
. Avril bergegas menuju ruangan Noah setelah ia memberikan resep pada pegawai apotik, namun obat yang diminta Avril berbeda sehingga ia langsung ingin menanyakan pada Noah. Ketika ia berjalan di lorong menuju ruangan Noah, tangannya tiba-tiba ditarik seseorang dari belakang. Semula Avril hendak berontak, namun niatnya urung saat tahu siapa pemilik tangan yang masih menggenggamnya.
"Apa kau sakit?" Tanya Aldi langsung meraih bahu Avril.
"Tidak Al. Aku mau beli obat."
"Lalu? Kenapa kesini? Bukankah disini area untuk pemeriksaan?"
"Aku mau bertemu dengan Noah dulu. Obat yang aku beli sedikit berbeda dengan yang sebelumnya."
"Serius? Kau benar-benar baik-baik saja? Bagaimana kabar Alvi? Aku dengar, dia..." Aldi tak melanjutkan kalimatnya, ia terhenti saat Avril menunduk sendu.
"Maaf Al. Aku buru-buru." Avril menepis tangan Aldi yang masih meraih bahunya. Ia bergegas menjauh agar tak melanjutkan pembahasannya mengenai masalahnya dengan Alvi.
"Apa benar kau hamil?" Tanya Aldi dengan suara datar namun jelas terdengar oleh Avril yang langsung berhenti dan terdiam tanpa membalikkan badannya.
"Iya Al." Jawabnya singkat dan kembali melangkah semakin cepat. Ia tak bisa membayangkan bagaimana ekspresi Aldi saat ini.
Aldi segera kembali ke tempat dimana Dinda berada. Terlihat Dinda sudah stay menunggu Aldi untuk pulang.
"Kau menunggu lama?" Tanya Aldi takut jika Dinda marah padanya.
"Tidak Al. Baru beberapa menit saja. Tapi, apa Rei akan baik-baik saja tanpa diperiksa ke dokter?" Dinda terlihat mulai khawatir pada kesehatan Reifan saat ini. Diketahui, Reifan sedang demam, namun Aldi tak membawanya ke dokter karena ingat ucapan Avril tempo hari yang melarangnya membawa Reifan ke area rumah sakit ataupun klinik. Niat ingin memberitahu Avril tentang Reifan, namun Aldi membisu seketika saat mendengar kenyataan yang beberapa hari ini ia anggap sebagai gosip saja. Avril mengandung, dan bukan ia ayah dari anaknya. Itu terasa lebih menyakitkan dari sekedar menyaksikan Avril menikah.
"Tadinya aku mau mengenalkanmu pada temanku" tutur Dinda membuyarkan lamunan Aldi.
"Oh... teman?" Aldi melirik sesaat dengan gugup lalu memalingkan kembali pandangannya. Berkali-kali ia menoleh ke arah dimana Avril berada hingga menimbulkan kecurigaan bagi Dinda. Tingkah Aldi yang mendadak aneh ini membuat Dinda penasaran ada apa dengan Aldi.
"Al... apa ada yang mengganggu pikiranmu?" Tanya Dinda mencoba memastikan.
"Hah? Oh... ti-tidak. Tak ada apa-apa." Jawabnya semakin gugup. Dinda memilih untuk diam dan tak ingin merusak suasana yang sudah terasa berantakan ini.
__ADS_1
. "Jadi, Dinda dan Aldian semakin dekat? Ternyata benar, Dinda dan Emilio putus itu karena Aldian." Ucap Aulian sembari menatap layar laptop yang menampilkan Aldi bersama Dinda dari rekaman CCTV yang sudah di retas dan di bajak oleh anak buahnya.
"Apa perlu kita bereskan bos?"
"Tidak. Jangan dulu. Jika langsung pada mangsanya, kita akan mudah ketahuan."
"Baiklah bos. Tapi, apa anda tidak berniat pulang? Tuan besar akan mengalami kesulitan jika anda tidak ada."
"Tempat ini cukup strategis. Lagi pula, ada Emilio yang menggantikan aku."
"Tapi bos..."
"Kau mau protes?" Asisten Aulian langsung menunduk ketika Aulian sendiri melirik sinis ke arahnya.
"Kau benar-benar serangga penghalang Aldian." Batin Aulian kembali menatap pada layar laptop di depannya.
---
. "Daddy... mau mommy." Rengeknya dengan suara pelan memeluk Aldi dengan erat. Terasa begitu hangat karena suhu tubuh Reifan yang langsung bersentuhan dengannya. Aldi melirik ke arah Dinda yang tengah membawakan air untuk Reifan dari dapur.
"Bunda...." Reifan merentangkan tangannya ketika Dinda meletakkan gelas di meja. Dengan begitu, Dinda segera meraih dan menggendong Reifan, ia menimang Reifan agar sedikit lebih tenang.
"Maaf ya. Kau jadi repot karena Rei." Aldi beranjak dan ikut menenangkan Reifan di pangkuan Dinda. Dewi termangu menatap pemandangan yang begitu menentramkan hatinya.
"Syifa... jika pun kau masih hidup, mungkin seperti ini pemandangan yang mama lihat setiap hari." Batin Dewi kemudian memilih berlalu dan seakan tak berniat mengganggu Aldi dan Dinda.
. Semakin hari, Avril yang merasa kesepian karena sudah beberapa lama ini tidak bertemu dengan Reifan. Hari ini, karena Alvi sudah berangkat, ia bergegas untuk berkunjung ke rumah Aldi. Tak lupa, ia membeli camilan kesukaan Reifan sebelum sampai ke rumahnya.
Ketika sampai, Avril segera mengetuk pintu. Dan tak perlu menunggu lama, pintu terbuka memperlihatkan Dewi yang terkejut melihat Avril.
"Avril. Ya ampun nak. Kau dari mana saja?" Dewi langsung memeluk Avril dengan erat melepas kerinduannya.
__ADS_1
"Rei mana ma? Aku sangat merindukannya."
"Rei? Kebetulan, Rei sedang keluar dengan pacar Aldi." 'Deg' jantungnya mendadak berontak mendengar kata pacar terlontar dari Dewi. Siapa? Dan mengapa Rei bisa akrab dengannya? Setahunya Rei tak pernah mau di sentuh oleh orang asing. Bahkan oleh Demira dan Dea pun butuh waktu yang lama untuk meluluhkan Reifan.
"Pa-pacar? Oh... begitu ya?" Lirihnya mendadak sendu, namun Avril harus memperlihatkan senyumnya di depan Dewi.
"Ah... kalau begitu. Avil titip ini untuk Rei." Lanjutnya seraya memberikan bingkisan kecil pada Dewi. Meski bagaimana pun, Dewi mengerti bahwa kini Avril sangatlah terluka.
"Avril..."
"Ya sudah. Avil pamit ya ma.."
"Nak... masuklah sebentar. Mama buatkan teh. Atau..."
"Tidak ma.. tidak perlu repot-repot. Avil sedang buru-buru." Ucapnya terus mengelak dan bergegas pergi menjauh dari Dewi yang mengejarnya sampai di ujung teras.
"Avil... jangan terlalu lelah, jangan banyak pikiran, dan makan yang teratur. Di trimester pertama kau harus banyak istirahat." Sontak Avril langsung berbalik dan menatap Dewi dengan tatapan penuh makna.
"Mama sudah tahu nak." Ucap Dewi kemudian dengan berjalan menghampiri Avril yang mematung di dekat mobil.
"Harusnya kau tidak berpergian dulu. Setidaknya tunggu sampai bulan ke empat. Kandunganmu masih rentan. Jangan terlalu banyak makan pedas, makan saat kau ingin saja." Avril tak kuasa menahan embun di matanya. Perhatian seorang ibu benar-benar sangat ia idamkan. Apa lagi, disaat ia tengah berada di fase dimana seharusnya ada seseorang yang selalu menasehatinya tentang masalah kehamilan. Meskipun Nadia selalu memberi nasehat, namun ia merasa masih membutuhkan nasehat dari seorang ibu. Apalah daya, ibu kandung dan ibu mertuanya tak ada disisinya.
"Mama..." ucapnya langsung memeluk Dewi dengan erat.
"Jangan berkecil hati. Meskipun Aldi sudah menemukan ibu untuk Rei, tapi kau tetaplah ibu pertama yang merawat Rei sampai menjadi anak yang pintar seperti sekarang. Mama sangat bersyukur saat mendengar kabar bahwa Rei akan punya adik. Terima kasih karena sudah bersedia merawat Rei, mama tak tahu harus bagaimana membalas kebaikanmu."
"Tetap menjadi ibu yang selalu menasehati Avil ma... itu sudah cukup untuk Avil. Hanya saja, Avil ingin menenangkan diri dulu dan jauh dari Aldi untuk sementara waktu."
"Kau mau menghindari Aldi? Avil jangan begitu..." Dewi tak bisa menyembunyikan keterkejutannya dan melepas pelukannya dari Avril.
"Bukan ma... rasanya masih belum bisa menerima ada yang menggantikan posisiku sebagai ibu Rei. Untuk masalah Aldi yang sudah menemukan pasangannya, aku terima dan aku berharap Aldi bahagia." Dewi kembali memeluk Avril dengan sangat erat.
__ADS_1
"Semoga kau juga bahagia Avil."
-bersambung