
. Sudah lelah Dinda mencari keberadaan Avril bersama Aldi, siang ini Aldi dibuat terkejut mendapati kabar Reifan yang tiba-tiba sakit. Mereka segera menyusul Dewi yang sudah membawa Reifan menuju rumah sakit.
Sampai di rumah sakit, Aldi bergegas mencari keberadaan ibunya di area poli anak. Terlihat Dewi melambaikan tangan saat melihat putranya datang.
"Bagaimana ma? Kenapa Rei bisa sakit? Saat aku tinggal tadi bukankah dia baik-baik saja?"
"Aldi tenang. Rei akan baik-baik saja. Mama juga tak tahu, suhu tubuh Rei tiba-tiba naik secara drastis." Jawab Dewi terlihat lebih tenang namun sebenarnya begitu khawatir.
"Apa kata dokter ma?" Dinda ikut bertanya dengan wajah cemas. Meski bukan anak kandung, namun ia yang merasakan kasih sayang seorang ibu muncul dalam dirinya pada anak itu.
"Belum nak. Dokter masih memeriksa."
Ketiganya sama-sama menatap ke arah pintu dan berdoa akan kesehatan Reifan. Saat mereka tengah menunggu dokter, Aldi di kejutkan oleh keberadaan Alvi yang meraih bahunya.
"Kenapa kalian disini? Rei sakit?" Tanya Alvi mendadak ikut cemas. Dewi mengangguk menanggapi pertanyaan Alvi lalu kembali menatap ke arah pintu, dan berharap dokter membawa berita baik.
"Kau sendiri? Sedang apa disini?" Mendapati pertanyaan dari Aldi tersebut, Alvi terlihat gugup dan ragu untuk menjawab.
"Emmm. Sepertinya aku harus memberitahu kalian, meski istriku melarang, tapi kau teman kecilnya Al." Aldi menyernyit mencoba mencerna maksud Alvi. "Avril di rawat. Darahnya turun, dan trombositnya juga turun, asam lambungnya juga ikut kambuh, sudah 3 hari tapi belum ada peningkatan." Lanjut Alvi berhasil membuat Aldi terkejut dan Dinda semakin merasa bersalah.
"Dimana Avril sekarang?" Tanya Dinda dengan menangis pilu berharap Alvi memberitahu dirinya dimana Avril.
"Di kamar VIP nomor 7 lantai 4." Sontak Dinda bergegas menuju lift meninggalkan Aldi dan Dewi di tempatnya.
"Dinda..." panggil aldi yang terheran akan sikap Dinda akhir-akhir ini. Ia merasa bimbang, ingin menyusul Dinda, namun ia juga tak ingin meninggalkan Reifan meski masih dalam proses pemeriksaan. Ketika ia hendak menyusul, dokter keluar dan memberitahu bahwa Reifan sudah baik-baik saja setelah sempat kejang-kejang karena panas berlebih. Mendengar hal ini, Dewi membiarkan Aldi menyusul Dinda yang mungkin tengah kalap mendengar kabar kedua orang terdekatnya sakit bersamaan.
. Dinda memasuki kamar yang di maksud Alvi, ia terhenyak mendapati kondisi Avril yang jauh dari perkiraannya. Di sampingnya ada 2 orang yang menunggu, yang satunya seorang perempuan yang tengah menangis meminta Avril segera bangun, dan yang satunya seorang dokter yang terus menguatkan si perempuan.
"Avil.... ayo sembuh! Nanti kita jalan-jalan lagi. Kau tidak kasihan pada anakmu? Bukankah dia yang kalian inginkan kehadirannya? Kasihan Alvi." Rengek Demira dirasa sudah mengoceh kemana-mana.
__ADS_1
"Ehhh sudah. Kenapa kau malah mengoceh tak jelas?" Tegur Noah yang sebenarnya merasa iba pada kondisi Avril saat ini. Apa lagi saat mendengar suara EKG yang menunjukkan kondisi jantung Avril yang melemah. Noah dan Demira serentak menoleh ke arah pintu dimana Dinda masih berdiri mematung menatap mereka berdua.
"Dinda." Panggil Demira berhasil membuat Dinda terkejut.
"Kau mengenalku?" Kini Demira yang tak kalah terkejut, mengapa Dinda bersikap seolah mereka tidak saling mengenal. Tak lama, Aldi menyusul Dinda yang masih enggan beranjak dari tempatnya. Perlahan Aldi menarik Dinda mendekati Avril yang tengah terlelap meski alisnya berkerut. Aldi menoleh pada Noah lalu pada Demira yang memasang wajah sendu seakan menunjukkan kesedihan mereka.
Bagaimana tidak, kondisi Avril begitu memprihatinkan, dari infusan di tangan sampai oksigen terpasang membuat Dinda merasa tersayat hatinya.
"Rei..." lirih Avril begitu pelan. Matanya enggan terbuka, namun ia terlihat bergerak tak nyaman dengan posisinya.
"Avril. Jangan bergerak begitu. Nanti infusannya terlepas lagi. Sudah berapa kali aku memindahkan jarum infusanmu." Tegur Noah seraya meraih tangan Avril yang lemas dan tak ada tenaga sama sekali.
"Rei.... Rei...." Avril terus bergumam pelan dan tak mendengarkan teguran Noah. Terlihat air matanya mengalir dari sudut mata melewati pelipis dengan deras.
"Avil.... ini aku Aldi." Ucap Aldi mencoba menyadarkan Avril dari tidurnya.
"Rei...." seakan tak ada lagi kata yang lain, Avril terus bergumam pelan memanggil nama Reifan berkali-kali.
"Dem.. Rei sakit. Mungkin Alvi tengah menunggu Rei di poli anak." Mendengar jawaban Aldi, Demira lantas naik pitam lalu menghampiri Aldi dan meraih kerah kemejanya dengan emosi.
"Putramu sedang sakit, kau malah kesini?"
"Tidak Dem... aku menyusul Dinda yang tiba-tiba pergi mencari kamar Avril."
"Dan kau lebih mementingkan orang lain dari pada putramu sendiri?" Sontak Aldi menepis cengkraman Demira dari kerah kemejanya dan menatap tajam pada Demira yang sama-sama melemparkan tatapan kebencian.
"Dinda bukan orang lain. Dia calon istriku Dem."
"Tapi kau gagal menikah kan?"
__ADS_1
"Itu karena dia amnesia dan aku ingin memulihkan ingatannya dulu."
"Cih.... orang yang sudah amnesia kebanyakan tak akan ingat lagi." 'Deg' Dinda membeku seketika, ia merasa ada sebuah belati menusuk tepat di jantung hatinya. Nafasnya terasa sesak, meski ia setuju dengan ungkapan Demira, namun hal ini membuatnya merasa sakit hati.
Dinda berbalik dan berlalu meninggalkan ruangan Avril dengan langkah yang begitu lemas. Aldi yang terlanjur marah pada Demira pun menghempaskan kasar tangan Demira kemudian berlalu menyusul Dinda yang sudah pasti merasa sakit hati karena ucapan Demira.
"Dinda tunggu." Aldi menarik tangan Dinda yang terhenti seketika namun terlihat Dinda tengah menangis pilu meraih dadanya.
"Aku mau pulang ke kotaku Al."
"Dinda. Jangan begitu. Jangan dengarkan Demira."
"Tapi dia benar Al. Aku tak akan ingat jika sudah amnesia."
"Jangan berpikir begitu Dinda. Aku akan membantumu mengingat semuanya."
"Bagaimana kalau aku tak bisa ingat sampai kapanpun?"
"Kita akan tetap menikah."
"Tapi yang kau nikahi bukan Dinda yang dulu. Aku berbeda dengan Dinda di masa lalu Al."
"Aku tak peduli Dinda. Setidaknya sainganku bukan laki-laki lain lagi, tapi hanya ingatanmu saja."
"Bagaimana jika amnesiaku lebih menakutkan dari pada orang ketiga?"
"Kita hadapi sama-sama setiap cobaannya Dinda."
"Aku takut Al. Aku takut jika nanti aku akan melukaimu." Pecah sudah tangis Dinda di dalam pelukan Aldi yang berusaha menguatkannya meski sama-sama merasa pilu.
__ADS_1
-bersambung