
. Setelah berdebat cukup panjang, Aldi yang merasa bahwa ia hanya cemburu pun menghentikan perdebatan mereka, dan ia memilih untuk mengajak istrinya untuk sarapan sebelum berangkat bekerja. Di meja makan, Aldi tak menemukan siapapun padahal hari masih pagi. Keduanya segera mencari Reifan di kamarnya dan ia tertegun melihat Reifan yang tengah bersama Dewi.
"Bunda.... selamat pagi!" Ucapnya seraya berlari lalu memeluk Dinda dan mencium pipinya. Dinda merasa bahwa Reifan ini memanglah Putranya. Ia baru menyadari bahwa cara bicara Reifan sudah mulai berkembang, dan tinggi badannya pun semakin bertambah.
"Rei nanti ulang tahunnya mau hadiah apa?" Tiba-tiba terbersit di pikiran Dinda untuk bertanya tentang hal ini. Mendengar pertanyaan ibu tirinya, Reifan hanya tersenyum lalu menggeleng menanggapinya.
"Eifan tidak mau hadiah Bunda... Mommy sudah berikan pada Eifan." Seketika itu juga, bukan hanya Dinda yang penasaran, tapi Aldi dan Dewi pun merasa ingin tahu hadiah apa yang sudah di berikan pada Reifan sampai anak kecil ini tak mau hadiah lain.
"Memangnya Mommy beri apa pada Rei?" Tanya Dewi yang tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
"Adik bayi Oma. Mommy kan ada adik bayi." Jawabnya membuat ketiganya terhenyak dan terlihat termangu dalam waktu yang sama.
"Lohh itu kan tidak bisa di sebut hadiah nak." Ujar Aldi agar Reifan tidak menganggap anak Avril menjadi hadiah untuknya.
"Tapi Mommy dan Ayah bilang begitu. Adik bayi nya akan jadi hadiah untuk Eifan. Eifan senang Daddy. Eifan punya adik bayi." Mendengar ungkapan Reifan tersebut, Dinda menoleh pada Aldi dengan sendu sehingga Aldi cepat-cepat mengalihkan topik pembicaraan mereka. Aldi segera mengajak keluarganya untuk sarapan dan sesegera mungkin mereka berangkat untuk bekerja.
. Di waktu yang sama, Sean terlihat begitu bersemangat hari ini sehingga Shana tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya pada sikap sang kakak. Tak biasanya Sean memancarkan senyum di wajahnya seperti pagi ini. Setelah mereka menyantap sarapan, Sean mengajak Shana untuk berbincang sebelum Shana pergi.
__ADS_1
"Aku ingin membeli rumah di kota ini. Kau tak keberatan kan?" Shana terdiam membisu mendengar ungkapan Sean yang ternyata hal inilah penyebab kenapa Sean terus tersenyum. Namun ini juga belum sepenuhnya benar, ia tak yakin jika hanya membeli rumah, kakaknya bisa berubah menjadi sosok yang sebelumnya tak ada.
"Apa ada wanita yang kau incar?" Pertanyaan itu berhasil membuat Sean merasa gugup. "Melihat sikapmu, aku anggap kau memang tengah mengincar seseorang. Siapa dia? Apa dia lebih baik dari Ivana? Jika tidak, jangan harap kau mendapatkan restu dariku." Lanjutnya dengan menegaskan sehingga Sean hanya bisa terdiam.
"Aku rasa dia baik. Hanya saja yang jadi masalah, apa dia dan Aldi masih menjalin hubungan?" Shana menyernyit dengan gumaman Sean yang pelan namun masih jelas terdengar oleh Shana. Ia memutar otaknya mencoba mengingat siapa yang dekat dengan Aldi, bahkan menjalin hubungan dengannya baru-baru ini.
"Siapa yang kau maksud? Apa Dinda? Kau menyukai Dinda?" Pekik Shana tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"Iya. Dia punya sifat keibuan, jadi aku tak yakin kalau Aldi akan melepaskannya dengan mudah." Jawab Sean merubah ekspresinya menjadi sendu. Shana mengingat kembali pertemuannya dengan Dinda kemarin. Ia mulai tersadar bahwa Dinda bukanlah bertamu pada Aldi seperti dirinya. Melainkan untuk menemui sebagai pacar dari Aldi.
"Aku juga tak yakin. Tapi, rumor tentang batalnya pernikahan mereka memanglah benar kak. Aku tak tahu pasti alasannya, yang jelas belum ada berita apapun lagi mengenai hubungan mereka bagaimana sekarang." Tutur Shana ikut mengingat tentang hubungan antara Aldi dan Dinda. Ia melirik pada bunga yang di berikan Sean padanya kemarin. Pandangannya semakin lekat dan sedikit menyipit. rasanya saat ini informasi mengenai Aldi lebih menarik perhatiannya dari pada bisnis yang akan ia jalani dengan perusahaan Aldi.
. Dinda masih memikirkan Reifan yang ia larang untuk ikut dengannya hari ini. Ia yang akan sibuk, mungkin kurang memperhatikan Reifan nantinya. Namun, jam sekarang Maira belum juga sampai. Nomor teleponnya tak kunjung mendapat jawaban. Hingga sampai ia lelah menunggu, akhirnya ponselnya berdering dengan menampilkan nama Maira di layarnya.
"Hallo Maira! Kau dimana? Apa sudah sampai?" Segera Dinda bertanya tanpa menyapa terlebih dahulu karena ia sudah merasa khawatir pada teman karibnya ini.
"Dinda...." lirih Maira terdengar seperti seorang yang menangis.
__ADS_1
"Kau kenapa? Sekarang kau dimana? Kenapa belum ke toko ku?" Dinda semakin panik saat Maira tak menjawab pertanyaannya, dan hanya terus menangis tersedu-sedu.
"Di taman, dekat hotel P." Jawab Maira setelah ia mencoba menenangkan diri.
"Aku ke sana sekarang." Dan sesegera mungkin Dinda menyusul Maira ke tempat yang di ucapkan oleh Maira. Ia sedikit merasa tenang karena posisi Maira dekat dengan hotel milik Aldi.
. Sampai di taman, Dinda segera mencari keberadaan Maira. Ia kembali menghela nafas lega melihat Maira tengah duduk di sebuah kursi sendirian. Namun hatinya ikut pilu melihat Maira yang masih menangis meski ia sudah menemuinya ke sana.
"Dinda..." rengeknya kemudian memeluk Dinda dengan erat.
"Kenapa? Ada sesuatu yang terjadi?"
"Ervin selingkuh." Jawabnya kembali menangis keras. Dinda ternganga, ia tak percaya mengapa bisa Ervin menduakan sahabatnya, sedangkan seingatnya, Maira dan Ervin sudah putus sejak lama.
"Tunggu. Kau balikan dengan Ervin?" Maira hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Dinda yang mungkin akan membuat Dinda marah.
"Ishhh Maira. Kan sudah aku beritahu padamu. Ervin itu memang brengsek. Laki-laki seperti dia itu jangan kau pedulikan. Pantas saja Bagas menjadi acuh padamu, ternyata kau memberitahunya bahwa kau sudah punya pacar. Dan sekarang, apa yang pacarmu berikan? Luka hati kan?" Maira semakin pilu mendengar celotehan Dinda yang jelas menyalahkannya.
__ADS_1
-bersambung