RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
116


__ADS_3

Kekhawatiran Alvian berlanjut meski Avril sudah dilarikan ke rumah sakit dan tengah ditangani oleh dokter. Karena anak usia dibawah 5 tahun tak boleh memasuki area rumah sakit, Alvi menunggu kedatangan Aldi yang ia hubungi saat di perjalanan. Beberapa saat kemudian, Aldi datang dengan Dinda menemui Alvi.


"Bagaimana? Apa Avril baik-baik saja?" Tanya Aldi ketika susah di depan Alvi.


"Masih dalam proses pemeriksaan." Jawab Alvi seraya memberikan Reifan pada Aldi. "Maaf. Aku ke dalam lagi." Ucap Alvi setelahnya kemudian bergegas tanpa tahu jawaban Aldi.


"Ma... bagaimana?" Tanya Alvi yang tak sabar mendengar kabar tentang istrinya.


"Kata dokter, Avril harus segera di operasi. Kalau tidak, kondisinya akan membahayakan nyawanya, dan bisa saja nyawa keduanya." Mendengar jawaban Dewi tersebut, Alvi mendadak lemas. Ia tak tahu harus berkata apa, sebab ia sangat menginginkan kehadiran anaknya, dan juga ia begitu mencintai istrinya.


"Selamatkan keduanya Tuhan. Jangan ada yang pergi lagi dari hidupku. Mereka segalanya untukku, dan merekalah sebenar-benarnya duniaku." Batin Alvi terduduk lesu bersandar di kursi tunggu. Terlihat seorang dokter berlari ke arahnya dan ikut duduk di sampingnya.


"Al... aku dengar Avril di bawa kemari." Ucap Noah langsung berucap membuat Alvi melirik sesaat kepadanya.


"Noah. Apa kau bisa membantu Avril? Aku akan berikan apapun padamu asalkan anak dan istriku selamat."


"Tenang dulu Al. Aku tak tahu kondisi istrimu bagaimana. Jangan dulu mengansumsikan sesuatu hal yang belum terjadi. Berdoa saja agar semuanya baik-baik saja."


"Tapi, apa yang akan terjadi pada mereka Noah? Istriku belum waktunya melahirkan. Prediksi lahirannya sekitar 2 minggu lagi. Mereka akan baik-baik saja kan?"


"Kubilang tenang Al. Mau kau memohon pun, aku tak bisa turun tangan. Aku bukan bagian dokter kandungan dan bidan. Dan juga, banyak kasus melahirkan sebelum waktu yang sudah di perkirakan oleh dokter kandungan yang melakukan USG." Meski Noah sudah menjelaskan apa yang ia tahu pada Alvi, namun ternyata hal itu tidak membuat Alvi tenang. Justru Alvi terlihat begitu tak berdaya, dengan wajah yang mulai memucat dan tubuhnya terlihat gemetaran. Ia sangat mengetahui kenapa Alvi sampai begini.


"Tenang saja. Ayah dan Ibumu tak akan menjemput mereka. Aku yakin itu. Anakmu pasti akan kuat, bagaimana pun ayahnya. Dan istrimu juga pasti akan bertahan. Dia sangat mencintaimu, dan dia tak akan semudah itu meninggalkanmu begitu saja."

__ADS_1


"Tetap saja aku takut Noah. Melahirkan itu taruhannya nyawa. Dan aku hanya punya mereka saja."


"Iya aku tahu. Kau harus yakin juga Al. Avril tak akan meninggalkanmu."


Ditengah perbincangan mereka, terlihat Galih dan Nadia berlari menghampiri lalu disusul oleh Andre dari belakang. Dan saat itu juga, kebetulan Dokter keluar dari ruangan dengan wajah yang sendu.


"Bayi harus segera dikeluarkan. Apa pihak keluarga setuju jika saya melakukan operasi caesar demi menyelamatkan bayi dan Ibunya? Karena pasien sudah tak merasakan kontraksi, sedangkan bayi harus segera dikeluarkan."


"Lakukan saja Dok. Jika operasi jalan satu-satunya, lakukan saja." Dengan cepat Nadia mendahului sebelum yang lain memberi jawaban.


"Saya akan membayar semua biaya adik saya sekarang, dan Dokter segera lakukan operasi! Selamatkan adik dan keponakan saya, kalau tidak, maka rumah sakit ini akan saya tutup!" Dengan tegas, Galih memberi ancaman setelah ia membalas saran dari Dokter tersebut. Ketika Galih hendak berlalu, Dokter lain segera menyusul keluar dan memberikan pernyataan yang membuat Galih terdiam.


"Dok. Pasien meminta untuk melakukan lahiran secara normal. Dan pasien kembali merasakan kontraksi, sekarang sudah pembukaan 8."


"Dok.. selamatkan istri dan anak saya" ucap Alvi lirih dan kini terdengar isak tangisnya semakin tersenggal.


"Saya akan berusaha semaksimal mungkin Tuan." Balas Dokter meyakinkan agar Alvi sedikit lebih tenang.


Ketika sudah berada di ruang persalinan, seorang Bidan mencoba memberi arahan agar Avril tidak sampai kehilangan kekuatan dan kehabisan tenaganya.


"Sekali lagi coba ya Bun! Kepalanya sudah terlihat. Dok maaf! Bisa panggilkan suaminya?" Ucap Bidan dan langsung di setujui oleh Dokter. Alvi memasuki ruangan lalu meraih Avril yang tengah berjuang melahirkan buah hati mereka. Melihat Avril yang begitu kesakitan, Alvi hanya bisa berdoa dan menggenggam tangan istrinya berharap ia memberi kekuatan pada Avril.


"Lagi Bunda... satu dorongan lagi!" Titah Bidan yang terlihat sudah tak sabar ketika kepala Zeeya sudah berada ditangannya. Dan.... akhirnya terdengar tangisan seorang bayi membuat Alvi tak henti-hentinya bersyukur atas apa yang sudah nanti-nanti, dan atas keselamatan anak istrinya.

__ADS_1


"Selamat Bunda... bayinya perempuan, dan sehat." Ucap Bidan segera membersihkan darah dari tubuh Zeeya.


"Terima kasih sayang." Ucapan itu terlontar dari Alvi disertai sebuah kecupan di kening Avril dengan begitu dalam. Avril tersenyum dengan air mata yang berderai ketika sang buah hati diletakkan diatasnya.


"Selamat datang Zeeya." Diwaktu yang sama, Avril menahan linu saat Bidan dan perawat tengah menjahit lukanya. Namun hal itu tidak sebanding dengan kebahagiaannya yang lebih besar akan kehadiran Zeeya yang lahir dengan selamat meski tubuhnya kian terasa lemas. Namun, tak lama dari itu, terlihat Avril terpejam dengan tangan yang melemah dan sudah dipastikan bahwa Avril tak sadarkan diri.


"Dok... istri saya..." hanya itu yang terucap sebab Alvi merasa terkejut sekaligus khawatir pada Avril yang tiba-tiba tak sadarkan diri. Segera Dokter menangani Avril dan memindahkan Zeeya menuju kamar khusus bayi.


"Maaf Tuan keluar dulu." Titah Dokter dengan sopan dan dituruti oleh Alvi sendiri.


Melihat Alvi yang keluar lalu menerawang dari sebuah kaca menatap sendu pada Avril yang tengah ditangani oleh dokter didalam, Andre dan Galih segera menghampiri Alvi.


"Bagaimana Al?" Tanya Galih yang tak sabar mendengar kabar tentang adiknya.


"Zeeya sudah lahir, selamat, dan juga cantik." Jawab Alvi dengan memuji putrinya tersebut. Namun ada kejanggalan dibalik raut wajah Alvi yang terlihat sendu, bahkan menitikkan air mata membuat Galih penasaran dengan kondisi adiknya.


"Tapi Avril... dia tiba-tiba pingsan, Ayah. Dokter sedang menanganinya sekarang." Lanjut Alvi menyadari maksud tatapan Galih.


Saat ketiganya tengah berbincang, saat itu juga Avril dibawa keluar dari ruang persalinan.


"Maaf Tuan. Kondisi pasien sangat kritis." Ucap Dokter ketika mendapati tatapan dari keluarga Avril. Andre menghadapi Dokter dan menyetujui semua arahan Dokter untuk menangani Avril lebih lanjut.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2