
. Setelah hampir satu bulan menunggu panggilan pekerjaannya, hari ini Avril dipanggil untuk interview. Ketika di ruang HRD, Avril menutup sebagian wajahnya dengan map yang ia bawa ketika melihat Bagas memasuki ruangan. Melihat Bagas yang seperti sedang mencari seseorang, ia menutup seluruh wajahnya.
"Avil dimana? Dari daftarnya ada nama dia." Batin Bagas yang masih mencari keberadaan Avril. Tatapannya tertuju pada peserta yang tengah menutupi wajahnya. Setelah itu, Bagas berlalu meninggalkan ruangan.
Singkatnya, Avril yang sudah berpengalaman kerja di kantor Aldi, HRD tersebut menyuruh Avril untuk langsung menemui managernya. Ketika ia beralih memasuki ruangan lain, pintu di tahan oleh seseorang yang tiba-tiba berada di belakangnya. Sontak Avril langsung menghindar dan ia begitu terkejut karena Bagas adalah orang tersebut.
"Sedang apa kau? Apa Alvi menyuruhmu untuk menjadi mata-mata di kantor Aldi? Lalu nantinya kau melapor pada suamimu tentang rahasia perusahaan ini." Tuduh Bagas tanpa memberi kesempatan Avril untuk menjawab.
"Apa kau mau aku pukul?" Geram Avril sembari memasang tinju di samping tubuhnya.
"Hehe bercanda Vil. Jangan serius." Bagas terkekeh konyol lalu menepuk bahu Avril. Melihat Avril yang terasa berbeda, Bagas mengajaknya untuk berbincang sebentar sebelum Avril menemui manager HRD.
"Aku.... keguguran Gas." Tutur Avril menjawab pertanyaan Bagas sebelumnya.
"Sejak kapan?"
"Aku tak tahu Gas. Bulan kemarin saat aku USG ulang, janinku sudah tak ada." Keluh Avril menatap Bagas dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Lalu? Kenapa kau bekerja? Harusnya pulihkan dulu. Istirahat dulu!"
"Kalau aku terus di rumah, rasanya sulit untuk melupakannya Gas."
"Bukankah lebih mudah untuk mendapatkan penggantinya ya?" Avril yang semula tak menyadari candaan Bagas, tiba-tiba ia memukul lengan Bagas dengan keras.
"Kau pikir mudah membuat anak?"
"Bukankah sangat mudah?" Bagas masih memasang wajah polos membuat Avril semakin naik darah.
"Sejak kapan otakmu jadi mesum hah? Apa Aldi yang mengajarimu? Atau Reno?" Lagi-lagi, Avril sangat geram dengan candaan Bagas yang menurutnya sangat menyebalkan. Avril memilih untuk masuk ke ruangan dari pada meladeni Bagas yang mengoceh tak jelas. Tak di sangka, Bagas ikut masuk dan merekomendasikan Avril untuk menjadi sekertaris Aldi.
"Maaf pak... tapi jabatan itu tidak cocok untuk saya." Elak Avril sembari terus memberi kode pada Bagas agar tidak ikut campur.
"Kalau jadi sekertaris, aku tak akan jadi bekerja..." batin Avril melirik tajam pada Bagas yang terus menjahilinya.
"Di bagian pemasaran ada lowongan, apa kamu bisa?"
"Kebetulan saya lulusan Ekonomi pemasaran pak." Jawab Avril mendadak berbinar.
"Baiklah. Kamu bisa kembali. Sesuai aturan perusahaan, hari Senin kamu mulai bekerja." Senyum Avril semakin mengembang mendengar penuturan manager. Akhirnya, ia bisa mengisi waktunya yang luang dan setidaknya bisa sedikit menyibukkan diri sendiri. Setelah berpamitan dengan sopan, ia segera berlalu keluar ruangan dan tak lupa memberi pesan singkat pada Bagas.
"Aku ingin bicara. Kita bertemu di lobby." Begitu isi pesan yang Avril kirim.
Sementara di dalam ruangan, Bagas duduk di tempat Avril duduk. Ia menatap serius wajah manager sehingga membuatnya menjadi gugup.
__ADS_1
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" Tanyanya dengan menahan diri agar tidak begitu gugup.
"Tidak. Lanjutkan saja bekerja." Bagas kemudian beranjak dan menyusul Avril menuju lobby.
. "Bagas... rahasiakan dari Aldi ya. Aku tak ingin dia tahu. Kau tahu sendiri suamiku sangat posesif. Dan juga, sangat sulit membujuk Alvi." Ucap Avril ketika Bagas duduk di sampingnya.
"Baiklah. Tapi kalau ada apa-apa kau harus memberitahuku. Aku tak bisa mengawasimu terus menerus. Kau tahu sendiri bagaimana pekerjaanku kan?"
"Iya Bagas." Avril tersenyum simpul dengan menghela nafas dalam dan ia tertawa saat menoleh pada Bagas yang terheran karenanya.
"Kenapa?" Tanya Bagas dengan menyernyitkan alisnya.
"Tidak... kau banyak berubah. Apa karena pekerjaanmu yang banyak sampai sikapmu tak lagi konyol seperti dulu?"
"Ya begitulah." Bagas menggaruk kepala belakangnya dengan kikuk.
"Kalau begitu, aku pulang ya." Ucap Avril beranjak dari duduknya.
"Hati-hati. Maaf aku tak bisa mengantarmu pulang." Bagas pun ikut beranjak dan keduanya berjalan bersama keluar dari area kantor. Bagas memberhentikan taksi dan membiarkan Avril berlalu dari hadapannya. Ketika Bagas hendak kembali ke tempatnya, dering panggilan masuk berbunyi dan menampilkan nama Aldi di layar ponselnya.
"Iya Al." Ucapnya dengan santai.
"Kau kemana hah? Bukannya bekerja malah pacaran."
"Kau pikir aku tak melihatmu? Kau bersama anak baru kan? Dan juga di antarkan sampai tepi jalan."
"Kau melihatnya?" Kini suara Bagas meninggi dan terdengar begitu panik.
"Kau panik? Jadi benar dia itu pacarmu?" Sekali lagi Aldi bertanya berharap mendapat jawaban yang di inginkan.
"Sepertinya Aldi tidak tahu itu Avil." Batin Bagas tak kunjung menjawab pertanyaan Aldi.
"Hei Gas." panggil Aldi setengah berteriak membuat Bagas terkejut dan lamunannya memudar seketika.
"Bukan Al. Dia temanku." Jawab Bagas dengan meyakinkan.
"Ayolah Gas... jangan sungkan memberitahuku. Lagi pula, aku tak akan merebutnya."
"Bukan begitu Al. Tapi memang bukan. Dia temanku."
"Teman yang dimana?"
"Di sekolah, di kampus, dan...." Bagas tiba-tiba terhenti dan ia tak berniat melanjutkan ucapannya. Karena Aldi bisa curiga ia menyembunyikan sesuatu.
__ADS_1
"Dan apa?"
"Tidak Al. Aku lupa mau bilang apa. Haha" Bagas tertawa keras dengan menyimpan pertanyaan di benak Aldi.
"Kau menyembunyikan sesuatu?"
"Tidak tidak. Sudahlah lupakan tentangku. Apa kau sudah menandatangani berkas yang aku berikan?"
"Sudah semua."
"Semua? Aku hanya memberikan satu saja."
"Lalu? Ini yang satunya apa?"
"Siapa yang memberikannya?"
"Sekertaris Reno."
"Sebentar. Aku lihat sendiri." Bagas mempercepat langkahnya setelah ia keluar dari lift. Bagas segera memasuki ruangan Aldi dan ia memeriksa berkas apa saja yang Aldi tandatangan.
"Ini surat perjanjian pemindahan saham atas namamu dan...... Aulian? Sebesar 50%? Apa kau gila Al? Kau mau memberikan perusahaan ini pada Aulian?" Aldi tak kalah terkejut apa lagi ia sudah terlanjur menandatangani suratnya. Aldi ikut membaca setiap kata yang jelas menerangkan pemindahan saham.
"Aku tak ada perjanjian pemindahan saham dengan siapapun Gas. Bahkan dengan Alvi dan om Andre pun kita tak pernah membahas adanya pemindahan." Terang Aldi tak kalah panik.
"Lalu, sekarang bagaimana? Kau sudah menandatanganinya. 50% itu tidak sedikit Al. Apa lagi ini cuma-cuma kau memberikan pada orang lain."
"Panggil Reno!"
"Tapi Reno sedang meeting Al."
"Aku tak peduli. Cepat!" Aldi benar-benar dibuat terkejut, siapa yang membuat surat perjanjiannya sedangkan ia dan Aulian pun saat pertemuan tak membahas masalah saham.
"Ada apa Al? Aku sedang meeting." Kesal Reno yang terpaksa harus mengakhiri meetingnya karena panggilan Aldi.
"Apa ini? Maksudmu apa? Kau yang membuatnya kan?" Aldi melempar surat itu tepat ke wajah Reno.
"Surat apa Al?" Reno segera memeriksa dan membaca setiap kata dalam surat tersebut. Ia tak kalah terkejut dan langsung menatap Aldi dengan tajam.
"Kau gila Al? Kita sudah berjuang membangun kembali bisnis ini, dan sekarang kau dengan mudah memberikan saham pada orang lain?" Reno tak segan mencengkram kemeja Aldi dan matanya memerah karena kecewa.
"Jauhkan tanganmu dariku sialan." Aldi memaksa tangan Reno untuk terlepas darinya. Bagas yang melihat kemarahan keduanya merasa ada yang janggal.
-bersambung.
__ADS_1