RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
128


__ADS_3

Hadi tercengang dengan permintaan menantunya tersebut. Ia sejenak berpikir, bagaimana mungkin ia harus melepaskan kesempatan emas bekerja sama dengan Sean.


"Kenapa kau terlihat tak senang dengan keputusan Ayah?" Tanya Hadi mencoba mencari tahu.


"Mungkin karena masalah pribadi saja Ayah. Tapi, jika di biarkan, Sean akan mendekati Dinda terus."


"Bukankah kau tinggal mengumumkan saja pernikahanmu dengan Dinda?"


"Tetap saja, Aldi takut nantinya akan berimbas pada bisnis Ayah."


"Al... cemburu boleh, tapi jika menyangkut bisnis, sebaiknya kesampingkan dulu rasa cemburumu itu." Dengan tegas, Hadi memberi nasehat pada Aldi meski dengan suara yang lembut. "Ayah tak melihat motif lain dibalik kerja sama Ayah dengannya Al. Jikalau pun ada, Ayah pasti akan tahu lebih dulu dari pada kau."


"Baiklah Ayah. Maaf." Hanya itu yang terlontar dari mulut Aldi. Meski hatinya gelisah, namun ia tak bisa apa-apa selain menutupinya sendiri.


Malam semakin larut, dan Aldi belum juga merasa mengantuk. Ia beranjak dari tidurnya, lalu melirik Dinda yang sudah terlelap di sampingnya. Dengan lembut, Aldi meraih dan membelai wajah Dinda dengan hati yang masih gundah. Perlahan ia beranjak dan melangkah ke balkon kamarnya. Dengan sendu, ia menatap langit yang terlihat gelap malam ini. Hatinya terus merasa gelisah dengan apa yang di hadapinya. Mulai dari perseteruannya dengan Avril, sampai kehadiran Sean yang mungkin akan menjadi ancaman dan berpengaruh pada rumah tangganya karena tak mengetahui Dinda adalah istrinya. Aldi mendadak teringin menghubungi ibunya, ia sangat rindu meski baru sehari tidak bertemu. Ketika ia menyalakan ponselnya, ia tak sengaja menekan salah satu aplikasi media sosialnya dan saat itu juga menampilkan foto ibunya di posting oleh Avril. Matanya membulat sesaat dan tak lama berubah sayu menatap senyum Ibunya yang begitu manis.


"Mama bahagia dengan Avil ruapanya." Ucapnya dengan suara pelan.


Paginya, Aldi terlihat sudah rapi memakai stelan untuk bekerja sehingga Dinda merasa terheran akan hal itu. Pasalnya, yang di tugaskan mengurus perusahaan adalah dirinya, bukan suaminya.


"Al... mau kemana?" Tanya Dinda mencoba memastikan.


"Ke kantor. Aku sudah bicara pada Ayah kalau aku akan menemanimu ke kantor."


"Tapi kenapa? Kau lelah nantinya Al."


"Tak apa. Sekalian mengawasimu. Aku khawatir padamu dan dia." Jawab Aldi kemudian berlutut lalu memeluk perut Dinda.


"Baiklah. Tapi nanti, jangan salahkan aku kalau kau merasa bosan atau apapun."

__ADS_1


"Iya sayangku. Lagi pula, sekalian belajar di tempat ayahmu. Aku ingin tahu lebih mendalam tentang sistem yang digunakan agar perusahaan stabil."


"Wahhh kau mau jadi mata-mata?"


"Emmmm bisa dibilang begitu."


"Nakal ya!" Sontak keduanya tertawa dengan candaan mereka. Setelahnya, Aldi dan Dinda bergegas ke kantor karena hari sudah semakin siang. Di tengah perjalanan, Dinda mendadak teringin sesuatu sehingga mengharuskan Aldi pergi sendirian dengan menggunakan taksi agar Dinda tidak terlambat. Sembari menunggu Aldi di lobby, Dinda menghampiri beberapa atasan yang sudah ia percaya.


"Sebelum rapat, bisakah kau menjelaskan tentang kondisi perusahaan?"


"Baik nona. Akan saya jelaskan di ruangan saya sebelum kita memulai rapat."


"Terima kasih ya! Oh dan satu hal lagi. Nanti, katakan pada suami-- em maksudnya katakan pada Aldian untuk ke ruangan ayah saja." Ucap Dinda mendadak gugup dan kini menghela nafas dalam sesaat.


"Hampir saja aku keceplosan." Batinnya berjalan mendahului.


Menjelang siang, Aldi baru sampai membawa sesuatu yang diinginkan istrinya. Ia di beritahu oleh salah satu karyawan untuk menunggu Dinda di ruangan Hadi. Ketika akan memasuki lift, ia terkejut mendapati Shana yang sama-sama berada di kantor mertuanya.


"Oh.. a-aku... ada jadwal pertemuan dengan Om Hadi. Emmm kau sendiri?" Dengan ragu, Shana balik bertanya pada Aldi.


"Ada urusan."


"Pada Om Hadi?" Tanya Shana terlihat sangat ingin tahu. Dan Aldi menggeleng seraya tersenyum pada Shana untuk menjawab pertanyaan Shana tersebut.


"Ayah Hadi ada urusan ke luar kota. Jadi, aku ada urusan pada Dinda." Dan Shana yang mendengar nama Dinda di sebut oleh Aldi pun mendadak memasang wajah yang tidak nyaman.


Kemudian, keduanya memasuki lift dengan lantai yang berbeda. Shana yang melihat lah itu pun mendadak penasaran mengapa Aldi ke lantai paling atas, atau tak lain adalah lantai dimana ruangan Hadi berada. Lalu Shana melirik sesuatu yang di bawa oleh Aldi di tangannya.


"Apa itu untuk Dinda?" Tanya Shana sehingga Aldi menoleh padanya lalu pada kantong yang ia bawa.

__ADS_1


"Oh. Iya. Tadi dia ingin membeli ini." Jawab Aldi lagi-lagi dengan tersenyum.


"Oh begitu ya? Al... apa kau lama di kota ini? Kalau boleh, aku ingin bertemu denganmu malam ini." Ucap Shana memberanikan diri mengajak Aldi. Meski sebenarnya ragu, namun kalimat ajakan itu berhasil terucap dengan rasa sesal setelahnya.


"Bodohnya aku... kenapa mendahului mengajaknya bertemu? Harusnya aku lebih sabar dan menunggunya mengajakku. Tapi... aku hanya ingin tahu hubungannya dengan Dinda. Hanya itu saja. Tapi tetap saja aku menyesal." Batin Shana merutuki dirinya sendiri.


"Emmm.. bagaimana ya? Aku tidak janji. Tapi, jika kau ingin membahas tentang pekerjaan, mungkin aku bisa." Mendengar jawaban Aldi demikian, Shana tersenyum merasa di beri kesempatan mengatas namakan pekerjaan agar bisa menghabiskan waktu berdua dengan Aldi. Meskipun hanya sebatas mengobrol. Bersamaan dengan itu, lift terbuka dan Shana keluar lebih dulu. Sebelum pintu tertutup sempurna, Shana tersenyum pada Aldi yang ternyata membalas senyumnya. Dan hal itu membuat Shana begitu girang.


Sementara itu, Aldi menghela nafas berat seraya mengingat kembali wajah Sean. Ia menimbang kembali ajakan Shana, dan saat itu juga, senyumnya kembali terukir dengan menyimpan sebuah rencana.


"Itu akan menjadi kesempatanku." Gumam Aldi.


Singkatnya, setelah lama Aldi menunggu, akhirnya Dinda menunjukkan dirinya dari balik pintu. Sehingga ia yang tengah membaca buku tentang bisnis milik mertuanya pun mengalikan pandangan.


"Sudah selesai?" Tanya Aldi meletakkan buku tersebut lalu merangkul Dinda yang duduk di pangkuannya.


"Kau menunggu lama?" Tanya Dinda dengan wajah yang merasa tidak enak hati pada suaminya.


"Tidak terlalu." Jawabnya dengan senyum yang mengembang.


"Kau sepertinya sedang bahagia. Kenapa?" Tanya Dinda dengan penuh curiga.


"Tak ada." Jawab Aldi lagi dan kali ini dengan tertawa.


"Ihhh cepat katakan ada apa?"


"Aku serius tak ada."


"Bohong." Bukannya menanggapi istrinya, Aldi malah memeluk Dinda dengan wrat sehingga gadis itu semakin dibuat penasaran olehnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2