RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
67


__ADS_3

. Untuk merayakan kebahagiaan kedua belah pihak, Hadi membuat acara pertunangan Aldi dan Syifa terlebih dahulu. Dan pernikahan akan di laksanakan satu bulan setelahnya. Dinda lebih banyak diam, ia tak menyangka akan secepat ini. Namun sebelum itu, ia meminta Aldi untuk mengundang Avril datang kemari karena Hadi menginginkan acara pertunangannya di adakan besok. Meski begitu, Dinda tak keberatan selama Aldi tidak sibuk. Dengan ragu, Dinda menelepon Avril malam ini.


"Hallo Dinda. Kau dimana? Kenapa kau pergi tiba-tiba? Dinda. Aku bukan istrinya Aldi. Dia itu temanku dari kecil. Dan sempat pacaran pun, kita sudah lama berakhir." Jelas Avril dari seberang tanpa ingin mendengar lebih dulu apa yang ingin Dinda ungkapkan.


"Avril... aku sudah mendengarnya dari Aldi. Maaf sudah salah faham." Ucap Dinda berhasil membuat Avril menghela nafas lega.


"Syukurlah. Aku kira kau akan marah padaku. Aku sudah meminta asisten suamiku untuk menemuimu dan memintanya untuk menjelaskan semuanya. Kau tahu Dinda? Aldi sampai putus asa mencarimu kemana-mana. Tapi jujur, aku sangat senang jika memang Aldi dan kau sudah saling dekat. Tadinya aku ingin memperkenalkan kalian, eh ternyata kalian lebih dulu kenal tanpa sepengetahuanku." Terdengar Avril terkekeh kecil di tanggapi senyum oleh Dinda.


"Avril.. besok kau ke sini. Bisa?" Tanya Dinda dengan penuh harap.


"Eh? Ke kota S? Atau ke rumahmu yang ada disini?"


"Kota S."


"Tapi ada apa Din? Boleh bawa suami?" Tanya Avril terdengar konyol.


"Boleh Avil. Keluarga besarmu pun boleh." Jawab Dinda membuat Avril semakin penasaran.


"Iya ada apa Din? Sepertinya kau mengadakan acara besar." Mendengar itu, Dinda mendadak gugup dan seakan ragu untuk mengatakannya.


"Emmm ayahku meminta aku dan Aldi untuk bertunangan besok." Jawaban Dinda ini berhasil membuat Avril ternganga, antara tak percaya dan girang menjadi satu.


"Sebentar aku tanya suamiku dulu." Ucap Avril kemudian menepuk pipi Alvi yang tengah tertidur di perutnya.


"Al... besok ayo ke kota S." Alvi yang sedari tadi mendengarkan obrolan Avril pun mengiyakan tanpa ingin beranjak dari posisinya. Ia sudah terlanjur nyaman menempelkan kepalanya di perut Avril dan beberapa kali memanggil anaknya. Meskipun tak ada jawaban, namun ini menjadi sebuah kesenangan baru untuk Alvi.


"Aku akan datang Din." Dengan tak sadar karena refleks, Dinda meloncat kegirangan.

__ADS_1


"Terima kasih Avril. Aku tunggu di bandara ya. Atau kalau kau mau pakai jet pribadi, ayahku punya landasan dan tak jauh dari rumahku. Nanti aku kirim lokasinya." Ucap Dinda sangat gembira.


"Baiklah. Nanti aku kabari lagi." Setelah mengatakan kalimat itu, Avril kemudian memutus panggilan setelah Dinda mengizinkannya.


Di waktu yang bersamaan, Avril menangis haru seraya mengelus kepala Alvi. Sedangkan Dinda memeluk Aldi dengan penuh rasa senang. Ketika ia sadar, Dinda langsung melepaskan pelukannya dan kembali gugup sehingga suasana terasa canggung. Situasi ini begitu berbeda dengan saat mereka masih sekedar dekat. Mulai saat ini, Dinda akan menjadi pendamping Aldi dan menemaninya sebagai kekasih.


. Esoknya, Aldi yang sudah meminta Baren untuk datang dan meliburkan perusahaan secara dadakan pun membuat Baren kewalahan memberitahu setiap atasan dari masing-masing departemen. Sesuai jadwal yang di tentukan, Avril meminta Alvi untuk membawa Dewi dan Baren sekalian. Meski mereka selalu bertengkar dimana pun, namun hal itu yang membuatnya merasa hangat karena kebersamaan mereka.


Dinda dengan antusias menunggu kedatangan Avril di landasan pribadi ayahnya. Wajahnya berbinar saat melihat sebuah pesawat mulai mendarat. Benar saja, Avril turun bersama dengan Alvi yang merangkul pundaknya.


"Hampir saja aku salah mengira. Ternyata presdir itu suami Avril." Batin Dinda yang merasa malu sendiri.


"Mommy...." panggil Reifan begitu girang berlari ke arah Avril yang tengah berjalan menghampiri.


"Hai Rei.... kau terlihat senang." Ucap Avril seraya hendak menggendong Reifan, namun dengan cepat Alvi meraih Reifan lebih dulu karena ia khawatir pada Avril.


"Hai Avril. Syukurlah kau sampai." Dinda menyambut kedatangan Avril dan memberinya pelukan seraya meminta maaf atas kesalah fahaman kemarin.


"Nah Dinda. Kenalkan ini suamiku, Alvi." Tutur Avril dengan tatapan mengejek.


"Avril... jangan mengejekku."


"Haha aku suka sekali mengejek orang yang tiba-tiba marah sebelum dia tahu kebenaran yang sebenarnya."


"Sekarang kau malah menyindirku."


"Haha iya maaf..." meski meminta maaf, namun sikap Avril masih terlihat terus mengejek Dinda yang sudah menunduk malu karenanya.

__ADS_1


"Dinda. Terima kasih." Ucap Alvi menghentikan candaan Dinda dan istrinya.


"Eh? Untuk?"


"Sudah bersedia menerima Aldi. Tadinya aku khawatir dia tak akan laku lagi. Tapi tak ku sangka, dia mendapatkan wanita sepertimu." Tutur Alvi membuat kedua wanita itu menatapnya penuh tanya dan sedikit tak paham akan maksud ucapannya.


"Wanita sepertimu? Maksudnya bagaimana? Apa aku terlalu buruk untuk Aldi? Atau aku tak sebanding dengan Aldi?" Batin Dinda tersenyum penuh tanya. Begitupun dengan Avril yang menatap Alvi dengan kesal namun masih memasang senyum agar Dinda mengira itu hanya lelucon.


"Pemilihan kata nya sangat buruk. Dinda pasti mengira ia yang lebih rendah dari Aldi. Benar-benar bodoh. Dinda... kuharap kau jangan salah mengira maksud Alvi itu. Kenapa juga Alvi sangat bodoh?" Umpat Avril dalam hati seraya menyenggol lengan Alvi.


"Apa?" Tanya Alvi dengan polos. "Apa aku mengatakan hal yang salah? Memang benar kan Aldi itu beruntung mendapatkan Dinda. Sudah sukses, baik pula. Iyakan ma?" Tanya Alvi selanjutnya dengan kini melirik pada Dewi yang berada di sampingnya. Dewi tidak menjawab dengan kata-kata, ia hanya tersenyum seraya mengangguk tanda setuju dengan pendapat Alvi.


"Ayah... Eifan mau daddy.." pinta Reifan kemudian merentangkan tangannya pada Aldi.


"Aih.. baru sebentar ayah gendong, sudah mau pada daddy lagi?" Rajuk Alvi dengan memberikan Reifan pada Aldi yang memilih menunggu di tempatnya saja.


"Ehemmmm pengantin baruuu.." ejek Bagas pada Reno.


"Hei Bagas. Aku sudah mau dua kali, kau?" Ejekan Aldi ini lebih miris dari pada ejekan manapun. Benar-benar ironis, Bagas hanya terdiam membisu.


"Oh iya Din... kau punya karyawan kan? Kenapa tidak jodohkan saja pada Bagas?" Tanya Aldi beralih pada Dinda.


"Yaaa tapi kita tak bisa memaksa mereka kan?" Dinda hanya menanggapi demikian seolah ia merasa ragu pada Nisa ataupun karyawan lain.


. Ketika semua sudah berada di teras rumah, seorang gadis menyambut mereka dengan hangat dan begitu sopan.


"Bagas! Ini temanku, Maira. Dan Maira ini Bagas." Ucap Dinda membuat Bagas tersenyum keheranan mengapa hanya dirinya yang di perkenalkan pada gadis itu?

__ADS_1


-bersambung


__ADS_2