
. Dinda beranjak dan ia dengan sopan berlalu meninggalkan para pembeli yang sudah mengantri. Segera ia mencari Nisa dan terus mencari kebenaran atas apa yang dikatakan orang asing di seberang sana.
Tanpa pikir panjang, Dinda langsung bergegas mengambil beberapa keperluan. Nisa yang tak di beri tahu pun hanya bisa menatap nanar kepergian Dinda meskipun batinnya menebak-nebak akan kemana Dinda pergi.
. Singkatnya, 2 hari telah berlalu, dan Aldi mulai mencari tahu kemana Dinda mengapa sampai mengabaikannya. Seperti biasa, Bagas selalu siap jika Aldi memintanya datang.
"Nomornya tidak bisa di hubungi. Apa kau tahu dia kemana?"
"Karyawannya bilang, Dinda pergi dengan tergesa. Seperti panik dan....."
"Dan apa Gas?" Aldi semakin penasaran kenapa Bagas tak melanjutkan kalimatnya.
"Al... apa mungkin dia kembali ke kota S?" Aldi ikut terbelalak. Ia segera beranjak dan membawa infusan.
"Mau kemana kau sialan?"
"Ini tak wajar Gas. Dia tidak memberitahuku apa-apa, jika benar dia pulang, harusnya dia memberitahuku sesuatu sebelum pergi." Sejenak Bagas berpikir dan ia setuju dengan apa yang dikatakan Aldi.
"Lalu, apa kau akan menyusulnya? Hei jangan bodoh Al. Lihat tanganmu, tulangnya belum sepenuhnya membaik. Dan lukamu juga! Masih harus dipulihkan."
"Aku sudah cukup lama tidur disini Gas. Sekarang, antar aku atau tidak."
"Iya kau selalu begini. Kenapa kau bangun? Padahal saat kau koma, dunia terasa tentram."
"Lalu, kenapa kau tak membunuhku saat aku koma saja."
"Santai bro..." Bagas terkekeh melihat kekesalan Aldi. Keduanya segera berlalu dan dengan santainya, Aldi berjalan melewati setiap lorong dengan tubuh gemetar dan infus yang ia bawa. Dan sepanjang jalan Bagas mengikuti Aldi dari belakang, ia terus menahan tawa. Bisa-bisanya orang sekarat jalan-jalan di luar.
"Siapa yang mengizinkanmu keluar dari kamar hah?" Tegur Noah tersirat amarah di wajahnya.
"Aku ada urusan." Jawab Aldi masih bersikap santai.
"Aku saja yang pergi Al." Ucap Bagas yang menghampirinya lebih dekat. Lirikan Aldi berubah sinis ketika mendengar ucapan Bagas yang tiba-tiba ini.
"Lalu, kenapa kau baru bilang sekarang?"
"Aku suka jika kau di marahi dia." Jawab Bagas menahan tawanya.
"Ya sudah. Cepat pergi dan cari tahu dimana dia."
"Iya iya. Dasar duda galak." Cetusnya sambil berlalu.
"Dari pada kau. Jomblo akut." Balas Aldi dengan kesal.
__ADS_1
"Eheummm... ayo tuan. Sebaiknya kau kembali ke kamarmu. Tidak lucu di lihatnya seorang Aldian Mahendra kabur saat di rawat karena tidak mau di suntik." Ejek Noah dengan menyiapkan kursi roda untuk Aldi.
"Hahaha bercandamu lucu sekali dokter." Ucap Aldi tertawa paksa namun dengan tatapan yang tajam.
Setelah Aldi duduk, Noah langsung membawa Aldi kembali ke kamarnya.
. Sementara itu, Dinda memasuki sebuah cafe yang di jadikan tempat pertemuan antara dirinya dan orang asing yang membuatnya tak bisa tenang. Kepergian Yasmin bukan karena di culik olehnya, tapi karena Yasmin sedang ada study tour dari sekolahnya, dan bodohnya Dinda pun percaya, ia bahkan tanpa pikir panjang langsung bergegas kembali ke kota kelahirannya tanpa bertanya terlebih dahulu pada ayahnya. Jika benar Yasmin dalam bahaya pun, ia seharusnya tidak harus khawatir seperti ini, karena penjagaan dari ayahnya sangatlah ketat.
Saat Dinda duduk, ia menatap sendu wajah tenang dari pria yang sedang ia lupakan.
"Lio? Ke-kenapa kau?"
"Jika tidak begini, kau tak akan pulang kan?"
"Apa maumu Lio? Kau pergi begitu saja tanpa mendengarkan penjelasanku, lalu sekarang, kau seenaknya membuatku pulang dengan menggunakan nama Yasmin." Bukannya menjawab, Emilio malah memanggil pelayan dan memesan beberapa makanan dan minuman.
"Kau belum menjawab pertanyaanku Lio." Ucap Dinda kini dengan nada kesal.
"Dinda.... maaf aku salah." Emilio perlahan meraih tangan Yasmin. Namun, Yasmin menghindari sentuhan dengan Emilio.
"Lio. Aku sudah bilang, aku tak pernah mengkhianatimu." Ucap Dinda kini dengan nada yang datar.
"Iya sayang aku tahu. Dan aku menyesal. Aku ingin memperbaiki semuanya. Jadi,..."
"Maaf Lio. Aku tak bisa." Emilio menyernyit dan Dinda hanya memalingkan wajahnya menghindari tatapan Emilio.
"Kenapa kau selalu membawa orang lain?"
"Lalu?"
"Bukankah kau yang bilang bahwa kita sudah selesai? Hubungan kita sudah usai Lio. Jujur itu menghancurkan perasaanku. Dan kau begitu mudah memintaku kembali, padahal kau sendiri tahu akhirnya kita akan bagaimana. Aku sudah memberimu banyak kesempatan, sehingga aku berharap padamu, dan pada hubungan kita. Tapi, kau sendiri yang mematahkan harapanku."
"Dinda..." sebelum Emilio mengatakan kata selanjutnya, Dinda segera beranjak dan hendak melangkah pergi.
"Apa semudah itu kau melupakanku?" Tanya Emilio berhasil menghentikan langkah Dinda.
"Tidak. Ini tidak mudah. Tapi aku sudah terbiasa." Jawab Dinda kini melanjutkan langkahnya. Emilio mengepalkan tangannya sembari menatap tajam kepergian Dinda.
. Malam yang sunyi, Dinda duduk melamun di kursi taman. Salma menghampiri Dinda dan menemaninya di sana.
"Ayah sudah memikirkan hubunganmu dengan Lio. Jika kau memang ingin bersamannya, ayah tak akan--"
"Aku sudah putus." Jawab Dinda cepat.
__ADS_1
"Putus? Kenapa?" Tanya Salma merasa heran.
"Sudahlah bu... mungkin bukan jodohnya." Jawab Dinda kini terdengar malas.
"Apa kau punya pacar lain?" Seketika raut wajah Dinda menjadi terkejut, dan diwaktu yang sama juga ia merasa tak yakin apakah Aldi bisa dikatakan pacar atau bukan.
"Mengapa ibu bertanya begitu?" Tanya Dinda dengan wajah gugup.
"Ya... ibu merasa kamu tidak seperti sebelumnya. Setiap kali ayah menyuruhmu menjauhi Emilio, kau selalu marah. Bahkan tak jarang kau mogok makan dan tak menyapa ayah sama sekali sampai berhari-hari hanya karena ayah membuat Emilio tersinggung. Sekarang, kau biasa saja."
"Aku sendiri saja tak tahu apa dia pacarku atau bukan." Jawab Dinda dengan menghela nafas malas
"Siapa dia? Bagaimana orangnya?"
"Kenapa ibu sangat antusias?"
"Karena ibu ingin tahu siapa pria yang bisa membuat putriku ini berpaling dari Emilio yang sangat dia banggakan itu."
"Ibu... sudah... jangan menyindirku terus." Di balik candaannya dengan sang ibu, pikirannya pada Aldi semakin membuatnya khawatir. Ia yang tak memberitahu siapapun tentang kepergiannya, sekarang malah semakin gelisah.
. Paginya, Dinda menggeliat sesaat setelah ia membuka mata dan terbangun dari tidurnya. Belum sempat ia mengumpulkan kesadaran sepenuhnya, terdengar suara ketukan di pintu kamar. Dengan malas, Dinda segera beranjak dan membuka pintu dengan tanpa membenahkan rambut dan wajahnya terlebih dahulu.
"Ada telepon untuk nona." Ucap seorang ART dengan sopan.
"Siapa?" Tanya Dinda dengan suara yang masih malas.
"Seorang pria nona. Katanya kenalan nona di kota J." Seketika mata Dinda membulat dan ia segera berlari kecil menuju lantai bawah. Tanpa pikir panjang, Dinda langsung meraih telepon yang masih tersambung.
"Hallo Al..." ucapnya sedikit antusias.
"Aku Bagas. Temannya Aldi." Jawab Bagas membuat Dinda langsung terbelalak. Jika bisa dilihat, kini wajah Dinda memerah karena malu. Bisa-bisanya ia langsung berpikir bahwa itu adalah Aldi.
"Ma-maaf. Sa-saya pikir anda...."
"Tak apa. Wajar saja." Ucap Bagas menyela di iringi tawa kecil. "Oh iya. Nanti siang, aku ingin bertemu. Apa kau bisa?"
"Bertemu? Dimana?" Tanya Dinda penuh keraguan.
"Kau saja yang tentukan."
"Ma-maksudnya?"
"Aku di kota S."
__ADS_1
"Apa?"
-bersambung