RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
130


__ADS_3

Dinda melenggang dengan percaya diri mendekati meja yang diberitahu Shana. Reaksinya sama dengan Aldi, dimana kini Dinda memasang wajah heran melihat Sean yang duduk sendiri di meja yang hanya untuk 2 orang saja.


"Dimana Shana?" Tanya Dinda sebelum ia duduk.


"Shana ada janji dengan Aldian. Jadi mereka bilang untuk berpisah meja saja. Mungkin karena tujuan pembahasannya yang berbeda." Jawab Sean yang sedikit mengarang cerita agar Dinda bisa memaklumi kalau Shana tidak bersama mereka.


"Lalu, dimana mereka berdua?" Tanya Dinda lagi seraya menoleh kesana kemari mencari keberadaan suaminya.


Dan saat itu, Sean mendadak kesal, sebab Dinda terlihat sangat ingin bergabung dengan Shana dan Aldi.


"Duduklah. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Ucap Sean dengan suara masih sopan. Dinda hanya melirik sesaat lalu tersenyum ketus menanggapi ucapan Sean.


"Tidak! terima kasih! Aku harus mencari Aldian sekarang." Balas Dinda membuat Sean kembali memasang wajah yang sangat kesal. Ketika Dinda hendak menghubungi Aldi, Sean tiba-tiba meraih tangannya dengan sedikit kasar sehingga Dinda menoleh dan menatap Sean.


"Duduklah! Hanya sebentar saja. Setelah itu kau boleh pergi." Ucap Sean dengan sedikit memaksa. Dan akhirnya, Dinda duduk dengan malas dan tak sedikitpun melirik pada Sean. Ia terus mencari keberadaan suaminya dan seakan tak menganggap Sean ada di depannya.


Sementara itu, Aldi duduk di depan Shana dengan menatap layar ponselnya. Shana menjadi gelisah sendiri melihat sikap Aldi yang berbeda dari sebelumnya. Terlihat Aldi menoleh ke arah dimana toilet wanita berada, namun ia tak kunjung melihat istrinya.


"Apa semua wanita ke toilet selalu lama?" Tanya Aldi kini menatap pada Shana. Dan saat itu, Shana terlihat gugup dan juga tak mengerti maksud Aldian. Namun saat ia hendak menjawab tidak tahu, pikirannya tiba-tiba tertuju pada Dinda. Kemungkinan Aldi tengah menunggu Dinda sekarang.


"Emmm... Al. Sebenarnya, Dinda tak akan kemari. Aku memberitahunya untuk datang kepada kakakku." Ucap Shana kini menjawab pertanyaan yang ada di benak Aldi.


"Pada Sean? Kenapa? Bukankah kau memberitahunya kalau malam ini kita bertemu berempat. Tapi kenapa kau memisahkanku dengan Dinda?" Terdengar Aldi bertanya dengan sedikit menunjukan ekspresi marah pada Shana.

__ADS_1


"Aku melakukannya karena alasan Al. Bukankah tadi siang aku mengajakmu berbicara berdua saja?" Dan pertanyaan Shana tersebut berhasil membuat Aldi teringat, dan saat itu juga ia mendadak tenang karena penyelidikannya akan dimulai sekarang.


"Baiklah. Tapi aku tak akan lama. Aku ingin bertanya sesuatu padamu." Ucap Aldi mendadak bersikap santai. Shana bersiap dengan apa yang akan Aldi tanyakan padanya.


"Apakah Sean mengincar Dinda? Emm maksudku apa Sean menyukai Dinda?" Tanya Aldi selanjutnya. Shana tersenyum tipis dengan pertanyaan tersebut, pasalnya ia akan menemukan jalan untuk bersama dengan Aldi.


"Iya. Kak Sean menyukai Dinda sejak dia ke kota J saat menemaniku berkunjung ke perusahaanmu." Jawab Shana dengan sedikit bersemangat.


"Ohhh begitu ya! Jadi, sekarang kau memisahkanku dengan Dinda itu karena Sean?" Dan dengan ragu, Shana mengangguk pelan menjawab pertanyaan Aldi kali ini.


"Lalu, apa yang akan kau bicarakan denganku?" Tanya Aldi kemudian.


"Emm... aku... Al. Mungkin ini memalukan. Tapi, ini benar adanya. Aku menyukaimu Al. Aku tak peduli kau pernah menikah atau sudah punya anak, tapi yang jelas, aku sangat ingin bersamamu. Aku tahu kau dan Dinda batal menikah, dan aku tak ingin kehilangan kesempatan ini. Maksudku... aku tak ingin--"


"Maaf Shana. Tapi kau salah faham." Ucap Aldi menyela ungkapan Shana yang mendadak terdiam keheranan.


"Aku dan Dinda sudah menikah. Sudah hampir 6 bulan. Dan rencananya, bulan depan kami akan mempublikasikan pernikahan kami." Ucap Aldi lagi. Bagaikan petir menyambar seketika, Shana terdiam mendengar kenyataan pria yang ia sukai kini ternyata sudah berkeluarga.


"Begitu ya! Ahaha maaf ya. Aku tak tahu." Tutur Shana dengan tersenyum namun air matanya berderai deras.


"Shana.. kau jangan menangis. Aku tak bermaksud melukai hatimu." Aldi beranjak hendak mengusap air mata Shana, namun niatnya urung karena ia tak ingin menyentuk wajah wanita lain di belakang istrinya. Akhirnya Shana memberitahu Aldi dimana Dinda dan Sean berada.


Di waktu yang sama, Xaviera menghampiri Dinda lalu memeluknya dengan erat. Ia teringin duduk di pangkuan Dinda, namun Dinda menjaga jarak tubuh Xaviera dengan perutnya. Ia khawatir jika Xaviera akan menyenggol atau banyak bergerak. Melihat kedekatan Dinda dan putrinya, Sean tersenyum lalu berjalan menghampiri Dinda. Sean meraih tangan Dinda membuat Dinda merasa tak nyaman. Ia menoleh kesana kemari takut jika Aldi melihatnya dan salah faham. Sebisa mungkin Dinda mencoba melepaskan tangannya dari Sean, lalu ia beranjak dari duduknya setelah menurunkan Xaviera dari pangkuannya.

__ADS_1


"Maaf Sean. Aku harus pulang." Ucap Dinda bergegas meninggalkan Sean di tempatnya. Ia benar-benar tak habis pikir. Dan juga, ia tak tahu dimana Aldi. Baru beberapa langkah berjalan, Dinda terhenti saat tangannya di tarik oleh Sean.


"Bunda.. jangan tinggalkan Avi." Rengek Xaviera memeluk pinggang Dinda dengan begitu erat.


"Dinda. Menikahlah denganku. Jadilah ibu untuk putriku, dan istri untukku." Akhirnya, kalimat itu terucap dari mulut Sean. Ia merasa lega karena sudah mengungkapkan perasaannya pada Dinda.


Terlihat Dinda hanya terdiam, ia bersiap untuk memberitahu Sean tentang hubungannya dengan Aldi.


"Aku..." belum sempat Dinda melanjutkan ucapannya, Sean tiba-tiba memeluknya. Dan adegan itu tepat di depan wajah Aldi yang berdiri di belakang Dinda


"Kak." Panggil Shana sehingga Sean mendongak dan melihat Aldi. Dinda pun segera melepaskan diri dari pelukan Sean, ia terkejut saat memutar tubuhnya dan mendapati Aldi di sana. Terlihat wajah Dinda ingin menjelaskan sesuatu pada Aldi, namun Aldi berlalu begitu saja. Jelas saja Dinda mengejar Aldi yang berjalan cepat keluar dari restoran. Dinda berlari mengejar Aldi dan terus memanggil suaminya itu. Saat sudah di luar, Dinda berhasil menghadang Aldi dan meraih kedua tangannya.


"Itu tak seperti yang kau lihat Al." Ucap Dinda mencoba meyakinkan Aldi.


"Lalu? Aku harus berpikir bagaimana? Kau diam saja saat Sean memelukmu."


"Tidak Al. Kau jangan salah faham. Aku tak tahu kalau Sean akan memelukku."


"Alasan apa itu? Dinda. Kau... arghhhh kalau kau tak mau menikah denganku, kenapa dulu kau menerimaku?" Mendengar keputus asaan Aldi, Dinda menjadi semakin merasa bersalah. Dan, tiba-tiba perutnya terasa sakit yang teramat sakit sehingga Aldi menahan Dinda agar tak jatuh. Sesegera mungkin, Aldi membawa Dinda memasuki mobil dan bergegas ke rumah sakit terdekat.


Shana dan Sean yang melihat kondisi Dinda pun akhirnya mengikuti Aldi dan ingin tahu mengapa Dinda kesakitan begitu. Sampai di rumah sakit, Aldi mengantarkan Dinda sampai depan ruang UGD. Ia terus berdoa agar istri dan janinnya baik-baik saja. Dokter yang menangani Dinda pun keluar, tapi bukan untuk memberitahunya, melainkan membawa dokter lain untuk menangani Dinda. Dan tak lama berselang, salah satu Dokter keluar dan berbincang dengan Aldi.


"Bagaimana keadaan istri saya Dok?" Tanya Aldi membuat Sean terkejut setengah mati.

__ADS_1


"Maaf Tuan. Istri anda mengalami pendarahan, dan beliau... keguguran." Kata terakhir Dokter itu berhasil membuat Aldi mematung tak percaya.


Bersambung


__ADS_2