RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
28


__ADS_3

. Avril memalingkan pandangannya, ia tak menyangka Alvi akan kembali lagi setelah hampir 15 menit Alvi berangkat. Jelas Avril mendengar suara mobil yang menyala dan terdengar pula bahwa mobil itu sudah berangkat. Saat Avril hendak membuang sisa pil kontrasepsi yang sudah tak ia konsumsi lagi, Avril terkejut saat melihat Alvi yang hendak membuka pintu bersamaan dengannya. Meskipun Avril mencoba menyembunyikan pil itu di belakang tubuhnya, hal itu malah membuat Alvi semakin penasaran. Setelah Alvi merebut benda itu, sorot matanya menjadi tajam, terlihat raut kecewa yang ia tunjukkan setelah melihat benda yang tak pernah ia bayangkan akan berurusan dengan istrinya.


"Jika kau tak bisa menerimaku, tidak begini caranya." Ucap Alvi yang berbalik dengan suara datar dan sikap dingin. Rasanya Avril sedang bersama Alvi di masa lalu. Selama ini, Alvi sangat hangat dan tak pernah bersikap sedingin ini.


"Al... biar aku jelaskan dulu." Bujuk Avril beranjak dari duduknya dan mencoba menghampiri Alvi.


"Lantas, apa aku harus percaya pada penjelasanmu atau pada apa yang aku lihat sekarang? Aku bisa memaklumi jika memang kita belum diberi kepercayaan sebagai orang tua. Tapi, jika jalannya kau yang sengaja menunda, jujur aku kecewa. Kau begitu tahu aku sangat berharap menjadi seorang ayah seutuhnya. Tapi..... hah sudahlah. Sia-sia saja aku bicara. Karena kenyataannya kau masih mencintai Aldi kan?"


"Kenapa kau berpikir begitu Al. Jika memang aku masih mencintainya, tak mungkin aku menerima menjadi istrimu sekarang. Banyak kesempatan yang datang untukku dan Aldi agar bersama. Tapi tidak dengan takdir. Nyatanya kau yang menjadi pendampingku Al."


"Apa itu hanya alasan untuk aku maafkan?"


"Al... ku bilang dengarkan aku dulu."


"Oke. Akan aku dengarkan." Alvi berbalik dan dengan serius menatap Avril yang tengah mencoba menahan tangisnya. Namun, Avril tak langsung menjelaskan. Ia hanya menyeka embun di matanya beberapa kali sampai akhirnya Alvi menghela nafas berat tanpa berbicara meninggalkannya sendiri di dalam kamar.


"Kenapa aku malah diam?" Gumamnya pelan yang terduduk di lantai sambil menutupi wajahnya. "Bodoh... kenapa aku begitu bodoh." Avril terus memaki dirinya sendiri dan nafasnya semakin sesak. Ia memukul-mukul dadanya keras sambil mulai terisak frustasi. Tak lama setelah Alvi berlalu, terlihat Bu Rumi datang dan menghampiri Avril. Bu Rumi segera meraih Avril yang terus menyalahkan dirinya.


"Bu.... Alvi marah." Lirih Avril memeluk erat Bu Rumi.


"Sudah.... nanti juga baik lagi." Bujuk Bu Rumi seraya mengusap bahu Avril untuk menenangkan.


. "Tuan hari ini ada--"


"Batalkan semua jadwalku hari ini." Ucap Alvi menyela Ray sebelum ia benar-benar menyelesaikan kalimatnya. Melihat sikap Alvi yang sedang tidak baik, Ray hanya bisa menuruti kemauan Alvi saat ini.


"Ba-baik tuan." Ray segera membukakan pintu mobil untuk Alvi. Entah apa yang sedang terjadi, Ray sendiri merasa heran karena beberapa saat yang lalu, Alvi masih baik-baik saja. Dan mengapa cincinnya yang tertinggal, tapi saat kembali dengan memperlihatkan kekecewaan yang teramat.


"Mungkin cincin nikah tuan hilang. Jadi dia kecewa." Batin Ray perlahan melajukan mobil meninggalkan rumah.


. Sepanjang hari, Avril hanya diam di dalam kamar. Bahkan ia enggan keluar meskipun untuk sekedar makan. Reifan pun yang sedang bersamanya saat ini belum ia sentuh sama sekali. Hanya terdengar tawanya yang keras dari lantai bawah. Sesekali Reifan menangis yang mungkin karena ingin bersama Avril. Tapi, tangisan itu mereda, bisa di tebak bahwa Siska sudah bisa mengendalikan Reifan.

__ADS_1


Avril melirik jam yang ada di atas meja di disampingnya. Sudah jam pulang. Batinnya. Namun, Alvi belum juga tiba di rumah. Ia mencoba menghubungi namun ponsel Alvi tidak di aktifkan. Lalu, Avril mencoba menghubungi nomor Ray.


"Ray... apa Alvi denganmu?" Tanya Avril ketika panggilan sudah tersambung.


"I-iya nona." Jawab Ray terbata.


"Apa dia sudah makan?"


"Belum nona." Kini suara Ray terdengar lesu.


"Mau pulang jam berapa? Akan ku buatkan makan untuknya."


"Ja-jangan repot-repot nona. Tu-tuan sebentar lagi selesai meetingnya dan akan segera makan." Avril menghela nafas berat mendengar jawaban panik dari Ray.


"Ya sudah. Sampaikan maafku Ray." Ucap Avril kemudian. Terdengar suaranya yang gemetar menahan sesak jika mengingat wajah kecewa Alvi.


"I-iya nona. Akan saya sampaikan." Setelah itu, panggilan terputus. Avril melempar pelan ponselnya di atas ranjang, dan ia berlalu keluar kamar.


"Nona terlihat pucat. Apa nona sakit?" Tanya Siska yang semakin lekat menatap wajah Avril.


"Tidak. Aku baik-baik saja." Jawab Avril melemparkan senyum. Meskipun kepalanya terasa berdenyut saat ini.


"Tapi...."


"Ibu di dapur kan?" Tanya Avril menyela dan mengalihkan pembicaraannya.


"I-iya nona." Jawab Siska tak bisa menyembunyikan kegelisahannya. Setelah mengusap kepala Reifan, Avril melenggang menuju dapur. Dan tak lama terdengar sesuatu yang jatuh.


"Mommy..." pekik Reifan segera berlari dan meraih Avril yang tergeletak. Tak hanya Siska, bu Rumi pun segera menghampiri dan dengan panik mencoba menghubungi Alvi. Namun, ponsel Alvi masih belum bisa di hubungi.


. "Hallo." Ucap Ray ketika ponselnya terus berdering. Ray seketika beranjak dari duduknya setelah mendengar kabar dari Siska. Ray langsung memberitahu Alvi tentang ini, namun respon yang di dapat tidak seperti biasanya. Alvi yang biasa selalu panik tak karuan saat mendengar Avril sakit, dan sekarang Avril pingsan pun Alvi hanya melirik ke arah Ray saja.

__ADS_1


"Aku lelah Ray. Aku tak akan pulang." Ucap Alvi berhasil mengejutkan Ray.


"Tapi tuan.. nona..."


"Sudahlah Ray... paling Avril hanya mau mencari perhatianku saja." Ray terdiam keheranan dengan sikap Alvi seharian ini. Ia hanya diam di dalam ruangan dan tidak melakukan apa-apa, tapi sekarang dia bilang lelah?


"Ada apa dengan mereka?" Batin Ray semakin lekat menatap Alvi yang sudah berlalu ke kamar pribadinya.


. "Mommy..." Panggil Reifan dengan suara serak karena tak henti menangisi Avril yang terbaring di ruang keluarga. Perlahan Avril membuka matanya dan ia melirik ke sekeliling. Seketika air matanya mengalir deras karena tidak mendapati Alvi di sana. Dadanya semakin sesak dibuatnya.


"Nona bangun? Apa ada yang sakit?" Avril menggeleng sambil tersenyum ringan.


"Apa kesalahanku terlalu besar? Padahal aku hanya tidak ingin anak ini di jauhi." Batinnya meraih wajah Reifan yang terbaring di pelukannya. Tanpa sadar, tangan yang satunya meraih perut rata yang entah kenapa ia begitu menyesal.


"Mommy sakit?" Tanya Reifan dengan erat memeluk Avril dan terasa ada kehangatan yang berbeda.


"Mommy... adik..." ucapnya kemudian membuat Avril terbelalak.


"Kau mau punya adik?" Reifan hanya menatap Avril dengan tatapan polos, jelas Avril tak tahu dengan apa yang dipikirkan Reifan.


"Ayah?" Mendengar pertanyaan singkat itu, Avril kembali menangis tanpa suara. Hanya menatap kosong pada langit-langit ruangan.


"Ayah bekerja sayang. Nanti pulang." Jawab Avril mencoba meyakinkan.


. Hari demi hari berlalu, sudah 3 hari Alvi tidak pulang. Dan kabar itu pun sudah di dengar oleh Aldi.


"Apa aku boleh pulang?" Tanya Aldi ketika Noah memeriksanya. 'Plak' Aldi meringis saat lengannya di pukul pelan oleh Noah.


"Kau gila."


"Oh jelas. Aku gila jika menyangkut tentang Avil." Jawab Aldi dengan lantang. Seakan Aldi melupakan keberadaan Dinda dihidupnya.

__ADS_1


-bersambung


__ADS_2