RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
52


__ADS_3

. "Tuan...."


"Apa Ray?"


"Saya mohon, tuan jangan pergi terlalu cepat. Kasihan nona. Masih muda, dan saya tak mau tuan tak tenang nantinya melihat nona menikah lagi." Cetus Ray memberanikan diri dengan menutup kedua matanya.


"Kau mau pesangon apa Ray? Uang atau barang? Jam 3 sore surat pengunduran dirimu harus sudah ada di mejaku. Aku tunggu." Ucap Alvi dengan nada dingin dan wajah yang sangat suram. Lirikannya tajam melebihi sebuah pisau. Ray bergidik ngeri mendengar pertanyaan yang jelas sebuah ancaman untuknya. Meskipun ia tahu Alvi tengah bercanda, namun kata-katanya terdengar sangat serius. Seserius Ray mengatakan Avril akan menjadi janda dalam waktu dekat setelah Alvi memakan buah dengan bumbu pedas di depannya.


"Maaf tuan. Saya hanya khawatir." Ucap Ray penuh rasa sesal.


. "Vil... hari ini katanya Aldi ada meeting di luar. Jam 2 siang. Kau tahu kan harus apa?" Bisik Reno saat ia keluar ruangan dan memberitahu Avril mengenai berita baik yang ia peroleh. Lagi-lagi, Avril hanya memasang jempol pada Reno tanda ia menyanggupi.


Tepat saat mereka memastikan Aldi dan Lani sudah berlalu, Avril segera mengotak-atik komputer milik Lani.


"Sial. Tak ada jejak." Ucapnya menggerutu sendiri.


"Harus bagaimana Vil? Kalau bukti tak bisa kita temukan selain video itu, aku yakin Aldi tak akan percaya. Dia akan terus menyalahkanku." Reno ikut kesal atas ketidak berhasilan mereka menemukan petunjuk.


Saat Avril hendak menghapus jejaknya, ia terpaku pada sebuah dokumen dan membukanya. Matanya membulat dan ia segera mengambil ponsel lalu memfoto untuk berjaga-jaga.


"Apa Vil?" Tanya Reno yang penasaran mengapa Avril mendadak begitu riang dan terlihat sangat puas.


"Kita juga ada meeting. Cepat!" Jawab Avril tanpa memberitahu apa yang ia lihat.


"Heh. Kalian sedang apa?" Tanya seseorang di belakang Reno.


"Sial." Batin Avril dan Reno yang memikirkan kata yang sama untuk mewakili situasi saat ini.


"Bagas. Ehehe aku.... sedang menyalin dokumen. Tadi komputerku tidak bekerja dengan baik. Jadi aku kesini." Jawab Avril begitu gugup. Bagas terlihat tak puas dengan jawaban Avril yang jelas tengah menyembunyikan sesuatu darinya.


"Vil. Aku temanmu juga. Bukan hanya Reno. Kalian menyembunyikan sesuatu dariku kan?"


Tatapan dan sikap Avril yang semula kikuk kini mendadak serius. Bahkan Bagas belum pernah lagi melihat tatapan Avril yang satu ini.


"Nanti saja aku jelaskan Gas. Sekarang aku dan Reno ada meeting dengan general manager. Dan tolong copy rekaman CCTV yang ada di depan ruang direktur, tepat saat hari dimana kertas itu di temukan Aldi. Dan sekertaris masih Lani."

__ADS_1


"Memangnya kenapa Vil? Kau menemukan--"


"Nanti saja ngobrolnya. Kita harus bergegas. Ayo Ren!" Avril bergegas lebih dulu dan segera di susul oleh Reno yang memberi kode pada Bagas.


. Beralih pada Ray yang saat ini tengah menahan nafas karena masih tak mempercayai Alvi memakan makanan pedas. Setelah 2 jam berlalu, ia baru merasa heran mengapa alerginya tidak kambuh.


"Tuan..." pekiknya berhasil mengejutkan Alvi.


"Apa Ray? Aku ini selalu saja mengejutkanku? Dan apa itu? Kau berbinar begitu kenapa?"


"Oh tuan.... jangan mati tiba-tiba. Saya belum siap anda tinggalkan." Ucapnya yang semula berbinar kini berubah menjadi berduka.


"Sekali lagi kau bicara aku mati, aku serius memecatmu saat ini juga Ray..." geram Alvi kembali memasang wajah yang lebih suram dari sebelumnya.


"Ma-maaf tuan. Saya benar-benar khawatir." Keluhnya yang terus menerus membayangkan Alvi terkena serangan jantung.


"Apa kau tidak heran Ray? Aku tidak meminum obat alergi. Tapi aku baik-baik saja."


"Tuan benar. Biasanya jika hanya sesuap pun, dampaknya sangat parah. Tapi ini sudah habis 2 porsi, dan anda masih sehat-sehat saja. Atau mungkin....."


"Tuan tiba-tiba terkena serangan jantung karena efek terlalu banyak makan pedas."


"Ray! AKU TUNGGU SURAT PENGUNDURAN DIRI SECEPATNYA!!"


"AAAA.... ma-maaf tuan.... saya tidak bermaksud. Karena tidak mungkin anda mengidam."


"Haaaah?" Alvi memasang wajah konyolnya setelah mendengar apa yang di katakan Ray barusan. Ia kemudian tertawa dengan lepas dan jelas tengah mengejek Ray saat ini.


"Kau ini ada-ada saja Ray. Kau sendiri tahu Avril keguguran dan mana mungkin suami bisa mengidam. Hahaha konyol sekali kau Ray... siapa yang mengajarimu?"


"Saya serius tuan. Bisa saja. Selain karena saya sudah menyaksikan sendiri ada suami yang memang mengidam saat istrinya mengandung. Dan saya pikir nona terlihat berbeda dari sebelumnya. Badannya terlihat berisi. Apa tuan tidak--"


"Sudahlah Ray. Aku tak mau nantinya aku berharap lebih dan malah membuat Avril menjadi sedih lagi. Mungkin efek penasaran dengan rasa yang selama ini aku hindari. Dan efeknya alergiku tidak berpengaruh."


"Mungkin tuan...."

__ADS_1


"Tapi saya lega anda baik-baik saja." Batin Ray yang tersenyum lega melihat Alvi yang lebih tenang. Ia hanya perlu melanjutkan tugasnya memastikan Aulian adalah pelaku dari semua kejadian yang menimpa Aldi.


. Selepas pulang, seperti biasa Ray selalu menjemput Avril. Dan seperti biasa pula, Avril selalu memasang wajah yang sulit di tebak.


"Ray... setelah mengantarkanku, kau jangan langsung pulang ya!"


"Apa ada sesuatu non?"


"Iya." Ray melirik sekilas dari spion dalam dan memastikan Avril tidak begitu terpuruk.


"Gara-gara Aldi yang tiba-tiba kembali ke kantor dan tidak sesuai jadwal, aku jadi gagal menjelaskan pada Bagas tentang rekaman ini." Batinnya terus berkecamuk.


. "Vil.... maaf aku telat. Jadi, apa yang ingin kau katakan? Mengapa tidak di kantor?" Bagas dengan terengah menghampiri orang-orang yang tengah berkerumun di ruang tamu rumah Alvi.


"Bagas. Kau tahu hubungan Aulian dengan Aldi itu apa?" Tanya Alvi yang ingin memecah seluruh rasa penasarannya pada sosok yang baru-baru ini terasa menjadi pemicu keributan mereka.


"Dia.... bagaimana menjelaskannya ya?"


"Katakan saja Gas. Agar penyelidikan kita lebih jelas." Avril kembali ikut menimpali.


"Kakak dari mantan pacar wanita yang sekarang dekat dengan Aldi."


"Tunggu. Maksudmu?" Tanya Alvi dan Avril dengan serentak.


"Ahhhh aku sulit menjelaskannya Vil...." umpatnya yang merasa kesal sendiri. Meski begitu, Bagas berusaha menjelaskan apa yang sudah tertata rapi di kepalanya.


"Emmm pacar Aldi itu siapa?" Tanya Avril dengan ragu setelah Bagas menjelaskan panjang lebar.


"Kenapa? Cemburu?" Sindir Alvi dengan nada sinis dan menunjukkan ia sendiri yang lebih cemburu.


"Dia.... putri sulung dari seorang pemilik perusahaan di kota S." Jawab Bagas berhasil membuat Avril termangu.


"Putri sulung, berarti seorang pewaris. Aku penasaran pada kepribadiannya." Batin Avril yang seakan lupa pada cerita Aldi beberapa bulan yang lalu.


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2