
. "Kamu ikut ke rumah ya... ganti baju dulu." Ucap Dewi yang ditanggapi anggukan oleh Dinda. Tak bisa di pungkiri, ia memang merindukan ibunya di sebrang sana. Salahnya yang kabur begitu saja karena takut di jodohkan, dan ia harus menanggung kerinduan karena tidak bisa bertemu dengan sang ibu.
"Ma.. maaf sebelumnya, bisakah antarkan saya ke toko saja?" Lirih Dinda dengan menunduk.
"Kenapa?" Dinda hanya menggeleng pelan menanggapi.
"Bunda... pulang cama Eifan ya..." bujuk Reifan kembali memeluk Dinda.
"Tidak sayang. Maaf. Bunda ada urusan." Jawabnya kemudian terkejut sendiri. Batinnya berkecamuk mengapa ia menyebut dirinya sendiri dengan bunda pada Reifan? Benar-benar gila. Rasanya hal ini akan membuat Dewi merasa diberi harapan.
"Tapi Eifan mau bunda..." rengeknya kini berubah manja.
"Apa hubunganmu dengan Aldi sedang tidak baik?"
"Sa-saya...." Dinda tak mungkin bicara bahwa dirinya menolak lamaran Aldi. Dan bahkan itupun tak sengaja ia mengatakan akan menikah dengan orang lain.
"Oke mama mengerti." Ucap Dewi seakan memahami diamnya Dinda.
"Terima kasih." Lagi, Dinda mengucapkannya dengan nada yang begitu pelan.
"Entah kenapa, melihatnya, rasanya aku sedang melihat Syifa. Apa Aldi juga berpikir demikian?" Batin Dewi menatap nanar pada Dinda yang kini menggigil kedinginan. Berkali-kali Dewi menarik senyum simpul saat melihat tingkah Reifan yang mencoba menenangkan Dinda. Hingga sampai di toko, Dinda segera berpamitan pada Dewi dan mengecup dahi Reifan yang terlelap sebelum dirinya pergi.
"Langsung hangatkan tubuhmu." Ucap Dewi berpesan.
"Iya ma... sekali lagi terima kasih. Dan sampaikan maaf saya pada Aldi." Semula Dewi menyernyit, namun ia segera menyembunyikan rasa penasarannya pada apa yang terjadi pada mereka.
"Akan mama sampaikan." Balasnya tersenyum.
Setelah Dewi berlalu, Dinda segera berlari memasuki toko dan ia langsung bergegas ke kamar mandi. Namun, sebelum ia melangkahkan kakinya masuk, ia di kejutkan oleh suara seseorang yang begitu ia kenal.
"Sudah berapa lama kalian berhubungan?" Sontak Dinda menoleh kearah pemilik suara.
"Lio?"
"Kau bilang akan menungguku. Tapi, kau sendiri punya kekasih selain aku."
"Apa maksudmu Lio?"
__ADS_1
"Ini. Maksudku adalah ini." Emilio memperlihatkan setumpuk foto hasil jepretannya saat ditaman. Dimana saat Dinda tengah dipeluk hangat oleh Aldi di bawah derasnya hujan dan hanya satu payung yang menjadi pelindung mereka.
"Lio... kau salah faham." Dinda mencoba meraih tangan Emilio, namun dengan kasar, lelaki itu menepis tangan Dinda.
"Selama ini aku berusaha dengan caraku untuk membahagiakanmu. Dan apa ini balasanmu? Dinda, aku tahu, dia presdir, dia kaya, dan dia punya segalanya. Dibandingkan aku, aku hanya seorang fotografer yang tak jelas tujuannya. Dan jika aku bergabung dengan perusahaan ayahku pun aku tak akan mendapatkan jabatan tinggi sepertinya. Aku sadar diri Dinda. Tapi, apakah pantas kau membalasku dengan cara seperti ini? Jika memang kau sudah tak mencintaiku, sebaiknya katakan saja sejak awal. Jangan kau bersikap seolah kau memberiku harapan."
"Lio sungguh kau salah faham."
"Apa? Kau terus mengatakan ini salah faham?"
"Sungguh. Aku dan Aldi tak ada hubungan apa-apa. Kita hanya sebatas..."
"Sebatas apa? Hemmm? Sebatas apa sampai kalian berpelukan begini?"
"Lio.... kumohon percaya padaku."
"Oke. Sebelum itu, katakan satu hal tentang foto ini bahwa aku harus mempercayaimu." Dinda menatap lekat pada foto yang ia genggam saat ini, lidah nya kelu, hatinya merasa teriris sendiri. Dan pikirannya mendadak kacau. Ia tak tahu harus menjawab apa. Karena jika ia berkata bahwa Aldi memintanya untuk menikah, justru itu akan membuat Emilio semakin menyalahkannya, meskipun dirinya sudah menolak Aldi dengan tanpa perasaan.
"Kenapa diam? Sekarang katakan. Hanya satu hal saja. Tak ada? Baiklah. Sekarang sudah jelas. Kita memang harus berpisah." 'Deg' rasanya seperti waktu berhenti saat itu juga. Sejak dulu, sebesar apapun masalah yang mereka hadapi, tak pernah sekalipun ada kata pisah diantara keduanya. Tapi sekarang, Emilio dengan mudah mengatakannya tanpa ragu.
"Apa kau melihat aku sedang main-main? Kau pikir rasa kecewaku ini hanya sebuah candaan?" Suara Emilio kian meninggi membuat Dinda memejamkan matanya sesaat. Ia sudah tak merasakan dingin lagi sekarang walaupun bajunya sudah basah kuyup dan kulitnya sudah mulai pucat.
"Dia memang melamarku. Tapi aku tolak karena aku masih berhubungan denganmu." Ucap Dinda dengan nada suara yang tak kalah tinggi.
"Apa?"
"Apa kurang jelas? Aku menolaknya karena aku sadar, masih ada dirimu di hidupku."
"Ohhh jika kita benar-benar berpisah, kau bersedia saja menikah dengannya?"
"Bukan begitu Lio. Kenapa kau tak bisa mendengarkan aku sebentar saja."
"Mendengarkan apa lagi? semua sudah berakhir." Setelah mengatakan kalimat itu, Emilio berbalik dan berlalu dari hadapan Dinda yang masih mematung. Dan ketika Dinda tersadar, ia segera menyusul Emilio.
"Lio... please... dengarkan aku dulu." Dinda menarik tangan Emilio ditengah derasnya hujan.
"Kita sudah selesai Din... sudahlah. Aku pantas kau tinggalkan, dan kau pantas memilih yang lebih baik dariku."
__ADS_1
"Lio... jangan bicara begitu, bagaimana pun aku selalu menjaga perasaanku untukmu. Kau benar-benar salah faham. Kumohon Lio. Percayalah.!"
"Maaf Dinda. Kali ini aku tak ingin memaksakan ego kita. Ayahmu benar, aku memang tak pantas untukmu."
"Lio..."
"Dinda. Jika bersamaku kau tak bahagia, semoga dengannya kau selalu bahagia."
"Ku bilang kau salah faham sialan." Teriak Dinda memukul lengan Emilio bertubi-tubi.
Dengan terpaksa, Emilio perlahan melepaskan tangan Dinda yang begitu erat menggenggamnya. Ia tak pernah sekalipun berpikir akan ada momen perpisahan ini dengan sang pujaan hati.
"Kali ini aku mengalah Aldian. Tapi nanti, lihat saja akibatnya karena kau sudah merebut Dinda dariku." Batin Emilio sembari terus menjauh dari Dinda yang menangis meratapi kepergiannya.
"Kenapa jadi begini? Aku dan Aldi benar-benar tak ada apa-apa." Lirih Dinda terus mengusap air matanya yang sudah bercampur air hujan.
"Kak...." panggil Nisa dengan membawa payung dan meneduhkan Dinda. "Ayo masuk. Nanti kedinginan." Lanjutnya menatap harap pada Dinda.
"Nis... Lio salah faham..." rengek Dinda kembali menangis.
"Iya kak. Nisa tahu. Sekarang kakak masuk dulu, mandi, ganti baju, biar gak kedinginan. Kalau kakak sakit bagaimana? Nisa sedih kak." Bujuk Nisa berharap Dinda sedikit merasa tenang. Meskipun hatinya berat, namun Dinda menurut saja pada Nisa agar mengikutinya memasuki toko.
Setelah Dinda mandi dan mengganti bajunya, ia mendapati sebuah panggilan dari nomor asing.
"Iya hallo."
"Benar ini dengan nona Dinda?" Tanya seseorang itu dari seberang.
"Iya benar. Ini dengan siapa?" Dinda balik bertanya dengan penuh penasaran.
"Kami dari pihak rumah sakit Kencana, dan kami mengabarkan bahwa tuan Aldian mengalami kecelakaan dan berhubung nomor ini yang tertera saat ponsel beliau menyala, jadi saya memberitahu nona mengenai kabar ini." Namun, Dinda hanya membisu tak menanggapi. Dinda hanya mematikan panggilannya dengan tanpa berekspresi apapun. Wajahnya datar namun terlihat sendu. Ia berjalan menuju pintu depan dan mengambil payung, lalu memberhentikan taksi.
"Kak...." panggil Nisa saat menyadari ada yang salah dengan Dinda.
. Sampai di rumah sakit yang di tuju, Dinda segera mencari dimana Aldi berada. Dan, hatinya merasa remuk saat melihat luka di sekujur tubuh Aldi. Ia menangis di balik kaca meratapi kesalahannya.
-bersambung
__ADS_1