
Selepas kepergian Damian, Demira tak henti-hentinya menangis di dalam kamar sampai Noah pulang saat malam tiba. Dengan sabar, Noah menenangkan Demira dan sesekali memberi nasehat agar Demira tidak terlarut dalam kesedihannya.
Singkatnya, satu minggu telah berlalu, dan hari itu Aldi beserta Istri dan Ibunya pun memutuskan untuk kembali ke kotanya. Di waktu yang sama, Alvi membawa Reifan menunggu kedatangan Aldi di bandara. Terlihat mata Reifan berbinar dan wajahnya berseri mendapati kedatangan Aldi dan Dewi yang semakin dekat menghampiri mereka.
"Oma..." teriak Reifan berlari menyambut Dewi.
"Sayang. Kamu sama ayah? Mommy tidak ikut?" Tanya Dewi kemudian menoleh pada Alvi setelah ia membawa Reifan pada pangkuannya.
"Avril tidak ikut, Ma." Jawab Alvi lalu mencium tangan Dewi. Saat itu, Reifan beralih merentangkan tangannya pada Dinda.
"Bunda... mau peluk." Ucapnya dengan wajah menggemaskan. Dinda yang masih merasa bersalah pun, hanya tersenyum lalu meraih Reifan ke dalam pelukannya. Seolah merasakan kesedihan Dinda, Reifan menyandarkan kepalanya pada kepala Dinda dengan tatapan yang sayu. Saat itu juga, Dinda menyadari akan perubahan sikap Reifan. Ia menoleh lalu mendapati wajah Reifan yang sendu.
"Kau kenapa Rei?" Tanya Dinda mendadak khawatir.
"Bunda sudah sembuh? Adik bayi tidak sakit juga kan?" Dengan tanpa menjawab pertanyaan ibu tirinya, Reifan malah melemparkan pertanyaan yang justru membuat Dinda kembali bersedih.
"Adik bayi yang ada di kandungan bunda, sekarang sudah bersama bunda Syifa, sayang. Maaf ya!" Hanya begitu balasan Dinda untuk menguatkan dirinya sendiri meski air matanya mulai menggenang dan hampir berderai.
"Kata Daddy, Bunda Syifa sudah di syurga. Bunda Syifa sudah bersama Tuhan. Eifan tidak tahu Syurga itu dimana Bunda. Eifan juga ingin ke Syurga. Eifan juga ingin bertemu Bunda Syifa dan adik bayi." Rengeknya berhasil mengejutkan semua orang. Tak ada yang tidak terbelalak saat mendengar celotehan Reifan.
"Sayang. Apa yang kau katakan?" Tegur Dinda mulai menitikkan air matanya perlahan. Sontak Reifan langsung mengusap pipi Dinda dengan tatapan yang semakin sendu. Bahkan terlihat seperti ingin menangis.
"Bunda kenapa menangis?" Melihat wajah menggemaskan Reifan, Dinda memaksakan senyumnya dan ia menyeka air matanya yang benar-benar sudah menggenang.
"Bunda tidak menangis, sayang. Bunda baik-baik saja. Tidak sakit juga." Ucapnya mencoba meyakinkan anak kecil ini agar tak terus menyinggung tentang keadaannya. Sedangkan orang yang ada di sekelilingnya hanya menatap nanar pada Dinda yang mencoba bersikap kuat meski sebenarnya ia sangat terpuruk.
Setelahnya, mereka bergegas pulang, dan Sean memilih untuk mampir di sebuah supermarket untuk membeli beberapa keperluannya saat berada di kota J. Kali ini, Sean menginap di rumah Aldi atas permintaan Aldi sendiri. Ia sudah tak lagi memikirkan perasaan Sean pada Dinda, sebab semuanya sudah ia jelaskan.
__ADS_1
Saat Sean tengah fokus mencari makanan yang mungkin akan ditanyakan oleh Xaviera, ia tak sadar jika putrinya itu sudah tak ada di sisinya lagi. Sedangkan, Xaviera sendiri ingin meraih coklat kesukaannya di rak atas. Ia menjinjit berharap bisa mengambilnya, namun usahanya sia-sia. Ia tak bisa meraihnya karena terlalu tinggi. Tak di sangka, sebuah tangan menjulur mengambil coklat kesukaannya lalu sosok itu berjongkok dan memberikan coklat itu padanya.
"Kau mau ini sayang?" Tanya Emira dengan sikap yang sangat lembut. Xaviera hanya mengangguk lalu mengambilnya dari tangan Emira.
"Terima kasih bun-- tante..." lirihnya mendadak sendu saat mengingat pesan Sean agar ia tak sembarangan memanggil orang lain dengan sebutan bunda. Cukup Dinda saja yang terakhir.
"Kau sendiri?" Tanya Emira seraya menoleh kesana-kemari mencari siapa saja yang mungkin menjadi orang yang mendampinginya. "Ibumu mana?" Tanya Emira selanjutnya, semula Xaviera mendongak, namun setelahnya ia kembali menunduk dan menggeleng pelan.
"Ibu Avi tidak ada." Jawabnya kemudian.
"Lalu, kau kesini dengan siapa?" Tanya Emira yang berpikir bahwa anak ini sendirian. Karena Xaviera terdiam, Emira menghela nafas dalam lalu beranjak dan meraih tangan mungil Xaviera.
"Mau ikut dengan tante? Nanti tante akan carikan info orang tuamu." Ucap Emira dengan tak langsung mengajak Xaviera pergi dari sana. Belum jauh ia berjalan, suara seseorang berhasil membuat Xaviera menoleh ke belakang.
"Avi...." panggil Sean langsung memeluk Xaviera dan merebutnya dari Emira.
"Aku...."
"Jelas sekali kau mau membawa anakku." Tukas Sean menyela sebelum Emira menjawab.
"Aku pikir dia sendiri." Balas Emira tak ingin ada kesalahpahaman.
"Alasan saja. Penculik mana ada yang mengaku akan menculik." Emira hanya terdiam mendengar kemarahan Sean.
"Ayah... tante ini baik. Tadi tante ini bantu Avi ambilkan coklat." Ucap Xaviera sangat jelas tengah membela Emira.
"Inilah yang ayah takutkan Avi. Kau menganggap semua perempuan selain Aunty itu baik. Justru kebanyakan sekarang penculik itu berpura-pura baik agar kau bisa di bawa." Balas Sean terus menerus menyudutkan Emira yang ia kira adalah seorang penculik.
__ADS_1
"Maaf tuan. Saya tidak ada niatan menculik putri anda. Saya hanya ingin membawanya ke tempat yang aman. Saya kira putri anda tidak bersama dengan ayahnya, sebab saat saya tanya, dia tidak menjawab. Sekali lagi saya minta maaf tuan." Ucap Emira kemudian berlalu dengan berkaca-kaca menahan perih di ulu hatinya.
"Tante..." panggil Xaviera kemudian berlari dan meraih tangan Emira.
"Nama tante siapa?" Lanjutnya dengan menatap harap pada Emira.
"Kamu bisa panggil tante Liana, sayang." Jawab Emira langsung melempar senyuman. Dan setelahnya, karena melihat situasi yang semakin memburuk, Emira berlalu sesaat setelah ia melirik Sean. Sean mengernyit saat melihat Emira seakan tengah mengusap air matanya sepanjang ia berjalan menjauh.
"Tante Liana baik, ayah. Baik seperti tante Dinda." Ucap Xaviera membuyarkan lamunan Sean.
"Liana... akan aku ingat namanya. Setelah sampai di rumah Aldi, aku akan mencari tahu tentangnya." Batin Sean secepatnya menyelesaikan acara belanjanya.
Saat di parkiran, tepat setelah ia menutup pintu mobil, ia melihat ke arah samping parkiran yang dimana terdapat sebuah kursi dan meja untuk bersantai. Terlihat pula seorang gadis tengah menangis pilu dan seorang wanita paruh baya tengah menenangkannya. Sean tak bisa menahan rasa penasaran dan rasa bersalahnya, ia turun dan menghampiri Emira berada. Niat hati ingin meluruskan masalah tadi, Sean dibuat terkejut oleh penuturan Emira yang bahkan membuatnya semakin merasa bersalah.
"Aku juga tak ingin menangis, Bi." Ucapnya dengan kesal pada seorang ART yang senantiasa menemaninya jika berbelanja kebutuhan rumah.
"Jangan dengarkan orang itu, Non. Sekarang, Non Liana sudahi menangisnya. Kita pulang!"
"Mungkin karna aku kehilangan suami dan anakku, aku jadi begini ya Bi? Kalau saja aku tak keguguran, mungkin tahun ini aku juga sudah punya anak."
Sean benar-benar mematung dibuatnya. Ia mengurungkan niat untuk berbicara dengan Emira dan memilih kembali ke mobil karena Xaviera mungkin akan kesal jika lama menunggu.
Singkatnya di pagi hari, Sean mengikuti Aldi untuk sarapan bersama. Bahkan demi menemani Sean, Aldi memilih libur dan mempersiapkan pertemuan mereka dengan Emira nanti malam.
"Kak Emira sudah setuju untuk bertemu." Ucap Aldi membuat Sean terdiam memikirkan gadis bernama Liana yang sangat menarik perhatiannya. Ia masih penasaran dengan maksud kehilangan suami.
"Aku ingin meminta maaf padanya."
__ADS_1
Bersambung