RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
46


__ADS_3

. "Avril... sayang. Ayo makan. Jangan dipikirkan. Aku tak marah." Bujuk Alvi sembari membawa makanan ke dalam kamar.


"Al... bolehkah aku bekerja?" Tanya Avril menatap harap pada sang suami.


"Kenapa harus bekerja? Apa nafkah dariku kurang?"


"Bukan begitu Al. Aku hanya ingin menyibukkan diri saja."


"Iya kenapa harus bekerja? Kenapa tidak belanja dan jalan-jalan saja?"


"Tidak mau Al. Semakin aku santai, semakin aku tak bisa tenang karena memikirkannya Al."


"Lalu, kau mau bekerja dimana?"


"Di kantor Aldi lagi."


"Kenapa Aldi? Tidak! Kalau begitu di kantorku saja. Itupun jika kau mau. Kalau tidak, yasudah jangan bekerja sama sekali."


"Al... jika di kantormu, aku akan mendapatkan perilaku yang berbeda. Semua karyawan di perusahaan D sudah tahu aku siapa. Lagi pula, aku tak akan macam-macam. Aldi sudah punya pacar."


"Apa urusannya dengan Aldi yang sudah punya pacar? Kalau kalian sering bertemu, aku tak yakin kalian berdua akan punya perasaan kembali."


"Simpan pikiranmu itu Al. Tujuanku bukan itu. Aku hanya ingin membantu Reno, dan Bagas saja. Kemungkinan aku akan menjadi staf biasa. Dan itu tak akan membuat Aldi mengetahuinya."


"Kau pikir aku bodoh? Aku presdir, Aldi juga presdir. Walaupun tidak pernah bertemu, kita selalu tahu daftar anak baru yang masuk hari ini, kemarin, atau bahkan seminggu yang lalu. Dan juga, di perusahaan selalu dipasang kamera CCTV. Kecuali ruangan presdir dan direktur. Meskipun tidak langsung di sadari oleh Aldi, tapi sangat cepat ditemukan oleh Bagas. Dan kau pikir saat meeting dengan semua manager dari setiap divisinya hanya menanyakan hasilnya saja? Tidak Avril. Setiap harinya manager selalu melaporkan karyawan beserta identitasnya. Yang bermasalah, ataupun yang berprestasi."


"Dan apa kau pikir aku bodoh? Bagaimana mungkin kau memeriksa setiap detail laporan dari setiap manager. Tidak mungkin Al."


"Buktinya mungkin saja. Itulah kenapa setiap akhir pekan sebelum libur, itu dipakai untuk meeting. Dan memang lama. Tapi, jika sudah terbiasa ya... begitulah."


"Jadi, kesimpulannya apa aku boleh bekerja?"


"Tidak sayang. Aku dengan senang hati melarangmu."


"Al...."

__ADS_1


"Belanja saja ya. Atau jalan-jalan."


"Tidak mau Al... kenapa kau tak mengerti?"


"Kau yang tak bisa dimengerti Avril. Perempuan lain jika punya banyak uang, suami presdir, dia pasti hobby belanja dan nongkrong bersama teman-teman arisannya."


"Jangan samakan aku dengan mereka sialan. Ih... aku benci. Aku benci kau Alvian Revano." Teriak Avril kemudian berlalu tanpa mengindahkan panggilan Alvi yang tertinggal di kamarnya.


Setiap Alvi hendak mengajak bicara Avril, dari sarapan hingga hendak berangkat kerja, Avril selalu menghindarinya.


"Sayang. Jangan marah. Lihat dasiku tak betul, apa kau tak berniat membetulkannya?"


"Betulkan saja sendiri." Suara Avril kini lebih mencekam dari pada saat diam seribu bahasa.


"Sayang. Ayolah.... aku hanya khawatir jika kau bekerja tanpa pengawasanku." Bujuk Alvi terus mencoba meluluhkan hati Avril.


"Terserah." Dengan kasar Avril menepis tangan Alvi yang baru saja menyentuh pergelangan tangannya.


"Aku hanya mengizinkanmu belanja sepuasmu atau jalan-jalan kemanapun kamu mau." Alvi tak kalah tegas memperingatkan Avril yang masih diam tanpa ingin menanggapi.


"Kalau begitu aku mau belanja dan jalan-jalan denganmu. Hari ini, detik ini juga. Kalau kau menolak, aku akan bekerja tanpa ijinmu. Dan jika kau protes, aku akan pulang saja ke rumah ayah."


"Kau egois Avril."


"Iya memang aku egois. Kenapa? Kau mau protes? Silahkan! Kalau begitu sekarang aku akan mengemasi barang-barangku." Segera Avril beranjak dari tempatnya berdiri sedikit menjauh dari Alvi.


"Isss kenapa aku bisa jatuh cinta pada gadis egois sepertimu? Ray! Batalkan semua jadwalku hari ini. Aku ada urusan mendesak. Jangan tanya kenapa? Ini urgent. Atau aku akan mati hari ini jika tidak cuti bekerja." Ucap Alvi langsung memutuskan panggilan tanpa ingin mendengar jawaban dari Ray.


"Tuan kenapa? Apa tuan baik-baik saja?" Sebuah pesan dari Ray tak lama setelah Alvi memutuskan panggilan.


. "Kita mau kemana sayang?" Tanya Alvi yang tak bisa menyembunyikan raut kesalnya sembari terus mengikuti langkah Avril.


"Jadi kau tak mau mengantarku? Ya sudah kita pulang dan aku akan mengurus keperluan lamaran kerja ku."


"Iya iya. Aku hanya heran kenapa kita terus berputar-putar disini saja." Protes Alvi yang tak tahu sampai kapan mengitari taman dengan istrinya ini. "Apa kau tak ingin diam dulu sejenak, beli makanan atau minuman. Seperti orang-orang." Lanjutnya terus protes. Karena di kepala Alvi kini hanya ada pekerjaan saja. Banyak perjanjian yang dibatalkan hari ini. Namun melihat raut wajah Avril yang tak berubah, tatapan Alvi menjadi ikut sendu. Segera ia merangkul pundak Avril dan mengiringi langkahnya kemanapun Avril mau.

__ADS_1


"Ke mall mau?" Tanya Alvi sambil sesekali mengelus kepala Avril.


"Terserah." Jawabnya yang jelas tak bersemangat.


"Baiklah. Kita ke mall." Ucapnya dengan berbinar, namun dalam hatinya Alvi merasa cemas dengan sikap Avril yang sangat berubah drastis. Ia pikir mungkin dengan pergi ke mall, mood Avril bisa berubah.


Sampai di salah satu mall terbesar di kotanya, Alvi segera membawa Avril menyusuri setiap counter yang terpajang barang-barang mewah.


"Mau tas?" Avril menggeleng dengan wajah yang masih sendu merangkul lengan Alvi dengan erat. "Mau baju?" Lagi, Avril menggeleng. Melihatnya yang tak bersemangat, Alvi sudah kehabisan akal.


"Lalu kau mau apa? Aku sudah menemanimu jalan-jalan. Dan sekarang tinggal belanjanya. Apapun itu akan aku berikan, tapi tidak dengan ijinku untukmu bekerja. Aku khawatir. Kekhawatiranku bukan hanya karena kau dekat dengan Aldi. Tapi aku juga khawatir kau sakit, kelelahan, dan juga... huft harusnya kau mengerti dengan kekhawatiranku."


"Setidaknya dengan bekerja aku hanya akan sibuk memikirkan pekerjaanku Al. Bertemu banyak orang, dan setidaknya meski sejenak aku bisa melupakan dia."


"Maafkan aku juga. Mungkin karena awalnya aku sangat menginginkannya, jadi sekarang malah membebanimu."


"Wajar saja Al. Lelaki mana yang tak ingin menjadi ayah setelah dia menikah?"


"Sekali lagi. Maafkan aku." Namun, Avril hanya tersenyum tanpa ingin menanggapi lagi. Ia merasa jika terlalu banyak yang dibicarakan, hatinya akan semakin tidak tenang.


Sepanjang perjalanannya mengelilingi setiap sudut mall, Alvi tak jarang menawari Avril berbagai produk yang biasanya ia sukai. Dari model baju, tas, sepatu, bahkan aksesoris yang menarik perhatiannya pun masih membuat Avril diam.


"Kau belum makan. Jika sakit, kau tak akan bisa kerja kan?" Seketika Avril terbelalak dengan mata yang berbinar.


"Kau mengizinkanku bekerja?" Tanyanya sedikit menarik senyum. Alvi termangu menatap Avril yang mendadak bersemangat, bahkan senyumnya semakin mengembang saat Alvi tersenyum lalu mengangguk mengiyakan. Tanpa di duga, Avril memeluk Alvi lalu mencium pipinya dengan gemas berhasil membuat Alvi terkejut. Bahkan Avril berani menciumnya di depan umum. Biasanya Avril selalu malu meskipun hanya di elus kepalanya jika berada di khalayak ramai.


"Terima kasih suamiku." Perlahan pipi Alvi merona dengan panggilan yang asing di telinganya.


"Kau bahagia?"


"Sangat bahagia. Emm aku ingin membeli sesuatu. Bolehkan?" Sontak wajah Alvi menjadi muram.


"Sudah di ijinkan, masih mau belanja?" Batinnya dengan terpaksa mengikuti Avril.


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2