RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
83


__ADS_3

. Aldi terdiam menerima cincin yang di berikan Dinda kepadanya, ia merasa begitu enggan untuk beranjak dari posisinya. Rasanya kenyataan yang ia dapatkan ini membuatnya tak ingin menggerakkan tubuh sedikitpun.


"Al... sekali lagi--"


"Jangan minta maaf. Itu terkesan kau yang bersalah. Tak apa Dinda, itu keputusanmu. Aku hargai, dan aku pamit. Terima kasih sudah menemaniku selama ini. Dan terima kasih sudah bersedia menjadi bunda Rei untuk hari kemarin." Tutur Aldi menyela cepat sehingga Dinda terdiam dengan rasa bersalah. Sejujurnya ia tak ingin mengakhiri hubungannya dengan Aldi, namun ia juga tak bisa jika terus bertahan di dalam hubungan yang ia sendiri telah lupa bagaimana memulainya.


"Kalau begitu, aku pergi sekarang. Maaf sudah mengganggu waktumu." Aldi segera berlalu tanpa ingin mendengar hal lain yang mungkin Dinda ungkapkan sebagai salam perpisahan mereka. Setelah pintu tertutup rapat, Dinda yang membiarkan Aldi berlalu tanpa ingin ia hantar kepergiannya, kini ambruk dan terduduk di lantai. Dinda menangis dengan terisak keras sembari menutupi seluruh wajahnya. Entah apa yang membuatnya begitu menyesal, namun saat ini ia tak bisa menghentikan tangisnya meski hatinya sudah terasa hambar jika mengingat atau bersama dengan Aldi.


. Malamnya, setelah Aldi check out dari hotel, ia menatap nanar pada cincin yang kini sudah ia masukkan ke dalam kotak perhiasan. Rasanya masih belum percaya jika Dinda sudah memutuskan hubungan mereka. Teringat kembali kenangan-kenangannya semasa masih bersama, Aldi menahan embun yang hampir berderai dari pelupuk matanya. Perlahan langkahnya semakin lesu ketika sudah berada di samping taksi yang ia pesan untuk mengantarkannya menuju bandara. Dari jauh, Ken memberi sebuah kode pada seseorang di dalam mobil, kemudian mobil tersebut melaju cepat dan menyenggol sebuah taksi sehingga terjadi kecelakaan beruntun disana. Bertepatan dengan kejadian itu, Dinda yang tengah meminum teh yang baru di sajikan oleh sekertaris nya, mendadak teh di tangannya jatuh hingga pecahan gelas berserakan di lantai.


Dan bersamaan dengan itu pula, sebuah kotak perhiasan tergeletak tak jauh dari lokasi mobil yang terbakar karena meledak. Aulian tersenyum puas dari jendela tertinggi hotel yang baru di tinggalkan oleh Aldi. Ia memutar gelas berisi anggur dengan senyum penuh kemenangan, kemudian ia tertawa seolah melepaskan belenggu di hatinya.


"Akhirnya. Sesuai rencanaku. Hadi! Sekarang tinggal mencari cara bagaimana menyingkirkan mu. Kalau Dinda, di sentuh sedikit saja dia pasti sudah menyerah." Kembali Aulian tertawa lepas membayangkan kehancuran bisnis keluarga Hadi.


. Kecelakaan beruntun yang terjadi di tengah kota berdampak fatal, pasalnya listrik di seluruh kota padam secara menyeluruh. Bahkan jaringan ponsel pun bermasalah. Melihat berita yang di siarkan di televisi, Avril mendadak khawatir pada Aldi yang tengah berada di kota tersebut. Beberapa kali Avril mencoba menghubungi Aldi namun tidak tersambung juga. Sampai Alvi yang menyadari kekhawatiran istrinya pun mencoba menghubungi rekan kerjanya yang kebetulan berada di kota S. Alvi sendiri tak bisa menghubungi siapapun yang ada di kota S, ada beberapa pun tidak berlangsung lama.


"Aku akan cek ke hotel untuk memastikan keberadaan kenalan mu ada di sana."

__ADS_1


"Baiklah. Aku mengandalkan mu. Terima kasih." Meski masih khawatir, namun sedikitnya Alvi bisa bernafas lega mendengar penuturan temannya dari seberang. Alvi merangkul Avril yang tengah menenangkan Reifan yang tidur di pangkuannya.


"Kita akan tunggu kabar dari temanku. Semoga Aldi baik-baik saja." Meski demikian, Avril tak bisa menenangkan pikirannya yang terus merasa cemas akan keselamatan Aldi.


"Benar! Harusnya aku tidak khawatir. Di sana kan ada Dinda." Batin Avril mencoba untuk menenangkan pikirannya sendiri dan berbaik sangka pada apapun yang mungkin terjadi pada Aldi.


"Daddy...." lirih Reifan dalam tidurnya.


"Jangan memasang wajah begitu. Nanti Rei akan ikut khawatir." Alvi mencoba kembali meyakinkan istrinya bahwa Aldi akan baik-baik saja.


"Perasaanku tidak karuan Al."


. Dinda yang mendengar kabar tentang kecelakaan beruntun itu pun bergegas ke lokasi kejadian. Ia menyelinap ke dalam kumpulan orang-orang yang berkerumun menyaksikan evakuasi yang di lakukan petugas pemadam kebakaran. Pandangannya tertuju pada sebuah kotak perhiasan yang di bawa oleh salah satu petugas yang kebetulan melewati dirinya.


"Maaf. Boleh saya lihat barang yang anda bawa?" Dengan sopan Dinda meminta izin.


"Oh... silahkan nona. Barangkali anda tahu siapa pemilik barang ini." Petugas tersebut tak kalah ramah memberikan apa yang di minta Dinda. Perlahan Dinda membuka kotak tersebut dan melihat namanya terukir rapi di bagian dalam cincin. Meski tak ingin percaya, namun ia yakin bahwa cincin di tangannya ini adalah miliknya. Dan dengan kata lain Aldi ada di antara semua korban kecelakaan di tempat ini. Dengan gemetar, Dinda mencoba untuk menahan tangisnya yang sudah menyesakkan dada dan pernafasannya.

__ADS_1


"Boleh saya tahu dimana anda menemukan cincin ini?"


"Di dekat mobil itu nona. Maaf, apa anda tahu siapa pemilik cincin ini?" Dinda mengangguk pelan mengiyakan pertanyaan petugas dengan air mata berjatuhan seperti hujan yang sangat deras.


"Ini cincin saya. Dan yang membawanya adalah tunangan saya." Dengan gemetar Dinda mencoba menjawab agar lebih jelas memberitahu petugas damkar.


"Dan sebelumnya saya minta maaf nona. Meski nona ingin memastikan jenazah mana yang merupakan tunangan anda, tapi disini semua korban sudah tidak bisa di kenali." Mendengar ungkapan petugas, Dinda semakin lemas, ia tak bisa lagi berdiri tegak sehingga tubuhnya terjatuh dan terduduk di atas aspal. Dinda kembali menangis menyesali apa yang sudah ia perbuat pada Aldi.


"Lagi-lagi aku membuatmu celaka Al." Ucapnya begitu saja. Tanpa ia sadari, ia sudah mengingat insiden kecelakaan Aldi yang sebelumnya.


"Al.... maafkan aku. Kembali Al. Tolong kembali. Tuhan.... aku mohon kembalikan Aldi ku. Aku yang bersalah di sini. Aldiii......." teriak Dinda yang sudah tak bisa menahan dirinya lagi. Ia ingin berteriak lebih keras dari ini. Dari belakang, sebuah tangan meraih bahunya sehingga Dinda menoleh dan menatap sayu pada lelaki tersebut.


"Kak Lian. Aldi.... Aldi...". Aulian hanya mengangguk menanggapi tangisan Dinda yang sudah terdengar putus asa. Dalam hatinya, Aulian tersenyum puas mendengar bahwa Aldi termasuk salah satu korban kecelakaan di sini.


. Di bandara, Aldi sibuk mencari barangnya yang hilang tanpa ia sadari. Beberapa kali ia menggeledah pakaiannya, namun ia tak menemukan dimana cincin Dinda berada. Ketika ingin kembali ke hotel, sayangnya, waktu keberangkatan sudah di depan mata.


"Nanti saja aku tanyakan pada pihak hotel. Siapa tahu masih ada di sana." Ucap Aldi menenangkan diri sendiri seraya terus berjalan ke arah landasan dima pesawatnya akan terbang.

__ADS_1


-bersambung


__ADS_2