
. Noah membawa Alvi masuk ke dalam ruang pasien dan mendapati Avril tengah duduk bersandar sembari meraih perutnya. Alvi meraih sang istri lalu membelainya dengan penuh kasih sayang. Avril beralih menatap Noah yang berdiri santai di dekat Alvi. Noah menghela nafas dalam lalu menghembuskannya sedikit malas.
"Menurut hasil pemeriksaanku kau dan janinmu baik-baik saja. Tapi sebaiknya kau menjalani USG agar tahu kondisi janinmu. Karena kau hanya keram dan aku juga sedikit khawatir, usia janinmu masih sangat muda dan sangat rentan. Bukankah sudah aku peringatkan jangan sampai kelelahan dan pikiranmu juga jangan stres." Avril menunduk mendengar celotehan Noah.
"Noah. Lakukan apapun untuk istriku." Kali ini, Noah yang mengangguk dan langsung bergegas meninggalkan Alvi dan istrinya. Dan kemungkinan mendaftarkan Avril ke ruang USG. Alvi menatap lekat wajah Avril yang sendu dan terus menunduk.
"Apa dia sangat marah padaku? Jika tahu dia akan menyusulku ke kantor dan bahkan sampai ke atap, aku tak mungkin akan meninggalkannya? Dan bodohnya, kenapa aku mengancam akan bunuh diri." Batin Alvi terus menatap lekat wajah Avril tanpa ingin memalingkan wajah dan pandangannya sedetikpun.
"Alvi pasti kecewa jika sampai ada apa-apa pada anak ini." Avril memalingkan wajahnya dari pandangan Alvi yang ia rasa sedang menatapnya, pikirannya menduga bahwa Alvi tengah mengintimidasinya karena tak bisa menjaga apa yang selama ini Alvi inginkan darinya. Alvi membalikkan wajah Avril sehingga menghadap ke arahnya. Ia begitu terkejut karena mata Avril sudah memerah. Segera ia memeluk sang istri untuk menenangkan dan ia semakin merasa bersalah.
"Sayang. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu panik. Aku yang bodoh mengancam begitu. Maaf." Ucap Alvi seraya mengelus lembut rambut Avril.
"Apa kau akan meninggalkanku jika terjadi sesuatu pada anak ini?" Lirih Avril mulai terdengar sesenggukan.
"Lupakan masalah itu. Aku tidak membebanimu masalah anak. Aku sudah bilang jika kau belum siap, aku tak akan mempermasahkan lagi. Bukankah kita sudah punya Rei? Meskipun dia bukan anak kandung kita, tapi aku sudah cukup dengan di panggil ayah olehnya."
"Maaf..." rengeknya membenamkan wajah pada dada Alvi.
. Selesai meeting, Aldi kembali ke ruangannya untuk mengajak Dinda pulang. Ia menghela nafas dalam sebelum membuka pintu. Ia mendadak gugup ketika kembali mengingat kejadian sebelum ia meeting. Perlahan Aldi membuka pintu dan ia mendapati Dinda tengah membaca sebuah majalah yang tersimpan di rak buku mini miliknya. Terlihat Dinda terkejut saat tahu Aldi sudah berada di dalam ruangan.
"Emm... A-Al... ma-maaf. A-aku mengambil ini. Ta-tadi aku bosan, jadi--" ucapannya mendadak terhenti saat melihat Aldi terkekeh dan semakin lepas tertawa membuat Dinda terheran sendiri.
"Apanya yang lucu?" Kesal Dinda memangku tangan dan memalingkan wajahnya.
"Wajahmu bun. Kenapa merah begitu? Ada nyamuk yang menciummu?" Mendengar ejekan Aldi, Dinda semakin bersemu merah. Rasanya wajahnya sangat panas, apalagi mengingat kejadian tadi. Seekor nyamuk tampan yang menciumnya.
"Aldi hentikan." Pekik Dinda semakin tak karuan.
"Kenapa? Mau lagi?"
"Berhenti bicara Al. Atau aku pukul wajahmu." Lagi, Aldi tertawa terbahak-bahak. Melihat Dinda yang salah tingkah, Aldi menghampirinya dan menepuk kepala Dinda dengan gemas.
"Ayo jalan-jalan." Ajak Aldi dengan tanpa pikir panjang menarik tangan Dinda bergegas pergi.
Bagas beranjak dari duduknya dan ia ternganga melihat Aldi yang bergandengan tangan dengan Dinda. Terkejut, namun bahagia melihat Aldi mulai menerima orang baru di hidupnya. Meskipun memang akhirnya Aldi jelas akan menikahi Dinda. Karena Hadi sudah sepakat untuk menjodohkan putri sulungnya dengan Aldi.
Bukan hanya Bagas, Reno pun yang berpapasan dengan Aldi di lift ikut terkejut dan ternganga melihat kedua tangan yang seakan enggan di lepaskan. Reno tak beranjak dari depan lift walaupun pintu sudah terbuka.
"Al... jangan begini. Nanti banyak orang yang--"
"Yang melihat? Hem? Atau yang menggosipkan? Kenapa? Memang benarkan kalau kita itu sangat dekat."
"Tapi...."
__ADS_1
"Sut.... biarkan mereka tahu siapa calon nyonya Mahendra." Mendengar hal itu, Dinda memilih untuk diam. Namun ia masih belum bisa percaya sepenuhnya pada Aldi.
. Hari terus berganti, Alvi dan Avril mulai harmonis kembali. Janinnya baik-baik saja dan kesalahfahaman diantara keduanya sudah bisa di luruskan.
"Al... apa hari ini kau sibuk?" Tanya Avril ketika ia tengah berias.
"Iya. Ada kunjungan lapangan. Kenapa memang?"
"Obatku ada yang habis. Tadinya aku mau kau mengantarku ke apotik rumah sakit."
"Besok saja. Kalau besok aku ada waktu luang."
"Tidak Al. Aku sudah tak percaya ucapanmu. Ray pasti memberi jadwal mendadak padamu. Jadi, aku sendiri saja."
"Tidak-tidak. Jangan. Ray antar saja."
"Tidak Al. Ray sama sibuknya."
"Bagaimana dengan Aldi? Bagas? Atau Reno?"
"Aku sudah sering merepotkan mereka. Lagi pula, mereka pasti sedang sibuk dengan pekerjaannya."
"Yasudah jangan pergi saja."
"Sayang. Aku khawatir padamu."
"Aku akan baik-baik saja Al."
"Tapi tetap saja aku takut."
"Begini saja. Aku ikut denganmu sekarang, nanti aku minta jemput kak Galih."
"Apa Galih tak sibuk?"
"Jika sibuk pun, dia akan menyempatkan waktunya menjemputku."
"Baiklah. Asal kau baik-baik saja ya."
"Iya." Avril tersenyum meyakinkan setelah Alvi mengecup keningnya. Keduanya bergegas menuju rumah sakit terlebih dahulu. Dan karena Alvi yang sibuk, jadi Alvi hanya mengantarnya sampai depan rumah sakit saja.
"Hati-hati ya." Ucap Alvi lagi memperingatkan.
"Iya." Mendengar jawaban singkat Avril, Alvi bergegas melajukan kembali mobilnya menuju kantor.
__ADS_1
Tak disangka, ternyata apotik hari ini sedang penuh. Meskipun malas, namun Avril terpaksa harus ikut dalam antrian.
Avril memainkan ponselnya menunggu panggilan nomor antriannya. Di sampingnya duduk seseorang yang terasa familiar meskipun Avril tak menoleh padanya.
"Avril? Apa itu kau?" Sontak Avril menoleh dan matanya berbinar menatap sosok di sampingnya.
"Dinda..."
"Kemana saja kau? Kenapa tak pernah lagi ke toko?"
"Ada masalah sedikit jadi aku pulang dulu ke rumah ayah."
"Hemmm begitu ya? Oh kapan-kapan jika senggang, aku ingin bertemu denganmu, ngobrol atau... yaa nongkrong.."
"Boleh... tapi aku tanya suamiku dulu."
"Katanya kau mau mengenalkan suamimu."
"Iya Din. Maaf belum sempat. Kemarin ada masalah antara aku dan dia. Aku tak tahu ini salah faham atau bukan."
"Maksudnya?"
"Suamiku selingkuh." Dinda terbelalak tak percaya meskipun Avril memasang wajah yang serius. Ketika Dinda hendak berucap, terdengar panggilan untuk Avril sehingga dengan terpaksa ia harus mengurungkan niatnya.
"Lain kali saja." Ucapnya bergumam pelan.
Ketika Avril tengah berada di loket, Aldi melewatinya tanpa menyadari keberadaan satu sama lain.
"Bagaimana?" Tanya Aldi langsung duduk di samping Dinda.
"Masih antri. Oh iya. Apa kau kenal wanita itu?" Dinda menunjuk loket setelah ia menoleh pada Aldi, namun kini tak ada Avril disana.
"Wanita mana? Itu bapak-bapak bun." Ucap Aldi sembari menoleh kesana kemari.
"Aneh. Tadi aku lihat Avril masih di loket. Kemana dia pergi?" Batin Dinda masih mencari keberadaan Avril. Tak disangka keduanya bersamaan menoleh ke arah dimana Avril berada dengan raut wajah yang berbeda.
"Al.. it--"
"Emm... aku ke toilet sebentar." Ucap Aldi menyela dengan terlihat sangat terburu-buru.
"Kenapa kebetulan? Aku belum siap Avil menanyakan tentang Dinda." Batin Aldi terus menjauh.
"Kenapa Aldi terlihat panik?"
__ADS_1
-bersambung