RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
25


__ADS_3

. Bagas mematung ketika ia membuka pintu dan mendapati Aldi yang sudah membuka mata. Rasanya ingin memeluk sahabatnya itu dan ia tak bisa menahan rasa haru karena Aldi tersadar dari tidur panjangnya. Perlahan Bagas berjalan kearah Aldi dan ia terhenti tepat di samping Dinda.


"Al. Kau bangun?" Tanya Bagas dengan suara pelan.


"Belum. Aku tak bisa bangun." Jawab Aldi santai.


"Oh iya. Tanganmu patah ya." Ejek Bagas seakan tak sedang berada di situasi yang canggung. Aldi tahu saat ini Bagas tengah terharu dan terlihat begitu senang karena dirinya tersadar.


"Kau sedang ada tamu penting ya? Ya sudah. Aku pergi dulu." Ucap Bagas selanjutnya.


"Ehhh tidak. Jika kau ada urusan dengan Aldi, silahkan. Aku saja yang pergi." Ucap Dinda menahan langkah Bagas yang hendak meninggalkan mereka.


"Tidak tidak. Aldi lebih membutuhkanmu." Balas Bagas yang beralih kembali menoleh dan berhenti setelah berjalan beberapa langkah.


"Tapi...." Dinda tak langsung melanjutkan ungkapannya dan perlahan menghela nafas dalam.


"Kalian bicara seakan kalian tak ingin ada disini. Sudahlah. Kalian berdua di sini saja." Aldi menyela Dinda yang hendak lanjut membalas ucapan Bagas. Dinda dan Bagas saling pandang kemudian kembali menoleh pada Aldi bersamaan.


"Apa selama aku tidur, ada yang mengganggumu?" Tanya Aldi beralih menoleh pada Dinda yang mendadak kebingungan dengan pertanyaan Aldi. Dinda menggeleng pelan menanggapi meskipun hatinya merasa heran mengapa Aldi menanyakan hal seperti itu tepat setelah Aldi sadar.


"Syukurlah. Dan apa selama aku tidur, kau selalu menjengukku?" Kali ini Dinda mengangguk pelan dan mendadak memasang wajah yang bersalah.


"Mengapa kau kesini? Harusnya kau bersama dia." Ucap Aldi selanjutnya.


"Kali ini aku hanya ingin merawatmu saja." Jawab Dinda dengan lirih.


"Gas... aku boleh minta sesuatu?" Tanya Aldi beralih mengalihkan pandangannya pada Bagas yang beranjak dan menghampiri semakin dekat pada Aldi.


"Aku ingin kau ziarah ke makam Syifa. Gantikan aku untuk sementara waktu." Lanjut Aldi, namun Bagas hanya diam tak menanggapi apapun.


"Al... sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Ini tentang Avil." Balas Bagas dengan ragu. Sontak Aldi menyernyit kemudian melirik ke arah Dinda yang terlihat gugup ketika pandangan mereka bertemu.


"Maaf Dinda. Bisa tinggalkan kami berdua?" Tanya Bagas dengan sopan. Ia takut akan menyinggung Dinda karena telah mengusirnya, meskipun secara baik-baik.


"Tak apa... silahkan." Jawab Dinda tersenyum dan dengan patuh ia berlalu keluar dari ruangan. Dinda menutup pelan pintu ruangan dan ia menghela nafas sesaat.


"Kenapa aku penasaran siapa orang yang di katakan Bagas?" Batin Dinda sebelum ia benar-benar berlalu.


"Ada apa Gas?" Tanya Aldi penuh rasa penasaran. Ia tak bisa menebak apa yang di maksud Bagas.

__ADS_1


"Avil Al." Jawabnya sambil mendesah kesal.


"Avil kenapa?" Aldi semakin khawatir jika mendengar nama Avril yang menjadi topik pembicaraan mereka. Apalagi melihat raut wajah Bagas yang sepertinya sedang gelisah.


"Avil... belum hamil karena di sengaja Al. Dan alasannya adalah Rei." Jawab Bagas menjelaskan singkat.


"Maksudmu apa Gas? Aku belum paham."


"Selama ini bukan Avil yang bermasalah, tapi dia sengaja menunda kehamilannya karena Rei. Ia takut nanti Alvi akan mengabaikan Rei jika mereka punya anak." Jelas Bagas kemudian.


"Jadi begitu? Tapi hubungan mereka baik-baik saja kan?" ~Aldi


"Mereka masih baik-baik saja. Aku rasa Alvi tak tahu tentang ini." ~Bagas.


"Dan kau? Tahu dari mana?" ~Aldi.


"Aku tak sengaja mendengar percakapan Demi dan Noah tadi. Dan kelihatannya Noah juga baru tahu." ~Bagas.


"Ada apa dengan dia? Suka sekali mencari masalah." ~Aldi.


"Aku juga heran. Tapi, akan aku awasi jika nanti ada apa-apa pada Avil. Dan.... aku ingin bertanya padamu." Bagas berubah lebih serius dan menatap Aldi dengan tajam.


"Jadi? Ada yang ingin mencelakaimu?" Tanya Bagas semakin penasaran.


"Mungkin. Tapi, jika kebetulan itu tidak mungkin." ~Aldi.


"Maksudmu tidak mungkin?" ~Bagas.


"Ada beberapa hal yang masih membuatku merasa ganjil dengan kejadian itu." ~Aldi.


"Apa perlu aku dan Reno menyelidikinya? Aku sempat melihat tayangan ulang CCTV disana, tapi aku tidak menemukan apapun yang mencurigakan selain penyebrang jalan yang hampir tertabrak olehmu." ~Bagas.


"Apa dia baik-baik saja?" Tanya Aldi perlahan meraih sumber rasa sakit yang sedari tadi berdenyut dan begitu mengganggu.


"Haih Al... kondisimu sangat parah sekarang. Khawatirkan saja dirimu sendiri." Decak Bagas mendelik kesal.


"Dimana Rei?" ~Aldi.


"Rei di rumah Avil." ~Bagas

__ADS_1


"Mama?" ~Aldi.


"Mama selalu di sini." ~Bagas.


"Lagi-lagi aku merepotkan mama." ~Aldi.


"Terima kasih Al." ~Bagas.


"Untuk?"


"Karena kau sudah sadar. Kasihan mama jika kau pergi. Dia akan kesepian, kau satu-satunya anak yang mama punya. Apa jadinya jika kau pergi Al."


"Iya ya... mama masih menungguku disini. Padahal, aku bertemu Syifa. Dia menemaniku selama ini. Dan tanganku juga tidak patah saat ada di tempat Syifa."


"Ishhh kau ini bicara apa?."


"Tapi aku serius Gas. Aku merindukan Syifa."


"Al... sudah.. Syifa sudah tenang. Lagi pula, apa kau tak merasa bahwa Dinda peduli padamu? Aku lihat dia tulus, dan tidak seperti gadis-gadis yang pernah berkencan buta denganmu. Meskipun mereka pilihan mama, tapi aku belum melihat tatapan setulus Dinda. Selain Avil dan Syifa, hanya Dinda yang menatapmu begitu."


"Jangan bicara seolah kau tahu tentang dirinya. Gadis itu pandai menipu."


"Maksudmu apa? Hei Al. Dinda itu setiap hari menunggu kesadaranmu. Bahkan tak jarang aku memergokinya menangis sambil terus menggenggam tanganmu. Aku tak tahu ada masalah apa di antara kalian, tapi aku tegaskan padamu. Aku tak suka kau bicara begitu pada Dinda." Ujar Bagas dengan sedikit meninggikan suaranya. Aldi menyadari ada sebuah amarah dibalik perkataan Bagas yang menekan itu.


"Kau menyukainya?" Tanya Aldi tanpa pikir panjang. Sontak Bagas menyernyit heran mendapati pertanyaan konyol yang Aldi lontarkan.


"Haha kau terbentur keras ya? Atau kau memang sudah gila? Atau mungkin Syifa kembali membuatmu menjadi lebih gila? Hei Al. Aku tahu gadis mana yang berhati baik dan tulus padamu. Atas dasar apa kau menyebutnya penipu?"


"Dia sudah memiliki kekasih. Dan dalam waktu dekat, dia akan menikah."


"Sudah putus." Jawab Bagas menyela cepat.


"Kau tahu dari mana?" Aldi terkekeh sinis menanggapi jawaban singkat Bagas.


"Emilio Anggara, putra kedua dari Amar Sanjaya. Dan adik dari Aulian Prayoga. Pemilik perusahaan properti terbesar yang mengalahkan perusahaan pak Hadi. Dan hal itu yang menjadikan alasan pak Hadi tak pernah merestui hubungan putrinya dengan Emilio. Selain karena Emilio putra dari saingannya, Emilio juga tidak bisa meyakinkan pak Hadi apakah dia serius dengan Dinda atau tidak."


"Jadi benar, Dinda adalah putri dari pak Hadi. Gadis yang akan dikenalkan denganku?"


"Iya. Dia juga gadis yang saat itu kabur karena akan di kenalkan denganmu. Mungkin karena dia takut jika kau tak setampan ini. Kau duda anak satu yang dingin dan suka berkencan dengan perempuan yang berbeda di setiap harinya." Ejek Bagas menahan tawa membuat Aldi melirik tajam dan konyol ke arahnya.

__ADS_1


-bersambung


__ADS_2