
. Seperti biasanya, Reifan selalu menyambut Dinda dengan gembira, ia berlari memburu Dinda dan langsung memeluk kakinya. Dinda semakin merasakan rasa sayangnya pada Reifan yang sudah menganggap dirinya ibu kandung.
"Bunda... kak Aven." Ucap Reifan kemudian menunjuk ke arah seorang anak kecil yang terlihat lebih tua dari Reifan ikut berlari ke arahnya. Setelahnya, Dinda terpaku pada seorang gadis yang tengah duduk di ruang tengah dengan tersenyum menyambut kedatangannya.
"Avril." Sapanya sedikit terheran.
"Hai. Keponakanku ingin bermain dengan Rei. Dan kebetulan kakakku sedang ada urusan, karena Raven sedang bersamaku, sekalian saja aku bawa Raven kemari." Jelas Avril ditanggapi anggukan oleh Dinda. Entah kenapa, reaksi Dinda tak seperti biasa, ia terlihat sedikit murung mendapati Avril di kediaman Aldi. Tak lama setelah mereka berbincang, terdengar suara klakson mobil dari luar sehingga Avril beranjak lalu mencari keberadaan Dewi.
"Kau mau pulang?" Tanya Dinda ketika Avril sudah berpamitan pada Dewi yang berada di dapur.
"Iya Din. Suamiku sudah menjemput." Jawab Avril sekalian berpamitan pada Dinda. "Raven ayo pulang. Uncle sudah jemput." Panggil Avril selanjutnya pada Ravendra yang masih asyik bermain dengan Reifan.
"Yahhh aunty.... Raven masih mau main." Protesnya yang enggan beranjak dari tempat bermainnya.
"Ya sudah! Nanti ayahmu marah loh." Mendengar ancaman Avril demikian, Ravendra buru-buru menghampirinya dan terlihat wajah panik ketika melewati Avril.
"Kak Aven..." panggil Reifan yang seakan tak ingin di tinggalkan oleh Ravendra. "Mommy.... Eifan masih mau main." Lanjutnya protes pada Avril.
"Tapi kak Avennya harus pulang sayang. Nanti ayah Galih marah. Rei mau di marahi ayah Galih?" Sontak Reifan menggeleng seraya mengusap embun yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Reifan tahu bagaimana menakutkannya Galih saat marah, pasalnya ia menyaksikan sendiri saat Galih memarahi Ravendra tempo hari. Meski tak mengerti karena masih kecil, namun Reifan tak ingin lagi melihat Galih marah.
"Besok. Kak Aven main lagi ya mommy." Pintanya menatap harap pada Avril yang mengangguk seraya tersenyum kemudian memberi kecupan di pipi Reifan lalu di dahinya sebelum akhirnya Avril bergegas pulang dengan membawa Ravendra. Meski sempat merengek, namun Dinda berhasil menenangkan Reifan yang jelas tak ingin Ravendra pergi. Baginya bermain dengan Ravendra lebih menyenangkan dari pada dengan anak-anak yang lainnya. Bukan tak ada teman, hanya saja Reifan sangat tertutup di usianya yang masih balita. Ia selalu diam meski tubuhnya ikut beraktivitas mengikuti permainan teman-temannya yang lain. Karena Avril yang khawatir akan kesehatan mental Reifan, ia memutuskan untuk menjadikan Ravendra teman satu-satunya Reifan hingga saat ini.
"Bunda... kak Aven nya pulang." Rengek Reifan yang mengadu dengan manja pada Dinda yang kini tengah memeluknya untuk menenangkan.
"Besok kan main lagi sayang. Sekarang, main nya sama bunda mau?" Meski sulit dan ragu, namun Reifan akhirnya mengangguk dan mengajak Dinda ke kamarnya.
__ADS_1
"Kenapa ke kamar Rei?"
"Eifan mau tidur bunda."
"Tapi belum waktunya sayang. Nanti tunggu malam ya! Sebentar lagi malam."
"Tidak mau bunda. Eifan mau tidur."
"Rei.. tak baik tidur di waktu petang."
"Tapi Eifan mau tidur." Kali ini Reifan berteriak lalu menangis dengan keras karena keinginannya tidak di turuti.
"Rei... kenapa?" Aldi segera meraih putranya yang menangis di depan Dinda yang mencoba menenangkan Reifan.
"Bukan begitu Al. Aku melarangnya karena ini petang. Sebentar lagi malam, tak baik jika di gunakan unyuk waktu tidur." Dinda mencoba menjelaskan agar Aldi tak salah mengartikan.
"Bunda benar Rei. Jangan tidur sekarang."
"Tapi Rei mau tidur daddy...."
"Tapi kenapa? Kau tak biasanya mau tidur di jam ini?"
"Kak Aven pulang, Rei mau tidur saja."
"Jadi kau mau main?" Reifan mengangguk pelan menanggapi pertanyaan Aldi. Aldi yang tak tega melihat putranya bersedih pun mengajak Reifan bermain dan menunda kepulangan Dinda. Dinda sendiri masih tak mengerti dengan hatinya, ia merasa begitu cemburu pada kedekatan Aldi dan Avril meski Avril sudah bersuami.
__ADS_1
Esoknya, Avril datang ke toko Dinda untuk membuat rangkaian bunga, pelayanan Dinda terlihat tak seperti biasanya, ia sedikit acuh pada Avril dan keduanya tak banyak mengobrol, tidak seperti hari-hari sebelumnya.
"Din. Apa ada masalah?" Tanya Avril dengan sedikit cemas jika Dinda sampai kenapa-kenapa.
"Tidak ada." Jawabnya begitu acuh membuat Avril semakin penasaran ada apa dengan temannya ini.
"Din.. cerita saja. Biasanya kau selalu ber--"
"Itu dulu Avril. Sebelum aku amnesia kan? Sekarang aku saja tak tahu apa yang terjadi diantara kita sampai aku membiarkan begitu saja kau dekat dengan calon suamiku." Avril terdiam seketika mendengar Dinda yang menyela ucapannya.
"Dinda. Aku dan Aldi itu teman dari kecil."
"Tapi kalian pernah pacaran kan?"
"Iya memang. Tapi itu dulu saat SMA. Itu terjadi sudah lama Dinda."
"Sudahlah Avril. Kau sudah punya suami dan juga sedang hamil, harusnya kau jaga jarak dengan teman-temanmu yang laki-laki." Mendengar apa yang di katakan Dinda, Avril menggeleng tak habis pikir, bagaimana bisa Dinda berkata demikian. Tapi nyatanya memang bisa.
"Lantas, kau ingin aku menjauhi Aldi?" Kini raut wajah Avril berubah dingin dan lebih menekan dari pada ungkapan Dinda.
"Oke. Tak perlu kau jawab Dinda. Jika memang maumu begitu, aku akan menjauhi Aldi untukmu. Aku doakan semoga kau cepat pulih dan ingat siapa aku." Tegas Avril kemudian beranjak setelah memastikan pesanannya sudah siap. Dinda terdiam dengan perasaan yang tak karuan menyaksikan kepergian Avril dari hadapannya. Ada rasa sesal yang menyesakkan dadanya, namun ia berpikir ulang bahwa ini yang ia inginkan sekarang.
. Hari-hari berikutnya, Avril benar-benar tidak lagi datang ke toko, bahkan Aldi bercerita bahwa Avril sudah tak lagi menemui Reifan. Telepon dari Aldi pun sudah tak lagi Avril jawab jika bukan Alvi yang menjawabnya. Dinda merasa bersalah pada Avril yang sudah berkata hal yang tak perlu di katakan. Setiap hari Reifan selalu menanyakan keberadaan Avril, Dinda yang sempat berdebat dengan Avril tempo hari, hanya bisa diam menelan penyesalannya sendiri. Sampai hari ini, Dinda mencoba menghubungi nomor Avril namun hasilnya sama seperti Aldi. Kemudian Dinda mencoba meminta Aldi untuk menemui Avril ke rumahnya, dan nyatanya Avril tak ada. ART di kediaman Alvi tak memberitahu dimana Avril. Aldi yang curiga Avril ada di kediaman ayahnya pun bergegas ke rumah Andre. Dan di sana, mereka tak mendapati Avril seakan Avril hilang di telan bumi. Alhasil, Dinda menangis karena sudah mengatakan hal itu pada Avril.
-bersambung
__ADS_1