RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
132


__ADS_3

Alvi menjadi luluh dan terlanjur nyaman memeluk Reifan yang sebenarnya sangat ia rindukan. Begitupun dengan Reifan yang terlihat sangat senang ketika Alvi memeluk dan menciumnya dengan gemas.


"Ayah. Eifan mau main." Pintanya pada Alvi.


"Ayah harus pulang, Nak. Mommy menunggu di rumah." Balas Alvi secara tak langsung menolak ajakan Reifan.


"Emmhhh Eifan mau main dengan Ayah." Gerutunya memasang wajah kesal dan merajuk di depan Alvi.


"Rei. Ayahnya mau pulang. Rei main dengan Daddy saja ya!" Ucap Aldi mencoba membujuk Reifan agar tak mengganggu Alvi.


"Eifan mau Ayah. Boleh ya Daddy. Eifan mau ikut Ayah. Eifan mau bertemu adik bayi." Rengeknya mulai mencoba memohon agar Aldi akan membiarkannya pergi dengan Alvi. Perlahan Alvi melirik pada Aldi yang terkejut melihat mata Alvi yang ternyata sudah berkaca-kaca. Entah kenapa, Aldi merasa tak tega dan mengangguk tanda mengizinkan Reifan ikut dengan Alvi. Dewi yang menyaksikan hal itu pun kini tersenyum lega, sebab Alvi dan Putranya mungkin sudah berbaikan dan tak akan lagi ada perselisihan.


Setelah berpamitan pada Aldi dan Dewi, Alvi membawa Reifan menuju jet pribadinya dan kemudian mereka bergegas terbang kembali pulang ke rumahnya untuk memberi kejutan pada Avril. Sementara itu, Aldi berlalu dengan Dewi meninggalkan landasan menuju kediaman Hadi. Dinda melamun menatap keluar jendela mengingat kepergian anaknya yang belum waktunya keluar itu. Ia terus menyalahkan diri karena dalam hatinya, Dinda masih takut jika Aldi menyalahkannya. Apalagi kejadian itu tepat saat Aldi salah faham padanya. Dinda menyapu pandangannya ke sekeliling kamar yang baru satu jam ia tempati sepulang dari rumah sakit. Terlihat Yasmin membawakan makanan untuknya dengan senyum yang mengembang. Dinda pun membalas senyuman adik perempuannya.


"Aku bawakan buah. Habiskan ya! Kalau tidak habis, nanti kak Aldi marah." Ucap Yasmin sedikit memohon. Mendengar kata 'marah' membuat Dinda kembali merasa takut.


"Apa kakak iparmu marah karena kakak keguguran?" Tanya Dinda tiba-tiba.


"Sepertinya bukan karena kakak keguguran. Kak Aldi marah karena kesalahan dia sendiri sudah membuat kakak keguguran. Semalam, kak Aldi tak tidur sama sekali. Dia terus mengulang kalimat yang sama sampai Ibu merasa kesal sendiri."

__ADS_1


"Sebenarnya ini salah kakak, Yas. Kalau saja kakak hati-hati, mungkin kakak tak akan keguguran." Tutur Dinda kembali menyalahkan dirinya sendiri.


"Aishhhh aku tak tahu siapa yang salah di sini. Yang jelas, kalau kalian saling menyalahkan diri sendiri, berarti kalian sama-sama bersalah. Harusnya jangan bicara begitu! Kakak minta maaf pada kak Aldi, dan juga sebaliknya!" Mendengar teguran dan nasehat adiknya, Dinda terdiam kemudian mengangguk mengiyakan.


"Tapi aku lega. Kakak baik-baik saja." Ucap Yasmin lalu memeluk Dinda yang hendak memakan buah di tangannya.


"Dimana Rei?" Tanya Dinda saat menyadari keheningan rumahnya yang jelas tak ada tanda-tanda kehadiran Reifan.


"Tadi ikut dengan kak Aldi. Katanya mau menjemput mama Dewi di landasan."


"Mama kemari?" Yasmin hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Dinda yang semakin ketakutan. Bagaimana jika Dewi marah dan menyuruh Aldi untuk menceraikan dirinya karena tak bisa menjaga kandungannya. Pikiran Dinda semakin berkecamuk dan tak jadi memakan buah yang sedari tadi ia diamkan.


"Sudah nak! Jangan terus menangisinya. Anak itu hanya titipan. Kita tak bisa menyalahkan takdir atas hal ini. Mama bersyukur kau baik-baik saja." Tutur Dewi mencoba menenangkan Dinda.


"Mama tidak marah kan? Dinda tak bisa menjaga kandungan Dinda." Ucapnya lagi dengan memeluk Dewi semakin erat.


"Tidak nak. Mama sama sekali tak marah. Mama bersyukur kau baik-baik saja. Karena apa yang kamu alami saat ini, pernah Mama alami juga." Tutur Dewi membuat Dinda terhenyak dan seketika meredakan tangisnya.


"Maksud Mama?"

__ADS_1


"Mama sempat keguguran di kandungan 4 bulan sebelum Mama mengandung Amel. Kalau dia hidup, anak Mama harusnya 3, bukan 2. Dan sekarang, jika Amel tak ada, harusnya Aldi bersama kakaknya." Tutur Dewi lagi. Kali ini, Dewi tak bisa menahan air matanya yang tiba-tiba mengalir di antara pipinya. Dinda tak menyangka jika mertuanya ini pun pernah mengalami keguguran. Aldi terkesiap mendengar perbincangan Istri dan Ibunya, ia kembali mengingat tentang cerita yang sudah ia lupakan. Bukan sengaja, ia sendiri memang lupa karena berjalannya waktu, sebab Dewi menceritakannya ketika ia masih Sekolah Dasar. Anak umur 10 tahun mungkin tidak terlalu mengerti tentang kejadian seperti itu, namun Aldi hanya berpikir jika ia tak jadi punya kakak selain Amel.


Di samping itu, Alvi begitu semangat membawa Reifan pulang ke rumahnya. Apalagi saat mendengar Reifan memanggilnya 'ayah' berulang-ulang. Ia merasa panggilan itu sangat istimewa sampai-sampai ia tak sedikitpun memudarkan senyumnya hingga tiba di rumah. Saat di halaman depan, tepat ketika mobil baru saja sampai, Alvi tak tega membangunkan Reifan di pangkuannya, padahal ia ingin membawa Reifan dalam keadaan bangun. Saat ia hendak memangku anak asuhnya itu, terlihat Reifan menggeliat lalu terbangun dengan sendirinya.


"Sudah sampai?" Tanya Reifan dengan wajah polosnya. Dan Alvi hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Reifan. Dan tanpa memberi tahu terlebih dahulu, Aldi mengangkat Reifan ke atas dan mendudukkan Reifan di pundaknya.


"Pesawatnya akan terbang sekarang!" Ucap Alvi sehingga Reifan yang semula terkejut pun mendadak tertawa riang tatkala Alvi setengah berlari memasuki rumah.


Mendengar suara anak kecil, Avril yang baru menidurkan Zeeya pun bergegas ke ruang keluarga untuk memastikan ada tamu atau tidak. Pandangannya seketika terpaku pada pemandangan yang berhasil membuatnya membeku. Avril terdiam di tempatnya menyaksikan kebersamaan Alvi dan Reifan setelah sekian lama hilang. Momen itu terasa sangat berharga dan Avril sangat merindukannya.


"Mommy.... Eifan main pesawat lagi dengan Ayah." Dan, air mata Avril berhasil lolos dari pelupuk matanya mendengar panggilan Reifan padanya. Segera Avril berjalan mendekati suaminya dan merentangkan tangan dengan tangis yang tertutup senyuman. Alvi menurunkan Reifan lalu memberikannya pada sang istri yang sudah begitu merindukan anak asuhnya.


"Kau kemana saja Rei? Kenapa baru sekarang kau kemari? Kau tak merindukan Mommy? Kau tak merindukan Ayah?" Pecah sudah tangis Avril ketika ia berhasil membawa Reifan pada pelukannya.


"Mommy sedih? Jangan nangis..." ucap Reifan dengan mengusap wajah Avril saat ia menarik dirinya dari pelukan ibu asuhnya.


"Mommy tidak menangis sayang. Mommy bahagia. Mommy tidak sedih." Balas Avril meyakinkan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2