RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
138


__ADS_3

Hari berganti, Sean yang sudah kembali ke kotanya kini menyisakan sebuah pertanyaan tentang Emira di benaknya. Namun, hal itu tidak terlalu ia pikirkan saat ia tahu jika Emira bercerai dengan Aulian bukan karena masalah yang menimpa Aulian. Dengan kata lain, Emira mungkin bersedia saja menemani Aulian dalam keadaan apapun jika Aulian sendiri menghargai keadaan dan keberadaan Emira.


Siang ini, Aldi secara pribadi menemui Avril dan suaminya. Ia berniat untuk membicarakan masalah yang sempat membuat mereka menjadi renggang. Dengan ramah, Alvi menyambut kedatangan Aldi dan Dinda yang datang tanpa pemberitahuan itu.


"Untung saja aku libur hari ini." Ucap Alvi menghela nafas lega seraya mempersilahkan Aldi untuk masuk ke ruang keluarga.


"Disini saja Al. Tak sopan jika harus di ruang keluarga."


"Loh... bukannya kau memang keluargaku? Sejak kapan kau merasa canggung begini? Ayo! Rei ada di dalam. Dia sedang bermain dengan Ravendra." Alvi terus mengajak Aldi untuk berkumpul dengan keluarganya di dalam. Aldi melangkah ragu mengikuti Alvi yang terlihat sangat jauh berbeda dengan biasanya. Aldi terdiam ketika ia mendapati seluruh keluarga Avril ada di sana. Termasuk Andre yang tengah menggendong Zeeya dan Galih yang tengah memainkan ponselnya.


"Kenapa diam di sana?" Tanya Andre membuyarkan lamunan Aldi.


"A-anu Om. Aldi...."


"Kemarilah. Ayah ingin bicara." Sontak Aldi membisu seketika. Ia menduga bahwa Andre akan memarahinya karena beberapa alasan. Apalagi masalah pekerjaan beberapa waktu yang lalu, ia sempat membuat Andre kesal.


"Om... Aldi...." belum sempat Aldi melanjutkan kalimatnya, Andre beranjak dan memberikan cucunya pada Alvi. Andre menghampiri Aldi dengan wajah yang datar, ekspresi biasa saja yang jelas sangat sulit ditebak oleh Aldi sendiri.

__ADS_1


"Kalau lelah karena bekerja, istirahat! Jangan melampiaskan pada orang lain. Apalagi pada anakmu sendiri. Rei belum mengerti apa-apa, tapi tidak seharusnya kau mempengaruhi pikirannya untuk menjauh dari Avril. Aishhh Ayah sudah bilang, kalau kau lelah, tidur saja di rumah. Jangan membawa orang lain." Mendengar teguran keras Andre tersebut, Aldi seketika termangu sebab ia mendapati sebuah kata asing yang baru ia dengar dari Andre.


"A-Ayah?" Lirih Aldi dengan penuh tanya. Sontak Alvi dan Galih menoleh bersamaan ke arah Aldi berada. Mereka pun baru menyadari bahwa Andre memang menyebut dirinya Ayah pada Aldi.


"Apa? Kau merindukan Ayah? Makanya jangan pergi jauh dan terlalu lama. Kalau di rumah pun kau tak pernah menemui Ayah." Kembali Andre bicara seolah ia begitu kesal pada Aldi.


"Ayah ya?" Lirihnya lagi dengan tersenyum tipis seraya membayangkan wajah mendiang ayahnya.


"Ayah tahu, akhir-akhir ini kau butuh tempat untuk berbagi beban pekerjaanmu kan? Ayah tunggu setiap hari di rumah, tapi kau tak ada datang. Kalau tidak Bagas, ya Reno saja. Padahal, ayah ingin memberi tahumu tentang apapun itu yang kau butuhkan. Mungkin Ayah terlalu mengharapkan pengakuanmu untuk menganggapku sebagai Ayahmu. Ayah hanya ingin memberikan peran Ayah padamu yang mungkin membutuhkannya." Lagi, Andre bicara panjang lebar mengekspresikan kekesalannya pada Aldi yang hanya tersenyum mendengarkan celotehan Andre.


"Tuh... Galih dan Alvi pun selalu menyempatkan waktunya untuk mengobrol dengan Ayah. Kenapa kau tidak pernah datang?" Lanjut Andre ketika tak menanggapi tanggapan apapun dari Aldi.


"Apa aku tak pantas menjadi Ayahmu? Apa kau tak mau menjadi Putraku? Semenjak kalian menikah, Ayah merasa kesepian. Apa salahnya jika Ayah ingin menjadikanmu salah satu Anakku?"


"Tapi... Om--maksudku Ayah serius?"


"Memang wajah Ayah terlihat bercanda?"

__ADS_1


"Tidak... hanya saja... emmm apa ya?" Aldi mendadak gugup dan lidahnya menjadi kelu. Ia melirik pada Galih yang mungkin akan menentang keputusan Andre tentang hal ini.


"Kenapa Ayah tidak menikah saja dengan Mama Dewi? Dengan begitu, Ayah tak aka segan menganggap Aldi sebagai anak, kan?" Tiba-tiba Avril membuka suara sehingga seluruh mata yang ada di dalam ruangan menatap ke arahnya. Dari mana Avril bisa mendapat pikiran itu? Mungkin pertanyaan tersebut yang tengah di pikirkan oleh mereka semua.


"Ayah kan sudah lama sendiri sejak Ibu meninggal, dan Mama Dewi juga mengangg sangat menyayangi keluarga kita. Pada Alvi, kak Galih, padaku bahkan lebih dari sekedar seorang ibu pada teman anaknya. Aku tidak keberatan kalau Ayah menikah dengan Mama Dewi." Ucap Avril kemudian tanpa mengalihkan pandangannya dari lantai sejak tadi. Ia terus menunduk meski sebenarnya Ia tahu jika semua orang tengah menatap ke arahnya.


"Avril.. apa yang--"


"Aku setuju, Ayah" timpal Galih menyela kalimat yang belum Andre selesaikan itu. Sontak Andre tertawa kaku dan Ia terlihat kebingungan saat menoleh pada Aldi yang menatapnya dengan begitu datar. Andre merasa bahwa Aldi tak akan setuju jika pun Ia yang bersedia.


"Aldi terserah Mama saja. Lagi pula, Mama juga mungkin butuh teman di hari tuanya. Aldi selalu sibuk bekerja, dan Dinda pun sibuk mengurus toko. Jadi, tidak ada salahnya untuk dibicarakan secara resmi." Ujar Aldi membuat Andre semakin kalap dan kebingungan. Ia tak sedikitpun berpikir akan menikah lagi selama ini, sebab rasa cintanya terus ia simpan untuk mendiang istrinya saja.


"Ya sudah. Bagaimana kalau besok kita adakan acara makan malam di restoran hotel P." Ucap Alvi memberi usul.


"Aku setuju." Galih menyetujui kemudian melirik dan tersenyum pada Avril. Avril sendiri terlihat sendu saat mendapati Andre yang seperti bimbang akan hal ini.


"Tapi... kalau Ayah tidak setuju, kita tak akan memaksa. Aku tahu Ayah pasti menolak karena beralasan cinta Ayah hanya untuk Ibu. Tapi, Aku hanya ingin sisa hidup Ayah lebih berwarna saja. Aku dan kak Galih tak akan selalu menemani Ayah." Tutur Avril kembali menunduk sendu.

__ADS_1


"Ayah hanya tidak tahu harus apa. Sebab, menikah itu bukan hal sepele. Tapi, demi kalian, Ayah akan coba bicarakan dengan Dewi." Dan sontak penuturan Andre kali ini berhasil membuat Avril mendongak dan tersenyum lega. Begitupun Aldi yang langsung memeluk Andre tanda ia menerima Andre sebagai Ayahnya. Dan secara tak langsung, urusan dan masalah Aldi dengan Avril pun akhirnya terselesaikan secara damai. Selama di rumah Avril, Dinda terus menimang Zeeya sampai tertidur. Ia begitu menyayangkan tragedi keguguran yang menimpanya. Namun, Ia sadar, semua sudah ditakdirkan dan Ia tak bisa mengelak dari apapun perihal kekuasaan Tuhan. Ia percaya, cepat atau lambat, Ia akan kembali dianugerahkan sesosok malaikat kecil di rahimnya.


Bersambung


__ADS_2