
. Karena sudah dirasa urusannya dan Aldi selesai, Dinda mencoba untuk kembali menghubungi nomor Avril dan berniat untuk meminta maaf. Ketika ia memanggil, namun tak ada jawaban dari pemilik nomor. Di panggilan kedua, akhirnya Avril menjawab telepon Dinda. Awalnya Avril pikir Dinda hanya salah tekan saja, namun ia mencoba untuk tidak berpikir negatif tentang Dinda.
"Hallo Din? Kenapa?" Sapa Avril setelah menggeser tombol menerima panggilan.
"Anu... Avril... aku....." Dinda merasa ragu, takut jika Avril marah dan tak ingin memaafkannya.
"Kau kenapa Din? Kau baik-baik saja kan?" Mendengar pertanyaan beruntun itu, sudah bisa Dinda simpulkan bahwa Avril tidaklah menyimpan dendam padanya.
"Aku ingin minta maaf padamu Avril. Aku...." ditengah keraguannya untuk bicara, terdengar Avril tertawa kecil sehingga Dinda merasa penasaran sendiri apa yang membuat Avril sampai tertawa begitu.
"Aih Dinda.... tak apa. Aku mengerti, dan aku juga lega jika kau cemburu padaku karena kedekatanku dengan Aldi."
"Kenapa begitu?"
"Karena itu menunjukkan bahwa kau mencintai Aldi. Hemm tapi aku penasaran, kenapa kau memutuskan Aldi kemarin? Kau punya selingkuhan? Seperti apa dia? Apa dia sehebat suamiku? Dengar ya Dinda! Kalau kau mau selingkuh dari Aldi, minimal selingkuhanmu seperti suami dan kakakku. Kalau tidak, maka aku akan mencibir mu habis-habisan." Meski dari seberang, Dinda tertawa kecil mendengar ancaman Avril yang begitu menakutkan. Dinda yang semula tak yakin pada Aldi karena ingatannya yang hilang, kini ia kembali yakin saat mendengar Avril yang begitu membela Aldi. Sangat jarang seorang wanita yang membela mantan pacarnya, apa lagi sudah mengkhianatinya.
"Emm Avril. Apa kau bisa memberitahuku perihal Aldi bagaimana padamu dulu?"
"Eh? Kenapa bertanya?"
"Aku hanya ingin meyakinkan diriku bahwa Aldi adalah orang yang tepat."
"Tanyakan pada hatimu Dinda. Keyakinan tidak datang dari cerita orang lain, tapi dari hatimu sendiri. Sekarang jika aku mengatakan Aldi bagaimanapun, jika kau tak sependapat denganku, kau pasti akan menyalahkan pendapatku kan?"
"Tidak Avril. Aku ingin mendengarnya dari mu secara langsung. Kau mantannya kan? Dan kau tak seperti orang lain yang kebanyakan selalu menjelekkan mantannya. Tapi kau selalu membela Aldi."
"Menurutku Aldi itu pria yang baik. Dia juga setia. Hanya saja, dia itu kesepian. Jangankan aku yang hanya mantan pacar, bahkan mama juga selalu kewalahan menghadapi sikapnya yang selalu mendiamkan semua orang. Tapi, aku rasa semenjak bertemu denganmu, dia banyak berubah, dan dia lebih peduli pada Rei di bandingkan dulu. Dan semoga di ulang tahun Rei yang ke empat di tahun ini, Aldi tak akan kabur lagi."
"Emm begitu ya? Oh iya Avril... apa Rei bersamamu?"
"Ada. Tapi dia sedang bermain dengan Raven dan kakakku. Kau mau bicara dengannya?"
__ADS_1
"Tidak Avril tidak. Tak apa, aku tak mau mengganggu Rei. Nanti saja aku hubungi lagi."
"Baiklah." Setelah Avril menanggapi demikian, Dinda meminta untuk memutuskan panggilan, dan Avril pun tak merasa keberatan.
Dinda terdiam memutar cincin yang kembali ia pakai, lalu ia memejamkan mata mencoba mengingat hal apa saja yang sudah terjadi padanya dan Aldi. Namun, sekeras apapun ia mencoba, tak ada satupun ingatan yang muncul.
. Hari-hari berlalu, dan Dinda semakin dekat dengan Aulian sebagai rekan kerja. Namun malam ini, Hadi meminta Dinda untuk menemuinya di ruang kerjanya. Lalu Hadi melempar sebuah berkas ke hadapan Dinda dengan sirat amarah yang mewakili perasaan Hadi saat ini.
"Ada apa ayah? Ini tak ada kesalahan." Mendengar ucapan Dinda tersebut, lantas Hadi merasa semakin geram, kemudian ia menggebrak meja dengan keras sehingga Dinda terhenyak karena terkejut.
"Apa kau gila? Dia itu licik, apa kau tak ingat dia pernah menculik Rei dan hampir membunuh Aldi?" Dinda yang semula terdiam, ia me dadak emosi dnegan melempar berkas ke sembarang arah.
"Bagaimana aku ingat? Ayah saja tahu aku amnesia. Jangankan pada kejadian yang ayah bilang, pada ayah saja aku masih tak ingat. Tapi aku tidak gila ayah." Ucapnya dengan air mata yang sudah berderai.
"Batalkan kerja samanya dan jangan pernah berurusan dengannya lagi. Ayah tak mau kau terluka."
"Memangnya siapa dia?"
"Jadi, Aulian yang di maksud Aldi itu, Aulian yang ini?"
"Mungkin" tanggapan Hadi hanya demikian. "Tapi, mulai besok, kau tak perlu ke kantor. Jabatanmu ayah cabut sampai urusan ayah dan Aulian selesai." Lanjut Hadi setelah ia berpikir beberapa saat.
"Bagaimana jika dia melukai ayah?"
"Apa kau meremehkan ayah?"
"Bukan begitu, tapi kata ayah Aulian itu kan licik."
"Memangnya kau bisa mengatasi dia?"
"Entahlah ayah. Tapi rasanya aku tak mau membuat ayah terlibat dalam urusanku."
__ADS_1
"Urusan kantor."
"Selebihnya urusan dan tanggung jawabku ayah. Jadi biarkan aku yang menyelesaikannya." Dinda tetap teguh dengan pendiriannya.
"Baiklah. Tapi jika ada masalah, cepat beritahu ayah. Dalam satu minggu ini, kau harus sudah membatalkan kerja samamu dengan Aulian!"
"Baik ayah." Setelahnya, Dinda berlalu dari hadapan Hadi.
. Esoknya, ia menemui Aulian sesuai jadwal yang mereka buat. Kali ini Dinda tak seperti biasanya, selama pertemuan, ia hanya terdiam dan sesekali tersenyum menanggapi setiap perkataan Aulian.
"Dinda. Maaf sebelumnya, tapi apa kau baik-baik saja?" Tanya Aulian mencoba mencari tahu akan sikap Dinda yang terasa berbeda.
"Tidak. Saya hanya kurang yakin dengan proyek ini. Mungkin karena saya akan berhenti bekerja di perusahaan ayah saya. Jadinya semangat untuk bekerja pun, rasanya sudah hilang." Jawabnya seraya tersenyum tipis dan seperti terpaksa.
"Dari ucapannya saja sudah berbeda. Apa dia tahu rencanaku?" Batin Aulian memalingkan wajahnya lalu kembali menatap Dinda dengan penuh tanya.
"Kenapa kamu mau berhenti bekerja? Lalu bagaimana dengan proyek ini? Kita sudah mau mulai loh." Lagi-lagi Dinda hanya tersenyum menanggapi Aulian.
"Saya akan menikah dan ikut dnegan suami saya. Jadi, lebih baik dari sekarang saya memberitahu anda sebelum saya berhenti."
"Wahh selamat ya. Dan apa kau akan menikah dengan Aldian?"
"Anda mengenal calon suami saya?"
"Ya... dia rekan bisnis saya dulu. Tapi, apa kau yakin akan menikah dengannya?" Dinda menyernyit mendengar pertanyaan Aulian tersebut, ia merasa ada hal yang akan di ungkap oleh Aulian.
"Memangnya kenapa? Dia baik, dan juga bertanggung jawab."
"Dia sudah menikah kan?"
"Tapi istrinya sudah meninggal sekitar 3 atau 4 tahun yang lalu." Jawabnya dengan begitu santai sehingga Aulian pun terdiam mendengarnya.
__ADS_1
-bersambung