RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
97


__ADS_3

. Dinda termangu melihat apa yang ada di dalam ruangan rahasia itu. Ini terlihat seperti kamar anak SMA. Dimana didalamnya terdapat komputer game, dan dekorasi yang terkoneksi dengan ponsel. Bahkan Dinda lebih merasa betah di sana. Ia duduk di depan layar monitor lalu menghidupkan seluruh perangkat komputer. Aldi membawa makanan yang di bawa Dinda, kemudian ia memakannya di meja kerja seraya melihat Dinda yang mulai bermain game.


"Kau suka main itu juga?"


"Ya.... kadang-kadang. Beberapa tahun yang lalu, grafik dan levelnya tidak seperti sekarang." Jawabnya terlihat lihai memainkan game favorit Aldi.


"Hmmm begituuu..."


"Kalau sedang makan, jangan bicara. Nanti tersedak." Mendengar nasehat istrinya, Aldi tak lagi bicara, dan ia melahap makanannya sampai merasa kenyang. Setelahnya, Aldi menghampiri Dinda lalu duduk di sampingnya.


"Jangan ke sana. Musuh bisa menemukanmu."


"Benarkah? Kalau begitu aku pindah. Tapi kemana? Yahhh aku terjebak Al."


"Ya sudah! mati saja."


"Ehhh tidak mau."


"Kalau begitu bantai musuhnya."


"Tak sempat."


"Sudah ku bilang mati saja. Nanti aku gabung."


"Ehhhh lebih seru main solo."


"Kalau kau lawan aku?"


"Menarik. Aku terima tantanganmu." Dinda tersenyum seraya mengakhiri permainan yang tengah ia mainkan tersebut. Kemudian Aldi ikut bergabung sebagai lawan Dinda, dan keduanya saling menyerang dengan serius. Sampai 2 jam kemudian, mereka masih bermain game tanpa menyahuti panggilan Bagas dari luar karena mereka menggunakan earphone.


"Awas Al. Tuh kan aku kalah." Teriak Dinda saat karakternya di serang oleh Aldi.


"Yeee... yang kalah harus di cium."


"Ehhh tak ada perjanjiannya."


"Pokoknya cium."


"Tak mau." Dinda beranjak lalu berlari, namun Aldi tak ingin hilang kesempatan, ia mengejar Dinda secepatnya sehingga keduanya tertawa sambil terus berlari saling mengejar.


Bagas yang meletakkan berkas di meja Aldi pun menatap datar pada pintu ruangan yang tertutup. Terdengar samar suara gaduh dari dalam sehingga ia berpikir hal yang tidak-tidak.

__ADS_1


"Pengantin baru. Sialan! Memang tak adil. Aldi sudah bersama dengan 2 wanita yang berbeda, sedangkan aku? Satupun tak ada. Arghhhh." Geramnya meninggalkan ruangan Aldi dengan kesal. Bagas memilih menemui Reno dan meluapkan kekesalannya sehingga Reno hanya bisa menatapnya dengan konyol.


"Aku jodohkan dengan temannya Dea tapi kau tak mau." Ujar Reno setelah mendengar keluh kesah temannya.


"Aku takut kalau nantinya dia tidak bahagia denganku Ren. Aku pernah berkenalan dengan temannya Demira, tapi dia matre, terus temannya Avil. Eh dianya tak suka denganku."


"Bukankah kemarin kau dekat dengan temannya Dinda?"


"Sudah mau menikah."


"Kenapa tidak tikung saja?"


"Kau gila? Kau mau aku di bunuh calon suaminya?"


"Kan baru calon. Bukan suami sah."


"Tapi tetap saja Ren."


"Terus sekarang mau bagaimana?"


"Tidak tahu. Rasanya aku sudah malas untuk mengenal orang baru."


"Tidak."


"Terus kenapa bicaramu seakan kau punya mantan?"


Bagas hanya tertawa kikuk menanggapi pertanyaan telak dari Reno. Ia sudah merasa sedikit lebih tenang setelah mengutarakan semua unek-uneknya.


. Siangnya, Dinda yang sudah memastikan Aldi memakan makanan yang ia bawa pun memilih pulang untuk menyusul mertuanya di rumah Avril. Karena khawatir, Aldi mengantarkan Dinda sampai ke lobby, namun keduanya berjarak sedikit jauh atas permintaan Dinda. Meski heran, namun Aldi menurut saja dan mengikuti Dinda dari jarak yang di inginkan istrinya itu. Karena masih ingin tertawa akibat acara kejar-kejaran yang mereka lakukan, bahkan Aldi sampai terjatuh karena tersandung, sehingga Aldi tak berhenti tersenyum. Apa lagi saat mengingat Dinda menutupi tubuhnya dengan selimut karena tak ingin ia sentuh. Jika tersentuh, maka giliran Aldi yang di kejar oleh Dinda. Seperti anak kecil, namun hal itu berhasil membuat beban pikirannya sedikit berkurang.


Dinda tiba-tiba terhenti saat mendengar bisik-bisik karyawan wanita yang tersipu melihat Aldi melewati mereka.


"Bos kalau senyum, tampannya berlipat-lipat ya!"


"Iya. Pesona Bos setelah jadi duda memang beda. Aku yakin si Bos senyum-senyum begitu karena bertemu dengan presdir perusahaan Alfa."


"Memangnya begitu?"


"Yaa sepertinya. Rasanya kebetulan saja setelah datang tamu dari Alfa, terus sekarang si Bos senyum girang begitu. Menurutmu karena apa kalau bukan karena itu. Si Bos kan tak jadi menikah dengan presdir kota S. Aku yakin pasti si Bos jadi menikah dengan tamu tadi."


Meski samar, namun menyangkut gosip tentang Aldi, Dinda selalu memasang telinga dengan tajam. Ia menoleh ke belakang lalu menatap Aldi dengan tajam sehingga suaminya itu merasa heran seketika. Aldi hanya bisa menyipitkan matanya seraya terus mengikuti langkah Dinda dari jauh. Saat Dinda sudah di dalam mobil, Aldi ikut masuk karena masih ingin bersama istrinya.

__ADS_1


"Kenapa? Kesal lagi?" Namun Dinda hanya mendelik tanpa menjawab pertanyaan dari Aldi.


"Tuh kan selalu saja begitu." Keluh Aldi selanjutnya.


"Karyawanmu bilang kau cocok dengan Shana." Dan Aldi mengusap wajahnya kasar mendengar jawaban Dinda tersebut.


"Shana lagi. Shana terus. Shana itu siapa?" Dan seketika itu juga, Dinda terdiam tak bisa menjawab pertanyaan suaminya. Setelah itu, Aldi kembali keluar dan membiarkan Dinda berlalu dari hadapannya. Ketika di depan ruangannya, ia mendapati Bagas yang tengah memakan camilan di meja kerjanya.


"Kenapa tidak makan siang?" Tanya Aldi yang memilih bersandar di meja Bagas.


"Kau sendiri?"


"Aku sudah makan. Tadi Dinda bawakan makanan untukku."


"Hemmm makan atau makan?"


"Kau kenapa Gas? Sepertinya tak percaya padaku."


"Itu karena tadi aku memanggil berkali-kali tapi kau tak ada menyahuti."


"Hemmm mungkin sedang main game."


"Nah kan. Game apa Al. Jangan menjawab dengan asal. Aku juga laki-laki dewasa. Aku paham maksud kata 'game' yang kau bilang itu." Aldi menyernyit, ia terheran mengapa Bagas terdengar kesal saat membahas game dengannya.


"Apa yang kau pikirkan? Aku dan Dinda memang main game."


"Haih sudahlah Al. Aku tak mau berdebat." Mendengar ucapan Bagas tersebut, Aldi kembali terheran akan sikapnya yang terasa berbeda dari biasanya.


"Gas... nanti setelah jam makan siang, kau dan Reno ke ruanganku ya!"


"Mau apa?"


"Kau ini jadi bawahan tapi banyak tanya."


"Hehe. Ya kan biar lebih jelas aku memberitahu Reno nya Al..."


"Ya pokoknya kalian ke ruanganku saja. Ini penting. PENTING!"


"Iya iya... bawel." Mendengar tanggapan Bagas yang demikian, Aldi berlalu memasuki ruangannya dan ia memilih untuk membereskan kekacauan yang ia buat dan istrinya di ruangan pribadinya. Melihat stik game yang rusak, ia mendadak sendu dan berpikir jika bukan istrinya yang merusak, pasti ia sudah marah. Namun apalah daya. Tak mungkin ia memarahi istrinya hanya karena hal sepele.


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2