RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
115


__ADS_3

Sudah hampir sepekan Reifan tak bertemu dengan Avril. Hari ini, Dan Reifan terlihat mulai tantrum. Tangisnya tak bisa dihentikan dan kemarahannya tak bisa dikendalikan. Aldi yang baru pertama kali menghadapi hal seperti ini pun tak tahu bagaimana cara menghentikan tangis Reifan.


"Eifan mau Mommy. Huaaaa Ayahhhhhh Eifan mau Ayahhhhhhh..." teriak Reifan melempar sebuah mainan yang berada di dekat tangannya. Aldi segera melindungi Dinda yang hampir terkena lemparan Reifan, sehingga hal itu berhasil membuat Aldi murka padanya.


"Kau ini kenapa hah? Marah-marah tidak jelas. Bagaimana kalau tadi itu sampai kena Bundamu?" Melihat Aldi yang menekannya dengan nada tinggi, Reifan semakin keras menangis dan Dewi pun tak bisa diam saja melihat cucu tersayangnya terkena marah Aldi.


"Kau juga kenapa Aldi? Anakmu itu ingin di turuti maunya, tapi kau malah memarahinya begini."


"Ini akibat Mama selalu memanjakannya. Rei jadi manja dan selalu ingin dituruti apa maunya. Coba saja kalau Mama--".


"Mama apa? Apa sebelumnya kau peduli pada Rei? Sebelum kau bertemu istrimu sekarang, kau tak pernah mau menghadapi Rei. Rei selalu kesepian, dan seharusnya kau sadar, mengapa sekarang Rei lebih menginginkan Alvi daripada ayahnya sendiri." Penegasan Dewi tersebut akhirnya membuat Aldi terdiam. Dewi secepatnya membawa Reifan menjauh dari Aldi dan sesegera mungkin menuju rumah Alvi.


Aldi merenungi semua perkataan Ibunya yang memang benar adanya. Ia selalu menghindari waktu bersama dengan Reifan dengan alasan sibuk bekerja. Padahal ia tak ingin jika ingatannya terus mengingat Syifa yang sudah meninggalkannya meski telah berlalu bertahun-tahun. Dinda hendak mengejar mertuanya, namun Aldi menahan tangannya agar Dinda tetap di sampingnya.


"Apa kau juga mau meninggalkanku?" Kini suara Aldi terdengar begitu lirih.


"Tidak Al.. aku hanya..." belum sempat Dinda menyelesaikan kalimatnya, Aldi tiba-tiba memeluknya dengan erat. Dinda sendiri merasakan jika tubuh Aldi gemetaran dan pelukannya kian erat membuatnya menjadi khawatir.


"Al...".


"Jangan pergi ya! Kalau kau pergi, aku tak tahu akan sehancur apa setelah ini."


'Deg!' Dinda termangu dan membenamkan wajahnya pada Aldi, ia pun merasakan hal yang sama dengan suaminya. Ia tak ingin jika Aldi pun akan meninggalkannya nanti. Ia sudah terlanjur menyayangi Aldi seakan ia dan Aldi sudah kenal sejak lama.


Sampai di rumah Avril, terlihat Dewi terkejut mendapati sebuah dekorasi di taman depan dengan nama Cucu kesayangannya yang terpampang jelas. Dewi benar-benar tak habis pikir, Aldi saja yang merupakan Ayah kandungnya, baru merencanakan acara untuk memperingati hari ulang tahun Reifan. Tapi Avril dan Alvi yang jelas bukanlah orang tua kandung Reifan, mereka sudah membuat persiapan acara meski masih ada waktu 3 hari lagi. Dewi menoleh pada Reifan yang tertidur di kursi lainnya, kemudian ia kembali menoleh menatap ke arah taman.

__ADS_1


"Mama... kenapa tidak memberitahuku Mama mau kemari?" Pertanyaan Avril yang dirasa tiba-tiba tersebut berhasil membuat Dewi terkejut dan tersenyum kepada Avril.


"Iya nak. Tadi Mama mendadak soalnya Rei tantrum. Dia bilang mau bertemu kamu." Mendengar jawaban itu, Avril ikut tersenyum dengan penuh kelegaan. Ternyata kerinduannya terbayarkan hari ini, dan Reifan pun sama-sama merindukannya.


"Ya sudah, Rei tidurkan di dalam saja Ma. Kasihan tidur di mobil."


"Iya sebentar Mama lepaskan sabuknya dulu."


"Ma... Alvi saja yang bawa. Mama ke rumah saja dengan Avril." Ucap Alvi menimpali dari samping Avril dan segera meraih Reifan lalu membawanya kedalam pangkuannya. Karena tak ingin terlalu merepotkan Alvi, Dewi memilih untuk membawakan barang-barang Reifan yang tertinggal dan berjalan beriringan dengan mereka.


Seraya menunggu Reifan bangun, Alvi menyelesaikan pekerjaannya mendekorasi taman sebagai tempat acara ulang tahun Reifan. Dewi benar-benar dibuat terkagum dengan usaha Alvi untuk Cucunya.


"Nak... Syifa pasti senang melihat Rei di sayangi olehmu." Ucap Dewi sudah tak bisa lagi menahan air matanya yang sedari tadi terus memaksa keluar dan berderai dengan deras.


"Syifa sudah tenang Ma... jangan mengungkitnya terus ya! Aldi juga sudah menemukan kehidupan barunya."


"Mama jangan bicara begitu. Kemarin kan Aldi banyak pekerjaan, dan juga Alvi yang lebih banyak waktu untuk Rei. Lagi pula, Aldi kan sekarang sudah tak sesibuk dulu. Mama jangan khawatir! Avil akan bantu rawat Rei sebisa mungkin kalau Dinda dan Aldi sibuk."


"Terima kasih nak. Kau memang ibu yang baik."


"Semoga saja Ma."


"Jadi, kapan Cucu Mama ini lahir?"


"Emmm tinggal menghitung tanggal saja Ma. Kemungkinan 2 minggu lebih. Tapi dia sudah tak sabar, selalu saja menendang sampai perutku linu."

__ADS_1


"Hemm Cucu Oma sudah tak sabar ya? Baik-baik ya sayang! Kak Rei sudah nunggu kamu." Mendengar ucapan Dewi tersebut, Avril tak bisa menahan tawanya dan keduanya mengiringi obrolan dengan tawa membuat Alvi tersenyum dari kejauhan. Ia menjadi lebih bersemangat lagi menata beberapa hiasan dan properti yang kemungkinan akan disukai anak-anak.


Menjelang sore, Reifan terbangun dan langsung menangis karena berpikir ia tak jadi ke rumah Avril. Namun saat ia melihat lebih jelas, yang tengah menghampirinya kini adalah Avril, Ibu yang sangat ia rindukan.


"Mommy.... Daddy jahat." Rengeknya setelah ia dan Avril saling berpelukan.


"Ehh tak boleh bicara begitu. Daddy tak akan marah kalau Rei tak nakal."


"Huaaa Mommy...." karena tak bisa lagi menjawab, Reifan memilih untuk menangis seraya memeluk erat leher Avril.


"Aduduh...." tangis Reifan seketika terhenti saat Avril tiba-tiba meringis dan melepaskan pelukannya lalu meraih perutnya dengan hati-hati.


"Mommy? Mommy sakit?" Tanyanya sedikit terdengar nafasnya masih tersenggal.


"Rei... panggil Ayah di kamar." Pinta Avril dengan segera di lakukan oleh Reifan. Terlihat Reifan berlari menaiki tangga seraya memanggil Alvi tanpa henti. Karena merasa penasaran, Alvi yang baru selesai mandi pun segera menghampiri Reifan yang terus memanggilnya.


"Kenapa Rei?" Tanyanya mendadak panik, apa lagi saat melihat wajah Rei yang sehabis menangis.


"Mommy." Jawab Reifan menunjuk ke arah Avril yang saat ini terduduk di lantai dengan tangan mencoba meraih sofa.


"Ya ampun Avril." Dan sesegera mungkin Alvi membawa Reifan menuruni tangga dan menghampiri istrinya yang terlihat kesakitan.


"Kau kenapa sayang? Kau jatuh?" Avril menggeleng menanggapi pertanyaan Alvi yang sudah terlanjur panik dibuatnya.


"Ughhh sakit Al..." keluh Avril beralih mencengkram baju Alvi dengan kuat.

__ADS_1


"Tanggal melahirkan bukan sekarang kan?" Lagi-lagi Avril menggeleng menanggapi pertanyaan Alvi. Baginya sekarang ia hanya ingin rasa sakitnya mereda tanpa harus mendapati pertanyaan apapun.


Bersambung


__ADS_2