
Maira menahan dirinya untuk tidak kembali menangis didepan Ervan yang dengan tega melontarkan kata terlarang. Pelacur adalah sebutan bagi wanita yang menjual harga dirinya demi uang, dan Ervan mengatakan itu pada Maira hanya karena melihatnya bersama lelaki lain. Sejujurnya, Ervan penasaran sosok pria yang bersama mantan pacarnya ini. Ingin sekali ia bertemu dan memberinya pelajaran, sebab ia merasa cemburu pada Maira meski ia menduga Maira sudah melakukan hal yang melewati batas dengan pria lain. Dan rasa cintanya pada Maira masih tetap ada, ia belum sepenuhnya melupakan Maira meskipun dirinya sudah tidur dengan wanita lain. Ia berselingkuh pun bukan karena perasaannya pada Maira hilang sepenuhnya, hanya saja rasa bosan yang memicu hatinya berpaling pada yang lain. Dan juga, pergaulannya dengan Maira sangat berbeda. Ervan yang menghabiskan waktunya di club dan dunia malam yang bebas, sedangkan Maira sendiri selalu hidup dengan teratur dan mematuhi peraturan keluarga yang tak boleh keluar malam melebihi waktu yang di tentukan. Bahkan selama mereka menjalani hubungan sebagai pacar, tak jarang Maira menolak permintaan dinner dari Ervan. Kehidupan yang bertolak belakang inilah yang membuat Ervan merasa hampa menjalani hubungannya, sehingga ia beberapa kali putus nyambung hanya karena berharap situasi akan berubah. Namun, meski sudah 4 kali mereka putus dan kembali bersama lagi, Ervan tak mendapatkan hal yang ia mau. Jangankan tidur bersama, bahkan bertemu saja mereka banyak halangan. Seperti halnya waktu Maira yang seharusnya di pakai untuk bertemu dengan Ervan, namun malah di pakai untuk berbisnis dan mengurus mall miliknya seakan Maira tak punya urusan lain selain itu.
"Siapa dia?" Pertanyaan itu berhasil keluar dari mulut Ervan yang menahan amarahnya.
"Bukan urusanmu." Mendengar jawaban Maira tersebut, Ervan menjadi semakin kesal. Ia mengusap wajahnya kasar, lalu meraih bahu Maira dengan kasar. Pandangannya tajam seperti elang, dan cengkramannya semakin keras sehingga Maira meringis kesakitan. Ervan mendorong tubuh Maira masuk dan menghimpitnya ke dinding ruangan.
"Kenapa Maira? Kenapa denganku kau tak mau? Aku pacarmu kan?" Mendengar gertakan Ervan, Maira membalas tatapan Ervan tak kalah tajam. Ia tersenyum ejek pada Ervan dan menyimpan sebuah jawaban yang tak ingin Maira ungkapkan.
"Aku mencintaimu Maira! Kenapa kau tidur dengan pria lain?" Geram Ervan dengan suara yang di tekan agar penghuni kamar lain tidak mendengar kemarahannya.
"Berhenti menyalahkanku Van!" Maira mencoba mendorong Ervan dan melepaskan diri darinya. "Cinta? Cinta apa yang kau bicarakan itu? Kau mengatakannya setelah kau meniduri wanita lain? Dan sekarang kau menyalahkanku hanya karena kau melihat aku dengan Bagas jalan berdua?" Pecah sudah tangis Maira yang sedari tadi ia tahan agar tak di perlihatkan pada Ervan. Ia sudah tak kuasa dengan makian Ervan padanya. "Siapa yang pelacur? Aku atau selingkuhanmu itu? Dan juga, Bagas tidak sepertimu." Lanjut Maira yang tak bisa menahan suaranya yang kian meninggi. Ervan yang terlanjur sakit hati dan cemburu, ia melotot dan mengangkat tangannya hendak memukul Maira. Seketika itu, Maira menghimpit dan menyembunyikan wajahnya dengan tangan agar pukulan Ervan tidak mengenainya.
Maira terengah, dan ia sedikit heran mengapa pukulan Ervan tak juga mendarat. Perlahan ia menoleh memastikan bahwa Ervan tidak benar-benar akan memukulnya. Saat matanya tertuju pada tangan Ervan di atasnya, Maira terfokus pada tangan lain yang menahan tangan Ervan sehingga pukulan itu tidak sampai padanya.
"Aldi?" Lirih Maira masih mematung di tempatnya.
__ADS_1
"Maira?" Teriak Dinda dari arah pintu yang berlari lalu memeluknya dengan erat. Pandangannya beralih menatap Ervan yang menepis tangan Aldi dengan masih menatap tajam pada Maira. "Kau gila Van! Sudah selingkuh, sekarang mau menganiaya Maira." Lanjutnya tak bisa menjaga lisan karena terlanjur marah pada Ervan.
"Dinda. Kau jangan ikut campur. Ini urusanku dengan Maira."
"Kau pikir aku akan membiarkanmu bersikap seenaknya?"
"Aku tak akan begini kalau temanmu tidak memancing amarahku Din."
"Memancing amarah bagaimana? Jelas-jelas kau yang gila." Di saat Dinda dan Ervan masih berdebat, terlihat petugas keamanan sudah menyusul mereka dan menargetkan Ervan untuk di bawa ke pos keamanan mereka.
"Din... aku bukan pelacur Din.. aku tidak tidur dengan lelaki manapun, termasuk Bagas." Lirih Maira mencoba menjelaskan hal yang membuatnya sesak sejak tadi.
"Sudah.... jangan di dengarkan. Pria brengsek seperti Ervan itu tak perlu kau pikirkan. Dia sudah gila saja. Otaknya sudah hilang, buktinya dia berani mengangkat tangannya dan hampir memukulmu." Maira mengangguk pelan menanggapi kekesalan Dinda pada Ervan yang sudah berlalu. Tak diduga, Maira tiba-tiba ambruk sehingga Dinda berteriak karena terkejut. Aldi cepat-cepat membawa Maira ke atas ranjang dan menunggunya sadar. Aldi tahu, Maira pasti terkejut dengan perlakuan kasar Ervan terhadapnya.
"Bagas. Kau ini bagaimana? Aku suruh jaga Maira tapi kau tidak mengawasinya?" Terdengar Aldi memarahi Bagas dari sambungan telepon.
__ADS_1
"Apa Al? Aku menemaninya tadi. Bahkan aku baru pulang dan masih di jalan." Protes Bagas yang merasa Aldi tidak puas dengan usahanya menemani Maira.
"Terus kenapa Maira bisa dengan mantan pacarnya. Dia hampir dipukul Gas! Sebelu. pergi itu pastikan tak ada yang mengganggunya." Mendengar ucapan Aldi, Bagas menghentikan mobilnya di tepi jalan, ia terdiam mencoba mencerna maksud Aldi.
"Apa? Dipukul? Al... saat aku pergi, Maira sudah masuk lebih dulu." Bagas masih terdengar protes dan tak menerima tuduhan Aldi yang secara tak langsung mengatakan bahwa ia tak punya tanggung jawab. Bagas memutuskan untuk kembali ke hotel yang kebetulan tidak jauh dari posisinya menghentikan mobil.
Setelah mendapati sambungan teleponnya terputus, Aldi menghampiri Maira dan Dinda di ranjang. Terlihat rahang Dinda menegang tanda ia menahan amarah yang sebenarnya ingin meluap. Aldi meraih bahu Dinda seraya melempar senyum yang menyuruh Dinda untuk tidak memikirkan masalah ini.
Tak lama, terlihat Maira mulai membuka mata dan segera bangkit dari tidurnya. Ia melirik pada Dinda dan Aldi bergantian dan merasa tak enak hati karena sudah merepotkan mereka.
"Kenapa kalian bisa di sini?" Tanya Maira setelah mengingat rencana Dinda dan Aldi yang akan pergi entah kemana.
"Kau lupa aku yang punya hotel ini?" Dengan angkuhnya Aldi menjawab.
Bersambung
__ADS_1