RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
38


__ADS_3

. Esoknya, Aldi akhirnya bisa pulang dari siksaan jarum infus yang membuat tangannya keram. Ada beberapa orang datang untuk menjemputnya. Yang tak lain, Bagas, Dewi, dan Dinda. Aldi terheran mengapa Avril tak kunjung terlihat sejak satu pekan terakhir.


"Dimana Avil?" Tanya Aldi langsung berbisik pada Bagas.


"Ada berita buruk Al." Balas Bagas pun berbisik. Aldi menyernyit penasaran berita apa yang belum ia ketahui.


Di waktu yang sama, seperti biasanya, Avril sudah kewalahan karena mual yang mengganggu sarapannya. Andre khawatir karena tak biasanya Avril sampai begini.


"Nak.... kau baik-baik saja?" Tanya Andre saat Avril menampakkan diri dari toilet.


"Ayah... maaf. Bukannya aku mau mengganggu sarapan ayah."


"Kau kenapa?"


"Aku.... hm" belum sempat menjawab, rasa mualnya kembali terasa sehingga Avril kembali masuk menutup pintu toilet.


Tak lama, Avril keluar dan kebetulan Galih beserta Nadia datang menyusul mereka ke meja makan.


"Kenapa kau Avril?" Tanya Nadia yang terheran karena pagi ini Avril terlihat sangat lemas.


"Aku mau istirahat." Jawab Avril yang langsung berlalu ke kamarnya. Galih dan Nadia saling pandang, keduanya merasa ada yang tak biasa pada Avril.


Tak lama, terdengar suara Alvi memasuki rumah dan terdengar pula bibi yang menyahuti panggilan Alvi. Tanpa Galih lihat pun, sudah jelas Alvi langsung menyusul Avril ke kamarnya.


Alvi mengetuk pintu sebelum ia masuk. Perlahan Alvi membuka pintu dan ia mendapati Avril yang hendak tertidur.


"Sayang? Kau masih tidur?" Tanya Alvi menghampiri istrinya yang langsung berbalik membelakangi Alvi.


"Mau sampai kapan kau mendiamkanku?" Tanya Alvi lagi dengan nada putus asa.


"Sayang. Ayolah. Kita bicarakan lagi secara baik-baik. Emira hanya teman lamaku. Kita tak punya hubungan apapun lagi. Jika kau tak percaya, kau bisa tanya Damian."


"Sudahlah aku tak mau di ganggu." Ucap Avril dengan suara yang begitu pelan.


"Kau sakit?" Alvi mencoba meraih dahi Avril dengan mendadak panik.


"Kau mau bekerja kan? Pergi saja! jangan pikirkan aku."


"Avril... jangan begini." Avril beranjak dan duduk bersandar dengan menatap sayu pada Alvi.

__ADS_1


"Lalu, aku harus bagaimana? Apa teman pantas sangat mesra? dan yang kalian bahas bukanlah masalah kecil. Kehilafan apa yang kalian perbuat di hotel saat kalian di London? Kau pikir aku tidak terkejut? Aku mengira kau hanya denganku saja, tapi ternyata sebelum aku, kau sudah dengan gadis lain."


"Avril. Apa yang kau bicarakan? Dugaanmu terlalu jauh. Aku tidak melakukan apapun dengannya."


"Apa pencuri akan mengaku dirinya mencuri?"


"Avril aku mohon. Jika kau dengan Aldi pun aku bisa memakluminya."


"Kenapa membawa Aldi? Atau kau mau aku maklumi kedekatanmu dengan dia yang kau bilang teman itu?"


"Avril! Kenapa kau sulit sekali di ajak bicara. Sekarang terserah apa maumu." Nada suara Alvi kian meninggi membuat Avril memalingkan wajahnya lalu memijit kepalanya sembari memejamkan mata. Rasa pening di kepalanya kian terasa berat.


"Jangan begini sayang... bunda tahu kau anak baik. Jadi mengertilah nak. Jangan sering membuat bunda kewalahan." Batin Avril mengelus perutnya pelan.


"Apa kau tidak membutuhkanku? Biasanya jika kau sakit, kau selalu ingin aku ada di sisimu. Apa karena masalah kecil ini, kita pisah rumah? Avril kita sudah dewasa. Harusnya--"


"Tidak denganku kan? Karena aku yang belum dewasa, jadi kau merasa risih padaku dan berpaling pada masa lalumu."


"Arghhhh ku bilang hentikan Avril!!" Tegas Alvi menghempaskan tangannya kesal lalu menjambak rambutnya kasar. "Kau istriku, dan aku suamimu. Sampai kapanpun aku tak akan pernah menerima orang lain selain dirimu. Kenapa kau tak pernah mengerti? Harus bagaimana lagi aku meyakinkanmu hah?" Lanjutnya masih melontarkan nada tinggi pada Avril.


"Aku ingin sendiri." Lirih Avril memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Kau selalu begini. Selalu ingin sendiri, selalu memendamnya sendiri, apa gunanya aku sebagai suamimu?"


"Sudah ku bilang..... arghhh percuma aku bicara. Kau tak pernah mengerti, apalagi percaya padaku."


Pandangan Avril semakin buram. Ia mengerjapkan matanya dan mencoba meraih obat di atas nakas, namun tak ada apapun.


Alvi terheran sendiri apa yang sedang Avril cari. Ia segera membuka laci berniat membantu Avril untuk mencari sesuatu.


"Apa yang kau cari?" Tanya Alvi melirihkan suaranya.


"Obat." Jawab Avril singkat dengan sangat lesu. Satu persatu Alvi membuka laci dan ia menemukan sebuah botol obat berisi beberapa kapsul di dalamnya. Ketika ia hendak menutup kembali, ia merasa penasaran pada berkas yang terasa berbeda dari berkas lain. Di raihnya map biru itu dengan hati-hati setelah ia memberikan obatnya pada Avril.


"Ia membuka perlahan dan matanya membulat ketika melihat hasil pemeriksaan atas nama Avril dan dirinya tertera jelas. Alvi menatap lekat gambar yang terlihat buram dan belum jelas bentuk janinnya itu. Sesaat Alvi melirik istrinya yang belum sempat meminum obat namun terus memejamkan mata menahan rasa mual dan pening di kepalanya. Tak terasa, air matanya berderai saat ia menatap wajah Avril yang begitu pucat.


"Apa ini serius? Kenapa Avril tidak memberitahuku?" Batin Alvi langsung terduduk dan meraih tangan Avril yang lemas.


"Kenapa kau selalu egois?" Lirih Alvi terdengar terisak.

__ADS_1


"Tinggalkan aku Al." Ucap Avril yang enggan membuka mata dan tak tahu bahwa Alvi sudah mengetahui kenyataan yang sedang ia sembunyikan.


"Mau sampai kapan kau menyembunyikannya?" Namun Avril tak mempedulikan apa yang Alvi lontarkan. Ia memilih terlelap dalam tidurnya. Alvi menyeka air matanya dan ia beranjak kembali. Di lihatnya jam di tangan kirinya, Alvi segera bergegas untuk ke kantor.


"Aku berangkat sayang." Ucapnya memberi kecupan hangat di dahi dan perut Avril yang masih rata. Sontak Avril terbangun dan terkejut dengan apa yang Alvi lakukan. Tak biasanya ia mencium perut, hanya dahi dan pipi saja jika sebelum berangkat kerja.


. Di kediaman Aldi, Emira terlihat berdiri anggun di depan pintu. Ia menggendong Reifan yang melambaikan tangannya menyambut kedatangan Aldi. Rasanya ia begitu rindu pada Reifan.


"Daddy cembuh?" Tanya Reifan polos.


"Daddy sembuh sayang." Jawab Aldi yang langsung menggendong Reifan karena gemas.


"Bunda?"


"Bunda ada urusan."


"Daddy... mau mommy..." rengeknya menatap harap pada Aldi.


"Mommy nya kemana memang?" tanya Aldi masih dengan nada bercanda.


"Avril tak menemui Rei seminggu ini, dan mama dengar dia sedang bertengkar dengan Alvi." Dewi ikut menimpali memberi jawaban pada Aldi.


"Apa masalahnya belum selesai juga?" Lirih Emira mendadak gelisah.


"Memangnya kenapa kak?" Tanya Aldi penasaran dan seketika ia mengingat ucapan Bagas.


"Avril salah faham, dia kira aku dan Alvi ada apa-apa." Jawab Emira santai.


"Salah faham bagaimana?"


"Entah. Aku tak tahu. Alvi tidak memberitahuku secara rinci."


"Dan kakak diam saja?"


"Memangnya aku harus bagaimana?"


"Ya jelaskan pada Avil yang sebenarnya. Bahwa kakak dan Alvi tak ada hubungan apa-apa."


"Niatnya begitu. Tapi, sepertinya Avril tak akan percaya." Balas Emira hanya mengedikan bahu saja. "Lagi pula, kenapa Alvi bertahan dengan Avril yang tak mau memberi keturunan untuknya?"

__ADS_1


Bagas mengepalkan tangan tak kuasa teman kecilnya di maki sampai seperti itu.


-bersambung


__ADS_2