RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
87


__ADS_3

. Aulian masih belum puas berbincang dengan Dinda yang begitu membela Aldi meski ia sudah kehilangan ingatannya.


"Apa kau tahu? adikku meninggal karena Aldi." Seketika itu Dinda tersenyum menanggapi pertanyaan konyol Aulian.


"Benarkah? Hemmm maaf saya tak ingat." Dinda beranjak setelah mengatakan kalimat itu dengan santai. Aulian mengepalkan tangannya menahan kesal dan ia tak menyangka Dinda akan bersikap demikian padanya. Meski begitu, Aulian membiarkan Dinda berlalu dari hadapannya. Ia tak ingin menambah masalah atau bahkan bisa saja akan mempengaruhi semua rencananya yang sudah ia rancang dari jauh-jauh hari.


"Ken! Kau menyadarinya?" Tanya Aulian setelah Dinda semakin jauh.


"Iya tuan. Apa perlu saya selidiki?"


"Tak perlu. Akan aku urus sendiri."


"Baiklah tuan. Hubungi saya segera jika anda membutuhkan bantuan."


"Kau bicara seolah aku amatiran."


"Maafkan saya tuan. Saya tidak bermaksud begitu."


Aulian semakin lekat menatap Dinda yang sudah melaju dengan mobilnya meninggalkan tempat mereka bertemu. Ia yang sudah hampir mencapai tujuannya pun kembali terhambat karena kabar Dinda yang akan berhenti menjadi presdir dalam waktu dekat.


"Kalau tak ada Dinda, aku tak akan bisa menghancurkan Aldian. Hanya Dinda yang bisa ku peralat." Batin Aulian terus berpikir apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Seketika itu, ia tersadar akan sesuatu hal yang ia lupakan.


"Benar! Masih ada Liana." Batinnya kemudian. Setelahnya ia beranjak dan meninggalkan tempat itu dengan wajah yang mulai berseri.


. Sampai di rumah, Dinda yang masih memikirkan cara untuk membatalkan kerja samanya dengan Aulian, ia bersikap layaknya cangkang yang kosong. Pikirannya berkecamuk, namun tatapannya tak bisa di tebak.


"Dinda. Jangan melamun! Nanti kau bisa tersandung." Tegur seseorang berhasil membuyarkan lamunan Dinda seketika. Pandangannya berbinar menatap sosok yang jelas-jelas tak terpikirkan akan ada di hadapannya sekarang.


"Aldi...." teriaknya segera berlari lalu memeluk Aldi dengan erat.


"Aih... apa kau sangat merindukanku?"

__ADS_1


"Kenapa tak bilang?"


"Kejutan."


"Tapi aku tak bersiap."


"Bersiap apa?" Belum sampai 5 detik Aldi diam, senyum miring tersungging di wajah Aldi seketika. "Apa kau mau bersiap untuk--" 'plak' Dinda menampar Aldi dengan sirat wajah yang kesal. Ia tak habis pikir, bisa-bisanya Aldi berpikiran hal-hal aneh.


"Kenapa kau menamparku?" Pekik Aldi yang mengusap pipinya karena terasa panas.


"Ihhh kau yang berpikir aneh-aneh."


"Berpikir aneh-aneh apa? Aku hanya berpikir kau akan masak jika tahu aku akan kemari." Sontak Dinda terbelalak, matanya tak ingin berkedip dan terus menatap Aldi. Sialnya, mengapa ia berpikir Aldi akan macam-macam, padahal Aldi tak berpikiran sedikitpun ke arah sana.


"Kau yang berpikir aneh-aneh. Sabar.... nanti juga kalau sudah waktunya pasti akan--" 'plak' lagi-lagi Dinda menampar Aldi sehingga celotehan Aldi terhenti seketika.


"Apa lagi? Wajahku bisa babak belur kalau terus kau tampar." Protes Aldi semakin geram dengan tamparan Dinda yang tiba-tiba.


"Ehhh... kau meninggalkanku? Aku sudah menunggumu di sini hei..." Aldi menyusul Dinda seraya terus berteriak karena terlanjur kesal.


. Malamnya, seluruh anggota keluarga tengah menyantap makan malam bersama, namun tiba-tiba pelayan memberitahu Dinda ada seseorang yang menghubunginya lewat telepon.


"Apa kau tidak melihat Dinda sedang makan?" Tegur Hadi begitu tegas sehingga pelayan menciut dan merasa bersalah akan hal ini.


"Maafkan saya tuan. Tapi orang yang menghubungi nona, dia memaksa ingin berbicara dengan nona."


"Ya sudah tak apa ayah. Mungkin itu penting." Dinda menimpali agar ayahnya tak terlalu keras dengan pelayan. Dinda beranjak meninggalkan makanan yang belum habis ia santap.


"Hallo." Sapa Dinda setelah ia mengambil gagang telepon rumah di ruang tengah.


"Oh Dinda. Apakah besok kita bisa bertemu? Untuk membicarakan tentang proyek kita. Karena kau akan berhenti menjadi presdir, bagaimana jika proyeknya kita percepat saja. Yaa sebelum kau benar-benar berhenti." Dari penjelasannya, Dinda sudah tahu siapa penelepon ini.

__ADS_1


"Maaf tuan. Saya bukannya tidak mau, hanya saja saya sudah menyerahkan semuanya pada ayah saya. Jadi, anda sebaiknya menghubungi ayah saya saja. Karena besok saya sudah tak bekerja." Balas Dinda yang jelas menghindari Aulian.


"Ahh begitu ya? Lalu, apa kau bisa datang ke hotel A.P? Sebagai acara perpisahan dan pemutusan kerja sama kita." Mendengar permintaan Aulian tersebut, Dinda merasa hatinya mendadak tak tenang. Apa lagi proses pemutusan kerja sama begitu mudah, dan yang membuatnya heran, mengapa Aulian yang menjadi pihak pemutus?


"Ah.. baiklah tuan."


"Baik. Saya tunggu jam 7 malam. Di resto hotel lantai 6."


"Baik tuan." Setelahnya Dinda meletakkan telepon ke tempatnya. Kemudian ia kembali ke meja makan dan duduk namun tak melanjutkan makannya.


"Siapa?" Tanya Hadi melirik sesaat pada putrinya.


"Bukan siapa-siapa." Jawabnya seraya mengedikan bahu dan bersikap seolah tak peduli.


. Esoknya, Dinda yang memberitahu ayahnya bahwa ia akan berhenti bekerja, memilih untuk diam di rumah dan membiarkan Aldi yang menggantikannya membantu Hadi di kantor. Dan malamnya, Dinda sudah bersiap untuk berangkat menuju hotel yang di maksud Aulian. Sebelum berangkat, Dinda mengirim pesan pada Aldi yang kebetulan belum kembali dengan ayahnya. Kemungkinan Aldi ikut lembur karena memang pekerjaannya banyak yang tertunda kemarin. Setelah memberi kabar, Dinda segera melajukan mobilnya tanpa memberitahu ibunya.


Sampai di hotel, Dinda bergegas ke lantai yang sudah di beritahukan oleh Aulian kemarin malam. Ia berjalan mengikuti petugas yang menuntunnya untuk menemui Aulian yang ternyata sudah berada di salah satu meja menunggunya tiba.


"Maaf saya terlambat." Ucap Dinda setelah ia duduk di seberang Aulian.


"Tak apa. Saya juga baru sampai." Seketika itu Dinda menghela nafas lega mendengar jawaban Aulian.


"Hanya bertemu dan tak akan lama, aku tak perlu memberitahu Aldi dan ayah kan? Lagi pula, kemungkinan hanya sebentar. Jadi sebaiknya aku segera pulang jika sudah selesai." Batin Dinda dengan menghela nafas dalam sesaat.


"Perihal kerja sama yang sempat kita bahas, apa kau benar-benar tak ingin melanjutkannya?" Tanya Aulian memulai membahas inti pembicaraan mereka. Dinda menyernyit, ia merasa heran mengapa Aulian bertanya? Padahal kemarin malam ia yang mengatakan bahwa kerja sama mereka sudah berakhir.


"Emmm sudah saya katakan, jika anda ingin melanjutkan kontrak, temui ayah saya saja."


"Saya masih penasaran, mengapa kau membatalkan kerja sama kita secara mendadak. Apa karena Aldian? Atau karena kau sudah tahu rencanaku?" Dinda mendadak terhenyak mendengar nada suara Aulian yang terasa berbeda.


"Kau menunjukkan taringmu disini ternyata." Dinda tersenyum tak kalah licik dari Aulian.

__ADS_1


-bersambung.


__ADS_2