
Beberapa minggu kemudian, Dinda sudah tak lagi ke toko, ia terlalu takut jika nanti bertemu dengan Sean yang mungkin akan menemuinya lagi. Selama ini, ia menemani Reifan di rumah tanpa kemana-mana. Mereka hanya bermain, dan melalukan aktivitas layaknya Ibu dan Anak kandung. Dinda mencoba membuat kue kesukaan Reifan sore ini sambil menunggu Aldi pulang dari kantor. Jika Reifan merindukan Avril atau Ravendra, Dinda memilih untuk melakukan panggilan video saja. Ia tak berniat membawa Reifan keluar karena ketakutannya pada Sean. Selama Dinda membuat kue, terlihat Reifan tengah asyik sendiri di ruang tengah menonton acara TV kesukaannya. Karena hari sudah sore, Dewi yang baru pulang dari acaranya, lantas merasa penasaran dengan wangi yang tercium di hidungnya.
"Mantu Mama sedang buat apa?" Tanya Dewi dengan sedikit merayu di seberang meja tempat Dinda memasak.
"Aku buat kue kesukaan Rei Ma."
"Pasti enak. Emmm Mama mandi sebentar ya! Nanti Mama bantu kamu."
"Tak apa Ma... tinggal memanggang saja. Mama mandi dengan tenang lalu dandan dengan cantik." Candanya membuat Dewi tersipu dan tertawa kecil sebelum berlalu dari hadapan Dinda.
Menjelang malam, Aldi baru pulang dengan wajah lesunya. Ia tersenyum ketika melihat istrinya sudah rapi mengenakan pakaian tidur dengan aroma wangi yang khas. Aldi membenamkan wajahnya di bahu Dinda dengan memeluk manja, namun hal itu membuat Dinda geli dan risih.
"Al... kau bau... mandi dulu sana!" Dinda mendorong Aldi dengan mendelik kesal lalu ia terlihat mual-mual di depan Aldi.
"Aih... apa aku sangat bau?" Aldi menciumi badannya sendiri dengan ekspresi penuh tanya.
"Cepat mandi.... atau...." belum sempat Dinda menyelesaikan kalimatnya, Aldi segera memasuki kamar mandi setelah ia melemparkan tas kerjanya ke atas tempat tidur. Aldi tahu apa yang akan dikatakan istrinya jika ia tak langsung menuruti perintahnya. Terdengar suara shower menandakan Aldi sudah membasuh seluruh tubuhnya, namun Dinda tak henti-hentinya merasa mual, ia sangat muak mencium keringat Aldi yang menurutnya tak biasa. Setelah Aldi selesai, Dinda terheran mengapa suaminya tak kunjung keluar dari kamar mandi.
"Sayang... aku lupa bawa handuk." Teriak Aldi dari dalam kamar.
"Modus." Balas Dinda pun berteriak membuat Aldi menghela nafas malas.
"Serius sayang! Aku lupa. Tadi kau menyuruh mandi saja tanpa harus membawa handuk."
"Tidak begitu juga konsepnya."
"Iya pokoknya sekarang bawakan handuk untukku"
"Ambil saja sendiri."
"Baiklah. Kau yang suruh ya! Aku ambil sendiri." Tanpa ingin menunggu jawaban Dinda, Aldi terlihat keluar dari kamar mandi tanpa mengunakan busana apapun. Dinda memalingkan wajahnya saat melihat suaminya keluar dengan kondisi seperti itu.
__ADS_1
"Kenapa berpaling? Kau mau lihat kan?"
"Eh siapa? Tidak ya."
"Terus kenapa tidak mau bawakan handuk?"
"Malas."
"Ohhh malas?" Terlihat seringai licik muncul di bibir Aldi yang kini menghampiri istrinya ke tempat tidur. "Kalau begitu, kenapa tidak?" Ucap Aldi lagi, dan kini ia mengunci istrinya yang berubah panik mendapat serangan darinya.
"Basah kasurnya. Ihhh pakai handuk dulu!" Teriak Dinda sekuat tenaga menyingkirkan Aldi dan ia segera menjauh dari tempat tidur. Dinda memilih keluar dari kamar dengan wajah kesalnya meninggalkan Aldi yang tertawa puas melihatnya merajuk.
Dinda yang menghampiri Reifan di kamarnya, lantas mencoba untuk mengajarkan Reifan membaca dan menulis sedikit demi sedikit. Dewi yang baru kembali dari dapur, ia terdiam di ambang pintu menyaksikan kasih sayang Dinda yang ia rasa begitu tulus. Meski pada anak tiri, namun Dinda tidak terlihat seperti ibu tiri sama sekali. Bahkan Dewi sempat terlupa jika ia pernah punya menantu sebelum Dinda.
"Mama sedang apa?" Tanya Aldi dari belakang Dewi, sehingga ia terkejut dan hampir menumpahkan air yang ia bawa di tangannya.
"Ih... kau ini mengejutkan saja. Itu.... Mama lihat Rei. Mudah mengerti ya!" Mendengar jawaban beserta pujian Ibunya pada Reifan, Aldi tersenyum kemudian berjalan menghampiri istri dan anaknya. Hal itu berhasil membuat Dewi menitikkan air mata, sebab ia mengingat mendiang Syifa yang mungkin tengah melihat kebahagiaan Aldi dan Reifan dengan hadirnya Dinda di kehidupan mereka.
"J-E-R-A-P-A-H. Jerapah." Ucap Aldi mencoba mengeja agar Reifan mengikutinya. Dan benar saja, Reifan mengikuti setiap huruf yang di ajarkan oleh Aldi.
Dinda teringat sesuatu ketika ia melirik kepada Aldi di sampingnya, dan ia pun berlari menuju dapur. Ketika ia membuka lemari es, pandangannya terus mencari sesuatu yang ia letakkan di dalam.
"Loh... kenapa hilang? Tadi aku simpan di sini." Ucapnya seraya menutup pintu lalu membukanya lagi. Dinda beralih kembali ke kamar Reifan dengan wajah yang tak bisa ia kondisikan karena keheranan.
"Kenapa?" Tanya Aldi yang sama-sama heran melihat wajah Dinda.
"Tadi aku simpan kue untukmu. Tapi tidak ada." Jawabnya masih memasang wajah heran.
"Eifan makan." Ucap Reifan diiringi tawa khasnya.
"Aihhh pantas saja tidak ada. Itu untuk Daddy, sayang!" Keluh Dinda sedikit mengerutkan dahinya.
__ADS_1
"Bunda marah?" Reifan bertanya dengan beranjak lalu memeluk Dinda dengan melemparkan tatapan menggemaskan.
"Tidak sayang. Bunda tidak marah. Tapi nanti kalau Rei mau makan sesuatu, bilang pada Bunda atau Oma ya! Takutnya itu punya orang lain." Dinda membalas pelukan Reifan, dan memberinya sedikit nasehat agar Reifan tidak bertindak seperti ini lagi. Dinda pikir Reifan akan merajuk karena ia nasehati, namun ternyata malah mengangguk seraya tersenyum lalu mencium pipi Dinda membuat Dinda tersenyum simpul karena merasa disayangi oleh Reifan.
Malam semakin larut, dan Reifan sudah tertidur pulas di pangkuan Dinda. Aldi yang kelelahan pun sudah sama-sama tertidur di sofa. Setelah Dinda menidurkan Reifan di tempat tidur, ia beralih membangunkan Aldi untuk berpindah ke kamar mereka.
"Al.. ayo. Rei sudah tidur." Ucapnya mengguncangkan tubuh Aldi dengan kuat.
"Hah? Ayo apa? Mau buat adiknya Rei?" Mendengar gumaman Aldi demikian, Dinda hanya mendelik malas lalu menepuk pipi Aldi dengan keras.
"Dasar mesum. Ayo pindah ke kamar Al." Kini Dinda beralih menarik tangan Aldi dan memaksanya bangun dari tidurnya. Meski beberapa kali menguap, Aldi dengan terpaksa harus berpindah kamar agar bisa tidur lebih tenang. Sebelum keduanya benar-benar tidur, Dinda mengganti sprei terlebih dahulu karena ulah Aldi yang mengotorinya. Aldi kembali tertidur pulas di sofa saat Dinda sibuk membereskan tempat tidur mereka. Setelah selesai, Dinda dibuat kesal lagi oleh Aldi yang tidur dimana saja sesuka hatinya.
"Al... bangun. Pindah dulu." Dinda mengguncangkan tubuh Aldi lalu menepuk pipinya dengan keras sehingga Aldi tersadar lalu membuka matanya lebar-lebar. "Pindah ke tempat tidur! Atau kau akan masuk angin." Ucap Dinda kembali mengulang perintahnya.
"Peluk!" Lagi-lagi Aldi bersikap manja, dan ia merentangkan tangannya seperti anak kecil yang ingin di gendong oleh Ibunya. Dinda malah mendelik dan meninggalkan Aldi yang masih di sofa. Melihat istrinya yang berubah acuh, Aldi beranjak lalu berlari dan memeluk Dinda dari belakang.
"Apa kau marah?" Bisik Aldi membenamkan wajahnya di leher Dinda dengan manja.
"Tidak. Aku hanya khawatir saja. Kau selalu saja bercanda."
"Iya maaf. Emmm jadi? Mau tidak?"
"Apa?"
"Katanya mau kasih Rei adik."
"Kau ini sudah kelelahan Al. Harusnya istirahat."
"Jadi kau menolak?"
"Bukan menolak, tapi.... ehhhhh" Dinda terkejut sendiri dan tak melanjutkan kalimatnya karena Aldi tiba-tiba mengangkat tubuhnya dan menidurkannya di tempat tidur. Dinda menutupi dadanya, ia sudah ketakutan jika Aldi akan melakukannya malam ini. Matanya mengikuti kemana Aldi pergi, sampai akhirnya Aldi tidur di sampingnya dengan memeluk erat tubuhnya.
__ADS_1
"Selamat tidur sayang." Seperti biasa, Aldi selalu mengucapkannya seraya mengecup kening Dinda. Namun kali ini, bukan hanya kening, Aldi bahkan memberi kecupan selamat malam di pipi dan bibir Dinda sebagai tanda kasih sayangnya. Perlahan Aldi memejamkan matanya dengan tangan yang mengusap lembut rambut Dinda sampai keduanya tertidur.
Bersambung