RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
112


__ADS_3

Hari berganti hari, Dinda akhirnya bisa menghela nafas lega ketika mendengar kabar bahwa Sean sudah kembali ke kotanya beberapa hari yang lalu. Dinda tak peduli kapanpun Sean pergi, karena kabar yang ia dengar, Sean pulang dari minggu lalu. Yang jelas, ia sudah merasa tenang untuk membawa Reifan pergi keluar rumah tanpa khawatir Sean akan mengganggunya. Pengakuan itu cukup membuatnya waspada, sebab ia takut jika sampai Aldi tahu tentang kabar itu, maka rumah tangganya yang akan menjadi taruhannya.


Menjelang siang, Dinda merebahkan tubuhnya di sofa setelah ia selesai memandikan Reifan dan beberapa pekerjaan rumah lainnya. Meski para ART sempat melarangnya untuk membantu mereka, namun Dinda tak mendengarkan dan memilih untuk membantu mereka. Saat ia tengah bersantai, terlihat Reifan menghampirinya dengan membawa sebuah buku cerita.


"Bunda... belajar. Eifan mau baca." Ucapnya seraya memberikan buku tersebut pada Dinda. Dengan senang hati Dinda menerima dan mulai mengajarkan Reifan membaca dan mengeja setiap kata yang tertera. Ditengah keasyikan mereka belajar, terdengar panggilan Mbak Nia yang setengah berlari menghampirinya.


"Kenapa Mbak?" Tanya Dinda dengan penuh tanya.


"Anu Nona... ada tamu." Jawab Mbak Nia seraya menunjuk ke arah ruang tamu dengan sopan. Dinda yang penasaran pun lantas beranjak dan mencari tahu siapa tamu yang datang ke rumah suaminya. Ketika Dinda sudah berada di ruang tamu, ia menyipitkan matanya karena tak mengenal orang asing yang duduk dengan elegan di sofa. Reifan yang membuntuti Dinda pun mengintip tamu tersebut dari belakang Dinda.


"Cari siapa?" Tanya Dinda memecah keheningan yang terjadi di antara mereka.


"Apa Aldi ada? Saya teman Aldi saat kuliah."


"Emm Aldi nya bekerja. Dan pulangnya kemungkinan nanti sore."


"Oh iya, apa kau istri Aldi?"


'Deg!' Dinda mematung seketika mendengar pertanyaan tamu yang ia sendiri tak tahu siapa. Melihat Dinda yang membisu, pria yang di ketahui adalah teman dari suaminya ini lantas tertawa membuat Dinda menjadi kebingungan.


"Maaf sudah bertanya yang tidak-tidak. Harusnya aku tahu tanpa bertanya ya. Hahaha kau pasti istrinya. Oh iya ini ada undangan pertemuan reuni, mohon di terima ya." Dinda tersenyum seraya menerima sebuah kertas bertuliskan undangan untuk para alumni kampus.


"Emm maaf, siapa nama anda?"


"Nama saya Haris."


"Baiklah nanti akan saya sampaikan pada Aldi."


"Hai Rei. Mau ikut dengan Om?" Haris beralih menyapa Reifan yang tak berniat mendekati Haris karena takut.


"Tidak mau."

__ADS_1


"Ayolah Rei... nanti Om belikan cokelat." Haris tak ingin menyerah, ia terus membujuk Reifan dengan senyum menakutkannya karena di paksakan.


"Bunda...." rengek Reifan kemudian menangis karena ketakutan.


"Suttt sudah sudah... Om nya baik. Kenapa menangis?" Dinda memangku Reifan seraya terus mengusap punggungnya agar lebih tenang.


"Kau apakan anakku hah?" Terdengar suara yang tak asing dari ambang pintu membuat Reifan semakin keras menangis dan Haris menjadi terdiam. Ia tersenyum kikuk ketika memutar wajahnya dan mendapati wajah Aldian yang dingin dan tatapannya yang begitu tajam.


"Hehe... eh Aldi. Apa kabar?" Sapa Haris beralih menghampiri Aldi dengan tanpa merasa berdosa karena sudah membuat Reifan menangis keras di pangkuan Dinda. Aldi sendiri hanya melirik tajam mengikuti pergerakan Haris.


"Oh iya Al. Apa dia istri barumu?" Tanya Haris selanjutnya dengan berbisik pada Aldi yang seakan mengalihkan pembicaraan mereka.


"Kalau iya kenapa? Awas kalau kau macam-macam."


"Wehhhhh takut sekali..... emmm jadi sekarang kau punya pawang lagi? Pantas saja akhir-akhir ini sikapmu jadi baik. Biasanya kau selalu kejam!" Ejek Haris namun tak membuat Aldi meluluhkan pandangannya pada Haris.


"Tapi, apa kau bisa merahasiakannya? Istriku yang meminta."


"Ishhh jangan. Hargai permintaannya. Dia bilang, dia sangat khawatir pada Rei. Dan juga, aku sedang mengurus persiapan untuk resepsi. Jadi kau jangan khawatir, aku akan memberitahumu nanti." Mendengar penjelasan Aldi demikian, Haris tersenyum lalu menepuk pundak Aldi dengan sedikit tertawa.


"Baiklah. Kalau itu maumu. Oh iya, siapa nama istrimu Al?" Haris bertanya pada Aldi, namun bola matanya mengarah pada Dinda.


"Dinda. Istriku namanya Dinda."


"Tapi aku merasa tak asing. Dia sedikit mirip dengan Shana ya?" Aldi terbelalak mendengar sebuah nama terlarang yang terlontar dari mulut Haris. Nama itu mati-matian Aldi buang jauh-jauh agar tak pernah sekalipun diucapkan di keluarganya, sebab karena nama itulah Dinda selalu berpikir yang tidak-tidak tentangnya.


"Jauh hei.... lebih cantik istriku. Mau di lihat darimana pun, istriku yang paling cantik."


"Beuhhhh...." cetus Haris mendengar ucapan Aldi yang memuji istrinya. "Tapi siapa perempuan ini? Kenapa ia bisa membuat Aldi luluh? Biasanya Aldi selalu bersikap dingin kepada setiap perempuan, bahkan dulu pada Syifa pun, butuh waktu bertahun-tahun untuk Aldi menerima Syifa sepenuhnya. Tapi, siapapun dia, aku lega. Aldi tak lagi seperti sebelumnya, ia lebih baik sekarang. Dan juga, sepertinya Reifan sangat menyayanginya sebagai ibu tiri." Batin Haris menatap Dinda sambil tersenyum.


"Apa kau senyum-senyum?" Dan seketika itu juga, senyuman Haris memudar karena teguran dari Aldi. Ia kembali tersenyum dengan menepuk pundak Aldi berkali-kali.

__ADS_1


"Kali ini, semoga kalian langgeng sampai tua, dan sampai maut memisahkan." Tutur Haris kemudian beralih menoleh pada Dinda yang membalas senyumannya.


"Okelah. Aku pamit ya! Ditunggu Al." Haris kemudian berlalu meninggalkan kediaman Aldi setelah ia berpamitan.


Di teras, Aldi menatap pada Reifan yang masih bersusah payah menghentikan tangisnya yang sedari tadi terdengar sangat pelan.


"Kenapa menangis?" Tanya Aldi dengan nada sedikit tegas.


"Daddy...." kembali Reifan menangis dan kini ia merentangkan tangannya ingin di gendong oleh Aldi. "Takut Om itu..." rengeknya menunjuk ke arah gerbang, arah dimana Haris pergi dari rumahnya.


"Kan Om Haris nya sudah tidak ada. Kenapa masih menangis?" Seketika itu, Reifan langsung terdiam mendengar apa yang dikatakan ayahnya. Aldi beralih menatap istrinya yang ia rasa terlihat begitu pucat.


"Sayang, kau sakit?" Tanya Aldi yang ditanggapi gelengan kepala oleh Dinda. Karena merasa tak percaya, Aldi menurunkan Reifan dan beralih meraih Dinda yang kini memegangi kepalanya. Melihat mata Dinda yang mulai terpejam, Aldi segera memeluk dan membawa Dinda di pangkuannya menuju kamar.


"Bunda?" Reifan meraih tangan Dinda yang melemah saat di gendong oleh Aldi.


"Bundanya tidur sayang. Kamu ke kamar ya! Main dulu sama Mbak Nia. Daddy antarkan Bunda ke kamar." Tanpa harus membujuk lebih keras, akhirnya Reifan mengangguk dan menuruti perintah Aldi untuk ke kamarnya sendiri.


Setelah menidurkan Dinda di tempat tidur, Aldi mencoba untuk memanggil Dokter untuk memeriksa Dinda di rumah. Ia khawatir, namun juga harus tetap tenang dengan kondisi Dinda yang terasa mendadak seperti ini. Beberapa waktu kemudian, akhirnya Dokter yang ia tunggu sampai juga. Setelahnya, Aldi menunggu di samping Dokter selama istrinya di periksa.


"Tuan Aldi, apa anda tahu kapan terakhir Nona haid?" Mendengar pertanyaan dari Dokter, Aldi mendadak berpikir dan ia menggeleng menanggapi pertanyaan tersebut.


"Tidak dok. Memangnya kenapa?"


"Saya tidak menemukan gejala penyakit dari tubuh Nona, karena kondisi Nona yang seperti ini, saya menyimpulkan bahwa Nona bisa saja sedang hamil." Kali ini, Aldi mematung dengan mata membulat menatap Dokter dengan perasaan yang tak percaya.


"Tapi, saya sarankan agar Tuan membawa Nona ke dokter kandungan." Lanjut Dokter memberi arahan namun tak ditanggapi apapun oleh Aldi. "Tuan." Panggil Dokter membuat Aldi memudarkan lamunannya.


"Oh.. i-iya dok. Setelah istri saya sadar, saya akan membawanya ke rumah sakit."


Setelahnya, Dokter berlalu dan meninggalkan Aldi yang masih tak percaya, pasalnya ia tak terlalu mengharapkan kehadiran anak kedua, ia akan menerima saja apapun yang terjadi. Namun jika Dinda sudah di percaya, maka ia akan senang dan tentunya tak akan menolak. Justru hadirnya anak kedua, mungkin akan membuat keluarganya semakin bahagia.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2