RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
39


__ADS_3

. Aldi menghela nafas ketika ia harus menjaga Reifan sekaligus menyelesaikan pekerjaannya di kantor. Terlihat Reifan sedang bermain sendiri di sofa. Dengan begitu, Aldi tak terlalu mengkhawatirkan Reifan dan ia bisa fokus pada pekerjaannya.


"Al... meeting Al." Ucap Bagas yang membuka pintu sedikit lalu menutupnya kembali. Lagi, Aldi menghela nafasnya gusar.


"Sialan. Avil kenapa tak bisa di hubungi? Dan mama juga. Kenapa tak mau bawa Rei pergi arisan? Argghhhh Syifa... aku tak sanggup merawat Rei sendiri." Keluhnya begitu kesal dan menunduk pada meja.


"Daddy.... tak apa?" Tanya Reifan yang kemudian berlari menghampiri Aldi. "Daddy sakit?" Tanyanya selanjutnya. Aldi menoleh pada Reifan dan ia semakin merindukan Syifa.


"Syifa... sampai hati kau meninggalkan putra kita yang masih kecil ini. Jika saja kau masih ada, Rei mungkin tak akan kesepian disini." Batin Aldi menatap nanar wajah menggemaskan Reifan yang menatapnya dengan polos.


"Daddy... mau mommy.." ucapnya menunjuk ponsel Aldi yang tergeletak di atas meja. Sontak Aldi menoleh dan matanya menyipit sesaat sebelum akhirnya ia menghubungi nomor Avril meskipun ragu. Tersambung, hal itu berhasil menyunggingkan senyum di wajah Aldi. Dan tak lama, panggilan video itupun mendapat jawaban.


"Hallo. Al ada apa?" Tanya Avril dengan lesu.


"Avil kau kenapa?" Aldi balik bertanya dengan mendadak khawatir. "Wajahmu pucat. Kau sakit?" Lanjutnya kembali bertanya.


"Tidak Al... hanya tidak nafsu makan saja."


"Vil... jangan menunda makan. Kasihan tubuhmu."


"Tapi.... hm." Tiba-tiba ponsel Avril tergeletak dan tak lagi menunjukkan wajah pemiliknya.


"Avil... hei... kau baik-baik saja?" Namun tak ada jawaban, itu semakin membuat Aldi khawatir. "Vil... hei.... Avil....." panggil Aldi semakin keras. Ia menoleh pada Reifan dan ia langsung memutus panggilan.


"Rei... mau ke rumah mommy?" Reifan hanya mengangguk menanggapi ajakan ayahnya. Dan Aldi langsung menggendong Reifan berlalu dari ruangannya.


"Al.. mau kemana?" Tanya Bagas yang terheran melihat Aldi yang terburu-buru. "Sekarang ada meeting dengan tamu dari kota S." Lanjut Bagas kembali mengingatkan.


"Gas... aku ada urusan." Jawab Aldi masih panik.


"Urusan apa yang lebih penting dari kontrak kerjasama hah? Ini yang kau mau, dan sekarang tinggal di tandatangani, kau malah akan pergi."


"Tapi Avil Gas... dia sakit."


"Mau sampai kapan kau memikirkan Avil Al? Avil ada suaminya. Jangan terlalu memikirkan dia."


"Tapi...."


"Sudahlah Al. Jika kau ingin memastikan kesehatan dan keadaan Avil, biar aku yang ke rumahnya."

__ADS_1


"Kau di butuhkan disini Bagas."


"Lalu? Apa kau akan tetap meninggalkan kesempatan ini hanya demi Avil?"


"Bagas..."


"Apa lagi? Mau bilang aku tak mengerti? Al. Justru aku sangat mengerti. Kau berusaha membangun perusahaan ini kembali berdiri, dan sekarang setelah banyak pihak yang menjadi klienmu, kau dengan mudah membiarkan mereka pergi, begitu?"


"Ya sudah. Aku minta tolong padamu. Pastikan keadaan Avil baik-baik saja. Dan kabari aku jika ada apa-apa padanya. Dan sekalian bawa Rei bertemu Avil."


Bagas menggendong Reifan dan ia segera menuju rumah Avril. Niat hati ingin membicarakan masalah Avril dan Alvi, namun melihat situasinya, Bagas memilih untuk tidak bicara dulu.


. Avril meminum teh hangat yang sudah di siapkan oleh Demira. Ia begitu merasa khawatir pada kondisi Avril yang terlihat sangat tak baik.


"Kau yakin tak mau ke dokter? Atau panggil Noah?" Avril menggeleng dan memilih untuk membaringkan tubuhnya.


"Tidak Dem. Aku baik-baik saja."


"Avil... pikirkan janinmu. Jangan hanya memikirkan diri sendiri. Jika kau marah pada Alvi, dan ingin melampiaskan kemarahanmu, jangan pada anakmu."


"Kau ini bicara apa Dem? Aku memang tak nafsu makan. Rasanya semua makanan terlihat tak enak."


"Aku mau apel saja Dem."


"Ada yang lain? Biar sekalian aku bawa."


"Sudah itu saja."


"Oke. Sebentar. Aku ambilkan." Demira berlalu mengambil permintaan Avril. Tak lama berselang, Nadia dan Ravendra masuk memberikan sebuah kotak makan.


"Aunty. Ini Raven yang buat." Ucapnya antusias. "Aunty makan ya... biar adik bayi nya sehat." Bujuknya sembari membukakan penutupnya yang langsung memperlihatkan nasi dengan berbentuk kepala mickey mouse dengan di hiasi potongan wortel dan telur dadar yang bisa di pastikan adalah buatan Nadia. Dan Ravendra hanya menghiasnya saja.


"Tapi Aunty sedang tak mau makan nasi sayang." Jawab Avril yang menahan rasa mualnya.


"Terus? Aunty mau apa?" Tanya Ravendra menyembunyikan rasa kecewa karena Avril yang tak memakan bekal darinya.


"Sudah di ambilkan tante Demi." Jawab Avril membuat Ravendra semakin kecewa.


"Ya sudah. Raven ambil lagi makanannya." Ucapnya menunduk sembari mencoba merebut kotak nasi yang ada di genggaman Avril.

__ADS_1


"Tak apa. Nanti setelah mual aunty hilang, aunty makan. Maaf ya. Sekarang aunty masih mual." Ravendra mengangguk mengerti dan ia memilih memeluk Avril dengan erat. Entah kenapa, hatinya terasa sedih melihat Ravendra. Teringat Reifan yang sudah lama tak pernah ia temui karena kondisinya. Avril membalas pelukan Ravendra dengan menyelipkan kecupan kasih sayang di puncak kepalanya.


"Raven sayang aunty..." ungkapan itu malah membuat Avril semakin bersedih. Demira memasuki kamar dengan sepiring buah-buahan di tangannya.


"Aku meminta apel Dem." Protes Avril yang terheran melihat buah lain selain apel yang di sajikan.


"Siapa tahu kau suka yang lain" namun, meskipun Demi berkata demikian, Avril tetap mengambil beberapa potong apel. Dan ketika ia tengah makan, terdengar suara yang familiar dari lantai bawah.


"Apa hanya perasaanku saja karena terlalu merindukannya?" Batinnya dengan menghentikan makannya. Namun semakin lama, semakin terdengar suara seseorang mendekat ke arah kamarnya, dan membuka pintu.


"Mommy....." teriaknya langsung berlari dan melompat ke atas ranjang. Reifan memeluk Avril dengan erat melepas kerinduannya, begitupun dengan Avril yang tak kuasa menahan air mata rindu pada putra angkatnya itu.


"Mommy Eifan rindu." Ungkapnya terdengar mengharukan.


"Mommy juga rindu sayang." Balas Avril yang tak henti meneteskan air mata.


"Mommy jangan menangis." Reifan mengusap wajah Avril yang sudah basah karena air mata.


"Avil... sejak kapan kau sakit? Lalu apa kabar itu benar, kau sudah pisah rumah dengan Alvi? Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Bagas yang begitu terkejut mendapati kondisi Avril yang lemah.


"Aku tak apa Gas. Kata dokter memang wajar jika aku mengalami hal begini di trimester pertama. Jadi kau jangan khawatir." Jawab Avril yang sedikit tertawa untuk sekedar menenangkan kekhawatiran Bagas.


"Ka-kau hamil?" Tanya Bagas terbelalak, ia merasa terkejut sekaligus senang.


"Sudah 5 minggu Gas." Lagi, Bagas terkejut dengan jawaban Avril.


"Apa kau sudah memberitahu Aldi?" Kali ini Avril menggeleng.


"Tapi kenapa kau pisah rumah dengan suamimu jika kau sedang hamil?" ~Bagas.


"Boleh bawa anak-anak keluar?" Avril menyerahkan Ravendra dan Reifan pada Demira yang langsung membawa keduanya keluar kamar.


"Aku belum memberitahu Alvi tentang ini. Rasanya aku tak ingin memberitahunya. Lagi pula, aku sudah mempertimbangkannya, setelah anak ini lahir, aku akan langsung menggugat cerai Alvi." Sontak semua yang berada di kamarnya pun terkejut dan tak percaya pada apa yang diutarakan Avril dengan tiba-tiba.


"Avril. Kau ini bicara apa?" Pekik Nadia mendadak emosi.


"Aku serius kak. Aku tak mau anakku punya ayah yang suka selingkuh." Jawabnya sembari mengepalkan tangan menahan kesal.


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2