RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
23


__ADS_3

. Noah menangani Aldi dengan serius, ia sangat berhati-hati dengan setiap sentuhannya, apa lagi saat ia menangani luka di perut bagian kanan Aldi yang ia anggap sebagai luka paling parah. Beberapa jahitan sudah Noah susun dengan keringat dingin yang mulai bercucuran.


Di waktu yang sama, Avril yang sedang membawa teh hangat untuk Alvi, langkahnya terhenti ketika mendengar berita terkini tentang kecelakaan lalu lintas. Entah apa yang membuatnya tertarik, biasanya Avril selalu mengabaikan setiap berita tentang apapun. Namun, kali ini ia sangat tertarik dan merasa penasaran. Namun alangkah terkejutnya, dan 'prang' Alvi berlari mendengar suara benda terjatuh dari arah ruang keluarga.


"Avril...." panggilnya mendadak panik. Segera Alvi meraih sang istri yang tak sedikit pun merasakan panas di kakinya dan pandangannya yang tak berpaling dari arah layar Televisi.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Alvi kemudian. Avril semakin berkaca-kaca dan menggeleng menanggapi pertanyaan Alvi.


"Kau kenapa? Kau sakit?" Dan kali ini, Avril perlahan menoleh pada Alvi, tangisnya semakin menjadi membuat Alvi merasa heran.


"Sayang... kau kenapa? Sudah ya...."


"Aldi.... Aldi...." Alvi menyernyit mendengar gumaman Avril yang begitu lancang menyebut nama mantannya didepan Alvi begini.


"Sudah ku bilang. Aldi itu--"


"Ayo ke rumah sakit....." rengek Avril menyela dan menghentikan ucapan Alvi yang berpikir bahwa Avril masih tak bisa melepas Reifan karena keegoisan Aldi.


"Apa maksudmu?"


"Aldi kecelakaan. Aku melihat mobilnya di berita."


"Avril. Sayang. Tenang... kau mungkin salah lihat."


"Tidak Al.... aku hafal mobil Aldi. Bukankah kau selalu menyuruhnya menjemputku? Tak mungkin aku tak mengenali mobilnya." Mendengar itu, Alvi terdiam seketika. Benar, tak mungkin Avril lupa bagaimana mobil Aldi. Dan jika benar Aldi kecelakaan, harusnya pihak rumah sakit atau Dewi akan memberitahu mereka. Tapi kenapa tak ada satu pun yang menghubungi keluarga Revano.


Ditengah kebimbangan Alvi, dan kesedihan Avril, suara ponsel Alvi berbunyi, dan segera ia melihat siapa yang memanggil.


"Hallo Dem." Ucapnya setelah menggeser tombol hijau.


"Al... Avil mana? Aku panggil tapi tidak diangkat."


"Ada apa Dem?" Tanya Alvi seakan penasaran karena Demira pun terdengar gelisah. Mungkin berita Aldi memang benar, tapi ia hanya ingin menjauhkan pikiran itu, dan berharap tidaklah benar. "


"Aldi kecelakaan. Sekarang dia kritis. Noah baru selesai menanganinya, dan Noah langsung memberitahuku." Dan, tangan Alvi seperti kehilangan kekuatannya walaupun untuk sekedar menggenggam ponsel. Namun, ia harus terlihat tenang di depan Avril agar tak membuatnya semakin panik.


"Aku akan segera kesana Dem." Ucap Aldi kemudian. Setelah telepon terputus, Alvi segera menenangkan Avril terlebih dahulu.


. Bagas dan Reno setengah berlari menyusuri lorong menuju ruang inap yang di katakan Noah. Rasa sesalnya semakin membuat Bagas sesak karena hari ini ia tak ada di samping Aldi.


"Teman macam apa aku ini." Umpat Bagas terus menyesali keteledorannya.

__ADS_1


"Gas... jangan menyalahkan dirimu." Ucap Reno dengan menutupi kekhawatiran dirinya sendiri.


Bagas terhenti seketika saat ia berpapasan dengan seseorang yang begitu familiar. Ia menoleh sejenak dan kembali menyusul langkah Reno.


Sampai di ruangan yang dituju, segera Reno membuka pintu dan ia begitu terkejut karena melihat luka di sekujur tubuh Aldi.


"Rasanya familiar ya?" Tanya Reno tanpa memalingkan pandangannya dari Aldi.


"Iya. Kau benar." Jawab Bagas pun begitu.


"Apa dia sudah di beritahu?" ~Reno.


"Entahlah. Tapi harusnya sudah." ~Bagas.


"Dia pasti menangis." ~Reno.


"Jelas." ~Bagas.


"Hei Al.... bangun woy... jangan pura-pura. Atau kau akan benar-benar bertemu Syifa." Reno memangku tangan dengan angkuh dan berharap agar Aldi bangun tiba-tiba. Namun, sampai lama ia menunggu, Aldi tak kunjung bangun. Yang terdengar hanya suara dari EKG yang menandakan detak jantung Aldi masih berdetak.


"Dia tidak bangun Ren." Ucap Bagas mulai lesu.


"Apa aku salah bicara ya?" ~Reno.


"Lalu aku harus bicara apa agar dia bangun?" ~Reno.


"Hei Al... kalau kau tidak bangun, aku adopsi anakmu." Namun, bukannya setuju, Reno malah memukul lengan Bagas sedikit keras.


"Kau mau merawatnya bagaimana? Kau sendiri saja tidak punya istri."


"Ya... siapa tahu kan? Mungkin dengan aku mengadopsi Rei, aku langsung bertemu jodoh." Jawab Bagas dengan santainya.


"Iya juga ya."


"Baren......" panggilan itu berhasil membuat Baren menoleh.


"Avil." Ucap mereka serempak.


"Kenapa Aldi sampai begini?" Avril memukul kedua temannya itu dengan keras.


"Aduhh... aku tidak tahu Vil..." ~Reno.

__ADS_1


"Kata Noah bagaimana?" Tanya Alvi ikut menghampiri Avril dan Baren.


"Aku belum bertemu dengannya. Yang aku khawatirkan sekarang hanya mama Dewi. Aku tak tahu bagaimana reaksi mama jika mendengar kabar ini." Jawab Bagas.


"Al... jangan dulu. Aku yakin disana Syifa tidak kesepian. Dan Rei juga masih membutuhkanmu." Ucap Avril menatap nanar pada Aldi yang masih terlelap.


"Ehhhhh kau selalu saja bicara yang aneh-aneh." Alvi menepuk dahi Avril dan kemudian menutup mulutnya.


"Tapi aku setuju dengan Avil." Timpal Reno masih bersikap santai.


"Iya memang Avil benar." Bagas pun sama. Alvi menghela nafas berat sesaat kemudian menepuk dahi Baren bergantian dengan keras.


"Kalian memang sudah gila. Harusnya kalian itu berdoa jika teman kalian dalam kondisi sekarat begini." Ucap Alvi.


"Euhhhh kau juga sama" protes Baren serempak.


"Apa? Ada yang salah?" Alvi menyernyit keheranan. Namun, Baren hanya melirik Alvi dengan sinis.


"Avil.... aku dan Bagas akan menemui mama Dewi dulu. Kau tidak keberatan kan." Avril hanya mengangguk menanggapi Reno yang langsung berlalu dengan Bagas meninggalkannya. Lagi, Avril menatap nanar wajah Aldi yang terdapat beberapa luka goresan dari yang samar terlihat, sampai yang jelas terlihat berdarah. Ia seketika mengingat kejadian Alvi dulu. Kondisinya sama, dan lukanya pun tidaklah ringan. Sejenak ia berfikir apakah ini murni kecelakaan atau ada oknum lain yang bertanggung jawab?


"Al... ku harap dugaanku tidak benar." Lirih Avril semakin gelisah.


"Sudah... jangan berpikir yang tidak-tidak. Berdoa saja."


"Tapi... ini sama dengan yang kau alami saat itu kan?"


"Kita belum tahu penyebab Aldi kecelakaan sayang. Jadi kau tenang dulu. Sekarang, sebaiknya kau berdoa untuk keselamatan Aldi." Meskipun ragu, namun Avril berusaha untuk mengikuti ucapan Alvi agar dirinya tenang.


"Jika aku tahu siapa yang membuatmu begini, aku pastikan dia tak akan selamat, dan aku satu-satunya orang yang akan melakukannya." Batin Alvi semakin lekat menatap wajah Aldi. Tangannya mengepal dan yang satunya terus membelai rambut Avril untuk sekedar menenangkan. Pikirannya sama dengan Avril, meskipun dulu penyebab Alvi kecelakaan adalah ulah Adam, namun Alvi tak sedikitpun menyimpan dendam pada Aldi sekarang.


. Hari-hari berlalu, Baren dan Avril secara bergantian menunggu Aldi, dan selama itu pula, belum ada tanda-tanda Aldi siuman. Dewi semakin gelisah dibuatnya, apalagi melihat Reifan yang terus mencari Aldi. Alvi senantiasa menggantikan peran Aldi sepenuhnya, dan hal itu sedikit menenangkan Reifan meskipun sebentar.


"Ayah... Eifan mau bunda.." rengeknya ketika Alvi memeluk Reifan yang sempat menangis karena ditinggal Avril.


"Eh? Mommy maksudnya?" Alvi sedikit kebingungan siapa bunda yang di maksud. Jika Syifa, tak mungkin.


"Bunda...." rengeknya lagi.


"Tapi bunda sudah.... aih bagaimana aku mengatakannya? Heummm Mungkin Dea?" Alvi menebak walaupun dirinya tidak yakin.


"Daddy.... mau bunda...."

__ADS_1


"Ayolah Rei.... bundamu sudah tidak ada."


-bersambung.


__ADS_2