RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
113


__ADS_3

Ketika Aldi mempersiapkan kebutuhannya untuk membawa Dinda ke rumah sakit, terdengar Dinda meringis pelan lalu Aldi menoleh dan memastikan bahwa Dinda memang terbangun. Aldi menghampiri dan meraih Dinda yang kini terduduk bersandar dengan menatap heran pada Aldi.


"Kenapa pulang?"


"Ada yang tertinggal."


"Kau bisa memintaku mengantarkannya Al. Tak perlu harus pulang."


"Kalau aku tidak pulang, aku tak akan tahu kau sedang sakit."


"Aku tidak sakit."


"Tapi kata Dokter kau harus ke rumah sakit."


"Aku baik-baik saja Al. Tadi hanya...."


"Jangan membantah. Kalau Dokter bilang ke rumah sakit, ya kau harus menurut."


"Kapan kau memanggil Dokter?"


"Saat kau pingsan."


"Terus kenapa aku harus ke rumah sakit? Aku tak punya penyakit serius. Aku hanya pusing saja sedikit. Mungkin karena kelelahan."


"Sebaiknya kau menurut saja. Nanti kau akan tahu jawabannya."


"Tapi Al..."


"Apa dalam aturan rumah tangga, seorang istri selalu membantah perintah suaminya?" Mendengar pertanyaan tersebut, akhirnya Dinda diam dan mengangguk mengiyakan permintaan suaminya. Saat Dinda tengah mengganti pakaian, Aldi tiba-tiba memeluknya dari belakang dan tangannya meraih perut Dinda dengan hangat.

__ADS_1


"Dokter tanya, kapan kau terakhir haid?"


'Deg!' Dinda menghentikan aktivitasnya, dan ia baru tersadar dengan alasan mengapa Aldi memintanya untuk memeriksakan diri ke rumah sakit. Namun, ia sendiri terlupa kapan terakhir ia datang bulan. Seingatnya, ia haid tepat satu minggu setelah mereka menikah, dan usia pernikahan mereka sekarang sudah hampir 2 bulan.


"Aku.... aku boleh coba tes dulu? Sebelum ke rumah sakit." Lirih Dinda mencoba meminta izin pada Aldi yang masih memeluknya.


"Tapi, apapun hasilnya nanti, kau harus ke rumah sakit ya! Aku khawatir terjadi apa-apa padamu." Dinda mengangguk menanggapi permintaan Aldi kepadanya, dan ia segera mengeluarkan sebuah alat tes kehamilan yang ia beli beberapa hari yang lalu atas anjuran dari Avril. Dengan hati yang gelisah, Dinda mencoba memberanikan diri hari ini dan siap-siap untuk menerima apapun hasilnya nanti. Beberapa hari ini, ia masih ragu untuk mencoba memastikan bahwa ia mengandung atau tidak. Ia terlalu takut jika nantinya hasil dari tes tersebut akan membuatnya kecewa, sedangkan ia sendiri begitu mengharapkan kehadiran buah hati dari rahimnya.


Setelah menunggu sedikit lama, Aldi menghampiri Dinda yang keluar dengan menatap dalam pada alat tes kehamilan di tangannya. Matanya berkaca-kaca lalu tangisnya kian menjadi. Dinda memeluk suaminya dengan erat dan Aldi pun meraih istrinya seraya menenangkan berharap Dinda akan tenang.


"Tak apa... mungkin bukan waktunya. Kita usaha lagi." Ucap Aldi membuat Dinda semakin erat memeluknya. Aldi langsung menyimpulkan bahwa hasil test nya negatif, ia melihat reaksi Dinda demikian, maka apa lagi yang terjadi jika bukan kekecewaan.


"Positif. Aku hamil Al...." lirih Dinda masih terisak dalam tangisnya. Aldi mendadak lesu, ia ikut menangis haru lalu mencium kepala Dinda dengan dalam, kemudian beralih mencium kening dan pipi Dinda.


"Syukurlah... terima kasih sayang." Ucap Aldi yang tak bisa menyembunyikan air matanya dari Dinda. Ia begitu bahagia karena apa yang di nantikan istrinya kini terjadi, meski usia pernikahan mereka baru terhitung masih seumur jagung. Namun Dinda benar-benar menginginkan malaikat hadir dalam hidupnya dari rahimnya sendiri. Melihat senyum yang mengembang dari bibir suaminya, Dinda tertawa kecil lalu kembali memeluk Aldi dengan perasaan haru.


"Kita periksa ya! Kita lihat perkembangannya." Kembali Aldi meminta istrinya untuk ke rumah sakit, dan kali ini Dinda menuruti dengan antusias. Ia juga ingin tahu sekarang usia kandungannya sudah berapa minggu. Sebab jika menghitung dari terakhir haid, pasti sudah ada 4 minggu atau lebih.


Singkatnya, sampai di rumah sakit, Dinda dan Aldi segera mendaftar di poli kandungan untuk mengantri, karena hari ini banyak sekali pasien yang memeriksakan kandungan. Dinda melihat seorang ibu yang tengah mengelus lembut perut besarnya dengan senyum yang begitu bahagia. Seketika itu, Dinda melirik pada Aldi dengan mengulum senyum.


"Kenapa?" Tanya Aldi tanpa suara yang terheran dengan sikap istrinya tersebut. Dinda hanya menggeleng dengan senyum yang kian mengembang lalu ia menyandarkan kepalanya ke bahu Aldi. Tangannya saling berpegangan dengan rasa gugup yang mulai membuat mereka gelisah.


Setelah lama menunggu, akhirnya nama Dinda di panggil dan ia mendadak gemetar karena baru pertama kali memeriksa kandungan. Tentu saja, ia sebelumnya adalah seorang gadis yang masih perawan mana tahu rasanya memeriksakan kandungan.


"Ada keluhan?" Tanya seorang Dokter yang kebetulan adalah perempuan. Kemudian Dinda mengatakan apa yang ia keluhkan dalam hatinya, dan ia pun ingin tahu berapa usia kandungannya saat ini. Dokter menyarankan Dinda untuk melakukan USG dan Aldi senantiasa menunggu Dinda di sampingnya. Air mata Dinda kembali berderai saat ia melihat ada sebuah kantong kecil yang disebutkan Dokter itu adalah janinnya. Aldi merasa dejavu dengan hal ini, pasalnya ia sudah melihat perkembangan janin lewat USG saat Reifan masih dalam kandungan.


Setelahnya, Dokter memberikan hasil USG lalu memberikan nasehat pada Dinda tentang larangan makanan ataupun kebiasaan. Dengan begitu, Dinda mengangguk mengerti akan nasehat Dokter agar dirinya tidak ceroboh. Saat Dinda pikir pembahasannya sudah selesai, ternyata Dokter masih melanjutkan hal yang lebih penting dari pembahasan mereka sebelumnya.


"Saat saya memperhatikan lebih cermat, kandungan Bunda sepertinya sangat lemah. Untuk berhubungan, saya sarankan jangan terlalu sering, sebab usia janin yang baru 3 minggu ini sangat rentan keguguran. Dan juga, Bunda jangan kelelahan agar tidak terjadi hal yang diinginkan." Kembali Dokter memberi nasehat dan Dinda menuruti apa yang dikatakan oleh Dokter tersebut.

__ADS_1


Setelah dirasa selesai, Dinda dan Aldi bergegas pulang dan berniat untuk memberi Reifan kejutan. Sampai di rumah, Dinda yang hendak menghampiri Reifan pun mengurungkan niatnya saat hari ini ada Avril dan keponakannya di rumah Aldi.


"Hai... maaf ya.. aku ke sini tanpa memberitahu kalian. Soalnya Raven merengek ingin bermain dengan Rei." Ucap Avril saat ia mendapati Aldi dan Dinda baru datang.


"Mama mana?" Tanya Aldi mencari keberadaan Dewi di rumahnya.


"Mama di kamarnya Al. Tadi katanya mau tidur siang." Jawab Avril melanjutkan aktivitas membaca majalahnya.


"Dengan Alvi?" Kini Dinda yang bertanya dengan menghampiri Avril di sofa.


"Tidak. Hanya dengan Raven saja." Jawab Avril menutup majalah lalu menatap Dinda dengan tersenyum.


"Mommy... mau adik bayi..." teriak Reifan yang berlari menghampiri Avril lalu memeluk perutnya dengan hati-hati.


"Kau sudah tak sabar ya Rei? Jangan khawatir, bulan depan kita akan segera bertemu dengannya." Avril tertawa kecil seraya mengelus kepala Reifan yang seperti tengah mendengarkan bayi di dalam kandungannya.


"Mommy... gerak... hihi... adik bayi.... kau sedang apa?" Mendengar candaan Reifan pada anak Avril yang belum lahir itu, Dinda merasakan hatinya perih, ia merasa bahwa Reifan begitu bahagia dengan kehamilan Avril.


Dan, melihat kegelisahan istrinya, Aldi menghampiri lalu duduk di samping Dinda.


"Oh iya! Jadi kapan kau melahirkan?" Tanya Aldi masuk ke dalam obrolan mantan pacar dan istrinya tersebut.


"Menurut HPL, kemungkinan tanggal 15 bulan depan." Jawab Avril kemudian mengusap pelan perut besarnya.


"Wah.... sudah mau bertemu kak Rei ya! Jadi, laki-laki atau perempuan?" Tanya Aldi lagi, dan Avril mengulum senyum sebelum ia menjawab pertanyaan dari Aldi.


"Perempuan." Jawabnya antusias. Terlihat Avril begitu bahagia mengungkapkan jenis kelamin bayinya yang belum lahir itu, pasalnya Avril begitu menantikan anak perempuan sebagai anak pertamanya dengan Alvi.


"Baguslah. Berarti dia akan cantik sepertimu. Kalau laki-laki, aku khawatir nanti akan seperti ayahnya. Garang!" Canda Aldi sehingga Avril tertawa menanggapinya. Namun, Dinda hanya tersenyum tipis, ia sudah merasa tak nyaman berada di sana. Dan Aldi pun menyadari akan hal itu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2