohkan denganku." Salma terhenyak mendengar penuturan Dinda. Pria seperti apa yang sedang dekat dengan putrinya sekarang.
"Aku berangkat bu.. ayah." Ucap Dinda memecah keheningan dengan mencium tangan Salma dan Hadi bergantian.
"Hati-hati nak." Tutur Salma langsung memeluk Dinda dengan erat.
"Jaga dirimu baik-baik." Dinda mengangguk menanggapi penuturan Hadi. Ia segera berangkat dengan pengawalan dari Andra sampai ke bandara.
"Jangan pernah mengikutiku." Tegas Dinda memberi peringatan.
__ADS_1
"Nona tenang saja. Tanpa perintah dari tuan Hadi, saya tak akan mengikuti nona." Jawab Andra tersenyum manis.
"Baguslah." Delik Dinda yang langsung berlalu meninggalkan Andra yang mengantarnya sampai depan bandara saja.
. "Mommy.... Kak Aven." Teriak Reifan yang berlari menghampiri Avril dengan tertawa lepas yang di susul oleh Ravendra dari belakang dengan membawa seekor belalang kecil di tangannya.
"Aunty... lihat! Eifan yang tangkap." Ucap Ravendra dengan antusias.
"Coba om lihat." Timpal Alvi yang baru saja duduk di samping Avril.
"Mana sini Rey... kamu yang tangkap?" Segera Reifan menjatuhkan tubuhnya di pangkuan Alvi setelah melihat Alvi yang merentangkan tangannya. Melihat kebersamaan Reifan dan Alvi, Avril hanya tersenyum tipis. Meskipun membahagiakan, namun masih tersirat rasa kekhawatiran di benaknya jika nanti Alvi akan benar-benar mencampakkan Reifan.
"Al... aku ingin tidur. Apa kau tidak keberatan menjaga mereka sendiri?" Tanya Avril sembari memijit pelan pelipisnya.
"Kau sakit?" Tanya Alvi yang langsung meraih dahi Avril.
"Tidak... hanya pusing sedikit."
"Ya sudah. Istirahat saja. Aku tak keberatan. Lagi pula sebentar lagi Galih akan sampai, jadi akan sedikit terbantu." Mendengar jawaban itu, Avril merasa lega dan ia segera berlalu ke kamar. Reifan hendak menyusul Avril, namun perhatiannya teralihkan saat Ravendra mengajaknya kembali ke halaman belakang. Keduanya bermain dibawah pengawasan Alvi langsung.
. "Kondisimu sudah membaik. Dan secepatnya bisa pulang." Ucap Noah sembari menganalisis kembali rekam medis Aldi.
"Kenapa tidak sekarang saja?"
"Kalau mau mati, silahkan!" Jawab Noah terdengar acuh tak acuh.
"Mati apanya? Tinggal tanganku yang patah saja."
"Terus luka di perutmu? Mau aku operasi lagi?" Tanya Noah masih enggan memalingkan perhatiannya dari berkas ditangannya.
"Ini sudah sembuh."
"Benarkah?" Noah mendongak dan beranjak menghampiri Aldi, tangannya semakin dekat pada perut Aldi yang terluka.
"Jika sembuh, aku tekan sekarang harusnya kau tak kesakitan." Ucapnya dengan santai. Segera Aldi menepis kasar tangan Noah yang hampir menyentuh luka terparahnya.
"Kau gila? Dokter macam apa kau? Kau benar-benar mau membunuhku?" Aldi setengah berteriak dengan menunjukkan wajah yang emosi.
"Bukankah kau yang bilang sudah sembuh?" Balas Noah tak kalah emosi. Ditengah pertengkaran mereka, tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu. Tak lama, pintu itu terbuka, terlihat sosok perempuan memasuki ruangan tanpa mempedulikan keberadaan Noah.
"Kak Emira?" Lirih Aldi menatap ragu.
__ADS_1
-bersambung.