
. Dinda masih terbaring di dalam dekapan Aldi, dan keduanya melewati waktu makan siang. Dinda terdiam sejenak, ia seperti tak ingin beranjak karena takut tidur Aldi terganggu. Ketika melirik jam di dinding kamar, Dinda terlihat gelisah lantaran ia belum membereskan barang-barang nya. Perlahan Dinda memindahkan tangan Aldi, namun Aldi malah semakin erat memeluknya dan keduanya semakin dekat. Dinda menggeliat pelan berniat ingin lepas dari Aldi, dan lagi-lagi Aldi menariknya ke dalam pelukannya sehingga mereka sudah saling menempel.
"Al..." panggil Dinda berharap suaminya bangun dari tidurnya. Bukannya bangun, Aldi malah meraba bagian tubuh Dinda dengan asal. Dinda segera meraih tangan Aldi agar tak meraba kemana-mana, atau bahkan sampai membuatnya tak bisa berkutik. Dinda mendorong tubuh Aldi lalu ia menarik dirinya sendiri menjauh dari suaminya itu.
"Huft. Terlepas juga." Ucapnya menghela nafas lega lalu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri, kemudian membereskan barang-barangnya. Meski ada Asisten Rumah Tangga, namun Dinda tak ingin merepotkan orang lain di rumah ini. Ia hanya orang asing yang ikut tinggal di rumah suaminya.
Menjelang sore, Aldi baru membuka mata. Ia terbangun dan mencari-cari keberadaan istrinya yang hilang tiba-tiba.
"Cari apa?" Tanya Dinda dari arah belakang tubuh Aldi.
"Eh sayang. Sedang apa?" Aldi beranjak lalu menghadap pada Dinda yang tengah membereskan isi lemari dengan baju-bajunya.
"Sedang beres-beres."
"Kenapa tidak meminta mbak Nia saja?"
"Tak apa. Aku tak ada pekerjaan, jadi sekalian saja membereskan barang-barang ku. Lagi pula, tadi aku sudah merepotkan pak supir untuk membawakan koperku dari mobil." Mendengar jawaban sang istri, Aldi tersenyum kemudian beranjak dan menghampiri Dinda lalu memeluknya dari belakang. Dinda menghentikan aktivitasnya, lalu tangannya meraih pipi Aldi yang bersandar di pundaknya. Merasakan kehangatan dari seorang istri, Aldi membenamkan wajahnya pada leher Dinda sehingga nafas terasa begitu hangat. Namun tiba-tiba Dinda meringis saat merasakan Aldi memberinya rasa sakit di lehernya lalu Aldi melepaskan pelukannya dan Dinda melihat sumber rasa sakitnya. Ia terkejut mendapati ruam merah terlihat jelas di lehernya yang putih bersih itu.
"Al... apa yang kau lakukan?" Protes Dinda dengan kesal.
"Tidak. Aku hanya memberimu tanda." Jawabnya dengan santai dan memalingkan wajahnya menghindari kontak mata dengan Dinda.
"Ihhh bagaimana menghilangkannya." Rengek Dinda terus mengusap kasar berharap tanda itu bisa hilang seketika.
__ADS_1
"Ehh jangan. Nanti lehermu terluka." Aldi segera menghentikan istrinya dengan wajah yang sudah khawatir.
"Terus bagaimana? Ini pasti terlihat oleh mama." Keluhnya mulai berdecak kesal.
"Itu tak akan hilang sampai 3 hari."
"Hah? Kau gila?" Pekik Dinda jelas tak percaya dengan yang di katakan Aldi tersebut.
"Hehe. Aku sudah gila karenamu sayang." Kini giliran Aldi yang terdengar merengek pada Dinda, kemudian ia kembali memeluk pinggang Dinda dan kali ini ia meraih bibir Dinda dengan lembut. Dinda pun tak keberatan, bahkan ia mulai terbuai dengan aksi Aldi yang mulai liar padanya. Menyadari Aldi yang semakin tak terkendali, Dinda menarik diri dan menjauh secepatnya agar Aldi tak melanjutkan hal yang mungkin belum ia pikirkan.
"Al... sudah sore. Kau harus mandi. Setelah itu kita makan malam." Ucapnya memalingkan wajah meski ia sendiri sudah menikmati permainan suaminya.
"Mau mandi denganmu."
"Aku sudah mandi Al."
"Apa dia gila? Sudah tua mau di mandikan? Kalau Rei aku tak keberatan. Tapi kalau ayahnya, itu tidak mungkin." Batin Dinda memejamkan matanya seraya meraih pelipisnya seperti orang yang tengah sakit kepala. Dengan langkah malas, Aldi memasuki kamar mandi dan segera membersihkan diri. Sementara itu, Dinda terduduk di ranjang seraya meraih dadanya yang terus berdegup kencang akibat adegan yang baru saja terjadi.
"Tenang. Tenang. Tarik nafas.... hembuskan! Huuhhhhh tenang Dinda. Ihhh tapi aku tak bisa tenang. Apa lagi ini, bagaimana menghilangkannya. Tidak, kalau tidak bisa hilang, berarti aku harus menutupinya. Pakai apa ya? Aduhhh tak mungkin aku pakai syal, tapi bajunya piyama. Tidak lucu!" Dinda terus mengoceh sendiri dan ia sibuk mencari sesuatu yang mungkin bisa menutupi tanda yang di buat Aldi seenaknya. Ketika ia sibuk mencari-cari barang, ia terdiam dan terlintas sebuah ide yang mungkin akan berhasil untuk menyembunyikan tanda itu.
. Malamnya, Aldi terheran melihat Dinda terus menutupi tubuhnya dengan selimut dari sore tepatnya setelah ia selesai mandi.
"Sayang. Ayo makan. Mama pasti menunggu." Ucap Aldi terus membujuk Dinda agar cepat-cepat ke lantai bawah. Dinda yang kesal pun membuka selimut dengan kasar lalu menatap Aldi dengan tajam.
__ADS_1
"Terus ini bagaimana?" Geramnya seraya menunjuk tanda di lehernya.
"Biarkan saja lah. Mama juga pasti memaklumi. Kita kan sudah suami istri." Jawab Aldi begitu santai. Bahkan ia lebih dari santai membuka bajunya di depan Dinda yang masih malu-malu. Dinda segera menutupi tubuhnya kembali agar ia tak melihat tubuh Aldi yang hanya memakai celana saja.
"kenapa lagi? Ayo makan. Kasihan mama menunggu."
"Apa kau gila? Pakai bajunya sialan."
"Kau mengataiku sialan? Hei aku ini suamimu."
"Iya. Suami gila."
"Gila apa? Aku tak melakukan kesalahan. Kau istriku. Aku boleh mrlakukan apapun padamu asal jangan kekerasan kan? Dan aku juga bebas membuka baju di depanmu."
"Tidak mau.... kau saja sana yang makan. Aku tidak."
"Tapi mama menunggumu." Kali ini Aldi sudah habis kesabaran, ia menghampiri istrinya lalu menyingkapkan selimut agar Dinda beranjak. Namun Dinda tetap tak ingin pergi dari ranjang, ia malah merebut kembali selimut yang Aldi pegang sekarang. Keduanya saling berebut sampai tangan Aldi terpeleset dari bantal tempatnya menahan tubuh. Karena tak bisa menyeimbangkan tubuhnya, Aldi terhuyung dan menimpa istrinya dan keduanya kembali berciuman. Adegan perang terhenti sejenak dan insiden ini di manfaatkan Aldi untuk kembali beraksi menjahili istrinya. Ia malah bermain dengan ciumannya sehingga Dinda pun tak melawan.
Di tengah asyiknya mereka bermadu kasih, suara ketukan di pintu mengejutkan dan menghentikan aktivitas mereka. Aldi menghela nafas berat lalu beranjak dan segera membuka pintu.
"Kenapa belum ke bawah? Makanan sudah siap." Ucap Dewi ketika pintu terbuka.
"Itu ma... anu... Dindanya..." Aldi menjawab dengan sangat gugup. Dewi yang khawatir pun melirik pada Dinda yang tengah berada di ranjang dengan berselimut menutupi tubuhnya sampai leher dan tersenyum kikuk padanya. Seketika itu, Dewi melirik pada putranya dan ia baru sadar bahwa Aldi tengah telanjang dada.
__ADS_1
"Maaf. Mama mengganggu ya? Maaf ya... kalau mau makan, ambil saja di meja." Ucap Dewi seraya berlalu dari hadapan putranya.
-bersambung