
. Dinda membuka pintu pelan dan kembali menutupnya rapat-rapat. Aldi yang terpejam hanya mendengar suara langkah kaki perempuan mendekat ke arahnya.
"Katanya buru-buru. Kenapa kembali lagi?" Tanya Aldi tanpa berniat membuka mata. Mendengar pertanyaan itu, Dinda hanya menyernyit tak mengerti karena ia baru saja sampai.
"Al..." panggil Dinda pelan. Terlihat Aldi membuka mata dengan ekspresi terkejut, dan ia segera menoleh pada Dinda dan tatapannya bertemu dengan manik mata Dinda yang teduh.
"Di-Dinda?" Aldi mendadak gugup, ia langsung beranjak dengan susah payah. Rasa sakit pada lukanya masih membuat dirinya merasa tersiksa.
"Ternyata kau." Ucapnya lagi.
"Memangnya ada siapa?" Tanya Dinda sembari membantu Aldi bersandar dengan membenahkan bantal sebagai sandaran.
"Itu...." Aldi mendadak semakin gugup, entah kenapa ia tak bisa memberitahu Dinda tentang Avril.
Mata Dinda semakin menyipit mengingat ucapan Aldi yang kebetulan sesuai dengan Avril yang tengah terburu-buru. Tatapan itu semakin sayu saat ia mengingat ucapan terakhir Avril yang mengatakan bahwa ayah putranya sedang sakit. Apa mungkin yang di maksud Avril itu memanglah Aldi? Dan Aldi juga tak memberitahu ada siapa yang sudah berkunjung sebelum dirinya. Berbagai prasangka mulai bermunculan di kepala Dinda. Ia segera menggeleng pelan mencoba menghilangkan pikiran negatif tentang Aldi yang menyembunyikan sesuatu.
"Din... kau kenapa?" Tanya Aldi yang terheran akan sikap Dinda.
"Oh... tidak... aku hanya pusing sedikit. Mungkin efek begadang kemarin." Jawab Dinda melempar senyumnya dengan menyembunyikan fakta bahwa ia menaruh curiga pada Aldi yang mungkin memiliki wanita lain yang lebih dekat darinya.
"Apa yang aku pikirkan? Biar saja dia punya pacar atau istri sekalipun. Aku tidak peduli. Lagi pula, aku masih belum bisa melupakan Lio. Aku merawat Aldi bukan karena aku tertarik padanya, aku hanya ingin menebus kesalahanku." Batin Dinda menatap kosong wajah Aldi yang beberapa kali terhalang oleh tangan Aldi yang melambai untuk membuyarkan lamunan Dinda.
"Kau melamun?" Tanya Aldi menyentil dahi Dinda pelan. Alhasil, Dinda tersadar dari lamunannya.
"Maaf."
"Jika kau lelah, istirahat saja." Ucap Aldi.
"Aku hanya ingin memastikan keadaanmu saja." Jawabnya menunduk lesu.
"Pikirkan dirimu dulu."
__ADS_1
"Bagaimana aku bisa memikirkan diriku sendiri? Sementara kau kecelakaan itu karena aku." Lirih Dinda memalingkan wajahnya menghindari kontak mata dengan Aldi. Sontak Aldi tertawa mendengar ungkapan Dinda yang tak henti-hentinya menyalahkan diri.
"Apanya yang lucu?" Rengek Dinda mendadak bersikap manja.
"Aku kecelakaan itu bukan salahmu."
"Tapi..."
"Mengapa kau berpikir begitu?" Tanya Aldi selanjutnya dengan mendekatkan wajahnya pada Dinda. Seketika Dinda mematung, perlahan wajahnya memerah karena wajah keduanya terlalu dekat.
"Ugh...." kembali Aldi meringis kesakitan saat denyutan di perutnya mulai terasa.
"Hati-hati." Ucap Dinda ikut meraih tangan Aldi yang sedang menekap perutnya pelan. Lembut dan hangat, mungkin kedua kata itu yang mewakilkan sentuhan Dinda untuk Aldi sekarang.
"Maaf Din... kau terlalu dekat" tegur Aldi memalingkan wajahnya ke arah lain. Aldi tersipu saat menatap sudut mata Dinda yang sangat meneduhkan.
"Maaf aku lancang." Dinda dengan cepat menarik tangannya dan ia kembali gugup dibuatnya. Keduanya terdiam dan menjadikan situasi semakin canggung.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu?" Tanya Aldi setelah hening beberapa saat.
"Mengapa kau selalu menemuiku dan menemaniku disini?"
"Aku...."
"Apa kau merasa bersalah karena hari itu kau menolakku?" Dinda terdiam dan ia menunduk tak berani menatap mata Aldi lebih lama.
"Saat itu mungkin aku terlalu terburu-buru, dan wajar saja jika kau menolakku." Lanjut Aldi kini dengan diiringi tawa kecil untuk sekedar menghibur dirinya sendiri. Dinda kembali menatap Aldi, namun kini tatapannya menjadi datar, semakin lekat Dinda menatap Aldi, semakin bersalah pula dirinya atas penolakan yang ia katakan meskipun Aldi menerimanya dengan lapang dada dan tanpa dendam, namun ia masih tak bisa menjamin bagaimana perasaan Aldi sekarang.
"Syifa.... teruslah penuhi pikiran dan hatiku. Agar aku tidak lagi mudah membuka hati untuk orang lain dan menggantikan posisimu di tempat yang sudah aku siapkan dan aku jaga untukmu. Jangan karena Rei menyukai wanita lain dan menganggapnya sebagai sosok ibu selain Avil, aku dengan mudah menaruh hati dan berharap lebih padanya." Batin Aldi perlahan menarik senyum tipisnya.
"Apa kau benar-benar mencintaiku?" Tanya Dinda dengan suara lirih dan terdengar tiba-tiba. Aldi menyernyit, ia tak mengira Dinda akan bertanya demikian padahal permintaannya untuk menjadi kekasihnya saat itu hanyalah ungkapan omong kosong belaka. Aldi saja belum siap karena ia masih belum bisa melupakan Syifa sepenuhnya.
__ADS_1
"Tentang itu...." Aldi terhenti, ia tak tahu harus bicara apa dan bagaimana menghadapi Dinda sekarang.
"Jika iya, aku akan menerimanya." Ucap Dinda selanjutnya.
"Eh?" Aldi semakin heran sekaligus terkejut. Ia berpikir ulang apakah Dinda menerimanya karena memang tertarik padanya, atau hanya untuk menyembuhkan lukanya karena putus cinta saja?
"Mungkin hanya ini caranya agar aku tidak di jodohkan dan tidak lagi mengingat Lio. Maaf Lio. Bukannya aku mengkhianatimu, tapi bagaimana pun kita berjuang, ayah tak akan merestui kita. Mungkin jika aku dengan Aldi, ayah bisa menerimanya meskipun Aldi sudah pernah menikah. Dan bukankah ayah akan menjodohkan ku dengan duda playboy yang suka bermain wanita, tapi Aldi pria yang baik. Jangankan bergonta-ganti pasangan, berinteraksi dengan lawan jenis saja ia batasi. Dan lagi pula Aldi masih dalam bayangan mendiang istrinya. Sangat tidak mungkin untuknya menjadi duda playboy." Batin Dinda perlahan menarik senyumnya tipis.
"Apa dia serius? Apa yang membuatnya tertarik padaku? Apa dia tidak sadar dnegan pelariannya karena tidak mau dijodohkan denganku? Tapi sekarang, dia yang meminta sendiri." Batin Aldi pun ikut tersenyum. Keduanya saling tatap dan seakan saling melempar pertanyaan 'kenapa tersenyum?' Bukannya bicara, namun keduanya malah tertawa.
"Lelucon." Batin keduanya perlahan menghentikan tawanya secara persamaan.
. Semakin hari, terlihat jelas Aldi dan Dinda semakin dekat dan seakan benar-benar menunjukkan ada sebuah hubungan lain selain teman. Bahkan tak jarang Dewi memergoki Dinda yang sedang bercanda sambil menyuapi Aldi ketika ia baru datang menemui Aldi. Setiap harinya, Dinda selalu datang sebelum Dewi. Dan hari ini pun sama. Dewi menatap nanar wajah Aldi yang terlihat berseri menatap hangat pada Dinda yang tengah berbicara. Dewi merasa ragu apakah Aldi benar-benar sudah melupakan Syifa atau hanya menjadikan Dinda sebagai pelarian saja.
"Nak... kau kesini lagi?" Tanya Dewi menghampiri lalu meraih pundak Dinda. Dinda menoleh dan langsung meraih tangan Dewi dan menciumnya sopan.
"Yaa... kebetulan, sebelum ke toko." Jawabnya kembali fokus menyuapi Aldi.
"Ternyata bayi besar ini sudah punya ibu baru?" Sindir Dewi membuat kedua anak muda di depannya menjadi salah tingkah.
"Oh iya ma... aku dengar dari Bagas, anaknya Famela dirawat ya?" Tanya Aldi mengalihkan pembicaraan.
"Iya." Jawab Dewi singkat.
"Mama kenapa?" Tanya Dinda menyadari sikap Dewi yang mendadak murung.
"Tidak..." jawab Dewi melempar senyum dan meyakinkan Dinda bahwa dirinya baik-baik saja.
"Entah kenapa aku memikirkan Avil." Batin Dewi mendadak gelisah.
. Diwaktu yang sama, Alvi meremas keras sebuah obat yang hampir habis.
__ADS_1
"Apa maumu?" Geramnya menahan amarah di hadapan Avril yang menangis sesenggukan.
-bersambung.