
Sampai di kediaman Aldi, Salma dan Yasmin langsung disambut hangat oleh Reifan yang berlari menghampiri mereka. Sesegera mungkin Yasmin menangkap Reifan dan menggendongnya dengan gemas. Meski biologisnya Reifan bukan keponakannya, namun Yasmin terlihat begitu menyayangi Reifan.
"Rei. Kangen tidak pada Aunty?" Tanya Yasmin gemas.
"Kangen. Anty... Eifan ada adik bayi." Ucapnya menunjuk pada Dinda yang kini bersandar di sofa bersama Salma dan Dewi.
"Aunty sudah tahu." Ungkap Yasmin tersenyum ejek pada keponakannua itu.
Aldi bergabung dengan Ibu dan Mertuanya duduk di sofa, sementara itu Dinda beranjak pergi ke kamar Reifan dan mengajak Yasmin bersamanya.
"Al... kedatangan Ibu kesini bukan hanya menemui kalian saja. Tapi, kami ingin membawa Dinda pulang. Meski Ayah tidak menyuruh Dinda, tapi Ibu merasa tak ada pilihan lain." Ucap Salma dengan berhati-hati saat bicara dengan Menantunya.
"Memangnya ada apa Bu? Kalau ada hal mendesak, Ibu bisa meminta bantuanku. Dinda kan sedang hamil, aku khawatir jika dia sampai--"
"Kau tenang saja. Ibu tak akan membuat Dinda kelelahan. Ibu hanya ingin Dinda mengawasi kantor selama Ayahnya tidak ada."
"Ayah mau kemana Bu?"
"Ayahmu ada perjalanan bisnis ke luar kota 1 minggu ke depan, jadi posisi pimpinan akan kosong di perusahaan. Jika Ibu memintamu untuk menggantikan posisi Ayahmu, Ibu tahu kau sedang sibuk dengan perusahaanmu sendiri."
"Tapi...."
"Kalau kau keberatan, kau ikut saja. Bukankah di perusahaanmu ada temanmu yang menjadi direktur kan?" Sejenak, Aldi terdiam dan berpikir hal yang sama dengan Ibu mertuanya. Namun yang lebih mengganggu pikirannya saat ini ialah Sean. Ia lebih khawatir kehadiran Sean akan menjadi bumerang bagi rumah tangganya.
"Baiklah Bu. Aldi ikut. Sekalian Aldi ingin belajar lebih banyak di perusahaan Ayah."
"Baiklah. Dan Ibu mungkin lebih lega karena kau bisa langsung menjaga Dinda tanpa harus mengkhawatirkan apapun."
__ADS_1
Mendengar percakapan Putra dan besannya, Dewi mendadak diam dan menunduk murung. Ia jelas akan merasa kesepian jika Aldi meninggalkannya di rumah.
"Mama mau ikut atau tidak?" Tanya Aldi menyadari kegundahan Dewi karenanya.
"Mama di rumah saja. Banyak hal yang harus di selesaikan." Jawab Dewi mencoba meyakinkan Aldi bahwa ia akan baik-baik saja tanpa Aldi.
"Kalau begitu, Rei tak akan aku bawa. Mama tak boleh sendirian."
"Tak apa Al. Jika kau membawa Rei, mama akan ke rumah Avril saja. Lagi pula, mama sudah rindu pada Avril." Wajah hangat Aldi yang semula terpancar, kini berubah dingin dan tatapannya menjadi tajam.
"Aku sarankan sebaiknya Mama jangan lagi bertemu Avril." Tegasnya membuat Dewi memalingkan wajahnya.
"Masalahmu itu urusanmu Al. Mama tak ikut campur. Avril tetap anak bagi Mama. Dan dia juga Ibu bagi Reifan." Dewi tak kalah tegas membalas ungkapan Aldi. Dan Salma mendadak merasa tak nyaman akan situasi di depannya sekarang.
Singkatnya, setelah menginap 1 malam di kediaman Aldi, Salma dan Yasmin beserta Aldi dan Dinda bergegas berangkat ke kota keluarga Dinda. Dan dengan berat hati, Dewi melepas kepergian mereka dan harus rela jika Reifan di bawa oleh Aldi dan ia harus kuat menahan rindu pada Reifan selama seminggu ke depan.
Singkatnya, malam tiba, Avril yang begitu hangat menerima kehadiran Dewi membuatnya merasa nyaman. Sosok ibu yang ia rindukan itu kini terasa ada di depannya. Apa lagi saat Dewi menggantikan dirinya menimang Zeeya sebelum Alvi pulang.
"Nak... mamam minta maaf kalau Aldi melukai hatimu." Ucap Dewi ketika suasana terasa tenang dan hening.
"Tak apa Ma. Pantas kalau Aldi berpikir begitu. Aku sudah punya anak dan ia pikir aku akan melupakan Rei. Sejujurnya, aku sangat merindukan Rei. Sejak Zeeya lahir, aku semakin menyayangi Rei dari pada sebelumnya. Mungkin karena ikatan dan naluriku yang sebagai seorang ibu, aku merasa tak rela jika Rei memanggilku dengan sebutan asing."
"Nak... Mama benar-benar minta maaf. Harusnya Mama bisa menjadi penengah antara kau dan Aldi. Tapi bukan karena Mama tak peduli, Mama takut kalau terlalu ikut campur, kau akan membenci Mama."
"Sudah Ma.. jangan di besar-besarkan. Aku tak apa sekarang. Kemarin, aku hanya terkejut saja mendengar apa yang seharusnya tidak aku dengar. Ini keputusan Aldi. Dan aku hanya bisa mengikutinya saja. Lagi pula, aku bukan Ibu kandung Rei."
"Mama tak bisa menyalahkan dan berpihak pada siapapun. Mama hanya ingin semuanya tetap baik-baik saja."
__ADS_1
Di tengah perbincangan mereka, terdengar suara mobil yang sangat familiar. Avril beranjak dan membukakan pintu untuk sang suami yang baru pulang setelah ia bilang akan lembur dan pulang terlambat. Alvi tersenyum pada Dewi saat ia baru memasuki ruang keluarga.
"Mama mau menginap? Sudah makan?" Tanya Alvi kemudian duduk di bawah Dewi.
"Kenapa duduk di sana Alvi?" Dewi terlihat mendadak tak nyaman dengan duduknya.
"Tak apa Ma. Alvi hanya ingin bersandar di pangkuan Mama saja." Mendengar jawaban Alvi, Dewi hanya terdiam dan menarik senyum tipis karena ia paham mengapa Alvi menginginkan hal ini. Begitupun dengan Avril yang sama-sama duduk di bawah dan bersandar ke pangkuan Dewi.
"Kapan ya terakhir kali aku begini dengan Ibu?" Gumam Avril pelan namun masih terdengar oleh Alvi dan Dewi.
"Aku juga lupa. Dan aku tak tahu jasad Ibuku dimana." Timpal Alvi sehingga kedua perempuan yang ada di dekatnya sama-sama terdiam. Dewi mengelus kepala Alvi dan Avril bergantian. Ia memberikan kehangatan pada keduanya seakan tengah melepas rindu pada seseorang.
"Ma... besok kita ke makam Om Adam dan Amel ya! Alvi akan libur kerja." Ucap Alvi menyadari kegelisahan Dewi.
"Kenapa tiba-tiba? Kalau kau sedang sibuk, selesaikan dulu urusanmu."
"Tidak. Aku tidak sibuk Ma. Bagaimana? Mama mau kan?"
"Ya sudah! Terserah kamu saja." Mendengar tanggapan Dewi demikian, Alvi tak bisa menyembunyikan senyumnya.
Di kediaman Hadi, Aldi terdiam di teras rumah melamun sendirian dengan tatapan kosong. Hadi yang menyadari akan sikap Aldi yang berbeda pun tak bisa melepas perhatian darinya. Hadi ikut duduk di seberang Aldi dan meminta pelayannya untuk membawakan kopi.
"Apa ada hal yang mengganggu pikiranmu?" Tanya Hadi memulai obrolan mereka.
"Ayah.... apa tidak sebaiknya Ayah batalkan saja kerja sama dengan Sean." Dan, Hadi mendadak mengernyitkan alisnya merasa tak mengerti dengan maksud Aldi.
Bersambung
__ADS_1