
. Paginya, Aldi yang harus bekerja karena agenda pekerjaannya harus ia mulai dari pagi, dengan terpaksa meninggalkan Dinda di hotel dan hanya bisa menyuruh bawahannya untuk menjaga istri kesayangannya.
Dinda keluar dari kamar setelah ia bersiap dan ia segera menemui Maira di kamarnya sebelum sarapan di restoran hotel yang ada di lantai 4. Keduanya pergi bersama di waktu yang sudah di jadwalkan untuk sarapan. Saat keduanya berbincang dan bercanda, lift terhenti memperlihatkan Sean dan Shana yang tengah menggandeng Xaviera membuat Maira merubah ekspresinya menjadi dingin. Dinda melihat raut wajah Xaviera yang berbinar melihatnya, dan hendak menghampirinya karena kegirangan. Saat Xaviera sudah memasuki lift lebih dulu, niat hati ingin meraih dan memeluk Dinda, namun ternyata Dinda keluar dengan menarik tangan Maira. Terlihat jelas Maira keheranan akan sikap Dinda yang tiba-tiba. Bodyguard yang di tugaskan Aldi untuk menemani Dinda dan Maira pun ikut keluar dan terus menjaga Dinda agar tak ada yang mengganggunya. Belum sempat Sean berucap, pintu lift tertutup namun ia tak berniat menahannya, dan Sean membiarkan lift tertutup rapat sehingga membawa mereka ke lantai yang dituju.
"Din... kau kenapa?" Tanya Maira yang tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
"Mai... dia itu Shana. Shana Alfa Amalia. Wanita yang semalam menitipkan salam untuk suamiku."
"Hah? Menitip salam? Kenapa? Bukankah dia dengan suaminya?" Pertanyaan Maira yang polos ini berhasil membuat Dinda mendelik.
"Sean itu kakaknya. Dan anak kecil itu anak Sean, keponakannya Shana. Meski Aldi bilang aku tak boleh cemburu, tetap saja setiap kali aku melihat wajah cantiknya, aku selalu merasa kalah dalam hal apapun dengannya. Aku terlalu takut kalau Aldi akan tergoda. Terlebih lagi, pernikahan kita belum diumumkan. Pasti semua orang mengira kalau Aldi masih duda, dan belum punya pasangan. Apa lagi dengan rumor yang menyebar bahwa Aldi dan aku batal menikah. Semua orang pasti berpikir aku dan Aldi sudah berpisah."
Maira terdiam, apa yang dikatakan Dinda memanglah benar. Ia sendiri pernah mendengar bahwa beberapa orang-orang yang ia temui di kota ini sempat menceritakan bahwa Aldi batal menikah dan kembali menjadi duda lajang.
Dinda tidak membawa Maira ke lantai 4 untuk sarapan, justru Dinda malah membawa Maira pergi keluar dan entah kemana. Setelah sampai di suatu tempat, Maira menyadari dimana kini ia berada.
"Kenapa ke toko?" Maira yang memang bersikap polos pun hanya terus bertanya demikian saat ia penasaran dan terheran.
"Aku tak sudi satu ruangan dengan Shana, Mai! Meskipun makanannya enak, tapi wajah Shana membuatku tidak nafsu makan." Jawab Dinda sedikit mendelik karena ikut kesal pada pertemuannya dengan Shana.
__ADS_1
"Apa kau dan Sean ada hubungan? Atau pernah bertemu? Atau--"
"Tidak pernah, dan tidak akan pernah." Tegas Dinda menjawab pertanyaan Maira yang belum terselesaikan itu.
"Hemm tapi tadi aku lihat sepertinya pria itu sangat mengenalmu."
"Tidak Mai. Aku tak mau punya kenalan seorang pria. Aku tak ingin menghancurkan kepercayaan Aldi terhadapku. Cemburu itu sakit Mai. Tak mungkin kau tak tahu rasanya kan?" Lagi-lagi Maira terdiam dengan semua celotehan Dinda. Ia membenarkan apa yang dikatakan sahabat karibnya ini. Cemburu memang sangat menyakitkan, apa lagi dengan menyaksikan langsung perselingkuhan yang dilakukan oleh pasangan sendiri.
Di sisi lain, Xaviera tidak memakan habis sarapannya, ia hanya memainkan sendok dan garpu dengan wajah yang murung. Hal itu membuat Sean dan Shana merasa khawatir pada Xaviera.
"Sayang. Are you ok?" Tanya Shana dengan mencoba mencari tahu kenapa keponakannya terlihat tidak bersemangat.
"Avi rindu bunda." Jawabnya membuat Shana menjadi sendu. Ia tak bisa melakukan apapun jika sudah menyangkut mantan kakak iparnya.
"Sebenarnya apa pekerjaan bunda? Kenapa tidak pernah bertemu dengan Avi? Dimana bunda? Ayah, Aunty, jawab Avi! Kenapa bunda tidak pernah pulang?" Rengeknya menahan suara agar tidak membuat bising tamu-tamu lain. Xaviera menunduk di atas meja dengan terisak pelan. Shana yang melihat itu hanya bisa terdiam dengan tangan yang mengepal. Air matanya ikut berderai tak kuasa melihat keponakannya yang begitu merindukan kehadiran Ivana.
"Hari ini kita pulang, nanti aunty coba minta bunda Avi untuk pulang juga ya!" Mendengar bujukan Shana, Xaviera mendadak mengangkat kepalanya lalu menatap harap pada Shana dengan mata yang berbinar.
"Benarkah? Aunty janji? Janji ya?" Melihat Xaviera yang antusias, Shana mengangguk seraya tersenyum lalu beralih memeluk keponakan tersayangnya. Sean tak ingin mengatakan apapun lagi tentang mantan istrinya yang sudah meninggalkan putri mereka sejak masih kecil. Yang ada di pikiran Sean saat ini, bagaimana caranya agar ia bisa bertemu lagi dengan Dinda. Rasanya perbincangan mereka tidak membuatnya puas. Ia ingin berbincang dengan santai dan menceritakan banyak hal dengan Dinda. Wanita yang ia ketahui belum mempunyai suami itu. Keyakinannya semakin kuat saat ia mendapati Dinda hanya ditemani oleh seorang perempuan dan bodyguard. Dan keyakinannya pada hubungan Dinda dan Aldi sudah berakhir semakin besar. Ia merasa ada peluang yang tak boleh ia sia-siakan.
__ADS_1
Menjelang siang, Dinda tengah merangkai sebuah bunga pesanan pelanggan yang memesannya dari telepon. Karena tak menyadari adanya seseorang yang datang, Dinda masih terlibat fokus.
"Maaf. Apa bunga mawar ini ada warna putih?" Tanya seorang wanita yang tak jauh dari tempat duduknya.
"Oh.. sebentar. Nisa.... Nis... tolong handle Nona ini sebentar." Teriak Dinda yang merasa tak ingin melepaskan pekerjaannya.
"Iya kak." Sahut Nisa yang tak jauh darinya.
"Anda ingi sesuatu Nona?" Tanya Nisa setelah ia sudah menghampiri konsumen dengan ramah.
"Saya ingin warna putih. Ada?"
"Ada. Sebentar saya ambilkan." Nisa terlihat buru-buru ke tempat penyimpanan untuk mengambil bunga yang di inginkan oleh konsumen yang ternyata adalah Emira.
"Dinda. Bagaimana kondisimu? Ala amnesianya sudah membaik?" Tanya Emira beralih menghampiri Dinda. Karena merasa penasaran, Dinda mendongak dan melihat siapa orang yang tahu dengan nama dan kondisinya. Meski sempat bertemu, namun mungkin karena efek amnesia, Dinda kesulitan untuk mengingat siapa Emira.
"Ah.. kau lupa lagi padaku? Tak apa Dinda. Jangan dipaksakan. Aku tak berperan penting dalam hidupmu. Aku hanya--".
"Kak Liana Emira, istri dari Aulian Prayoga, dan kakak ipar dari mantan pacarku Emilio Anggara. Benar kan?" Mendengar semua yang di ucapkan Dinda, Emira termangu dan ia tersenyum tipis menanggapinya.
__ADS_1
"Aku sudah bercerai dengan Lian." Jawaban itu berhasil membuat Dinda lebih terkejut. Rasanya begitu mustahil jika Aulian dan Emira bercerai, pasalnya mereka terlihat begitu romantis di depan umum dan depan media.
Bersambung